Topeng.

Topeng.
55.


__ADS_3

Meski Jonathan sudah berteman dengan Andi dan Rama, tetapi pemuda itu tetap menjalani perjanjiannya dengan Rama. Dia tetap menjadi bawahan yang membantu Andi hingga satu bulan terlewat. Dari Rama, Jo juga belajar banyak cara menangani masalah perusahaan. Bahkan Jo pernah sekali diajak Rama ikut ke perusahaannya, di sana Jo melihat bagaimana kawan barunya itu membuat keputusan dan mengambil solusi tercepat yang paling menguntungkan.


"Hari ini, hari terakhir kesepakatan kita berlangsung, bukan?" ucap Rama tiba-tiba. "Maaf aku sedikit berlebihan, semoga kamu bisa mengerti," lanjut Rama menatap lurus Jo.


"Wah, selamat udah selesai jadi babu gratis, ya?!" timpal Kiara yang baru saja bergabung.


"Kalau ada waktu, sering-sering aja datang, Jo. Kita ngumpul-ngumpul dan cerita apa aja gitu," ajak Andi.


"Pasti, lumayan seru juga main bareng kalian. Aku juga bisa sambil belajar soal bisnis sama Rama," balas Jonathan cepat.


"Bayar!" ucap Rama menatap malas Jonathan, pemuda itu membuka telapak tangannya seakan meminta sesuatu.


"Hah? Bayar? Pakai apaan? Duit?" tanya Jonathan terkejut tiba-tiba ditagih bayaran.


""Pakai tenaga mungkin? Rama kan gak kekurangan duit?!" celetuk Kiara ikut menanggapi.


"Emang iya, Ram?" tanya Andi dengan tampang lugu dan polos.


"Masa aku harus dijadikan babu lagi, sih Ram?" keluh Jo menatap Rama dengan tatapan memelas, berharap kalau kawan barunya itu sedikit kasihan pada dirinya.


"Ck, lupakan! Aku cuma bercanda?!" decak Rama, berkata dengan suara datar.


"Ya elah, becanda-nya garing amat, dah!" timpal Jo menghela napas panjang.


"Kirain tadi serius, Ram, he-he," ucap Andi cengengesan.


"Tampang datar dibenerin dulu napa, gak cocok bercanda pakai tampang modelan begitu!" cerocos Kiara. Rama tak menanggapi, pemuda itu hanya ber-hmm ria. Tak peduli ketiga kawannya mau mengatakan apa tentang dirinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Andi sering menghilang di akhir pekan, pemuda itu ternyata mendatangi Ponco. Dia merasa kasihan karena pria itu tinggal sendirian tanpa keluarga, dirinya bersimpati, merasa kalau mereka memiliki nasib yang sama.


Ponco memanfaatkan keadaan itu untuk membuat Andi percaya padanya, Ponco juga yang meminta Andi datang sendiri, alasannya karena dia takut dan canggung pada Rama.


Rama yang tahu semuanya dari laporan pengawal yang dia pekerjakan untuk melindungi kawannya pun tak berbuat apa-apa. Pemuda itu membiarkan saja kawannya akrab dengan Ponco, lagipula keselamatan kawannya telah terjamin. Dia mempekerjakan pengawal tingkat tinggi, jadi Rama tak khawatir sama sekali. Rama juga tak peduli apa yang akan didengar Andi dari mulut Ponco, dia akan mengurus nanti.


Beberapa kali Andi terlihat termenung setelah mengunjungi Ponco, Rama tak bertanya, hanya menatap lurus, seolah menembus pikiran kawannya itu. Tapi Andi tak juga menjauh, pemuda itu masih berbincang dan mengobrol dengan Rama seperti biasanya.


"Ram ... aku, eng, aku ...?" ucap Andi ragu-ragu di suatu sore saat mereka hanya berdua saja, sang nenek lebih banyak beristirahat sekarang, faktor usia membuat wanita yang mereka sayangi itu lebih cepat lelah.


"Aku apa, hmm?" ucap Rama seolah tak peduli, dia terus saja membaca buku di tangannya.


Andi menarik napas panjang. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu percaya dan ada di pihak mu?!" kata pemuda itu serius.


