
Rama terus memperhatikan Ponco setiap dia memiliki kesempatan, pria itu memang bekerja dengan rajin dan tak malas. Tetapi masalahnya dia tak tahu sampai kapan Ponco akan tetap tenang, bisa saja dia langsung berubah dan membahayakan sang nenek dan juga Andi saat dirinya tak ada. Rama pun menyuruh orang yang mengawal neneknya dan juga Andi untuk berhati-hati pada pekerjanya itu, tentu saja para pengawal itu bekerja sebagai bayangan, tak akan muncul kalau tidak diperlukan, begitulah tugas yang diberikan oleh Rama pada mereka.
Ponco sendiri bukannya tak tahu kalau dia sedang diawasi, pria itu sering berdecak kesal di dalam hatinya, merasa geram dengan intuisi Rama yang terlalu tajam. "Sebenarnya kenapa dari tadi kamu liatin paman itu, sih Ram?" tanya Andi heran.
"Siapa yang lagi liatin pekerja itu?" elak Rama.
"Ya, kamu lah, dari tadi mata kamu selalu ngeliatin Paman Beno. Jangan khawatir, paman kerjanya bagus, kok," timpal Andi memuji Ponco.
"Aku gak lagi liatin tuh orang, aku lagi liatin tamannya nenek!" ralat Rama tak peduli kawannya percaya atau tidak padanya.
"Ram, jalan, yuk. Mumpung gak ada kelas," ajak Andi tak lagi mempermasalahkan Rama mau ngeliatin taman atau si paman.
"Ajak nenek, kalau nenek mau, baru kita jalan," timpal Rama.
"Mana mau nenek jalan jam segini, kita aja, ya?" balas Andi setengah memelas.
"Dengar, An, jangan sekali-kali meninggalkan nenek sendirian di rumah! Kita gak tahu bahaya apa yang bisa datang saat kita gak ada di dekat nenek?!" ucap Rama dengan nada serius. 'Terlebih ancamannya ada di sekitar kita!' lanjut pemuda itu dalam hati, matanya kembali menatap Ponco.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Ponco kembali ke kamar yang dipakainya selama dia tinggal dan bekerja di kediaman Nek Lidya. Pria itu membanting topi yang dipakainya untuk menghalau sinar matahari ke lantai. "Sial, tak ada satu hal pun yang bisa kulakukan! Padahal aku sudah sedekat ini," decak Ponco mendesis kesal.
"Kenapa juga si tanpa nama harus curiga kalau ini aku? Apa aku gunakan saja cara yang baru-baru ini aku susun, ya?" pria itu berpikir keras, mempertimbangkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Belum lama ini dia mencaritahu tentang musuh lamanya, dari pelayan yang telah lama bekerja di sini, Ponco akhirnya tahu bagaimana musuhnya itu mendapatkan posisinya sekarang. Ponco sebenarnya tak mau kalau sampai menggunakan cara ini, tetapi dia tak punya pilihan lain. Dia harus membuat musuhnya dijauhi agar dirinya bisa bertindak kemudian.
Ponco membasahi bibirnya, tersenyum licik dengan mata yang menatap jahat. "Baiklah, mari kita cari waktu untuk membuat permusuhan di antara mereka bertiga!" kekeh Ponco kembali bersemangat. Pria itu mengendus bau badannya sendiri. "Aku sebaiknya mandi dulu baru setelahnya beristirahat," ucap Ponco menyadari kalau tubuhnya penuh dengan keringat.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rama mengetuk pintu sang nenek, dia hanya sendiri, kawannya sedang bermain game di kamarnya sendiri. "Masuk saja, tak dikunci," sahut suara dari dalam.
Rama segara masuk, tersenyum menatap neneknya yang sedang menyulam di depan jendela. "Harusnya nenek biarkan saja pelayan yang mengerjakannya," tegur Rama memegang tangan rapuh sang nenek. "Lihat, berapa banyak tangan nenek tertusuk jarum, hmm?" lanjut pemuda itu menghitung berapa banyak jari sang nenek diperban.
