
Pintu kamar Rama kembali terbuka, kali ini lebih kasar dari yang tadi. "Kamu mau kemana, Ram?" tanya Andi yang ternyata kembali lagi, bahkan pemuda itu terlihat belum mencuci wajahnya.
"Kemana, ke mana?" tanya Rama menatap ke lain arah. "Terus ngapain balik ke sini? Gak jadi cuci muka? Ntar mimpi buruk lagi, loh?!" lanjut Rama mencoba mengalihkan topik.
"Aku denger sendiri tadi kamu ngomong kalau kamu harus pergi! Gak mungkin aku salah dengar?!" desak Andi curiga pada kawannya. "Ram, ada aku, sahabat kamu. Aku bakalan nemenin kamu, aku gak bakalan biarin kamu sendirian di saat-saat seperti ini. Aku tahu kamu sedih, aku juga sedih, seriusan. Tapi jangan juga milih lari, siapa yang bakalan ngurusin perusahaan? Siapa yang ngurus pelayan di rumah? Aku mana paham ngurus pengeluaran, pemasukan, berbisnis, dan hal memusingkan lainnya!" cerocos Andi dengan wajah serius.
"Aku gak kemana-mana, seriusan!" ucap Rama yang jelas berbohong. Dia sedang merencanakan untuk pergi begitu kawannya mendapat semua ingatannya. Rama tak bisa melihat tatapan kehangatan itu menghilang, Rama juga tak mau menghadapi kawan yang mungkin akan menjadi lawannya di masa depan.
Andi menatap tak percaya kawannya. "Beneran?" tanyanya dengan mata memicing. "Terus, apaan yang tadi aku denger?" desak Andi.
Rama menghela napas panjang. "Ha-ah, aku hanya asal bergumam. Mungkin karena aku terlalu banyak pikiran atau depresi kali," desah Rama menekuk wajahnya, berharap kawannya akan percaya dengan apa yang dia ucapkan.
Andi melangkah, mendekati sahabatnya yang menunduk dalam. "Bukankah sudah kukatakan ada aku yang menemani kamu," kata Andi memeluk kawannya yang terlihat bersedih.
Rama merasa lega kawannya percaya dengan dirinya. "Terima kasih, An," ucap Rama membalas pelukan kawannya. "Sudah sana, cuci muka!" kata Rama mendorong pelan Andi.
"Iya, iya! Pinjam kamar mandinya sekalian, ya?!" Andi berlari ke kamar mandi tanpa menunggu tanggapan kawannya.
Rama menghembuskan napas panjang, kemudian dia keluar dari kamarnya. Membiarkan Andi menguasai kamar mandinya untuk sementara. Setelah semua yang mereka lewati, dia harus melarikan diri sebelum semuanya terungkap. Apa yang akan kawannya pikirkan, tak akan ada lagi tatapan penuh kasih sayang, pasti Rama hanya akan mendapatkan tatapan penuh permusuhan.
"Aku tak ingin pergi kemanapun sebenarnya," keluh Rama berbisik pelan. "Aku suka dengan keadaan sekarang. Bukan tentang bagaimana aku bisa hidup dengan lebih mudah, tetapi bagaimana aku menjalani kehidupan yang lebih berwarna," lanjut Rama berbicara dengan dirinya sendiri. Dia menikmati angin dingin di taman milik neneknya.
"Bi, kalau Andi nanya, bilang aku lagi keluar, nyari angin," pamit Andi pada pelayan yang sedang menyapu taman neneknya.
"Baik, tuan muda. Akan saya sampaikan kalau Tuan Andi bertanya," balas pelayan itu sopan. Rama mengangguk, mengucapkan terima kasih, dan kemudian langsung mengambil mobilnya. Dia butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya yang menumpuk banyak masalah.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Kelar mandi, Andi berkeliling rumah mencari kawannya. Kepalanya menengok ke kiri dan kanan, mencari dimana kawannya mungkin berada saat ini. "Anda sedang mencari apa, tuan muda?" ucap seorang pelayan menegur Andi yang sejak tadi sudah datang ke dapur sebanyak tiga kali.
