Topeng.

Topeng.
68.


__ADS_3

Sesampainya di panti, Andi turun dengan cepat dari mobil. Pemuda itu melangkah dengan tak sabar menemui anak-anak yang menurutnya lucu. Andi memang menyukai anak-anak, tetapi dia sadar kalau dia tak akan sanggup mengurus mereka dengan benar, bahkan tak satu pun di antara mereka bisa Andi besarkan dengan baik. Dia masih muda, masih kurang pengalaman dan kesabaran untuk melakukan hal besar seperti itu.


Rama sendiri mempertimbangkan semua degan seksama, memang dia berniat untuk mengadopsi anak karena candaan kawannya. Tetapi Rama tak memikirkan semuanya secara serius, rencananya tadi pemuda itu hany anak.memgambil salah satu dari sekian banyak anak-anak di sini, mengadopsinya dan menyerahkan semua sisanya pada para pelayan. Dia hanya akan sesekali berbicara dengan anak yang diadopsinya, tentu saja itu tentang mengajari bagaimana anak tadi bersikap kalau ada seseorang yang berniat mendekat padanya. Anak kecil terlalu gampang dipengaruhi, makanya Rama menyerahkan semua pada rencana baru kawannya.


Perannya sebagai seorang pria yang tak bisa melupakan cinta pertamanya dan berubah menjadi pria kaku dan acuh, bukankah dia sudah memenuhi setengah dari perannya. Rama sudah cukup acuh dan datar kalau soal tampang.


"Terima kasih sudah sering berkunjung dan membawakan anak-anak di sini makanan, nak. Mereka sangat senang ketika kalian berdua datang," ucap si kepala panti berterimakasih dengan tulus. "Terima kasih juga telah bersedia menjadi donatur tetap, saya akan menggunakan kepercayaan kalian dengan baik untuk anak-anak," lanjutnya tersenyum menatap anak-anak yang sedang bermain dengan Andi.


"Tak apa, kalau ada hal mendesak, hubungi saja saya. Saya akan membantu sebisa mungkin!" kata Rama menimpali.


"Ho-ho-ho-ho, terima kasih sekali lagi kalau begitu, nak!" balas sang kepala panti. "Ngomong-ngomong, kawanmu yang satu itu sangat ceria. Seolah tak ada masalah di dunia ini yang menyentuh sedikit pun," ucap kepala panti yang dari tadi memperhatikan Andi.


Rama tersenyum tipis."Dia saudara saya yang paling berharga," ucap Rama dengan tatapan hangat. Andi melambai ke arah Rama, Rama pun membalas lambaian tangan kawannya itu meski hanya sebentar.


"Jarang sekali melihat saudara yang saling menyayangi dan menjaga seperti kalian," timpal si kepala panti tersenyum hangat. Rama mengangguk mengiyakan, mungkin karena Rama berhutang banyak pada Andi, makanya mereka bisa seakur ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Keduanya pulang kembali ke kediaman sebelum makan siang, Rama mendapat telepon dan harus segera pulang mengurus dokumen yang akan dikirim melalui email. Makanya mereka memilih pulang lebih cepat. "Ram, ntar sore aku keluar, ya?" kata Andi memberitahukan kawannya.


Rama mengangguk mengiyakan. "Hati-hati!" kata pemuda itu singkat. "Uang saku kamu masih ada?" tanya pemuda itu lagi. Pasalnya Andi lebih suka memakai uang tunai dari pada kartu.


"Masih, kan dua hari yang lalu aku gajian," balas Andi dengan nada bangga. Ahh, Rama jadi ingat kalau kawannya membelikan dirinya martabak setelah dia gajian, katanya dia mau membelikan yang lebih mahal, tapi gajinya tak cukup. Makanya hanya bisa membeli makanan saja.


"Kalau pekerjaanku beres, nanti aku nyusul," kata Rama menimpali.