"Hu-hu-hu-hu, tak sesakit yang terlihat, kok cucuku yang nakal," balas si nenek melepas kain yang di sulamnya tadi. "Nenek hanya menyulam untuk mengisi waktu," lanjut perempuan tua itu.
"Ada apa kamu ke sini, Ram? Apa ada yang kamu ingin minta? Atau uang bulanan kamu kurang, hmm?" tanya si nenek menatap penuh perhatian cucunya.
"Aku mau minta tukang kebun baru kita untuk bekerja di gudang perusahaan, nek. Kerjanya cukup bagus menurutku, jadi dia pasti bisa bekerja di sana dengan baik. Bahkan gajinya juga lebih tinggi, kalau tempat tinggal, dia bisa tinggal di mess perusahaan," ucap Rama duduk si samping sang nenek. Dia sengaja ingin menjauhkan Ponco dari rumahnya, Rama tak suka ada bom berjalan yang siap meledak kapan saja di dekat sang nenek.
Nek Lidya tampak berpikir sekilas. "Baiklah, nenek tak masalah. Asal orangnya mau saja," balas si nenek setuju.
Rama tersenyum tipis. "Ayolah, nek. Siapa yang akan melepas kesempatan mendapatkan gaji yang lebih besar? Yah, kecuali kalau di punya niat tersembunyi," balas Rama berbisik lirih di akhir kalimatnya.
"Kamu bilang apa?" tanya si nenek tak terlalu mendengar apa yang cucunya ucapkan di akhir kalimat.
"Pasti dia nerima tawaran aku, nek!" ucap Rama cepat.
"Perasaan bukan itu yang kamu katakan tadi, Ram," balas si nenek menatap lurus cucunya.
__ADS_1
"Hmm, mungkin aku bilang kalau aku sayang nenek dan Andi?" kekeh pemuda itu bercanda. Sang nenek berdecak lidah, tetapi ikut tertawa bersama dengan cucunya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Malamnya, Rama menyampaikan apa yang dia katakan pada neneknya tadi siang. Dia meminta Ponco untuk bekerja di gudang perusahaan, gajinya akan dinaikkan dua kali lipat. "Jadi bagaimana? Kamu pasti bersedia, kan?" tanya Rama menyunggingkan senyum licik.
"Sebenarnya saya lebih suka mengurus taman, tuan muda. Saya cukup tahu banyak tentang tanaman soalnya," balas Ponco berharap kalau alasannya bisa membuatnya tetap bekerja di rumah ini.
"Dua kali lipat gaji tak sebanding dengan mengurus tanaman, Pak Be.No!" timpal Rama sengaja memenggal nama Ponco saat dia memanggil nama samaran pria di depannya ini.
Ponco sebenarnya tak mau meninggalkan rumah ini, dia harus selalu di dekat keluarga Rama dan menaburkan keretakan di antara mereka. Dengan setengah hati, Ponco mengangguk, menerima tawaran yang diberikan Rama padanya. "Senang berbicara dengan orang yang cukup pintar," puji Rama dengan wajah datar.
"Terima kasih pujiannya, tuan muda," balas Ponco sopan.
Rama mengangguk singkat. "Mulai besok kamu akan bekerja di gudang, nanti saya antar ke sana!" putus Rama ingin secepatnya mengusir Ponco.
"Saya bisa sendiri, tuan muda. Saya tak ingin merepotkan anda!" timpal Ponco mencari jalan agar tak diantar oleh pemuda di depannya ini.
"Apa kamu tak suka kalau saya yang mengantar?" Rama menaikkan sebelah keningnya, tersenyum licik menatap Ponco.
Ponco menyembunyikan kekesalannya, pria itu menggeleng cepat. "Seperti yang saya bilang tadi, saya tak ingin merepotkan dan menyita waktu anda, tuan muda," kata Ponco menanggapi dengan cepat.
"Ha-ha-ha, baiklah, aku hanya bercanda!" tanggap Rama tertawa datar. "Berkemas lah, dan biarkan kamu pergi diantar supir kalau sudah siap besok," lanjut pemuda itu.
"Baik, tuan muda!" ucap Ponco patuh.
"Kalau begitu saya permisi dulu, tuan muda," tanggap Ponco pamit undur diri dengan sangat patuh.
