
Senja menangis, awan mendung menyelimuti kediaman keluarga Rama. Rinai hujan tak juga rada, mengiringi kepergian kepala keluarga yang sudah terbaring sakit selama beberapa minggu. Suasana duka yang pekat sungguh terasa, sang nenek menangis di pelukan cucunya, Rama. Andi berdiri di belakang keduanya, memasang ekspresi sedih yang bisa dilihat dalam sekali pandang. Rama menjadi sandaran bagi sang nenek yang sedang terpukul, menjadi satu-satunya alasan Nenek Lidya bertahan di tengah kepiluannya.
Upacara pemakaman berlangsung dengan lancar, tak ada hambatan meski hujan terus mengguyur sejak pagi. Para pelayat mengucapkan bela sungkawa, Rama tetap berdiri di ruang tengah untuk menyambut kenalan-kenalan kakeknya yang hadir. Rama meminta tolong pada pelayan agar mengantar sang nenek beristirahat di kamar, dia tak ingin Nek Lidya semakin lelah.
Sore hari, tamu yang berdatangan sudah lumayan berkurang. Rama menghela napas panjang, dirinya lelah, tapi pasti tak selelah dan sesedih sang nenek yang sejak pagi menolak makan.
"Tuan muda, apa anda ingin secangkir teh dan beberapa cemilan?" tanya seorang pelayan yang merasa iba dengan apa yang dialami majikannya.
Rama berpikir sejenak sebelum menjawab. "Siapkan untuk nenek dan Andi juga, biar saya yang membawa ke kamar nenek setelah saya mengganti pakaian," kata pemuda itu menanggapi. Badannya terasa lengket seharian memakai jas, Rama lebih suka memakai pakaian santai.
"Akan segera saya siapkan, tuan muda!" ucap si pelayan bersemangat, dia merasa senang bisa membantu majikannya.
"Ah, dan tolong panggilkan Andi ke kamar, ya."
"Baik, tuan muda!" balas si pelayan cepat.
__ADS_1
Pelayan tadi mengetuk pintu kamar Andi. "Tuan, anda dipanggil tuan muda ke kamar beliau," ucap si pelayan sopan begitu Andi membuka pintu.
Andi mengangguk paham. "Saya akan segera ke kamar Rama, terima kasih, ya!" balas Andi ramah.
"Saya permisi, tuan!" Andi lagi-lagi mengangguk sebagai balasan.
"Sekarang waktunya menyiapkan teh dan cemilan untuk nyonya dan tuan muda!" ucap pelayan tadi, langkah kakinya yang lebar membawanya sampai ke dapur dengan cepat.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Masuk aja, gak dikunci, kok!" balas Rama dari dalam.
"Maaf, saya tak bisa menemani Rama tadi. Saya merasa pusing di tengah keramaian para pengunjung tadi," aku pemuda itu tak enak hati.
"Gak apa-apa, santai aja lagi. Rencananya aku mau minum teh bareng nenek, kamu bisa ikut, kan?" ujar Rama santai.
__ADS_1
"Baiklah, saya juga tak ada pekerjaan," balas Andi.
"An, bicara kayak biasanya aja, sih. Gak enak dengar kamu ngomong saya-anda begitu?!" tegur Rama yang merasa canggung. Mereka itu bersahabat untuk waktu yang cukup lama, bermain dan bercanda bersama. Tapi tiba-tiba, sahabatnya itu berubah menjadi formal dalam satu hari. Sedikit aneh bagi Rama yang biasa bicara tanpa saringan di tempat asalnya dulu.
"Mana mungkin saya berani, Rama memang teman saya, tetapi sekarang Rama penerus keluarga ini, jadi saya harus bersikap sopan pada anda!" Rama baru tahu kalau Andi ternyata memiliki sifat keras kepala seakut ini.
"Ya, gak usah gitu juga kali!" sahut Rama cepat.
"Canggung dengernya!" lanjut pemuda itu tanpa ada niatan untuk berbohong.
"Baiklah, kalau Rama bilang begitu, akan aku lakukan sesuai keinginan Rama." Andi mengalah, dia juga sebenarnya merasa canggung berbicara seperti ini.
"Sekarang, ayo kita ke kamar nenek. Mari kita hibur nenek sebisa mungkin!" Andi mengangguk, menerima ajakan kawannya itu.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...