"Ocre, bos!" balas Andi disertai cengiran lebar. Rama segera masuk ke kamar, memeriksa laptopnya dan mulai membenamkan diri pada pekerjaan dadakan yang harus segera diselesaikannya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Pukul tiga lebih beberapa menit, Andi menunggu di kafe. Dia janjian dengan kedua temannya yang lain. Pemuda itu sengaja memilih kafe yang terlihat sepi, mereka akan membahas tentang rencana epik yang baru saja dikarang Andi. "Tumben ngajak keluar?" kata Kiara yang baru saja datang, dia langsung memesan minuman begitu pelayan datang.


"Ntar aku jelasin, tunggu si Jo dulu, oke?" timpal Andi.


Berselang beberapa menit, si Jo yang ditunggu-tunggu akhirnya nongol juga. "Sorry telat, padahal aku udah buru-buru ke sini tadi!" kata pemuda itu asal comot minuman Andi.


"Woi, haus sih haus, jangan embat minuman orang juga kali!" tegur Andi, dia baru minum sedikit, dan sekarang sudah ludes tak bersisa.


"Sorry, di luar panas banget," kata si Jo nyengir kambing. "Ntar aku pesankan lagi, oke?" lanjut pemuda itu segera memesan minuman baru, untuknya dan untuk Andi.


"Si Jo udah datang, jadi kenapa kamu ngajakin kita keluar?" tanya Kiara lagi.


"Gini, aku punya misi buat bantuin Rama!" balas Andi mengungkapkan maksudnya mengajak kedua kawannya bertemu. "Dan aku butuh bantuan kalian agar misi ini sukses besar!" lanjut pemuda itu lagi.


"Aku sih oke aja, tapi misi apaan dulu?" timpal si Jo bertanya.

__ADS_1


"Aku gak masalah, asal misinya gak aneh-aneh!" sambung Kiara menanggapi ucapan si Jo barusan.


"Misinya adalah melindungi Rama dari para nenek lampir yang siap menerkam kawan kita itu!" jelas Andi. "Ntar aku jelasin lebih lanjutnya, pokoknya kalian bakalan setuju, kan?" tanya Andi menatap kedua kawannya bergantian.


"Mengurangi saingan? Tentu aku bakalan maju paling depan!" ucap Kiara bersemangat.


"Bolehlah, gak susah-susah amat, kok!" ujar si Jo setuju-setuju saja.


"Apa aku harus pura-pura jadi pacarnya Rama?" tanya Kiara penuh harap. "Gak pura-pura juga gak masalah, besok langsung ke KUA juga boleh! Kakek pasti setuju?!" lanjut gadis itu larut dalam euforia khayalannya.


"Maaf harus menghempas kembali khayalan anda ke bumi, saudari! Rama gak mungkin setuju kalau begitu rencananya!" balas Andi tersenyum kecut. Sudah tahu kawannya ingin menjauhi sekumpulan hyena, masa malah mau dimasukkan ke kandang rubah. Bisa-bisa dirinya kena amuk sama kawannya itu, soalnya dia yang dipercaya membuat rencana.


"Loh, kenapa? Bukannya itu bagus? Pasti gak ada lagi yang deketin Rama kalau dia udah punya label halal alias nikah!" protes Kiara yang kesal imajinasinya dihancurkan begitu saja.


"Masih ada pelakor, Ra! Pelakor mana peduli bandrolnya tuh cowok apaan, yang penting tajir melintir pasti diembat. Apalagi kalau bonus tampang kayak Rama, beuh, pelakor pasti siap ngantri dah," celetuk si Jo asal nyeblak. Andi mengangguk setuju, apa yang dikatakan si Jo memang benar, gak ada salahnya sama sekali. Kiara diam, dia mendecih kesal tapi tak lagi protes.


Si Jo menatap serius Andi. "Jadi aku harus ngapain di misi kali ini?" tanya pemuda itu melihat Kiara yang biasanya bertanya malah diam, mungkin dia sedikit ngambek.


"Jadi gini, aku udah buat rencana yang nyeritain kalau Rama itu sosok yang gak bisa ngelupain cinta pertamanya. Nah, tugas kita itu nyebarin rumor ini!" jelas Andi memberitahukan rencana awalnya.