Rama tersenyum tipis menatap tangan Ponco yang sedang mengepal kuat. Ahh, sepertinya pria itu cukup emosi pada dirinya. "Seharusnya kamu tetap diam seperti orang mati kalau memang selamat. Kenapa kamu harus kembali dan muncul di hadapanku?" gumam Rama tak habis pikir. Sebenernya apa yang sedang dipikirkan Ponco, apa mereka harus berhadapan lagi, atau dia harus mengotori tangannya sekali lagi. Jangan harap dia percaya Ponco tak punya pikiran untuk membalas dendam padanya. Jangan juga berpikir untuk menjalin persahabatan, dunia akan hancur kalau mereka berdua bersahabat. Setidaknya itu yang diyakini Ponco dan Rama sangat tahu akan hal itu.
"Menjauh lah sejauh mungkin dari keluarga yang susah payah ku bangun dan ku lindungi. Jangan membuat masalah dengan mereka berdua," desis Rama dengan nada mengancam ketika dia tinggal sendirian.
......ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ......
"Breng'sek, dia memakai cara licik untuk mengusir aku! Sialan, padahal aku sudah mendapatkan cara untuk merenggangkan hubungan mereka, kalau begini caranya, bagaimana aku melakukan rencana ku?" Ponco mengamuk di dalam kamarnya, membanting apa saja yang ada di dekatnya.
"Aku akan mencari celah, aku pasti bisa menjalankan rencana yang baru-baru ini aku buat!" desis Ponco, sesaat kemudian dia terkekeh pelan membayangkan kalau dia berhasil mengacaukan pemuda yang sangat angkuh itu. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Ponco tersenyum puas. Apalagi kalau itu semua benar terjadi, dia harus berusaha membuat semua terjadi seperti yang dia bayangkan.
Ponco mengemas barang-barangnya yang tak seberapa, setelahnya dia pun beristirahat dan menunggu pagi datang. Meski dia tak lagi di rumah ini, Ponco akan membuat satu celah agar dia bisa berkunjung.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Paginya, Ponco tak keluar dari kamarnya sama sekali. Saat dia mendengar suara mobil Rama, barulah dirinya keluar dari kamar. Dia berpamitan pada sang nyonya rumah, Nek Lidya pun memberikan bekal untuk pria itu. Masakan rumahan yang sudah disusun rapi di rantang dan juga uang tunai untuk kebutuhannya sampai gaji pertamanya turun.
"Saya pamit, nyonya besar. Terima kasih telah memberikan kesempatan pada orang seperti saya untuk bekerja. Saya tak akan melupakan kebaikan nyonya dan selalu berdo'a agar nyonya dan cucu-cucu anda, nyonya besar," ucap Ponco menunduk penuh terima kasih.
"Tak apa, tak apa, bukan masalah besar. Bekerjalah dengan baik dan sering-sering mampir kalau kamu ada waktu, ya?" timpal Nek Lidya. "Dan, terima kasih untuk do'a-nya!" lanjut perempuan tua itu bersyukur ada yang mendo'akan untuk kebahagiaan keluarganya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit, nyonya besar. Jaga kesehatan anda," ucap Ponco menunduk sekali lagi.
Nek Lidya menganggukkan kepalanya. "Jaga kesehatanmu juga, jangan bekerja terlalu keras," balas Nek Lidya menimpali. "Kamu diantar siapa ke gudang?" tanya Nek Lidya.
"Saya bisa naik bus atau angkutan umum, nyonya besar," balas Ponco yang masih menundukkan kepalanya.
"Biar kamu diantar Rama saja!" kata Nek Lidya.
"Ahh, tuan muda sepertinya sudah berangkat tadi, nyonya besar!" timpal Ponco cepat.
"Oh, sepertinya cucuku yang nakal itu memiliki kelas hari ini!" ucap si nenek tua mengangguk-anggukkan kepalanya. "Biarkan Andi yang mengantarkan kamu," putus si nenek memanggilkan Andi. Ponco menyembunyikan senyum liciknya.
"Ada apa, Nek Lidya?" tanya Andi yang bergegas datang karena dipanggil sang nenek.
