
Sesampainya di atas, sebuah pondok mungil telah menanti. Andi yang paling pertama turun, berkeliling sambil berteriak kegirangan, mengekspresikan rasa sukanya. Rama membantu sang nenek, berjalan di samping nenek tua itu sambil membawakan barang mereka.
"Nih, bawa," ucap Rama melempar tas yang tadi dibawanya. "Jangan teriak-teriak, meski jaraknya berjauhan, tapi tetep aja kedengeran kalau teriak sekencang itu?!" lanjut Rama menegur kawannya.
Andi cembetut, tapi dia tetap memilih diam, mengikuti perkataan kawannya. Begitu sampai di dalam, Rama mulai menyibukkan diri di dapur. Walau ada beberapa pelayan di tempatkan di tempat ini, Rama tetap bersikeras ingin melakukannya sendiri. "Butuh bantuan, gak?" tanya Andi menghampiri.
Rama melirik sekilas kemudian lanjut mengerjakan apa yang dikerjakannya barusan. "Gak ada," balas Rama singkat. "Temani saja nenek agar beliau tidak bosan," lanjut pemuda itu mengusir secara halus kawannya.
"Mana ada orang yang bosan kalau di sini, Ram! Bilang aja kalau aku disuruh pergi?!" ucap Andi lumayan peka.
"Nah, itu tahu?!" timpal Rama mengakui, membuat Andi bersungut-sungut kesal dibuatnya. "Sana, gih, temani nenek. Nanti aku nyusul kalau udah selesai di sini!"
"Oky, doky, siap kapten?! Jangan lupa buat minuman juga, ya?!" ucap Andi cukup nyaring saat dia meninggalkan dapur. Rama menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah temannya itu. Di depan yang lain saja kawannya itu tak pernah begitu, pasti Andi lebih memilih bertingkah kalem dan juga sedikit ceria, ya walau menurut Rama itu juga terlihat agak bodoh dan lucu. Hanya di depan drinya dan sang nenek saja kawannya itu menjadi dirinya sendiri, bebas berekspresi seperti apapun tanpa harus ditutup-tutupi.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
"Kalian sejak tadi ingin membantu saya, bukan?" tanya Rama pada dua orang pelayan yang berdiri tak jauh dari dirinya. Memang benar apa yang dikatakan Rama, kedua pelayan tadi sibuk menawarkan bantuan, bahkan mereka meminta Rama beristirahat saja dan mereka-lah yang akan melanjutkan apa yang Rama buat. Sayangnya Rama menolak, jadi kedua pelayan tadi menunggu di sudut dapur, sambil mengerjakan hal lain.
"Apa yang bisa kami lakukan, tuan?" tanya yang satunya penuh semangat.
"Anda bisa memerintahkan kami!" timpal yang lain.
Ra mengelap tangannya yang masih basah, dia baru selesai mencuci tangan barusan. "Tolong bawakan makanan dan minuman yang saya buat keluar," ucap Rama tanpa menatap kedua pelayan di depannya.
"Baik, tuan!" balas keduanya melakukan perintah Rama.
"Cucu kesayanganku, kenapa lama sekali di dalam, hmm? Jangan bilang kamu merayu mereka berdua dengan wajahmu, ya?!" dengar, bahkan tuduhan sang nenek terdengar sedikit menyakitkan.
"Tidak, nyonya! Tuan membuatkan ini tadi makanya lama," elak salah satu di antara kedua pelayan itu membela Rama, mereka tak ingin disalahpahami.
Yang lain mengangguk membenarkan. "Bahkan tuan menolak bantuan kami dan mengerjakan semuanya sendirian?!"
__ADS_1
Andi tertawa lepas. "Ha-ha-ha, jangan khawatir. Nek Lidya hanya berusaha mengusili cucunya saja!" katanya menjelaskan.
"Terimakasih," ucap Rama pada keduanya, dia seolah tak mendengar apa yang diucapkan sang nenek barusan.
"Sudah tugas kami, tuan?!" balas kedua pelayan itu pamit meninggalkan ketiga anggota keluarga yang akan mereka layani hingga beberapa hari kemudian.
"Ah, bawa ini. Ini untuk kalian," kata Andi memberikan masing-masing satu kue pada keduanya.
"Tidak perlu, tuan!" tolak keduanya cepat.
"Ambil saja, kawanku bukan orang yang pelit. Lagipula dia membuat banyak, jadi tak akan habis hanya dengan memberikan kalian dua potong ini." kedua pelayan tadi menerima pemberian Andi, lalu berterimakasih. Sedangkan Rama, dia hanya menyibukkan diri dengan sang nenek sambil membaca majalah yang entah didapat dari mana.
"Tapi, minumnya buat sendiri, ya. Rama lagi pelit, buatnya dikit?!" lanjut Andi berbisik pelan, takut kalau-kalau sang sahabat mendengar ucapannya.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...