"Gak mungkin tugas kita berdua cuma nyebarin rumor aja, kan?" tanya Kiara yang sedikit penasaran.


Andi mengacungkan jempol ke arah Kiara. "Jitu banget, sih nebaknya!" kata pemuda itu menimpali.


"Nah rencana kedua, Kiara datang ke kantor Rama, minimal ke kantinnya lah. Mewek di sana kek orang putus asa, putus cinta, patah hati, ditolak, pokoknya akting sedih lah. Si Jo bakalan jadi pemanis yang mendengar cerita Ara, ya anggap aja kamu yang minta si Jo Dateng buat jemput kamu, Ra!" jelas Andi secara singkat.


"Ahh, dari situ bakalan muncul rumor kan?" timpal si Jo menjentikkan jarinya.


Andi mengangguk cepat. "Yup," kata pemuda itu mengiyakan. "Pas kamu udah datang," ucap si Andi mengalihkan tatapannya pada Jo. "Kalian jangan langsung cabut, tapi Kiara harus lebih over lagi meweknya. Sambil akting gimana kek yang penting menjiwai rasa sakit hati udah ditolak, selipin juga informasi kalau kamu kalah sama orang dari masa lalu si Rama!" jelas Andi lebih panjang. Dia menyeruput minumannya di akhir cerita, capek jelasin sepanjang itu, padahal udah disingkat sebisa mungkin.


Kiara mengernyitkan keningnya menatap Andi. "Tapi, An, apa rencana itu cukup ngaruh?" tanya gadis itu sedikit tak yakin.


"Mungkin, pasti ada yang gak mau ngerasain patah hati kayak akting kamu, Ra. Jadi sebagian dari mereka bakalan nyerah. Siapa coba yang mau bersaing sama masa lalu yang gak bisa dilupakan?" kata Andi dengan nada yakin, pemuda itu bertanya balik pada kawannya.


"Kalau aku sih ogah, susah ngalahin masa lalu, apalagi kalau target susah move on," timpal si Jo manambahi.


"Nah, itu maksud aku!" kata Andi bersemangat. "Tumben pinter, Jo," ledek pemuda itu tersenyum jahil.


"Sialam, aku ini pinter terus tahu! Kamunya aja gak nyadar-nyadar sampai sekarang!" tukas si Jo mendengus pelan.


"Oke, aku bakalan ikutan misi kali ini!" putus Kiara. "Kudu nonton drakor sad ending yang banyak ini, biar gampang mewek buat misi," lanjut gadis itu dengan sungguh-sungguh.


"Sip, kalau kamu ikutan misi kita bakalan berhasil dengan persentase yang lebih tinggi, Ra. Kan kamu yang harus menyebarkan rumor sambil mewek!" timpal Andi sambil nyengir.


"Kapan kita mulai misinya?" tanya si Jo penasaran.

__ADS_1


"Hmm, bagusnya kapan?" kata Andi balik bertanya. "Senin, oke gak?" tanya pemuda itu lagi.


"Kenapa harus senin? Kenapa gak hari lain aja?" tanya Kiara menimpali.


"Kan senin itu hari pertama ngantor, nah kalau rumor beredar di hari itu, pasti bakalan diomongin dalam waktu lama. Tapi kalau hari lain, pas akhir pekan belum tentu ada yang inget lagi gegara sibuk nyantai pas gak kerja!" kata Andi menjelaskan. Maksudnya kalau hari senin rumor tersebar, masih banyak hari yang harus dilewati hingga akhir pekan datang. Makanya gosip lebih awet dan kadang semakin memanas kalau dilakukan lebih awal.


"Setuju!" kata si Jo. Kedua pemuda itu menatap Kiara bersamaan.


Kiara menghela napas panjang. Dua lawan satu, mana bisa dia menang. "Oke, aku ngikut aja. Serah mau hari apa!" kata gadis itu pasrah. "Tapi aku harus ngasih tahu kakek, ya. Aku gak mau kalau kakek aku denger rumornya terus salah paham dan malah ganggu kesehatan beliau!" lanjut gadis itu mengkhawatirkan kakeknya.


