Topeng.

Topeng.
6.


__ADS_3

"Ada apa ini?" sebuah suara mengganggu acara akting si tanpa nama yang sedang mendalami peran sebagai cucu.


Si nenek melerai pelukannya dan menatap suaminya. "Dia cucu kita pa, anak ini cucu kita!" katanya kembali memeluk si tanpa nama, tentu saja si tanpa nama merasa senang.


"Sungguh? Apa dia bisa mengingat sesuatu?" tanya si kakek ingin tahu mengapa istrinya begitu yakin bahwa anak tersebut cucu mereka.


Si nenek menatap tajam suaminya. "Pokoknya saya yakin kalau anak ini cucu kita! Dia juga tadi mengatakan kala dia merasa ada seorang pria yang memberikan kalung ini!" si nenek memperlihatkan kalung yang masih dia pegang. "Sayangnya anak ini tak bisa melihat wajah pria itu," lanjut perempuan tua itu sedih.


"Jangan dipikirkan, nanti kesehatan kamu memburuk." si kakek menepuk-nepuk pundak istrinya lembut.


"Nah, tuan kecil, cepatlah sembuh, jangan buat nenekmu ini merasa khawatir dan jatuh sakit, ya! Mulai sekarang, ingat nama kamu Rama, kamu tuan kecil satu-satunya di rumah ini!"


Si tanpa nama yang telah memiliki nama baru mulai hari ini pun mengangguk dengan cepat. "Baik, tuan besar!" katanya memamerkan senyum lebar, terlihat sangat bersemangat dan bahagia, nyatanya itu hanya akting belaka.


"Rama, panggil dia kakek, bukannya tuan besar!" ucap si nenek lembut.

__ADS_1


"Tapi kakek tadi memanggil saya tuan kecil, makanya saya juga memanggil kakek tuan besar, nek." si kakek tertawa mendengar ucapan polos cucunya.


"Anak pintar!" puji kakek tua itu bahagia.


"Istirahatlah, besok kita pindah ke kamar kamu, ya." nenek yang baik hati dan lembut itu pun membantu Rama berbaring.


"Kamu juga, istirahat yang banyak agar cepat sembuh!" lanjut si nenek sebelum dia meninggalkan kamar yang ditempati Rama palsu dan Rama asli.


"Ayo kita istirahat seperti yang dikatakan nenek," ajak si tanpa nama yang sekarang menjadi Rama sambil tersenyum ramah.


"Saya belum mengantuk, tapi mata saya sakit," kata anak itu menjawab.


"Hmm, nanti kalau pak dokter memeriksa, jangan lupa bilang kalau masih sakit."


"Baik," balasnya mengiyakan.

__ADS_1


Rama berencana ingin membuat anak di sebelahnya ini terus di dekatnya, itu dilakukan agar dia bisa terus mengawasi dan membuat rencana kalau-kalau anak itu suatu saat mengingat tentang jati dirinya yang asli.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Pa, bagaimana tentang anak yang datang bersama Rama? Apa kita harus mencari keluarga anak itu?"


Si kakek menggeleng pelan. "Kalau memang ada keluarga yang mencarinya, pasti sudah ada berita tentang itu yang kita dengar, bukan? Lebih baik kita biarkan dia ikut tinggal di sini agar bisa bermain dan menemani cucu kita Rama!"


"Kita lupa memberikan dia nama tadi, pa."


"Masih ada hari esok, untuk sekarang kita istirahat dulu!"


Kedua pasangan suami-istri itu pun segera beristirahat, dalam hati mereka masing-masing, mereka berjanji, akan melakukan apa saja untuk membahagiakan cucu mereka satu-satunya. Mereka sungguh menyesal, mengapa mereka dulu dengan keras kepalanya menentang hubungan anak mereka. Andai saja itu tak terjadi, mereka akan hidup bersama dan mendampingi anak cucu mereka. Sayangnya, kata andai tak akan pernah menjadi nyata. Semua yang sudah terjadi tak akan bisa terulang kembali.


"Kuharap hanya ada kebahagiaan untuk Rama stelah hari ini berakhir!" ucap si nenek tulus.

__ADS_1


"Kita akan mencoba menebus semua dan membahagiakan cucu kita selama yang kita bisa!" sambung si kakek. Keduanya mengangguk serempak. Ya, itu yang harus mereka lakukan ke depannya.


__ADS_2