
Ponco sudah pulih sepenuhnya, meski luka bakar menutupi sebagian besar wajah dan tubuhnya. Pria itu tinggal bersama Bondan, dokter tua itu menawarkan tempat tinggal ketika Ponco sudah pulih tapi tak juga berniat untuk pulang. Ponco banyak belajar cara membuat obat-obatan herbal, dia juga mempelajari mana tanaman beracun dan mana yang bukan. Meski tak mendalami cara membuatnya, tapi pria itu tahu yang mana saja yang beracun saat dia melihat.
Ponco sedikit senang tinggal bersama Bondan, pria tua itu selalu merawat dirinya dan berbicara dengannya meski Ponco jarang membalas. Seolah tak kenal lelah, pria tua itu selalu dan selalu mengajak Ponco untuk berbincang. Sayangnya itu semua tak cukup untuk membuat niat jahat Ponco menghilang, dia masih saja menyalahkan semuanya pada Rama dan berniat menghitung semua hutang di antara mereka berdua.
Di sisi lain, Bondan merasa bahagia. Di hari tuanya dia tak sendiri, ada seseorang yang bisa diajaknya berbicara sekarang. Terlebih, orang itu cukup berbakat untuk belajar. Bondan pun mengajari semua yang dia tahu dengan suka rela.
"Anak muda, jangan menyerah, meski wajahmu terluka cukup parah, tapi itu masih bisa diobati. Yah, meski bekas lukanya tak menghilang sepenuhnya," kata pria tua itu menghibur Ponco. Ponco hanya mengangguk setengah hati. "Ceritakan sedikit tentangmu, anak muda," lanjut pria tua itu mencoba mengajak Ponco berbicara untuk kesekian kalinya.
Ponco berpikir sejenak, kemudian dia menjawab. "Tak ada yang bisa saya ceritakan," katanya datar.
"Tak ada seseorang yang hidup tanpa satu cerita pun selama hidupnya, anak muda. Pasti ada walau ceritanya terlihat tidak penting," balas si pria tua itu bijak.
Ponco menatap lurus pria tua di depannya, dia pun menghela napas panjang lalu menutup matanya. "Saya tak pernah bertemu ayah dan ibu saya, wajah mereka berdua pun tak ada dalam ingatan saya. Begitu saya bisa melangkah, hanya ada kegelapan dan kerasnya dunia di sekeliling saya. Begitulah saya hidup," aku Ponco jujur.
Bondan tersenyum hangat. "Cobalah buat kenangan indah setelah ini, jangan terus tenggelam dalam kegelapan masa lalu. Jika kamu butuh sosok orang tua, saya bisa menjadi ayah bagimu. Yah, walau hanya ayah angkat saja," kekeh Bondan tak ingin membebani pemuda di depannya ini.
Rasa hangat sedikit menyusup di hati Ponco. Namun, dia menepis dengan cepat. Hingga tujuannya tercapai, dirinya tak boleh membiarkan hatinya melemah.
"Saya permisi dulu," pamit Ponco melarikan diri dengan cepat, dia tak ingin melanjutkan obrolan tadi, dirinya takut hatinya goyah. Ponco tak mau melupakan semua, dia harus membalas Rama.
Bondan mendesah panjang, menggelengkan kepalanya tak berdaya. "Anak yang malang, hatinya pasti begitu terluka hingga tak ingin membicarakan semua kenangan buruknya," gumam Bondan.
Ponco terus berlari dan berhenti di sebuah pohon yang cukup tua. Dirinya menarik napas panjang, membuang semua kehangatan yang baru saja dia terima. "Aku harus segera pergi dari sini begitu aku selesai mempelajari semua pengetahuan dari pria tua yang cerewet itu!" tukas Ponco mengangguk yakin.