Rama tersenyum tipis, tangannya mengusak rambut kawannya. "Aku gak lagi pengen perang atau berantem, An!" kekeh pemuda itu terlihat main-main.


"Aku serius, Ram?!" decak Andi merapikan rambutnya yang diberantakin oleh kawannya barusan.


"Aku tahu," balas Rama singkat. "Makasih!" lanjut pemuda itu menatap tulus.


"Dan apa pun yang kamu inginkan, rasakan, khawatirkan, katakan padaku. Aku akan mengurus semuanya!" tukas Rama.


Andi mengangguk cepat. "Pasti, kawan!" ucap pemuda itu tersenyum cerah.


"Jangan hanya mengucapkan kata pasti, tapi bilang aja semua. Kalau kamu menginginkan sesuatu, aku akan memberikan semua. Kalau kamu butuh teman curhat, cari aja aku. Kalau kamu khawatir akan sesuatu, biar aku yang urus agar kekhawatiran itu hilang! Kalau kamu diam aja, gak akan ada yang tahu apa yang kamu pikirin di kepala kecil kamu ini, An!" ucap Rama mengetuk pelipis Andi tiga kali dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Apa pun?" Andi menaikkan sebelah alisnya.


Rama mengangguk mantap. "Apa pun?! Semuanya!" balas pemuda itu dengan keyakinan sejuta persen.


"Aku lagi malas ngerjain tugas, Ram," cengir Andi menatap kawannya dengan tatapan jenaka.


"Jangan dikerjakan, biar saja tak dapat nilai!" balas Rama enteng.


"Aku butuh uang saku tambahan!" kata Andi lagi.


"Mulai besok kalau tak ada kelas, ikut aku ke kantor. Kita cetak uang bersama?!" timpal Rama santai.


"Aku pengen punya pacar, Ram," kekeh Andi semakin usil.


"Sabar, aku juga jomblo," kata Rama, keduanya bertatapan, sesaat kemudian, tawa meledak dari ruang tengah tempat mereka berbincang.


Rama menarik napas, mengatur napasnya setelah banyak tertawa. "Sebenarnya kamu kenapa, hmm?" tanya pemuda itu pura-pura tak tahu.


"Aku kenapa? Gak ada apa-apa, kok!" timpal Andi melihat ke lain arah.


"Dengar, kita berteman sangat lama. Kita pun tinggal di rumah yang sama," tukas Rama menatap lurus kawannya. "Dan kamu gak biasanya begini, kenapa? Apa ada masalah? Atau ada rumor aneh lagi yang kau dengar dan aku gak tahu?" lanjut Rama menebak sembarangan agar kawannya mau buka mulut.


"Hmm, sebenarnya aku sering mampir ke tempat Paman Beno, Ram. Ya, kalau gak ada kelas atau pas akhir pekan," ucap Andi menggaruk pipinya, terlihat ragu apakah harus jujur atau tidak.


"Dan?" tanya Rama tersenyum tipis, menyembunyikan umpatan dalam hatinya.


"Paman Beno bilang aku itu lebih mirip sama Nek Lidya, terus dia juga bilang aku mirip almarhum Kakek Surya," cicit Andi takut kalau kawannya tersinggung.


Rama pura-pura menatap serius wajah kawannya, kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Memang terlihat mirip!" tanggap Rama mengakui. Jelas saja mirip, Andi memang berbagi darah yang sama dengan mereka berdua. "Tapi kapan dia ngeliat kakek, An?" lanjut Rama masih terus menatap kawannya.


"Kau apa lagi katanya?" selidik Rama ingin tahu lebih banyak.


"Dia minta maaf karena salah bicara, soalnya aku bilang wajah kayak aku ini pasaran, jadi pasti banyak yang mirip kayak aku!" balas Andi terus terang.


Rama mengangguk paham, pemuda itu tersenyum tipis. "Kita pun sedikit mirip, ya kan, An?" kata pemuda itu menatap ke arah kawannya.


