Topeng.

Topeng.
33.


__ADS_3

Kecelakaan kecil terjadi, Andi menjadi korban tabrak lari saat dirinya baru saja keluar dari gerbang kampus. Bersyukur kendaraannya cukup kuat, hingga Andi tak terluka terlalu parah. "Sayangku, bagaimana perasaan kamu?" tanya Lidya yang bersikeras untuk ikut dan melihat langsung keadaan Andi.


Andi mencoba untuk duduk, tetapi dia langsung meringis saat bergerak. Seluruh tubuhnya terasa sakit. "Berbaring saja, bodoh!" umpat Rama kesal, tapi dia membantu kawannya kembali berbaring dengan sangat hati-hati.


"Benar kata Rama, kamu harusnya jangan banyak bergerak," timpal si nenek tua membenarkan ucapan cucunya.


"Sebenarnya apa yang kamu lihat hingga bisa kecelakaan seperti ini? Apa kamu jatuh cinta lagi? Terus bidadari yang kamu taksir sedang terbang saat mobil kamu melaju, begitu?" omel Rama ketus.


"Benar begitu?" si nenek ikut-ikutan bertanya karena penasaran.

__ADS_1


"Bohong, Nek Lidya. Saya gak begitu, kok. Saya selalu hati-hati, tapi tadi ada mobil yang tiba-tiba lewat di depan trus saya panik dan gak bisa menghindar. Jadi saya banting setir dan, yah ... nabrak tembok," jelas Andi menggaruk pipinya. Andi menundukkan kepalanya, jelas kalau dia merasa bersalah. "Maaf, ya Nek Lidya. Saya merusak mobil yang nenek berikan, padahal saya berniat menjaganya dengan sepenuh hati. Tapi saya malah terlihat kecelakaan kerena kurang hati-hati," aku Andi.


Si nenek mengelus pelan kepala Andi. "Itu hanya barang dan banyak diperjualbelikan, tapi nyawa kamu hanya satu. Lain kali lebih hati-hati, ya?!" ucap Nek Lidya penuh kehangatan.


"Cih, mobil penyok separah apapun bisa dibawa ke ketok magic. Tapi kalau nyawa yang ngilang, mau dibawa kemana? Disangka keturunan kucing yang nyawanya ada sembilan apa?!" rupanya Rama sangat kesal karena temannya terluka cukup parah, ya meski itu menurut dirinya sih.


"Ayolah, kawan. Aku tak terluka terlalu parah, jadi tak akan sampai membahayakan nyawa." Andi tersenyum seolah dirinya tak merasa kesakitan agar kawannya ini percaya.


"Itu yang namanya gak sakit? Itu juga yang namanya gak kenapa-napa? Dicolek sedikit aja langsung teriak lebih parah daripada teriakan orang yang ngeliat hantu!" decih Rama.

__ADS_1


"Sudah-sudah, jangan berantem! Kamu juga, Ram. Kalau khawatir itu jangan usil, pakai acara ngomel segala?!" lerai sang nenek menengahi.


"Dih, siapa yang khawatir. Rama gak gitu?!" kilah Rama membuang pandangannya ke lain arah. Andi dan si nenek terkekeh melihat sikap Rama yang seolah malu karena ketahuan mengkhawatirkan kawannya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama sedang berpikir keras, dia cukup curiga dengan kejadian-kejadian yang sering menimpa nenek dan kawannya. Ya kecelakaan, kecopetan, kejatuhan pot saat memilih bunga di toko bunga, kesenggol hingga terjatuh saat sedang jalan-jalan, dan masih banyak hal lain yang terjadi. Rama cukup geram, tapi dia seakan tak bisa menghentikan apa yang terjadi.


Lebih mencurigakan lagi, kejadian naas itu hanya menimpa dua orang tersayangnya saja. Dirinya aman, meski dia melakukan hal ekstrim. "Apa Ponco mulai bermain-main denganku?" gumamnya menebak pelaku yang sangat mungkin melakukan semua kejahatan kecil itu.

__ADS_1


Tak lama Rama terkekeh, kekehannya terdengar cukup menakutkan. "Awas saja kalau dia berani?!" desis pemuda itu dengan mata berkilat tajam. Rama berjanji akan memberi pembalasan yang lebih sadis jika dia tahu siapa yang mengganggu kedua orang berharganya itu. Bahkan jika dia harus melewati api, dia akan membakar dirinya untuk melindungi nenek dan kawannya. Baru kali ini Rama memiliki keluarga yang hangat, jadi dia tak ingin kehilangan kehangatan itu.


__ADS_2