
Kiara menjadi junior di kampus Rama, gadis itu menuai banyak perhatian, terkhusus dari lawan jenis seangkatannya, bahkan para senior yang tak memiliki gebetan pun mengincar gadis itu sebagai calon pacar idaman. Manis, cantik, senyum ceria seolah jauh dari kejahatan dunia, wajah bulat kecil nan imut, sikap ramah dan bersahabat, membuat Kiara dipuji dan dicintai banyak orang.
"Aku tahu ini akan terjadi," gumam Kiara mengibas rambutnya, senyum congkak terlukis di wajah dara cantik itu.
Senyum di bibir Kiara segera menghilang ketika matanya menangkap bayangan Rama, pemuda itu baru saja datang dan sedang berjalan bersama kawan yang pernah Kiara temui. Kiara menaikkan dagunya, yakin kalau Rama akan menatap ke arahnya, walau hanya sekali. Sayangnya, Rama tak melirik sama sekali. Pemuda itu berjalan melewati Kiara begitu saja, membuat Kiara mengepalkan tangannya kesal.
"Pasti itu salah satu triknya untuk membuatku kesal saja?!" gumam Kiara meyakinkan dirinya sendiri kalau Rama sedang memainkan trik untuk menarik perhatian darinya.
"Ram, sepertinya tadi aku ngeliat orang yang kita kenal, deh," bisik Andi seraya berpikir.
"Benarkah? Siapa?" tanggap Rama tanpa menatap kawannya.
Andi berpikir sesaat, lalu pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Aku lupa, he-he," aku Andi cengengesan.
Rama menarik sudut bibirnya ke atas. "Dasar pelupa, itu artinya orang yang kau lihat tadi gak penting!" timpal Rama. Andi mengangguk membenarkan, pasti tak penting kalau dia lupa dengan mudahnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Istirahat, Kiara mencegat Rama. Namun, Rama tak menggubris. Pemuda itu malah berjalan dengan santai melewati Kiara. "Kalau lo berniat membuat gue kesal, selamat, lu sudah sangat-sangat berhasil!" ucap Kiara cukup nyaring menarik perhatian sekitar.
Rama terus berjalan, pemuda itu malah membenarkan tas ransel yang menyampir di bahunya. "Ram," tegur Andi yang baru saja datang. "Kantin, yuk. Aku laper," lanjut pemuda itu mengajak kawannya ke kantin. Andi merasa aneh kenapa semua mata menatap sahabatnya, tapi karena sudah sering begitu, jadinya Andi mencoba acuh juga seperti sahabatnya.
Rama mengangguk setuju. "Ayo, aku tak mau kawanku sekarat karena menahan lapar!" balas Rama. Kedua pemuda itu melangkah menuju kantin.
"Ahh, aku inget siapa yang tadi aku lihat," pekik Andi bersemangat karena berhasil mengingat siapa yang dia lihat tadi pagi. "Itu, Kiara yang datang ke acara ulang tahun aku kemarin, Ram," lanjut pemuda itu yakin.
"Oh, lalu?" tanya Rama menganggap tak penting seorang Kiara.
"Lalu apa, ya? Gak tahu, aku kan cuma ngasih tahu aja kalau aku liat dia tadi pagi," jelas Andi. Rama mengangguk tanpa menanggapi ocehan kawannya.
"Btw, kenapa aneh gini suasananya? Biasanya memang banyak yang natap ke kamu, Ram, tapi gak gini-gini amat, deh," bisik Andi merasa ada yang aneh.
"Entah, bukan urusanku," balas Rama acuh. "Ayo cepat ke kantin, katanya tadi lapar?!" lanjut pemuda itu tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
"Rama!" teriak sebuah suara dari belakang mereka.
"Kayaknya ada yang manggil, Ram," ucap Andi menoleh ke belakang. "Eh, eh, itu orang yang aku bilang aku liat tadi pagi, Ram," seru Andi menunjuk Kiara.