Andi menggaruk pipinya, matanya masih melirik sana-sini. "Rama di mana, ya, bi?" tamya Andi. "Dari tadi saya nyariin tadi gak ketemu-ketemu!" lanjut pemuda itu mengaku jujur.
"Tuan Rama tadi keluar, katanya kalau anda mencari, sampaikan saja kalau beliau sedang cari angin," balas si pelayan tersenyum ramah.
"Ahh, makasih, bi," ucap Andi sebelum pergi meninggalkan dapur.
Terdengar gelak tawa dari tempat yang baru saja Andi tinggalkan, di dapur para pelayan yang ada tertawa sepelan yang mereka bisa. Bukannya dengan maksud mengejek, hanya saja kedua tuan muda mereka terlihat sangat akrab, lebih dari orang-orang yang bahkan saudara kandung.
"Kenapa juga aku gak telepon aja? Kenapa aku harus keliling ini rumah tiga kali? Astaga, ternyata itu melelahkan juga, ya," gumam Andi mengeluh sambil menatap ponselnya yang dia taruh begitu saja di atas meja. Coba kalau dia menelepon Rama, pasti dia tak harus berkeliling atau bertanya, dan dia tak akan ditertawakan seperti tadi.
"Gak ada salahnya kalau seorang sahabat mencari sahabatnya sendiri, kan?!" ucap Andi mengangkat dagunya, yakin kalau tak ada yang salah dengan dirinya yang mencari Rama. "Ya, gak ada yang salah! Memang dimana letak kesalahannya?" kata Andi mengangguk-anggukkan kepalanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rama berkeliling beberapa kali, membiarkan jendela mobilnya terbuka agar angin leluasa masuk dengan bebasnya. Rama berhenti tak jauh dari pantai, pantai terlihat cukup sepi. Pemuda itu pun memilih turun dari mobil dan berjalan tanpa alas kaki menuju bibir pantai. Angin kencang berkibar membuat baju Rama tertiup ke sana kemari, pemuda itu malah terlihat menikmati hal itu. Dia memejamkan matanya seraya menghirup udara dengan rakus, memenuhi rongga dadanya dengan udara dingin yang menyejukkan. "Pikiranku cukup tenang sekarang," bisik pemuda itu membuka matanya perlahan.
Rama mendongak ke atas, menatap angkasa yang luas tanpa sedikitpun awan yang menghias di sana. "Apa pun yang akan terjadi di masa depan, aku akan menghadapinya! Aku tak akan melarikan diri seperti pengecut?!" ikrar Rama meneguhkan hatinya.
Rama meraba ponselnya yang sejak tadi bergetar tanpa henti, tanpa melihat siapa yang menelepon dan mengirimi pesan padanya pun, Rama tahu dengan jelas siapa sahabatnya yang paling rajin menghubunginya sebanyak ini. "Ada apa, An?" tanya Rama menerima panggilan dari sahabatnya. Ocehan panjang terdengar, Rama sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Iya, iya, ini aku baru mau balik!" ucap Rama menyunggingkan senyum tipis.
__ADS_1
"Aku tutup dulu, ntar balik aku bawain makanan!" kata Rama sebelum dia menutup panggilan dari kawannya itu. Yah, mungkin dia harus mampir ke penjual roti atau martabak agar kawannya tak terlalu marah padanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Pagi datang lebih cepat, Andi yang bersiap untuk sarapan melihat temannya sudah selesai sarapan dan sudah berpakaian sangat rapi. "Mau ngantor?" tanya Andi seolah Rama baru kali ini berpakaian seperti itu.
"Ya," balas Rama singkat.
"Menangkan tender, biar jajan aku bisa nambah," ucap Andi memberi semangat, tentu saja kalau soal minta tambahan jajan dia hanya bercanda.
"Kurang berapa?" tanya Rama menatap serius kawannya.
"Hah? Apanya?" tanya Andi bingung.
"Uang jajan?" timpal Rama berniat mengambil dompet dari kantongnya.
"Astaga, Ram. Aku cuma becanda, biar lucu aja gitu. Gak seriusan, bener deh!" tukas Andi tak habis pikir temannya terlalu gampang percaya dengan apa yang dia katakan.