"Kita akan bertemu lagi, si tanpa nama! Dan kuharap semua akan selesai hingga tak ada hutang yang tersisa di antara kita?!" lanjut Ponco dengan tatapan berapi. Entah takdir buruk apa yang terjalin antara keduanya, padahal Rama tak pernah menganggu Ponco, tapi Ponco selalu merasa takut dan juga khawatir.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Setelah hari itu, Kiara selalu ikut nimbrung dengan Rama dan Andi setiap ada kesempatan. Gadis itu tak memiliki niat lain, dia hanya ingin berteman. Rama tetap acuh, tapi juga tak pernah melarang Kiara bergabung dengannya. Kalau Andi jangan ditanya, pemuda itu malah menerima kehadiran Kiara dengan senang hati. Dia dan Kiara selalu berjalan di depan dan saling mengobrol, Rama berjalan di belakang seakan dijadikan pengawal oleh keduanya.
Seolah tak peduli, Rama hanya menanggapi saat diperlukan saja. Banyak rumor mengatakan kalau Kiara dan Andi tengah menjalin hubungan, dan Rama menjadi orang ketiga, salahkan saja wajahnya yang selalu datar kalau mereka berjalan bertiga. Itulah yang membuat Rama disalahpahami. Sayangnya ketiga orang itu tak ambil pusing, terserah orang mau bicara apa pun tentang mereka.
"Ra, pulang mampir ke rumah, ya? Nek Lidya nyuruh kamu mampir," tugas Andi menyampaikan ucapan sang nenek pada sahabat baru mereka.
"Benarkah?" tanya Kiara dengan tatapan menyelidik, soalnya dia sudah sering dibohongi oleh Andi dengan cara yang sama. Makanya Kiara menjadi lebih waspada agar tak terjatuh dengan cara yang sama.
"Beneran, ngapain juga bohong. Tanya aja Rama kalau masih gak percaya?!" timpal Andi memasang tampang serius.
Kiara menoleh ke belakang. "Memang Andi seriusan, Ram?" tanya gadis itu yang memang tingkat kepercayaannya pada Andi sangat tipis sekarang.
"Beneran gak percaya dia, buset dah. Giliran aku bohong aja dipercaya, pas aku serius malah gak percaya. Ha-ah, aneh," gerutu Andi misuh-misuh sendiri.
"Salah sendiri keseringan nipu, makanya gak yakin aku tuh kalau kamu yang ngomong, An," timpal Kiara.
"Bener, kan, Ram? Aku gak bohong, kan kali ini?" Andi menyeret sahabat baiknya sebagai saksi bahwa untuk kali ini dia tak berbohong sama sekali.
Rama mengangguk malas. "Ya," balas pemuda itu singkat. Kenapa harus bertanya pada dirinya, kan bisa langsung menelepon neneknya saja untuk memastikan. Punya teman tambahan memang sungguh merepotkan.
__ADS_1
"Tuh kan, apa aku bilang?!" tukas Andi mendongakkan dagunya.
"Huh, siapa suruh tukang nipu, mana aku bisa langsung percaya!" timpal Kiara tak mau disalahkan. Rama melihat dengan tatapan datar, dua orang di depannya ini masih saja sibuk berdebat. Rama menghela napas lelah, ke depannya pasti akan sedikit membuat lebih pusing.
"Selamat datang di dunia penuh kecerewetan," bisik Rama pada dirinya sendiri.
"Kamu bilang apa, Ram?" tanya Andi yang mendengar sahabatnya bergumam.
Rama memasang tampang datar. "Tak ada!" balasnya singkat.
Andi menggaruk pipinya, dia yakin kalau dia mendengar kawannya itu berbisik sendirian, apa mungkin dia salah dengar. Andi pun mengangkat bahu ringan, bisa saja dia salah mendengar. Ketiganya pun lanjut berjalan dan pulang bersama ke rumah Rama dan Andi.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Sesampainya di rumah, Kiara disambut hangat oleh Nek Lidya. Wanita tua itu mengajak Kiara untuk masuk ke kamarnya, sebut saja Kiara akan dijadikan boneka oleh sang nenek untuk hari ini. Kiara tersenyum canggung, ingin menolak tapi tak mampu. Sang nenek memberi tatapan tulus nan berbinar, penuh harap agar dirinya bersedia. Dengan setengah hati, Kiara mengangguk mengiyakan. Pasrah mau didandani seperti apa, terserah sang nyonya rumah saja.
