
Begitu sampai di perusahaan, Andi membantu Ponco hingga sampai ke mess pekerja. Ponco berterimakasih berkali-kali, memuji Andi hingga tak ada satu pun pujian yang terlewat. Keduanya berpisah, Andi pamit kembali ke rumah, dan Ponco masuk ke kamarnya mengatur barang-barang yang dia punya. Sambil mengatur barang-barangnya, Ponco terkekeh pelan menikmati alur cerita yang akan dia buat untuk menjebak Rama.
Di perjalanan, Andi sedikit memikirkan apa yang dikatakan Ponco. Pemuda itu seakan bisa mendengar ucapan itu seperti bisikan-bisikan yang terus berulang di telinganya. "Wajah sepertiku kan cukup pasaran, jadi pasti wajar kalau mirip sedikit dengan Nenek Lidya dan Kakek Surya," ucap Andi mengangguk yakin. "Ya, pasti itu alasannya!" lanjut pemuda itu yakin.
"Aku pulang," ucap Andi begitu sampai di rumah.
"Selamat datang, tuan muda," kata pelayan yang menyambut kedatangan Andi.
"Nek Lidya dimana?" tanya pemuda itu menengok ke kiri dan kanan.
"Nyonya di atas, di kamarnya. Nyonya besar sedang beristirahat, tuan muda," jawab si pelayan dengan sopan.
"Terima kasih, aku ke atas liat nenek dulu, ya," timpal Andi melangkah pergi menaiki tangga.
Di depan pintu kamar sang nenek, Andi mengetuk pintu kamar itu dengan pelan. Andi membuka pintu begitu dirinya dipersilakan masuk. "Kamu sudah balik?" tanya si nenek yang berbaring di tempat tidur.
Andi mengangguk dan mendekati wanita tua itu. "Nenek sakit? Tak enak badan? Yang mana yang sakit?" tanya Andi beruntun.
Nek Lidya tertawa kecil. "Ha-ha-ha, wanita tua ini tak sakit. Nenek hanya sedikit lelah makanya berbaring sebentar," ucap si nenek menenangkan hati pemuda di depannya yang sudah seperti cucunya sendiri.
Andi menghela napas lega, dia mengira sang nenek jatuh sakit, makanya dia se-khawatir tadi. "Syukurlah, aku kira nenek sakit," ucap pemuda itu lega.
"Dasar, nenek mu ini tak se-tua itu sehingga sebegitu mudahnya terus-menerus sakit," timpal sang nene berpura-pura marah, padahal dia sangat senang ada yang memperhatikan dirinya di masa tuanya.
Andi memijat pelan kaki sang nenek. "Nenek harus selalu sehat! Hanya nenek dan Rama yang saya punya di dunia ini," ucap Andi teramat tulus.
Nek Lidya menyunggingkan senyum usil. "Kalau bagaimana dengan Kiara? Apa gadis cantik itu tak masuk hitungan, hmm?" ucap si nenek menggoda cucunya sendiri.
"Aisshh, Ara cuma teman, nek. Hanya teman!" timpal Andi cepat.
"Ha-ha-ha, semua diawali dengan persahabatan, bocah!" Nek Lidya tertawa renyah, merasa puas telah membuat wajah Andi berubah menjadi merah.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Siang, sekitar pukul dua, Rama tiba di rumah. Rama mengernyitkan keningnya, rumah terlalu sepi. "Dimana nenek dan Andi?" tanya Rama pada pelayan yang membukakan pintu untuk dirinya. "Apa mereka berdua sedang di kebun?" tanya pemuda itu lagi.
"Tadi Tuan Andi ke kamar nyonya besar, tuan muda. Sepertinya tuan muda kedua masih di kamar nyonya," balas si pelayan. Rama mengangguk sebagai ganti ucapan terima kasih.
Rama pun melangkah menuju kamar sang nenek, membuka pelan pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Rama menarik sudut bibirnya ke atas. "Ternyata benar, mereka berdua ketiduran," gumam pemuda itu melihat Andi yang tertidur di kursi, kepala kawannya itu menelungkup di sisi tempat tidur neneknya.
