
Setelah masalah Kiara beres, kini Jonathan lagi yang sepertinya sedang bermasalah. Pemuda itu tak konsen mengikuti kelas, sering melamun, dan hanya mengaduk-aduk makanan yang dia pesan tanpa memakannya sedikit pun. Ketika ditanya, si Jo hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata kalau dirinya baik-baik saja, tak ada masalah yang bisa mengganggu dirinya. Tapi nyatanya, si Jo terus bertingkah aneh akhir-akhir ini.
"Kamu kenapa, sih, Jo?" tanya Andi. Mereka saat ini sedang di taman, Kiara dan Andi sengaja mengajak kawannya itu keluar untuk mencari udara segar. Siapa yang tahu mungkin itu berhasil mengatasi masalah yang dihadapi si Jo.
"Aku kenapa?" ucap si Jo balik bertanya. "Udah aku bilang, aku gak apa-apa. Gak ada masalah juga. Kalian aneh nanya-nanya mulu," lanjut pemuda itu terkekeh kecil.
"Ck, coba jujur aja napa!" decak Kiara kesal. "Tingkah kamu itu terlalu aneh untuk dibilang 'Baik-baik saja'!" lanjut gadis itu menatap lurus kawannya.
Andi mengangguk setuju dengan ucapan Kiara. "Benar! Kamu terlalu sering melamun dan aneh akhir-akhir ini," timpal Andi menambahkan.
"Ha-ah, aku benar-benar baik-baik saja," kata si Jo lirih. "Sungguh tidak apa-apa," lanjut pemuda itu.
"Kalau ada masalah, cerita sama kita-kita, Jo. Lihat, masalah aku aja teratasi karena curhat sama kalian kemarin," kata Kiara.
"Atau jangan-jangan kamu juga dijodohkan?" tebak Andi menatap terkejut kawannya.
"Sembarangan, mama-papa aku gak sekolot itu!" tukas si Jo mengelak.
"Maksud kamu apa?" tanya Kiara melotot marah. "Maksud kamu kakek aku kolot, gitu?" tukas Kiara menatap tajam Jonathan.
"Bukan begitu," kilah pemuda itu menatap ke lain arah.
"Jadi, kamu lagi ada masalah apaan?" tanya Andi menengahi kedua sahabatnya yang mungkin saja sebentar lagi akan siap bertengkar.
"Aku disuruh pindah kuliah," kata si Jo akhirnya mengeluh juga.
"Ya, tinggal ikuti aja keinginan mereka, Jo. Lagian cuma pindah, gak kayak aku malah disuruh ikutan perjodohan," timpal Kiara.
"Masalahnya aku disuruh pindah ke luar, di salah satu fakultas dekat bisnis mama dan papa aku, Ra," balas si Jo mengeluhkan tempat yang dia tuju, bukannya mempermasalahkan kepindahannya.
Andi menepuk tangannya satu kali. "Bagus, dong!" katanya dengan mata berbinar. "Kamu bakalan punya temen orang luar ntar," lanjut pemuda itu menatap bangga kawannya.
"Tapi kita bakalan susah ketemu dan ngumpul kayak gini, An," kata si Jo mempermasalahkan jarak yang akan membuat mereka berempat sulit bertemu.
"Huh, kan ada yang namanya liburan, Jo," timpal Andi santai. "Pas libur kamu bisa ke sini atau kami yang ke sana mengunjungi kamu," kata pemuda itu sambil nyengir lebar. "Asal dibayarin, he-he," lanjut Andi bercanda.
"Ho-oh, kenapa kamu malah kayaknya gak suka?" tanya Kiara menatap aneh kawannya. "Kalau aku dikasih kesempatan begitu, pasti bakalan langsung aku terima tanpa pikir panjang!" lanjut gadis itu yakin.
"Emm, kalau aku masih mikir-mikir dulu, sih," timpal Andi berpikir. "Soalnya kalau aku pergi, Rama bakalan sendirian di rumah," jelas pemuda itu memikirkan sahabatnya.
"Nah, itu juga yang aku rasakan!" aku si Jo. "Kalau aku pergi, aku gak bisa ketemu kalian semau aku seperti sekarang. Iya kalau aku bisa dapat teman seperti kalian lagi di sana," lanjut pemuda itu mengeluh panjang.
"Aw, aw, aw, aku gak tahu kamu mikirin kita-kita segitunya, Jo," kekeh Kiara usil.