Untungnya Kiara tak harus memakai baju-baju lama Nek Lidya, sang nenek membelikan beberapa potong pakaian untuk gadis itu kenakan hari ini, jadi dia tak akan terlihat ketinggalan zaman lah setidaknya. "Cantik, cantik sekali?!" tukas sang nenek dengan tatapan berbinar puas. "Ahh, aku senang bisa meminjam cucu perempuan dari si Rian," lanjut wanita tua itu dengan nada riang.
"Ayo, ayo, ayo kita keluar dan menikmati teh sore," ajak Nek Lidya penuh semangat. Kiara mengangguk patuh, mengikuti langkah sang nyonya rumah tanpa kata. Gadis itu tak yakin dengan penampilannya saat ini, tapi dirinya juga tak bisa mengatakan apa pun. Salahkan saja tatapan hangat yang terus membanjiri dirinya.
"Kalian tak menunggu lama, kan?" ucap sang nenek yang baru tiba di taman belakang.
"Kami baru saja di sini, Nek Lidya, ya kan, Ram?" jawab Andi cepat. Rama hanya bergumam sambil menganggukkan kepalanya.
"Baguslah," ucap si nenek mendekat. "Ayo duduk, nona cantik," lanjut wanita tua itu mempersilakan Kiara untuk duduk. Kiara mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada nenek tua itu.
"Bagus," balas Rama sekenanya tanpa melirik Kiara.
Pukulan sayang mampir di lengan pemuda itu, Rama pun sedikit tersentak. "Setidaknya berikan pujian dengan benar! Apanya yang bagus, dilihat saja belum, sudah main puji duluan?!" omel sang nenek menegur cucunya.
"Cantik, Nek Lidya yang terbaik?!" giliran Andi yang memuji, selain menuju Kiara, dia juga memberi pujian untuk sang nenek yang mendandani Kiara.
"Nah, ngasih pujian itu harus kayak Andi. Ikhlas, tulus dari hati?!" timpal si nenek puas.
Rama memutar bola matanya malas, dia menghela napas. "Bagus," ucapnya memberi pujian ulang sambil menatap Kiara. Dia bahkan tak melepaskan pandangannya agar sang nenek melihat kalau dirinya menatap Kiara, sang objek yang harus diberi pujian. Nek Lidya tersenyum puas, sedangkan Kiara merasa malu dan canggung karena terus ditatap.
Setelah makan malam, Rama disuruh mengantar Kiara pulang. Dengan beribu alasan, tugas yang harusnya dia lakukan dilimpahkan pada Andi. Rama malah berbaring santai di tempat tidurnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Setengah tahun berlalu dengan cepat, Kiara semakin dekat dengan Andi dan Rama. Ketiganya bisa dibilang menjadi sahabat sejati. Banyak yang iri dan mencoba untuk masuk ke kelompok mereka, tapi Andi tahu mana yang benar-benar ingin berteman dan mana yang hanya ingin mengambil keuntungan. Semua yang mendekati mereka hanyalah kelompok yang ingin mengambil keuntungan saja dari mereka, kesenangan boleh dibagi, kesedihan menjadi milik pribadi. Andi tak suka persahabatan seperti itu, Andi ingin susah senang ditanggung bersama, itulah persahabatan yang Andi bangun dengan Rama selama ini.
"Dibanding sahabat, kalian berdua terlihat seperti saudara," kata Kiara di suatu sore ketika kelas mereka telah selesai semua.
"Tentu, sama-sama pintar dan ganteng, kan?" kata Andi dengan kepercayaan diri super maksimal.
"Cih, kepedean banget nih orang?!" dengus Kiara berdecih mengejek.
__ADS_1
"Ada yang lebih super pede, kok daripada Andi," celetuk Rama ikut nimbrung. Akhir-akhir ini pemuda itu mulutnya sudah mulai ringan untuk menimpali obrolan kedua kawannya.
"Siapa?" tanya Kiara dan Andi penasaran., keduanya menoleh menatap Rama dengan tatapan ingin tahu. Rama menunjuk Kiara dengan wajah datar yang dihiasi senyum mengejek.
"Aku?" tanya Kiara tak percaya. Rama mengangguk membenarkan. "Kapan aku begitu?" tanya gadis itu lagi.