"Dasar, apa tak bisa berbaring dengan benar," gumam Rama menggelengkan kepalanya. Rama menyampirkan selimut ke bahu kawannya. Setelah itu, dia juga membenarkan selimut sang nenek.
Rama meninggalkan kamar neneknya, menutup pintu dengan sangat pelan agar tak membangunkan nenek dan kawannya. Rama masuk ke kamarnya dan segera berganti dengan baju rumahan. Rama kembali turun ke dapur, mengambil minuman dan sedikit cemilan. Dia tak terlalu lapar dan terlalu malas makan sendirian, jadinya dia hanya mengganjal perut dengan cemilan dan juga buah.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Esoknya, Kiara berusaha keras untuk menyembunyikan tawanya agar tak pecah. Pasalnya, Jonathan yang sombong, kini berubah menjadi penurut dan membantu Andi membawakan barang-barangnya. Andi terlihat canggung, tetapi dikarenakan ada Rama, dia harus terlihat memerintah budak yang bekerja tanpa dibayar hingga sebulanan ini.
"Apa ada lagi yang tuan muda inginkan?" tanya si Jo dengan nada sopan.
"Tak perlu, bisakah tak mengikuti-ku kalau di kampus?" bisik Andi sambil melirik sekitar, banyak mata yang menatap ingin tahu ke arah dirinya.
Jonathan melirik Rama diam-diam, lalu kembali menatap Andi. "Tak bisa, saya harus selalu bersedia setiap saat menunggu perintah anda!" balas Jonathan berdiri di samping Andi.
Andi menghela napas panjang. "Setidaknya duduklah, apa kamu tak lihat, kita diperhatikan banyak pasang mata?" ucap Andi lirih.
"Saya ..., saya ...." Jonathan melirik Rama takut-takut, kalau dia salah menjawab, bisnis keluarganya akan mengalami masalah lagi.
__ADS_1
"Duduk saja, aku tak sekejam itu tak memperbolehkan seseorang untuk duduk," ucap Rama tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.
"Baik, saya akan duduk, tuan?!" ucap Jonathan cukup nyaring.
"Jangan panggil 'Tuan', panggil saja Andi, Jo!" pinta Andi dengan wajah memelas. Jonathan mengiyakan saat melihat Rama mengangguk mengizinkan dirinya memanggil langsung nama Andi.
"Kalau mau ketawa, ya ketawa aja, Ra. Gak baik nahan ketawa," tegur Rama tanpa menatap Kiara.
"Sia–puff, siapa yang ketawa? Aku, hemp, gak tuh," kilah Kiara berbicara sambil menutup mulutnya.
"Gak usah ditutupi, kedengaran masih!" balas Rama santai.
"Ck, kenapa, sih kamu gak bisa ngeliat orang seneng?!" decak Kiara dengan tampang cemberut.
Rama tersenyum mengejek. "Kapan aku begitu?" kilah Rama memasang wajah datar sedatar tembok.
"An, kenapa sih Rama harus banget jadi sahabat kamu?" tanya Kiara menatap Andi.
"Mungkin karena takdir?!" balas Andi tanpa pikir panjang, memamerkan senyum cerah hingga matanya menyipit.
"Ahh, kalian berdua sama saja! Sama-sama tukang bikin kesel?!" ketus Kiara membuang muka.
"Heh, tapi kau tetep aja main bareng kita walau pun kita bikin kesel?!" dengus Rama dengan nada datar.
"Ngeselin, sih," cicit Kiara pelan. "Tapi kalian setia kawan?!" lanjut gadis itu dengan mata berbinar. Jonathan hanya mendengarkan tanpa ikut bersuara, dia hanya jongos yang harus mem-babu dengan gratis, mengikuti semua perintah Andi. Untungnya pemuda itu baik hati, Andi tak pernah menyuruh dia melakukan hal-hal aneh. Rama juga tak jahat-jahat amat kalau dia (Jo) tak mengganggu kawan pemuda itu, Rama bahkan membelikan dirinya makan siang dan membiarkan dia makan bersama dengan mereka. Jonathan cukup menyukai hukuman yang dia jalani karena sudah mengganggu Andi.
"Aku masuk kelas dulu," pamit Rama menyampirkan tasnya ke pundak.