"Kalian kan sahabat-sahabat terbaik yang aku punya!" aku si Jo menatap kedua sahabatnya bergantian.
__ADS_1
"Ahh, tiba-tiba anginnya kenceng banget!" kata Kiara mengipasi wajahnya sambil menatap ke lain arah.
"Kamu juga sahabat terbaik kami, Jo!" timpal Andi tersenyum hangat.
Jonathan menyenggol lengan Kiara pelan. "Bilang aja kamu terharu sampai meneteskan air mata begitu, ya kan?" celetuk pemuda itu mengusili Kiara.
"Gak ada yang begitu, mana ada aku ngerasa terharu atau apa pun itu!" kilah gadis itu mendengus kesal, menyesal sempat terharu karena ucapan sahabatnya yang usil ini. Andi dan si Jo tertawa cekikikan, menertawai Kiara yang yang sedang cemberut.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Aku pulang," seru Andi dengan ceria.
"Dari mana, An?" tanya sebuah suara yang sangat dihapal Andi. Suara siapa lagi kalau bukan suara kawannya, Rama.
"Lagi dengerin curhatannya si Jo, Ram," balas Andi cepat.
"Kenapa lagi si Jo?" tanya Rama datar.
"Si Jo disuruh pindah kuliah di luar, tapi dia gak mau karena bakalan susah ketemu kita kecuali pas liburan!" kata Andi menjelaskan.
"Tolak aja, susah," timpal Rama dengan entengnya.
"Kan orang tuanya si Jo yang minta, biar mereka bisa satu kota sama si Jo. Tapi, ya gitu. Si Jo nya keberatan tapi belum bisa menolak," ucap Andi menjelaskan.
"Ha-ah, kenapa masalah bergantian menganggu begini?" desah Rama menghela napas pelan.
"Ck, lupakan saja," decak Rama acuh. "Kamu sudah makan?" tanya pemuda itu.
"Udah tadi," jawab Andi cepat. "Kalau Rama udah makan atau malah nungguin aku pulang biar bisa makan bareng," lanjut pemuda itu menaik-turunkan alisnya.
"Masuk saja, trus istirahat," timpal Rama mengisyaratkan dengan kepalanya, menyuruh kawannya naik ke atas dan beristirahat. Tak usah memikirkan tentang dirinya, dia bisa makan sendiri kalau memang dia mau.
"Siap, bos!" kata Andi penuh semangat langsung melaksanakan ucapan kawannya. "Tapi kalau kamu belum makan, aku bisa nemenin kamu makan dulu,.Ram," lanjut pemuda itu berhenti di tengah tangga. Rama melambaikan tangan, menyuruh kawannya tak perlu repot dan segera ke atas saja untuk beristirahat. Andi pun mengangguk paham dan nyengir lebar sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Pagi ini lebih cerah dari pagi sebelumnya, Rama masih duduk dengan santainya sambil membaca koran pagi. "Loh, gak ngantor, Ram?" tanya Andi terkejut melihat temannya masih di rumah tanpa setelah jas di jam segini.
"Libur," kata Rama singkat. "Sarapan, gih," lanjut pemuda itu tanpa menatap sahabatnya.
"Wah, tumben libur, Ram," seru Andi duduk di kursinya. Pemuda itu segera menyantap sarapan yang sudah disediakan untuknya.
"Gak ada kerjaan, aku juga gak punya janji hari ini, makanya libur," jelas Rama.
"Ram, dari pada sendirian di rumah, mending ikut ke kampus, yuk!" ajak Andi membujuk kawannya agar mau ke kampus bersama dengannya. "Anak-anak klub drama masih nanyain kamu, loh?!" sambung pemuda itu. Apa yang dikatakan Andi memang benar, sahabatnya itu sering ditanya oleh anggota klub drama yang dia ikuti. Pertanyaannya pun beragam, mulai dari kapan sahabatnya akan ke sana lagi, atau bagaimana kabar sahabatnya saat ini. Andi pun menjawab seadanya, hanya balasan sederhana dan tanggapan seadanya yang dia berikan saat mengahadapi pertanyaan-pertanyaan tentang sahabatnya.
__ADS_1
Rama mengangkat bahu ringan. "Kurasa tak ada salahnya bermain sebentar dengan mereka," kata pemuda itu yang artinya dia setuju untuk ikut bersama dengan Andi.