Rama mengangguk singkat. "Kukira beneran kurang," katanya menimpali dengan wajah datar andalannya. "Aku pergi dulu," lanjut pemuda itu pamit.
"Nebeng, dong Ram. Mobil aku di bengkel, belum kelar," sela Andi menyambar sepotong roti sambil meminum segelas jus dengan cepat.
Rama kembali duduk di kursi yang tadi dia duduki saat sarapan. "Makan aja dulu, masih ada waktu, kok," katanya tanpa menatap kawannya. Andi pun kembali duduk, menghabiskan sarapannya lebih santai dari pada tadi, tetapi tak juga menghabiskan banyak waktu.
Lima menit kemudian, Andi membersikan mulutnya, dia pun berdiri sambil tersenyum lebar. "Ayo berangkat, ntar aku telat," katanya mengajak Rama berangkat bersama. Rama mengangguk, berpamitan pada pelayan yang berdiri tak jauh darinya. Kemudian dia pun mengantarkan Andi ke kampus. "Balik jam berapa?" tanya Rama membuka setengah jendela kaca mobilnya.
"Gak usah dijemput, aku bisa nebeng sama Kiara ntar. Aku juga bisa naik taksi atau bus," balas Andi melambaikan tangannya santai.
"Jam setengah satu'an kayaknya, Ram," cicit Andi memanyunkan bibirnya, terlihat sedikit kesal tapi juga senang diperhatikan kawannya.
"Tunggu di gerbang, aku bakalan jemput pas makan siang!" putus Rama. "Kita makan siang bersama?!" lanjut pemuda itu sebelum menatap ke depan bersiap untuk pergi.
"Baiklah, hati-hati di jalan dan terima kasih tumpangannya, Ram," ucap Andi tersenyum cerah. Rama mengangguk sebagai tanggapan.
"Girang amat, sih?!" tepuk sebuah tangan di punggung Andi.
"Gak bisa liat orang seneng apa?!" ketus Andi mengusap punggungnya, tepukan kawannya yang satu ini bukan main sakitnya.
"Laki bukan, sih? Masa ditepuk gitu aja kesakitan?" tukas Kiara judes.
"Kalau kamu yang nepok, sakitnya berasa banget, tahu gak!" timpal Andi dengan mata melotot, seolah ingin mengintimidasi, tetapi sayangnya Kiara tak takut sama sekali.
"Alay, ah, yuk masuk kelas. Ntar telat dihukum, loh!" Kiara berjalan meninggalkan Andi yang berdiri sambil misuh-misuh sendiri.
"Apa?" tanya Kiara berbalik. "Gak niat ke kelas, nih?" tanya gadis itu lagi. "Atau masih marah?" lanjutnya terus menyerocos. "Balas, gih kalau mau?!" kata Kiara menunjuk punggungnya yang siap dipukul.
"Ogah, mukul cewek. Gak ada keren-kerennya!" timpal Andi menolak dengan cepat.
Kiara menganggukkan kepalanya. "Gak mukul kau juga gak ada keren-kerennya, kok," katanya menancap tepat di hati Andi. Andi mendengus kesal, sedangkan Kiara kembali berjalan sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
^^^Sesuai dengan janjinya, Rama menjemput Andi pukul dua belas lewat sedikit. Dia menunggu di depan gerbang, bersandar di mobilnya. Rama terlihat seperti makhluk yang keluar dari lukisan, terlalu indah untuk menjadi nyata dan satu spesies dengan para manusia. Banyak bisik-bisik, terkhusus yang belum pernah melihat Rama di kampus ini sebelumnya. Ada juga yang menatap tanpa malu dan melemparkan kerlingan genit, Rama acuh, dia seolah tak mempan dengan itu semua. Bahkan ada yang berani menghampiri dirinya dan mengajak berkenalan, tentu saja itu tak berhasil. Rama seolah membangun tembok dan tak melihat orang-orang yang memperhatikannya dengan antusias.^^^
"Kukira ada artis dari mana kesasar? Tahu-tahunya orang paling penting yang amat sangat susah untuk ditemui akhir-akhir ini!" ucap Kiara yang keluar lebih dulu, kelasnya sudah berakhir dan dia melihat ada kerumunan di depan gerbang. Karena penasaran, gadis itu pun mendekat dan melihat ada apa sebenarnya.
