
Andi baru pulang dari kampus saat dia berpapasan dengan tukang yang dipanggil Rama, pemuda itu mengernyit heran melihatnya. Apa sedang ada pembangunan di rumah mereka, kenapa dia tak tahu apa pun.
"Benerin apaan sampai manggil tukang, Ram?" tanya Andi menghampiri kawannya yang berdiri berperan sebagai mandor.
"Udah balik?" Rama malah balik bertanya.
"Belom! Ini baru bayangan aku aja, Ram," decak Andi setengah kesal. Dia sudah berdiri di depan temannya, tapi masih ditanyain juga. Rama terkekeh kecil melihat kawannya yang kesal. "Jadi, lagi ngapain ini?" lanjut Andi bertanya.
"Bikin atap, biar nenek gak kepanasan kalau main di kebun," balas Rama berhenti mengerjai kawannya.
"Tumben pinter dan gercep, Ram," ledek Andi.
__ADS_1
Rama mengangkat bahu acuh. "Dari dulu kali?!" ucap pemuda itu kelewat santai.
Rama melirik kawannya lalu membuang pandangan ke lain arah. "Ganti baju sana, bau!" lagi, Rama mengejek kawannya. Dia menjadi sosok usil saat berhadapan dengan Andi.
"Gak sebau itu juga kali?! Dahlah, aku ke atas dulu, ganti baju, terus balik lagi bawain kamu minum." Andi menghilang dengan cepat, dia terlalu malas diejek terus oleh kawannya. Rama tertawa kecil, ini merupakan hobi kecil Rama, dia suka mengganggu kawannya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Nenek," panggil Rama mengetuk pintu kamar sang nenek.
"Masuklah, cucuku yang nakal!" kata si nenek yang senang melihat cucunya. Rama segera masuk, dia berbaring di kasur neneknya, bertingkah manja pada wanita tua itu. "Dasar manja!" ketus sang nenek berpura-pura kesal. Namun, tangan wanita tua itu malah mengusap-usap rambut cucunya.
__ADS_1
"Apa urusanmu yang mengganggu kebun nenek tua ini sudah selesai, hmm?" tanya Lidya.
Rama tetap memejamkan matanya, menikmati belaian tangan sang nenek. "Rama memperindah, nek, bukannya mengganggu," kilah Rama.
"Memperindah apanya?" satu pukulan mampir di bahu Rama, Rama pura-pura mengaduh meski tak merasa sakit sama sekali. "Awas saja kalau bunga yang nenek tanam gak berbunga gara-gara kekurangan sinar matahari?!" ketus si nenek berpura-pura kesal, padahal wanita tua itu sangat suka diperhatikan oleh cucunya. Rama mengangguk mengiyakan, padahal dia tak terlalu peduli dengan semua bunga-bunga ataupun buah yang ada di kebun sang nenek. Dia hanya ingin sang nenek tak tersengat matahari saat menghabiskan waktu di sana.
"Mana cucu nenek yang satunya?" tanya Lidya, biasanya dimana ada Rama, pasti Andi mengekor di sana juga.
"Huh, mungkin lagi ngorok, nek. Katanya bakalan balik terus bawain Rama minum, ujung-ujungnya gak nongol sampai sekarang?!" keluh Rama sok kesal.
"Hu-hu-hu-hu, itu anak sedang masa pertumbuhan, makanya butuh banyak makan dan tidur. Justru kamu yang aneh, terlalu sering bergadang!" ucap sang nenek membandingkan Rama dan juga Andi.
__ADS_1
"Aiss, terdengar menjengkelkan, tapi itu memang kenyataan, he-he-he," kekeh Rama. Lidya tertawa kecil melihat kelakuan cucunya, dia bersyukur memiliki seseorang di hari tuanya untuk diajak bercanda dan berbincang seperti ini.