"Belajar yang rajin, Ram. Jangan tidur di kelas!" teriak Andi, Rama melambaikan tangan tanpa menoleh sebagai tanggapan.
"Memangnya, tuan itu suka ketiduran di kelas, ya?" tanya Jonathan tiba-tiba saat hanya tersisa mereka bertiga.
"Dan gak usah manggil kita tuan, tuan, dan tuan, Jo! Panggil nama aja, Rama gak akan marah, kok!" ucap Andi yang canggung dipanggil tuan oleh temannya Kiara.
Jonathan mengangguk cepat. "Terus, gak ada yang marah? Guru, wali kelas, kepala sekolah, gitu?" tanya Jonathan penasaran.
Andi mendesah lelah. "Sayangnya gak ada yang marah, dunia gak adil karena Rama kelewat pintar. Meski dia ketiduran sepanjang pelajaran, tapi dia tetep dapet peringkat satu di kelas?!" ucap Andi menjawab pertanyaan Jonathan.
"Jo sendiri, gak kuliah? Kok bisa selalu sama kita-kita?" giliran Andi yang bertanya.
"Huh, pas pembagian otak dia gak hadir, An. Jadi dia gak mungkin ngelanjut!" celetuk Kiara mendengus pelan.
"Aku gak lanjut gara-gara papa aku nyuruh belajar ngurus perusahaan! Bukan karena otak aku gak mampu?!" timpal Jonathan tak terima dikatai bodoh. "Lagian aku bakalan lanjut tahun depan, untuk setahun ini aku mau belajar ngurus perusahaan papa!" lanjut pemuda itu.
"Ya, ya, ya, semoga sukses?!" timpal Kiara setengah percaya.
"Aku seriusan, Ra!" kata Jonathan cepat.
"Iyain," balas Kiara malas berdebat.
"Kamu kan baik hati, terus ceria, dan hangat, kok bisa mau sama cewek macam ini, sih?" tanya Jonathan melirik sinis Kiara.
Andi menggaruk pipinya yang tak gatal. "Bukannya kamu yang ngejar-ngejar si Ara dulu, ya?" tukas Andi membuat Kiara tertawa terbahak-bahak. Jonathan mendengus kesal, merasa kalau dia sudah menggali lubang kuburan untuk dirinya sendiri.
"Makanya jangan nanya yang aneh-aneh, nyesel kan udah nanya gitu, bwa-ha-ha-ha," timpal Kiara disertai gelak tawa yang tak bisa dia hentikan.
"Maksud aku, kalian beneran pacaran gitu?" tanya Jonathan. Kalau dilihat Kiara dan Andi lebih terlihat sebagai teman, bukannya sepasang kekasih yang sedang menjalin hubungan.
__ADS_1
"Aku? Dia? Pacaran? Gak ada, ya ceritanya!" balas keduanya serempak.
"Yakin?" Jonathan menaikkan keningnya, menatap Kiara dan Andi dengan tatapan curiga. "Udah kompak gini, loh ngomongnya?!" lanjut pemuda itu menambah alasan untuk mencurigai kalau kedua orang di depannya ini sedang berbohong.
"Aku gak mau pacaran, aku mau bantuin Rama dan ngerawat nenek aja!" tukas Andi dengan sungguh-sungguh.
"Kalau aku gak mau buat para pemuda lain patah hati. Mereka semua pasti sakit hati kalau aku memilih satu untuk dijadikan pacar, jadi biarlah aku berkorban. Yah, karena aku cantik dan baik hati?!" sifat narsis Kiara mulai kambuh lagi. Gadis itu merasa kalau dia dipuja oleh semua pria yang hidup di dunia ini.
"Narsis!" gumam Andi menimpali.
"Halu?!" tukas Jonathan menatap ke arah lain. Dia bingung dulu apa yang membuatnya menyukai hingga mengejar-ngejar Kiara. Apa karena kawan-kawannya, karena taruhan, atau hanya untuk memperlihatkan kalau dia bisa mendapatkan gadis bintang di sekolah mereka.
