
Hari ini, sudah hari ketiga Rama dan lainnya berlibur di puncak. Mereka berencana kembali besok, hari senin, setelah makan siang. Kebetulan pada hari itu tanggal merah, jadi mereka memanfaatkannya untuk berlibur lebih lama. "Udara di sini terasa lebih menyegarkan, nenek rasanya tak ingin kembali dan terus tinggal di sini saja," ucap Nek Lidya ketika beliau menikmati sejuknya udara pagi.
Andi mengangguk cepat. "Bahkan saat siang hari pun tak terasa panas kalau di sini, beda jauh dengan tempat tinggal kita, terlalu gerah!" keluh pemuda itu mengingat padatnya kota yang mereka tempati.
"Jika nenek suka, kita bisa berkunjung kemari sesering yang nenek inginkan," balas Rama.
"Ram, beli gih satu nih pondok, jadi kalau kita ke sini gak perlu nyewa lagi dan tinggal langsung datang aja, kapanpun kita ada waktu?!" usul Andi asal mengeluarkan ide yang terlintas di pikirannya.
"Ya, gak semudah beli kacang di mini market juga kali?!" timpal Rama memutar bola matanya.
"Biasanya juga gampang, tinggal bayar, set, set, set, udah beres?! Ya, kan Nek Lidya?" Andi meminta dukungan dari sang nenek.
__ADS_1
"Orang tua ini hanya ingin menikmati hari tua, jadi tak akan ikut-ikutan berdebat dengan kalian para anak muda," Nek Lidya terkekeh pelan sambil menatap wajah Andi yang sedang menatap dirinya horor.
"Kok, gak didukung, sih Nek?" keluh Andi.
"Tapi kalau bisa dibeli, kenapa harus disewa?" ucapan Nek Lidya membuat Andi bersorak girang, dia merasa mendapat dukungan dari sang nyonya besar.
Rama menghela napas panjang. "Akan Rama cari tahu, apa ada salah satu unit yang bisa kita beli. Anggap saja ini hadiah untuk nenek," ucap pemuda itu tersenyum manis.
"Jangan percaya, Nek Lidya, itu duitnya sebenarnya dari keuntungan perusahaan, trus ntar bakalan dipakai buat beli pondok di sini, bukan duit Rama semua," bisik Andi pelan. Sayangnya, walau berbisik cukup pelan, Rama masih juga bisa mendengar ucapan kawannya itu.
"Emang cukup, Ram?" tanya Andi tengil, gantian dia yang usil pada Rama.
__ADS_1
"Cukuplah, aku kan jarang jajan, kebanyakan duit aku tabung semuanya tahu?!" balas Rama berubah menjadi anak kecil kalau sedang berdebat dengan Andi, tentunya dengan syarat hanya ada mereka bertiga saat itu, tanpa ada orang lain yang melihat.
"Ohh, bagus, deh. Aku soalnya pengen bantu tadi, tapi tabungan aku dikit, paling-paling cuma ada–," Andi memotong ucapannya sendiri, dia mengangkat tangannya sebagai isyarat. Jarinya berkembang menunjukkan kalau tabungannya ada 'Lima' yang entah lima apa tepatnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Waktu begitu cepat berlalu, Rama dan yang lainnya sudah kembali ke kediaman mereka di kota. Andi memborong cukup banyak buah-buahan segar yang dijual di sepanjang perjalanan pulang, dia berkata ingin membagikannya sebagai oleh-oleh untuk pelayan yang ada di rumah Nek Lidya.
Rama tak protes dan Nek Lidya mendukung, jadilah mobil Rama penuh dengan berbagai macam buah-buahan, seakan ketiganya baru saja panen di kebun.
Rama yang menikmati kedamaian dengan tenang, tak tahu bahwa di tempat lain ada dendam yang menumpuk, yang siap kembali dan menuntut pembalasan padanya. Siapa lagi kalau bukan Ponco yang mulai memulihkan diri
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...