Topeng.

Topeng.
31.


__ADS_3

Semenjak hari itu, Rama selalu memantau apa saja yang dimakan neneknya. Rama dan Andi bergantian mencicipi makanan sang nenek, takut-takut kalau ada bahan berbahaya yang tercampur di makanan perempuan paling berharga dalam hidup mereka itu.


Rama juga meminta vitamin dan beberapa saran makanan yang sehat untuk sang nenek pada dokter keluarga mereka. Mereka berdua membelikan semua makanan dan vitamin yang direkomendasikan oleh sang dokter, tak peduli berapa nominalnya, kesehatan adalah yang terpenting bagi Rama untuk sang nenek.


"Pagi, nek," sapa Rama seraya tersenyum tipis.


"Kamu gak ke kampus lagi, Ram?" tanya si nenek yang terlalu sering melihat cucunya tak hadir di kelas.


"Lagi gak ada kelas, nek!" balas Rama singkat.

__ADS_1


Nek Lidya menoleh ke arah Andi. "Benar begitu? Cucu nenek yang nakal itu gak lagi bohong, kan?"


Andi cepat-cepat mengangguk. "Memang gak ada kelas si Rama, Nek Lidya. Saya yang harus turun sekarang?!" Andi pamit melarikan diri, takut kalau ditanyai lagi dan salah menjawab.


Rama menggeser kursinya sangat dekat di sebelah neneknya. "Lagipula libur satu atau dua minggu tak akan jadi masalah, nek!" katanya ringan.


Nek Lidya memukul bahu cucunya pelan. "Sembarangan!" katanya kesal. "Sekolah itu mahal, jadi harus benar-benar menimba semua ilmu yang bisa dipelajari jika ada kesempatan! Kamu gak tahu, ya, kalau banyak orang pengen sekolah tapi terhalang biaya?! Harusnya kamu belajar sungguh-sungguh saat biaya bukan lagi menjadi masalah, cucuku yang nakal!" omel si nenek panjang lebar.


"Jangan di rumah terus, jalan-jalan sana sama temen-temen kamu," ucap sang nenek memberi saran pada cucunya.

__ADS_1


"Temen Rama lagi ke kampus, nek. Baru aja berangkat tadi, masa nenek lupa, kan pamitnya sama nenek barusan."


"Kamu gak punya temen selain Andi?" si nenek menatap tak percaya cucunya. Rama mengangguk mengiyakan. "Apa gak ada yang mau berteman dengan kamu?" tanya si nenek menatap sedih cucunya. Pasti ini gara-gara cucunya terlalu kaku, makanya tak ada teman yang seumuran cucunya yang berani mendekat.


Rama menghela napas panjang, sepertinya neneknya sedang salah paham akan sesuatu. "Rama yang malas ngeladenin mereka, nek," aku Rama jujur.


"Harusnya kamu mencari teman, nak. Jangan pasang wajah dingin yang menakutkan sepanjang kelas!"


"Gak ada yang kayak Andi, nek. Mereka mendekati Rama ada maunya, gak ada yang tulus mau berteman hanya karena memang mau berteman. Semua memiliki tujuan masing-masing, dan Rama benci untuk menjalin pertemanan dengan orang-orang semacam itu?!"

__ADS_1


Perempuan tua itu akhirnya paham, cucunya hanya ingin mendapatkan kawan yang tulus. Sahabat yang bersedia tertawa bersama dan saling menghibur dikala sedih. Bukannya Nek Lidya tak tahu tipe orang seperti yang disebutkan Rama, dia sudah banyak bertemu dengan orang yang demikian. "Hidup kamu masih panjang, nenek yakin kamu akan mendapatkan teman yang tulus nantinya."


Rama mengangguk, mengajak sang nenek untuk berjalan-jalan di taman. Sang nenek harus mendapat cukup sinar matahari dan udara segar, makanan Rama rutin mengajak sang nenek menghabiskan waktu di taman setelah sarapan dan sehabis sang nenek tidur siang. Berkat Rama dan orang-orang yang perhatian pada nenek tua itu, Nek Lidya menjadi cepat pulih dan sehat seperti sedia kala.


__ADS_2