
Pagi ini rumah lebih ramai dari biasanya. Ini karena sang nyonya rumah tiba-tiba pingsan tanpa sebab semalam. Para pembantu sibuk dan sebagian ada yang menangis, mendo'akan keselamatan nyonya besar mereka. Andi meneteskan air mata, dirinya sedih melihat sang nenek berbaring tak berdaya. Lain halnya dengan Rama, pemuda itu terus menunggui neneknya dalam diam. Tak bergerak dari duduknya dan terus menggenggam tangan sang nenek.
"Ram, gantian yuk. Biar aku yang jagain Nek Lidya, kamu istirahat gih sana," bujuk Andi untuk kesekian kalinya. Rama diam tak menjawab, bergerak dari tempat duduknya saja pun tidak. "Ram, aku tahu kamu sedih, aku juga begitu. Tapi kamu juga harus jaga kesehatan kamu, siapa yang bakalan ngerawat Nek Lidya kalau kamu ikutan sakit nanti? Kita gantian ngejaga Nek Lidya, ya?" Andi seolah tak lelah membujuk kawannya itu.
Rama akhirnya menoleh, membuat Andi tersenyum senang. Rama mengangguk lemah dan berdiri dari duduknya. "Jaga nenek, aku sepertinya memang butuh mengistirahatkan mataku sesaat," ucap Rama pelan. Dengan langkah pelan Rama berjalan ke kursi yang ada di dekat jendela kamar neneknya.
"Oi, oi, ngapain di sana?" tanya Andi dengan kening berkerut. Dia menyuruh kawannya itu beristirahat, kenapa malah hanya berpindah tempat duduk saja.
__ADS_1
"Rehat," balas Rama singkat, pemuda itu mendudukkan bokongnya ke kursi dan lalu memejamkan matanya.
"Aiss, aku nyuruh rehat itu maksudnya kamu balik ke kamar, mandi, tidur, trus makan juga. Kenapa malah pejamin mata di sana, sih?!" keluh Andi setengah kesal. Dia tahu kawannya itu keras kepala, tetapi dirinya tak tahu kalau sahabatnya bisa sampai sekeras kepala ini.
"Cerewet, biarin aku tidur! Atau aku balik lagi nungguin nenek?!" hening, Andi tak menjawab, dia hanya misuh-misuh ngedumel sendiri. Bukannya dia tak tahu kalau kawannya itu sangat khawatir, tapi Andi hanya ingin Rama beristirahat agar tetap fit meski harus menjaga sang nenek.
"Cepat sembuh, Nek Lidya, atau cucu kesayangan nenek yang nakal itu akan ikut terkapar karena kelelahan juga," bisik Andi seolah mengadu. Dia berharap sang nenek tua itu mendengar dan bisa kembali sehat.
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Seminggu berlalu, Rama meminta izin untuk tak mengikuti kelas selama dirinya merawat sang nenek. Dia paham kalau banyak pelayan yang bisa mengawasi neneknya, tetapi hatinya masih tak tenang kalau bukan dia sendiri yang melihat dan merawat langsung neneknya. Andi sebenarnya ingin ikut meminta izin, sayangnya Rama melarang hal tersebut. Pemuda itu berkata dirinya akan beristirahat saat kawannya sudah kembali dari kuliah, karena kesepakatan tersebut Andi akhirnya setuju.
Esoknya, tangan yang digenggam Rama bergerak pelan. Rama secara tak sadar menarik sudut bibirnya, dirinya merasa senang sang nenek yang biasanya hanya menutup mata kini mulai menggerakkan tangannya. "Nenek," panggil Rama berbisik pelan.
Mata wanita tua itu terbuka dengan sangat pelan, menyesuaikan dengan cahaya di dalam ruangannya. "Cucuku yang nakal ...," ucap nenek tua itu sangat-sangat lirih. Dia berusaha mengangkat tangannya untuk membelai wajah cucu kesayangannya.
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat kurus, hmmm," lanjut perempuan tua itu. Rama meneteskan air mata, baru kali ini dia menangis untuk orang lain. Untuk dirinya sendiri saja dia tak pernah menangis. "Kumohon, jangan sakit lagi, nek ...," pintanya sungguh-sungguh.
Nek Lidya menganggukkan kepalanya pelan. "Beriklan, baiklah, nenek tua ini akan berusaha berumur panjang untuk cucunya yang nakal satu ini," balas Nek Lidya. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi perempuan tua itu terlihat senang karena sang cucu ada di sebelahnya.