Kiara mengangkat dagu tinggi. "Bilang sama temen lo, kalau dia udah berhasil buat gue kesel, tapi masih jauh dari kata suka atau tertarik?!" ucap Kiara penuh percaya diri, dia menyunggingkan senyum kemenangan seolah kartu yang dimainkan Rama terlah dibongkarnya semua.
"Hah?" Andi memasang raut kebingungan, apa temannya membuat masalah saat dia tak ada di sampingnya.
"Nona Kiara, maafkan teman saya kalau dia ada salah, tapi Rama pasti gak maksud jahat, kok. Teman saya ini, meski acuh dan dingin, dia gak akan mengganggu seseorang!" jelas Andi.
"Dia gak salah, hanya saja trik yang dia mainkan terlalu terlihat. Ayolah, siapa yang tak pernah mencoba memainkan trik seperti itu? Tapi selamat, teman lu berhasil bikin gue jengkel! Hanya dia yang berhasil sampai sekarang?!" ucap Kiara pongah.
"Huh? Saya ta–," ucapan Andi dipotong oleh Rama.
"Berisik! Anggap saja dia salah paham dan ber-delusi?!" kata Rama dengan nada datar. "Ayo kita pergi," lanjut pemuda itu meninggalkan Kiara yang terbengong di sana, di tengah kerumunan.
Lengan Rama ditarik paksa, langkah pemuda itu terhenti. "Sekali masih dianggap lucu, kedua kali bisa gue maafkan, tapi kalau terlalu sering, bukankah itu malah semakin memuakkan?" desis Kiara marah.
__ADS_1
Rama menepis tangan Kiara. "Seperti yang anda katakan, nona. Sekali masih bisa dianggap lucu, kedua kali itu bisa dimaafkan, ketiga kali, menyingkir dari pandanganku! Anda membuatku muak, sungguh?!" Rama menatap Kiara tanpa ekspresi.
"Kenapa lu harus mempertahankan trik yang sudah terungkap, hah?" Kiara menyilangkan tangannya menatap tajam Rama.
Andi yang menonton berkeringat dingin, kawannya tak pernah membuat masalah, tapi kenapa sekarang malah terlibat masalah seperti ini. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Nek Lidya kalau ditanya nanti. "Ram, Ram, kita pergi aja, yuk. Kemana gitu, gak ke kantin juga gak apa, asal menjauh dari masalah," bisik Andi sepelan mungkin membujuk kawannya.
"Nona, sepertinya anda salah paham. Saya tak mengerti apa yang anda maksudkan dengan 'Trik'? Tapi sepertinya anda merasa bahwa dunia berputar hanya di sekeliling anda! Kalau iya, tolong bangun dan sadarkan diri anda sendiri, sebelum rasa malu menyelimuti anda selama sisa hidup anda, nona?!" ucap Rama tajam.
"Ayo pergi!" Rama berbalik dan meninggalkan Kiara yang mematung. Apa benar dia salah paham, jadi selama ini Rama tak pernah memainkan trik. Atau, apa mungkin dia memainkan kartu lain karena triknya sudah ketahuan.
"Menjengkelkan?!" dengus Kiara memilih pulang ke rumah, tak peduli kalau dirinya harus menghadiri kelas lain setelah ini. Dia sudah terlanjur kesal dan malas sekarang.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Ram, sebenernya kamu sama tuh cewek ada masalah apa, sih? Keliatannya dia kesel pakai banget sama kamu," tanya Andi takut-takut, ya siapa tahu dia menyinggung kawannya.
"Entah, aku tak ingat kalau pernah buat salah!" balas Rama acuh. "Mungkin dia cuma cewek gila yang merasa perhatian seluruh dunia hanya untuk dirinya sendiri," lanjut pemuda itu.
"'Cantik, sih. Tapi sayang aja kalau beneran gila," timpal Andi menanggapi.
"Cantik? Siapa? Si gila tadi?" tanya Rama tak percaya. "Astaga, cantikan 'Angela'?!" lanjut pemuda itu cepat.
"Tak, perbandingannya terlalu jauh, Ram. Yang satu manusia, yang satunya masa kucing, sih?!" tukas Andi setengah protes.