Ketiganya terus berdebat, hingga kelas Andi dan Kiara tiba. Jonathan menunggu dengan setia, tak lama Rama datang karena kelasnya sudah usai. Jonathan lebih gugup kalau berhadapan dengan Rama, pemuda itu terlihat terlalu dominan. Jadi Jonathan sering takut sendiri tanpa alasan yang jelas.
"Bagaimana kelas anda, tuan?" tanya Jonathan memecah keheningan.
"Biasa saja!" balas Rama singkat. "Dan bicara saja dengan santai?!" lanjut pemuda itu tanpa emosi.
"Baik?!" timpal Jonathan cepat.
"Bagaimana dengan kamu sendiri? Ada keluhan?" tanya Rama menatap lurus Jonathan.
Jonathan menyembunyikan kegugupannya. "Tak ada, Andi sangat baik dan tak pernah memerintah aku seenaknya. Aku juga tak diharuskan mengerjakan hal-hal yang berlebihan!" aku Jonathan jujur.
Rama menarik sudut bibirnya ke atas. "Sahabatku memang terlalu baik," timpalnya terlihat cukup bangga.
"Maaf kalau aku sudah keterlaluan. Aku hanya tak suka sahabatku diusik!" tukas Rama setelah beberapa saat diam.
"Tak apa, tak apa," timpal Jonathan. "Aku yang salah, aku menyerang Andi hanya karena kesal sudah ditolak berkali-kali oleh Kiara," lanjut pemuda itu mengakui alasan dia mengganggu Andi.
"Mari berteman, Jo?" Rama tersenyum tipis seraya menatap serius Jonathan.
"Seriusan?" tanya Jonathan tak percaya. "Aku bisa menjadi teman kalian?" tanya pemuda itu lagi.
Rama menganggukkan kepalanya. "Jika kamu menolak tak apa, aku paham mungkin kamu masih kesal padaku!" balas Rama kelewat santai.
"Mari berteman! Aku gak keberatan, gak sakit hati, gak kesel, dan gak kenapa-napa Ayo kita berteman, Ram!" Jonathan mengulurkan tangannya, Rama pun menerima uluran tangan Jonathan. Keduanya berjabat tangan menandai dimulainya persahabatan mereka. Tentu saja ini ada campur tangan dari Andi, mana mau Rama repot-repot mengajak seseorang berteman kalau bukan karena kawannya yang meminta. Andi berkata kalau dia yang mengajak berteman, Jonathan pasti menolak karena takut pada Rama. Makanya tugas itu pun diserahkan ke Rama, imbalannya tentu saja ucapan terima kasih dan dia bisa melihat kawannya bahagia.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Untuk merayakan persahabatan baru mereka, Andi mengajak kawannya yang lain untuk makan malam bersama di luar. Pada awalnya Rama menolak, mengatakan kalau mereka tak bisa meninggalkan sang nenek sendirian di meja makan di rumah. Tetapi Andi malah meminta izin pada sang nenek, yang tentu saja langsung diizinkan. Nek Lidya mengatakan dia bisa makan bersama para pelayan, dirinya tak benar-benar sendirian di rumah.
Tiga pemuda dan satu gadis jelita, Kiara ditatap iri oleh para kaum hawa karena bisa dikelilingi oleh tiga pemuda yang terbilang tampan. Terlebih untuk tampang Rama yang sekelas pahatan dewa. Kiara pun membusungkan dada dengan bangga, menyatakan kalau dirinya gadis yang beruntung di dunia.
"Ra, bisa pindah tempat, ga?" bisik Andi sambil melirik sekitar mereka.
"Memang kenapa? Di sini makanannya enak, tahu?!" timpal Kiara santai.
"Mata mereka berasa lagi menembakkan laser, Ra?!" ucap Andi tak terbiasa.
"Anggap aja mereka lagi lomba tatap menatap, An," timpal rama santai. "Minum dulu," kata pemuda itu menyodorkan air mineral pada kawannya. Yah, siapa tahu saja kawannya bisa lebih tenang.
"Anggap aja mereka gak ada!" celetuk Jonathan memberi masukan.
Andi menarik napas panjang, memejamkan mata agar dirinya tenang. Begit usia membuka matanya, Andi tak terlalu peduli lagi dengan tatapan yang menghujani mereka. Andi malah fokus menanggapi ocehan kawan-kawannya.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...