Andi bertepuk tangan sekali. "Ahh, aku ingat, di awal kita ketemu, kan ya?" pekiknya menebak dengan benar.
"Yup!" balas Rama enteng.
"Ahh, lupakan, lupakan, itu aib! Masa lalu yang pengen aku buang dari ingatan aku, makanya aku udah gak inget!" ucap Kiara cepat. "Kenapa kamu harus ingat, sih?!" dengus Kiara kesal.
"Hmm, mungkin karena aku gak lupa," balas Rama terdengar menjengkelkan. Andi malah tertawa mendengar jawaban dari kawannya itu.
"Btw, Ram, bisa temenin aku, gak ntar akhir pekan?" tanya Kiara mengganti topik.
Rama menatap Kiara, menyuruh gadis itu memberi penjelasan yang lebih. "Gini, loh," kata gadis itu sembari menarik napas panjang. "Akhir pekan nanti bakalan ada reuni'an, jadi aku butuh partner untuk hadir," lanjut gadis itu menjelaskan.
"Gak!" balas Rama menolak, mana mau dia ikut ke acara aneh seperti itu. Dia bukan barang pameran yang bisa dibawa ke sana kemari sesuka hati. Belum lagi kalau itu sampai ke telinga neneknya dan Kakek Kiara, sudah pasti acara perjodohan akan kembali terjalin. Itulah mengapa Rama menolak tanpa memberi kesempatan Kiara untuk bernegosiasi.
"Ayolah, Ram, ntar aku bakalan bantuin kamu juga, deh!" bujuk Kiara lagi.
"Kalau kamu butuh partner, ajak Andi aja. Aku gak suka acara yang bikin pusing?!" Rama meninggalkan Kiara tanpa mendengar ocehan gadis itu lebih lanjut.
Tangan Andi menepuk pundak Kiara pelan. "Jangan tersinggung, ya. Rama emang begitu, kok. Sama aku juga sering ketus, padahal orangnya baik banget!" Kiara mengangguk paham mendengar ucapan Andi.
"Kamu bisa nemenin aku?" tanya Kiara penuh harap. Bukannya dia tak bisa mencari partner lain, tapi dia ingin hadir dengan orang yang tak akan mencari keuntungan dari dirinya. Andi dan Rama lah orang yang tepat menurut Kiara, keduanya tak akan mencari keuntungan, juga tak mungkin berbuat jahat atau merencanakan sesuatu yang aneh pada dirinya.
"Tentu, bilang aja aku harus pakai baju yang gimana, ntar aku bakalan nemenin kamu!" balas Andi berjanji.
"Makasih, An. Tahu gini aku bakalan ngajak kmu aja tadi," tukas Kiara setengah menyesal.
"Ya, kenapa juga harus ngajakin Rama coba?!" Andi memutar bola matanya sedikit jengah dirinya dijadikan cadangan.
"He-he, soalnya kan aku tuh udah sering nanyain kamu terus duluan. Mana tahu kalau Rama juga pengen gitu ditanyain duluan, sebagai temen kan aku harus adil?!" jelas Kiara nyengir kuda.
"Astaga, kirain kamu mau pamerin tampang dewa-nya Rama ke temen-temen kamu, makanya kamu ngajakin dia," desah Andi menggelengkan kepalanya.
Kiara menggaruk pipinya sambil melirik ke lain arah. "Itu juga, sih," katanya mengaku. Keduanya bertatapan lalu saling berbagi tawa bersama. Andi sama sekali tak merasa marah, justru dia menertawakan Kiara yang tertolak mentah-mentah oleh sahabatnya sendiri.
Usai tertawa, Kiara pun mengatur napasnya. "Gimana kalau kita beli baju bareng biar keliatan kompak, oke? Untuk ke acara reuni-an aku," kata gadis itu.
"Oke aja, sih. Aku juga gak terlalu paham soal baju. Kalau Rama gak usah ditanya, dia pakai apa aja bakalan tetep keliatan cakep. Jadi dia gak pernah pusing ngurusin baju apa yang cocok untuk dirinya," cerocos Andi menerima ajakan Kiara. Keduanya pun berjanji akan belanja di hari jum'at.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1