"Huh, tetep cantikan Angela pokoknya!" kata Rama keras kepala. Andi menghela napas panjang, sedikit kasihan dengan Kiara yang malah kalah saing dengan binatang berkaki empat piaraan nenek mereka di rumah.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Malu tentu saja, tapi Kiara mencoba untuk bersikap acuh. Dia juga menjauhi Rama, dia yakin kalau memang Rama memainkan trik, pemuda itu pasti akan mendekat saat dirinya menjauh. Namun, sangat disayangkan. Tak ada yang terjadi, Rama tak pernah sekali pun mendekati Kiara. Bahkan kalau berpapasan, Rama tak pernah melirik ke arah gadis itu.
Lama-kelamaan, hal tersebut membuat Kiara sadar kalau memang dirinya yang salah. Tapi dia bingung bagaimana caranya meminta maaf. Tak ada lagi tatapan penuh cinta dan memuja, yang ada hanya tatapan mengejek untuknya. Kiara pun akhirnya memberanikan diri untuk meminta maaf pada Rama.
Suatu sore, saat kelas sudah berakhir, Kiara menunggu di depan mobil Rama. Di bawah matahari yang masih cukup menyengat, padahal hari sudah sangat sore, Kiara menunggu dengan sabar. Rama berhenti tepat tiga langkah dari Kiara yang menunggu di depan mobilnya. Memasang tampang datar disertai dengan tatapan yang seolah berkata 'bicara atau minggir kalau tak ada perlu' begitulah kira-kira. "Bisa kita bicara?" cicit Kiara dengan tampang memohon.
Rama menghela napas kemudian mengangguk. "Hmm, bicara saja!" katanya sebagai balasan.
Kiara menatap sekitar, masih banyak yang mengerumuni mereka di sekeliling tempat dirinya dan Rama berdiri. "Bisa pindah tempat?" pinta gadis itu ragu.
"Dengar, aku tak punya waktu untuk mendengar omong kosong serta ocehan tentang trik atau apa pun itu! Aku lelah dan hanya ingin segera pulang?!" desah Rama mengisyaratkan bahwa dirinya tak akan kemana-mana, jadi kalau mau bicara katakan sekarang juga atau tak usah sama sekali.
"Ram, Ram, kita ke kafe depan, yuk, katanya ada varian minuman baru di sana," sela Andi mencoba menolong Kiara. Sayangnya Rama tak menanggapi ucapan sahabatnya itu.
"Engg, atau kita balik aja, dan kamu bisa ikut pakai mobil kamu, kan?" celetuk Andi penuh harap kalau salah satu di antara kedua orang itu ada yang mau mengalah. Kenapa setiap bertemu selalu kayak kucing dan tikus yang selalu berantem setiap saat. Untungnya kali ini Kiara mengangguk menerima saran dari Andi, membuat Andi menghela napas lega. Rama tampak acuh, tak peduli sama sekali. Dia hanya ingin lekas pulang saja untuk saat ini
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Kiara disambut hangat oleh nyonya besar, siapa lagi kalau bukan Nek Lidya. Beliau merasa senang kedua cucunya membawa seorang kawan untuk pertama kalinya. Belum lagi fakta kalau kawan mereka itu adalah cucu dari kenalannya sendiri. "Apa kabar kakek kamu, manis?" tanya Nek Lidya begitu dia bertemu dengan Kiara.
"Baik, nek. Maaf bertamu tanpa memberitahu lebih dulu," balas Kiara sopan.
"Tak apa, tak apa, sering-seringlah berkunjung ke sini," timpal Nek Lidya mengibaskan tangannya ke udara. Kiara mengangguk mengiyakan ucapan sang nyonya rumah sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Nenek tinggal dulu, kalian mau membuat tugas, kan?" si nenek pergi tanpa menunggu jawaban. Beliau juga menyuruh pelayan untuk tak mengganggu ketiga remaja yang sedang fokus mengerjakan tugas, datang kalau diperlukan saja dan jangan menyela mereka bertiga, seperti itulah kira-kira titah sang nyonya rumah.