Andi mengangguk cepat, terlihat senang karena ucapan Rama barusan. "Tentu, kita kan saudara. Walau kita cuma saudara ketemu gede, doang!" timpal Andi. Keduanya berpelukan singkat ala saudara kandung, Andi tak dapat melihat, wajah Rama berubah datar saat mereka berpelukan. Rahang pemuda itu mengeras, dengan mata berkilat tajam. Sepertinya Rama sedang menyusun rencana baru.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Tiga hari setelah Rama dan Andi berbincang, Rama pamit dengan alasan harus membeli sesuatu di luar kota. Andi berniat menemani, tetapi Rama menolak, mengatakan kalau kawannya harus menghadiri kelas agar nilainya tetap bagus. Dan, di sinilah Rama. Di belakang perusahaannya. Dia berdiri diam, mengamati sekitar. Baju hitam atas bawah, topeng untuk menyembunyikan wajahnya, dan kendaraan yang diparkirkan tak jauh dari tempatnya berdiri.


Rama memanfaatkan titik buta kamera yang telah dia tandai, menyelinap masuk dengan mudahnya. Tak lama, pemuda itu sampai di depan kamar Ponco. Tak perlu mengetuk pintu, dia tinggal membuka pintu di depannya dengan kunci cadangan yang baru saja diduplikasi beberapa hari yang lalu.


Ponco terlihat tertidur sangat pulas saat Rama membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan. Tak ingin mengambil resiko, Rama membekap mulut Ponco dengan saputangan yang diberi obat bius. "Selamat tidur, orang tua," bisik Rama menyeringai kecil.


Setelah tak ada pergerakan lagi dari Ponco, Rama pun menaruh pria itu ke dalam troli yang dia dapat di tengah perjalanan menuju kamar Ponco. Tanpa kesulitan, Rama sudah sampai lagi di luar. Dia menaikkan pria bertubuh besar itu ke mobilnya. Rama pun meninggalkan tempat itu setelahnya, mata pemuda itu melirik ponselnya, masih pukul tiga pagi, dia masih sempat untuk mengirim Ponco kembali ke tempat seharusnya pria itu berada.


Beberapa jam berlalu, Rama memarkirkan mobilnya ke tepi jalan. Dia menutup matanya, menunggu penumpang yang diculiknya sadar. Tak lama terdengar suara lengguhan, Ponco memegang kepalanya sambil melihat sekitar. "Sudah sadar?" tanya sebuah suara membuat Ponco membelalakkan matanya, dia seakan tersiram air mendengar suara tersebut.


Rama tertawa kecil. "Ayolah, santai saja. Jangan pasang tampang mengerikan seperti itu?!" kekeh Rama dengan nada bersahabat.


"Kenapa saya di sini, tuan muda? Kita ada di mana?" tanya Ponco menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba dia rasakan.


Rama memiringkan kepalanya menatap serius Ponco. "Kamu gak tahu?" Tanya pemuda itu, Ponco mengangguk, berharap Rama mempercayai aktingnya. "Ayolah, aku capek berpura-pura. Kita sudahi saja permainan ini, Ponco," lanjut pemuda itu dengan nada main-main.

__ADS_1


"Saya Beno, tuan muda. Siapa itu Ponco?" tanya Ponco yang bersikeras kalau Rama salah mengenali orang.


Rama menatap tajam Ponco. "Di sana!" tunjuk Rama ke tempat yang hanya dipenuhi oleh kegelapan, hanya sedikit sinar yang terlihat dari arah yang ditunjuk oleh pemuda itu. "Bukankah kamu seharusnya di sana dan menjaga tempat yang sudah kuberikan padamu bertahun-tahun lalu?" lanjut Rama dengan tampang datar.


"Kenapa kamu muncul di depanku? Kenapa menargetkanku? Padahal aku tak memiliki niat untuk kembali ke tempat itu?!" desis Rama mengintimidasi Ponco.


Ponco berteriak marah. "Semua salahmu! Salahmu sendiri?!" gusarnya menatap tajam Rama. "Kamu terlalu kuat dan aku benci harus hidup dalam bayangan serta ketakutan!" lanjut pria itu mengaku.


"Makanya aku harus melenyapkan kamu, orang yang mungkin saja akan kembali dan merebut semua yang sudah kamu berikan padaku lagi!" tunjuk Ponco menatap marah Rama.


"Aku tak memiliki niat melakukan itu!" desis Rama menepis telunjuk Ponco yang mengacung ke arahnya.


"Siapa yang bisa menjamin? Siapa yang tahu apa yang terjadi di masa depan?" kekeh Ponco tak percaya pada Rama.