"Yosh, hemat uang jajan!" celetuk Andi memasang tampang super riang. Kalau kawannya ikut, dia pasti tak diperbolehkan membuka dompetnya sendiri. Semua yang dibeli Andi, pasti Rama yang membayarkannya. Selalu begitu dan tak pernah berubah, makanya Andi sudah terbiasa dan sangat menikmati peran yang sahabatnya lakukan untuknya kalau mereka sedang bersama. Bukannya memanfaatkan kebaikan Rama, Andi hanya tak bisa menolak. Rama akan menggerutu kesal sepanjang hari kalau Andi menolak dan membayar sendiri dengan uangnya. Makanya Andi menikmati saja
"Huh, kalau uang jajan kamu kurang, biar aku tambah mulai besok!" dengus Rama.
"Jangan tambah lagi!" timpal Andi cepat. "Yang sekarang aja aku bingung mau ngabisin bagaimana?!" aku Andi dengan wajah cemberut.
"Nikmati saja, dan gunakan sepuasnya untuk keperluan kamu!" ucap Rama santai. Andi mengangguk setengah hati, kemudian keduanya pun berangkat bersama dengan mobil mereka masing-masing.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Dua mobil berhenti secara bersamaan di parkiran, Rama dan Andi keluar dari mobil mereka dalam waktu bersamaan. "Aku kira pangeran dari mana tadi yang berkunjung, rupanya pangeran tampan pujaan hatiku!" ucap Kiara dari belakang, dia baru datang dan melihat kedua sahabatnya baru tiba.
"Jangan asal!" tegur Rama datar.
"Ck, canda, Ram! Canda?!" kata gadis itu berdecak kesal. Rama hanya bergumam sebagai tanggapan.
"Ram? Ngapain ke sini?" Gak ngantor?" tanya si Jo yang bertemu dengan ketiga kawannya saat dia akan ke kantin.
"Libur," balas Rama singkat sambil terus berjalan.
Si Jo menyampirkan tangannya ke bahu Rama. "Mau ke kantin juga, kan?" tanya pemuda itu tak digubris. "Ayo, bareng," ajak si Jo nyengir lebar memamerkan deretan giginya yang putih.
"Terserah," ucap Rama singkat. Andi menyusul, mengambil sisi satunya Rama yang masih kosong, diikuti dengan Kiara yang berjalan di sisi Andi. Jadilah keempatnya berjalan bersama menutupi lorong kampus, Rama yang acuh begitu menarik perhatian orang-orang. Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya pemuda dingin nan tampan yang berjalan bersama para senior mereka itu.
Jonathan bergerak cepat, memesan makanan ringan dan minuman untuk ketiga kawannya. Begitu selesai memesan, dia langsung duduk di meja yang mereka pilih. "Hai, boleh gabung?" tanya beberapa mahasiswi menghampiri mereka.
"Gak!" tolak Kiara sambil melotot. Kemarin-kemarin aja dia dijauhi, sekarang malah dikerumuni begini.
"Sorry, gue gak nanya sama lo!" balas cewek yang tadi bertanya dengan nada ketus, berbeda dengan nada yang tadi dia gunakan.
"Boleh, kan?" tanyanya menatap Rama dengan tatapan memohon.
"Aku tak suka sekumpulan serangga yang idiot!" dengus Rama dengan nada tajam.
"Se, Se, serangga? Idiot?" mulut gadis tadi terbuka lebar menatap tak percaya pada pria tampan bermulut pedas di depannya ini.
Rama menyeringai kecil. "Lihat!" katanya pelan. "Bahkan serangga yang aku maksud tak mengerti apa yang aku katakan!" sindir Rama tanpa perasaan.
"He-he, ada yang ingin kami diskusikan di sini. Jadi kalian bisa duduk di tempat lain, banyak meja yang masih kosong, kok," sela Jonathan menengahi. Dia tak memiliki harapan kalau Kiara dan Andi akan turun tangan, kedua sahabatnya itu malah menikmati dan hanya menonton saja. Seolah sedang melihat sesuatu yang seru.
"Gue juga tahu?!" ketus gadis tadi meninggalkan mereka dengan langkah menghentak keras, terlihat jelas kalau gadis itu sangat-sangat kesal. Rama tak peduli, dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Kiara mengacungkan jempolnya, suka dengan cara Rama menanggapi gadis centil tadi. Andi mendesah panjang, padahal dia belum melihat hal seru tapi sudah berakhir saja tontonannya. Si Jo hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir, dia kira Rama orang yang cukup ramah. Ternyata pemuda itu bisa juga berkata ketus dan menyakitkan saat didengar.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...