Kiara menunggu dengan sabar, Rama yang tak terlihat sejak mereka tiba di kediaman pemuda itu. "Bosan, ya?" tanya Andi memecah keheningan.
"Gak juga," balas Kiara singkat.
"Rama tuh kalau balik pasti langsung ke kamar, paling cepat sebelum makan malam baru ke luar," celetuk Andi memberi informasi.
"Begitu?" gumam Kiara memasang wajah kecewa.
"Maaf nih sebelumnya, sebenarnya kamu ada masalah apa, ya sama Rama? Kok kayaknya jutek terus, ya ... gitulah pokoknya?!" ucap Andi bingung mencari kata yang tepat untuk bertanya.
Kiara menghela napas panjang sebelum menjawab. "Sebenernya aku kayaknya udah salah paham sama temen kamu," cicit gadis itu malu. "Pokoknya adalah kesalahpahaman yang terjadi. Nah, aku di sini untuk minta maaf," aku Kiara dengan tampang menyesal.
"Dimaafkan!" sela sebuah suara dengan nada datar dari arah pintu. "Pulang gih sana?!" lanjut suara tadi acuh.
Kiara menatap pemuda yang bersandar tak jauh darinya itu, masih tetap angkuh tapi Kiara tak akan salah paham lagi. "Tolong biarkan aku meminta maaf dengan benar!" tukas Kiara memberanikan diri.
Rama mengibas tangannya. "Tak perlu, aku tahu kalau kamu tulus dan benar-benar meminta maaf. Jadi gak perlu minta maaf ulang?!" desah Rama malas.
Baru saja Kiara ingin membuka mulutnya, Andi menyela dengan cepat. "Tumben di sini, Ram? Biasanya ngurung diri di kamar?!" celetuk pemuda itu. Dia memberi isyarat agar gadis di sampingnya tak lagi mengungkit soal kata maaf ke depannya.
Rama mengusak rambutnya setengah kesal, duduk di kursi yang masih kosong dengan santainya. "Nenek yang nyuruh," keluh pemuda itu malas.
"Bwa-ha-ha-ha, kasian yang dipaksa," ejek Andi menertawakan kawannya.
"Seneng, ya, hmm, hmm?" rama menarik-narik rambut Andi.
"Sakit, Ram," keluh Andi. Meski bercanda, tenaga yang digunakan kawannya itu tak main-main.
"Siapa suruh ngejek?!" timpal Rama mendengus pelan.
Andi menoleh menatap Kiara yang menatap sahabatnya dengan tatapan tak percaya. "Gimana sahabat aku? Baik, kan?" ucap pemuda itu bangga. "Yah, emang kadang sahabat aku ini suka buat salah paham karena terlalu dingin dan acuh!" desah Andi merangkul bahu Rama. "Tapi aslinya dia baik pake banget?!" lanjutnya meyakinkan dengan keyakinan seolah kawannya itu adalah orang yang paling baik sejagat.
Kiara mengangguk, gadis itu untuk pertama kalinya tersenyum tulus. Bukan senyum pencitraan yang selama ini sering dia pamerkan ketika dia di luar rumah.
"Woah, cantiknya?!" desah Andi memuji.
Rama memutar bola matanya malas, jangan bilang kawannya satu ini kembali jatuh cinta. Kenapa dia punya sahabat satu-satunya tapi sangat mudah jatuh cinta, padahal hanya karena hal sepele saja. Tak dapat dipercaya.
"Mari kita ulang dari awal, aku Kiara, ayo berteman?!" ucap gadis itu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Berteman!" kata Andi cepat menerima uluran tangan Kiara.
Rama menghela napas panjang di bawah tatapan sahabatnya. "Teman," katanya ogah-ogahan."
Kali ini Kiara mendapatkan teman yang sebenarnya, tanpa melihat siapa dia, dan bagaimana penampilannya. Andi dan Kiara cukup cepat berbaur, keduanya asyik bercerita dan Rama berubah menjadi pendengar yang setia. Yah, mungkin hanya berpura-pura mendengar atau terpaksa mendengarkan tepatnya.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1