"Kamu gak ada kelas, kan hari ini?" Andi mengangguk mengiyakan pertanyaan neneknya. "Gak ada kerjaan juga, kan?" tanya si nenek lagi, Andi kembali mengangguk. "Satu lagi, kamu gak punya janji di luar, kan?" lanjut Nek Lidya bertanya sambil menatap Andi.
"Aku gak punya janji, gak ada kelas, dan lagi gak punya kerjaan juga, nek," balas Andi menjawab ketiga pertanyaan sang nenek.
Nek Lidya menepuk tangannya sekali. "Bagus sekali, kamu antarkan Beno ke perusahaan. Mulai hari ini dia akan bekerja di gudang," ucap Nek Lidya menjelaskan kenapa dia memanggil Andi.
"Tak usah, nyonya besar. Saya tak bisa merepotkan tuan muda!" ucap Ponco berpura-pura menolak.
"Gak apa-apa, paman. Saya juga gak punya kerjaan?!" timpal Andi penuh semangat. Dia mengambil tas yang sejak tadi dibawa Ponco. "Ayo, saya antar!" lanjut pemuda itu.
"Terima kasih sebelumnya, tuan muda. Terima kasih sudah membiarkan pria tua ini merepotkan anda!" kata Ponco menunduk singkat.
"Andi pergi dulu, ya nek," pamit Andi berjalan lebih dulu.
"Saya pamit, nyonya besar, terima kasih atas segalanya!" kata Ponco menunduk sedikit.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut, An!" seru Nek Lidya mengingatkan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di dalam mobil, Ponco berbasa-basi kembali berterimakasih pada Andi. Dia juga menyelipkan pujian kalau Andi sangat-sangat baik, mirip seperti sang nyonya besar. Ponco mengisyaratkan kalau Andi lah cucu kandung dari wanita tua itu. Dia berharap dengan kata-kata yang dia lemparkan, Andi akan sedikit curiga akan siapa sebenarnya identitas dirinya.
"Benarkah? Aku mirip dengan Nek Lidya?" tanggap Andi dengan wajah riang.
"Dari yang saya lihat, anda lebih mirip dengan nyonya besar dari pada Tuan Rama, tuan muda! Mungkin, Tuan Rama mirip dengan tuan besar. Saya kan belum pernah melihat tuan besar," jelas Ponco panjang lebar.
"Mungkin, Kakek Surya juga terkadang bersikap dingin," ucap Andi ragu akan ingatan yang dia miliki. Dia lebih dekat dengan Nek Lidya dari pada Kakek Surya yang meski baik tadi jarang tersenyum.
Ponco mengangguk sok paham, padahal menertawakan kebodohan pemuda di sampingnya ini di dalam hati. "Jadi, anda dan Tuan Rama, siapa yang mirip dengan kalian berdua? Ayah atau ibu?" tanya Ponco mencoba mengorek ingatan Andi.
Andi terdiam, tak menjawab karena dia bingung harus mengatakan apa. Dirinya tak ingat apa-apa, bahkan setelah tahun berlalu, dia masih tetap memiliki ingatan yang buram. "Ahh, maaf kalau saya banyak bertanya, tuan muda. Maaf menyinggung perasaan anda?!" ucap Ponco berpura-pura menyesal.
"Tidak, tidak, bukan salah paman. Hanya saja ..., aku tak ingat apa-apa, jadi aku bingung harus menjawab bagaimana!" balas Andi cepat, dia tak enak hati sudah membuat orang menyesal dan meminta maaf pada dirinya. "Yang saya tahu, Rama itu cucu asli di rumah itu, dan saya hanya ikut untuk menemani Rama," lanjut pemuda itu.
__ADS_1
Ponco mengangguk, terkekeh dalam hati. Pemuda di sampingnya ini memang bodoh sampai ke tulang-tulang. Sedikit kasihan, tetapi dia bisa menggunakan orang bodoh ini untuk menjadi rekannya. Apalagi yang lebih baik selain dikhianati oleh teman yang dianggap polos dan lugu, pasti Rama akan suka dengan hadiah yang dia persiapkan sedikit demi sedikit.