Andi mengangguk paham. "Gak masalah, kalau perlu kita berdua bakalan menemani kamu buat ngasih tahu kakek kamu, Ra!" timpal Andi tak keberatan kalau Kiara memberitahu kakeknya.


"Gak apa-apa, aku bisa ngomong sendiri!" kata Kiara membalas. "Jadi hari senin aku datang dengan dandanan WAH, terus beberapa saat kemudian aku nangis-nangis di kantin kantor Rama. Gegara sedih, make up luntur, dan patah hati, akhirnya aku nelepon si Jo. Gak lama Jo datang dan sesi gosip tersebar dimulai, begitu kan intinya?" lanjut gadis itu meringkas sepadat mungkin rencana Andi.


Andi dan Jonathan bertepuk tangan. "Hebat! Sempurna! Tepat sekali!!!" kata keduanya bersamaan memberi pujian.


Setelah beberapa saat dan pesanan mereka sudah ludes dimakan, ketiganya pulang ke rumah masing-masing. Andi tak jadi mentraktir temannya, malah si Jo yang membayar semua sebagai ganti permintaan maaf karena sudah asal mencomot minuman Andi pas baru datang.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Saat Andi melewati gerbang, dia melihat Rama yang baru saja akan membuka pintu mobilnya. "Mau kemana, Ram?" tanya Andi yang baru turun dari mobil.


"Kan tadi aku udah bilang, kalau aku udah kelar aku bakalan nyusul, An!" ucap Rama membalas.


"Ohh, iya. Tapi akunya udah balik. Apa aku harus ke kafe lagi sekarang?" tanya Andi polos.


"Ya gak usah gitu juga kali, An," desah Rama tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya yang pintar satu ini. "Mending diam di rumah, An. Nunggu makan malam siap," lanjut pemuda itu kembali masuk ke dalam rumah.


Andi segera menyusul langkah kawannya. "Ram, hari senin misi yang aku bilang bakalan dijalankan, loh!" bisik Andi agar tak ada yang mendengar.


"Kamu gak magang?" tanya Rama dengan kening mengernyit.


"Kan aku cuma pembuat rencana, yang jalanin misinya yang si Kiara sama si Jo, Ram!" balas Andi masih berbisik.


Rama menganggukkan kepalanya, tak masalah baginya mau hari apa saja. Dia bisa di semua hari. Apalagi ini hanya akan menghabiskan sedikit waktunya saja, jadi tak akan mengganggu jadwalnya sama sekali. "Semangat jadi pusat gosip, Ram!" kata Andi menyemangati dengan anehnya.


Rama mengangkat bahunya ringan. "Tak masalah, aku sudah sering jadi pusat gosip, An!" timpal pemuda itu dengan wajah datar.


Andi mengangguk, memang iya, semua yang dikatakan kawannya itu benar. Meski tak sedang melakukan misi seperti ini, sahabatnya itu pasti akan dikaitkan dengan rumor apa saja. Menjalin kerja sama, malah dibilang pendekatan melalui bisnis, pasti ujung-ujungnya berita pernikahan yang datang. Senyum sedikit, dibilang kalau ada hati. Ramah sedikit, dibilang itu perlakuan spesial. Gosip suka aneh-aneh dan melebih-lebihkan saja. Satu kalimat yang terucap, bahkan bisa menjadi seratus kalimat satu jam kemudian. Itulah kekuatan netizen dalam hal menyebarkan rumor.


"Serahkan saja pada kami bertiga, kami akan melakukan misi ini sebaik mungkin!" kata Andi dengan yakin sebelum mereka berpisah. Andi dan Rama masuk ke kamar masing-masing, mereka beristirahat sebentar sebelum waktu makan malam tiba. Rama mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan yang lebih santai,pemuda itu menggantung bajunya agar mudah dipakai lagi kalau dia jalan nanti. Di kamarnya,Andi juga melakukan hal yang sama. Bedanya dia mandi lagi sebelum berganti baju, salahkan cuaca yang panas yang membuatnya berkeringat.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2