
Rama membaca laporan dari mata-mata yang dia tempatkan di dekat Ponco. Sekarang Rama lebih memakai otak dan melakukan berbagai taktik untuk melawan pria itu. Kalau dulu Rama hanya punya tenaga, makanya dia selalu maju dengan adu jotos dan perkelahian. Tetapi sekarang, Rama memiliki banyak pundi uang. Dia bisa mengeluarkan sesuka hati untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitar dirinya.
"Dalam perkelahian dulu aku tak terkalahkan, sekarang dalam keuangan aku pun akan jadi pemenang!" gumam Rama menyeringai kecil.
"Lihat, bahkan orang kepercayaan yang ada di sisimu pun bisa kubeli dengan jumlah yang tak seberapa?!" lanjut Rama senang saat dia berhasil menemukan pengkhianatan yang bisa dia gunakan untuk memata-matai Ponco.
Semua pergerakan Ponco, semua yang dia akan lakukan atau rencanakan akan bocor ke telinga Rama. Dan setelahnya, Rama akan melakukan apa yang dia mau untuk menggagalkan semua usaha Ponco. Pemuda itu ingin membuat Ponco terpojok dan tak memiliki tempat berpijak sedikitpun. Salahnya dulu dia bersikap longgar, dia tak ingin kejadian buruk kembali menimpa nenek dan juga kawannya.
Jika dia harus jatuh, dia tak ingin menyeret orang lain selain Ponco. Apalagi keluarganya, Rama berharap kedua orang terdekatnya itu selalu sehat dan bahagia.
"Serius amat?" tegur Andi mencoba mengintip ponsel sahabatnya. Rama segera menyimpan ponselnya dengan cepat.
__ADS_1
"Cih, pelit," decih Andi membuang muka. "Dari gebetan, ya? Makanya aku gak boleh liat?!" tuduh Andi asal.
"An," panggil Rama menghela napas panjang. "Kalau aku ada gebetan, kamu pasti tahu, kan! Kamu ngikutin aku kemana aja aku selama di kampus, aku gak pernah jalan kalau gak keluar bareng kamu atau nenek, jadi kapan waktunya untuk milih atau liat-liat gebetan, hmm?" hanya Andi yang cukup untuk membuat Rama menjelaskan sepanjang ini.
"Mana aku tahu? Aku kan gak sekelas terus di kampus bareng kamu, Ram?!" Andi mengangkat bahunya acuh.
"Serah, pikirkan saja sesukamu?!" timpal Rama malas.
"Memang, cuma Nek Lidya yang hangat dan paling pengertian pada makhluk yang kesepian ini," lanjut Andi, dia bahkan menyeka air matanya seolah sedang menangis karena sedih.
"Diam, An. Gak malu apa?" akhirnya Rama memilih menegur kawannya, kalau diteruskan bisa-bisa telinganya yang terluka mendengar ocehan tak mutu kawannya itu.
__ADS_1
"Bahkan sahabat terbaik aku malu punya teman kayak aku?" bukannya berhenti Andi malah semakin menjadi.
Rama memegang pelipisnya, sepertinya dia butuh obat pereda nyeri. "Diam dan aku akan pergi menemani kemanapun kamu mau!" ini cara jitu yang Rama tahu akan berhasil.
"Janji?" tanya Andi kekanakan menyodorkan jari kelingkingnya.
Rama mengangguk dengan cepat. "Ya!" katanya menimpali.
Andi tersenyum senang, dia bisa melewati akhir pekan bersama kawannya. "Bisakah kita mengajak Nek Lidya juga? Hanya berputar-putar sebentar bersama di taman yang baru dibuat kemarin?" tanya Andi antusias.
"Lakukan sesukamu, ajak juga nenek. Kita akan bermain di pagi hari bersama nenek bertiga. Sorenya kita berdua akan berkeliling entah makan atau belanja," jawab Rama cepat.
__ADS_1
Rama berdiri dari duduknya, dia berhenti sesaat sebelum mencapai pintu. "Kamu yang bayar, oke?" Rama terkekeh begitu dia melarikan diri tanpa menunggu tanggapan kawannya. Ah, dia jadi tak sabar menunggu akhir pekan.