"Begitukah? Jadi itu alasan kamu membisikkan rangkaian kata pada sahabatku?" tanya Rama dengan wajah datar.


Ponco tergelak keras. "Sahabat?" katanya tanpa menahan tawanya. "Kamu tak pantas memiliki sahabat, mana ada sahabat yang mencuri kehidupan sahabatnya sendiri?!" lanjut Ponco menyindir Rama. "Kita berdua itu sama, hanya hidup untuk keuntungan kita sendiri. Jadi, kamu tak punya sahabat sama sekali!" kekeh Ponco mengejek Rama.


"Terserah kamu mau mengatakan apa, yang jelas, menghilanglah dari pandanganku?!" ucap Rama tak peduli apa yang dikatakan Ponco.


"Apa keuntungannya bagiku?" tanya Ponco tak mau rugi.


"Aku menjamin kalau aku tak akan mengambil tempatmu yang ada di sana!" tunjuk Rama ke arah yang dipenuhi kegelapan lagi. "Sebagai gantinya, jangan muncul di sekitar kawanku dan juga nenekku! Jaga saja tahta yang kuberikan padamu dengan baik?!" lanjut Rama.


Ponco menatap lurus Rama, ingin melihat apa ada jejak kebohongan di wajah datar pemuda itu. "Apa aku bisa mempercayai ini?" katanya ragu.


"Walau aku ketahuan, aku tak akan kembali ke sini! Kamu bisa menjadi penguasa selama yang kamu mau di sini!" ucap Rama berlanjut dengan serius. Rama memang sudah merencanakan semua, kalau ingatan Andi kembali atau dia ketahuan bagaimana pun caranya, dia akan mencari tempat baru. Tempat terpencil di daerah dingin atau apa pun itu terserah, yang penting dia menghilang dengan uang yang selama ini telah dia hasilkan.


Tapi Rama masih berharap kalau semua sandiwara yang dia lakonkan tak akan terungkap. Mungkin ini merugikan bagi Andi, tapi dia sudah terlanjur menyukai dan terbiasa dengan semua kehangatan yang dia dapatkan. Apa jadinya kalau dia tiba-tiba kehilangan itu, apa dia bisa bertahan, hidup sendirian dan kesepian. Mungkin dia hanya bisa menatap Andi dan neneknya dari jauh sesekali. Namun, dia tak akan bisa mendekap keduanya lagi.


Ponco berpikir sesaat, kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Kali ini aku akan mempercayai ucapanmu!" katanya turun dari mobil.


Rama membuka jendela mobilnya. "Semoga kita tak bertemu lagi!" kekeh Rama dengan tampang serius.


"Apa tak sebaiknya aku kembali dulu? Pasti akan terjadi keributan karena aku tiba-tiba menghilang?!" ucap Ponco mengutarakan apa yang sedang dia pikirkan.


"Tak masalah," ucap Rama tersenyum misterius. "Aku sudah mempersiapkan semuanya!" lanjut pemuda itu lagi. Meski bingung, Ponco mengangguk, tak terlalu pusing dengan apa yang dipersiapkan pemuda di depannya ini.


"Aku pergi," pamit Ponco.


"Ah, bawa dan bagikan ini. Aku membelinya sebelum menjemput kamu tadi," kata Rama menyerahkan beberapa bungkusan belanjaan.


"Menjemput? Menculik tepatnya?!" gerutu Ponco setengah kesal. Dia lebih besar dari pada Rama, tapi kenapa dengan mudahnya pemuda itu memindahkan dia dari kamar ke mobil.


"Jangan terlalu marah, hanya perbedaan tipis saja!" Rama mengangkat bahunya acuh.


"Sudah sana, pergi!" usir Ponco.


"Baiklah,jaga kesehatanmu, pria tua!" ucap Rama melemparkan senyum mengejek.


"Bukan urusanmu, bocah kecil?!" timpal Ponco mengumpat kesal.


Mobil Rama meninggalkan kota sepi itu, dunia tempat dulu Rama tinggal dan berkuasa. Kini pemuda itu telah terbiasa dengan terangnya cahaya serta hangatnya mentari. Rama tak akan membuang itu semua hanya untuk kekuasaan yang hanya memberikan dirinya arti kesepian.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2