Rama membuka kaca matanya, menatap lurus Kiara. "Andi?" hanya satu kata itu yang keluar, tapi pengaruhnya sungguh menghebohkan.
"Kalau nanya coba biasakan sampai selesai, Ram," decak Kiara yang terkadang harus berpikir ekstrak agar tahu apa yang ditanyakan sahabatnya itu. Rama hanya bergumam ria, tanpa menanggapi perkataan Kiara. "Andi masih di kelas, bentar lagi paling ke sini!" lanjut gadis itu memutar bola matanya malas.
Rama mengangguk sebagai balasan, tanpa mengucapkan terima kasih atau apa pun itu. Kiara tertawa pelan,sudah biasa dengan sikap Rama yang seperti itu. "Kamu dengar? Ada yang nanya kita pacaran atau gak? Gegara kamu ngobrol sama aku!" baru saja Kiara mendengar ada salah satu siswi berbisik pada kawannya mengatakan apa Rama pacarnya atau bukan, kenapa Rama mau bicara sama Kiara tapi tidak dengan mereka.
"Mimpi!" dengus Rama membuang mukanya ke samping.
Kiara mendengus kesal. "Aku juga ogah!" timpal gadis itu setengah kesal.
"Bagus, lah?!" kata Rama seolah bersyukur.
"Ram, Rama ... maaf telat, he-he," cengir Andi menerobos kerumunan. Seakan hapal kalau kawannya pasti akan membuat kerumunan seperti ini kalau dia datang.
"Aku juga baru sampai," balas Rama ikut tersenyum tipis. "Ayo balik, kita makan dulu, baru aku antar kamu balik," lanjut Rama masuk ke mobilnya dan duduk di kursi pengemudi.
"Woi, woi, aku gak diajak makan, nih?" tanya Kiara menunjuk hidungnya sendiri.
"Duluan!" pamit Rama sebelum melajukan mobilnya.
Kiara menendang udara kosong. "Sialan, awas, ya!" umpat Kiara kesal. "Sama temen sendiri aja pelitnya minta ampun, astaga, astaga, darah tinggiku kambuh kalau ketemu tuh orang?!" kata gadis itu memegang belakang lehernya.
"Gimana kerjaannya, Ram? Menang?" tanya Andi yang tak suka keheningan.
Rama tersenyum tipis. "Tentu!" jawab pemuda itu singkat. "Apalagi kamu udah do'akan tadi pagi," lanjutnya menatap singkat kawannya.
"Syukurlah, he-he," kekeh Andi terlihat senang.
"Habis makan, terus anterin aku, kamu balik ke kantor lagi atau gak, Ram?" tanya Andi lagi.
"Gak, sisa kerjaan bisa aku kerjakan di rumah," balas Rama menghentikan mobilnya di lampu merah.
"Kalau gitu kita balik aja, makan di rumah. Lagian bibi pasti udah masak buat makan siang kita," timpal Andi tak ingin membuang waktu kawannya.
"Gak apa-apa, sesekali kita makan di luar. Anggap aja perayaan aku menang tender," ucap Rama beralasan.
Andi mengangguk, membenarkan ucapan kawannya. "Kalau begitu, mari kita makan enak!" pekik Andi ceria.
Andi menoleh ke samping menatap Rama. "Boleh panggil Jo sama Ara?" katanya bertanya dengan nada ragu.
"Terserah, lakukan sesukamu, An," timpal Rama tak ambil pusing. Dengan cepat Andi mengirim pesan pada Kiara dan juga Jonathan. Menyuruh keduanya datang ke alamat yang dia kirimkan, tentu saja setelah dia bertanya ke mana mereka akan pergi sekarang.
Rama tersenyum tipis, berjanji dalam hati kalau dia akan menjaga senyum cerah sahabatnya itu. Meski Andi mungkin akan membencinya di masa depan, dia akan menghadapinya sambil meminta maaf dengan tulus. Bukankah sang kakek juga mengatakan kalau dia tak menipu, dia malah digunakan sebagai perisai hidup untuk menyelamatkan cucu kandung mereka sebenarnya.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...