Topeng.

Topeng.
65.


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Rama diam saja tanpa bicara sepatah kata pun. Andi yang tak suka dengan keheningan akhirnya memulai pembicaraan agar suasana tak terlalu hening. "Ram, makan dulu, ya? Aku lapar," aku Andi mengelus perutnya yang sedari tadi keruyukan.


"Belum makan?" tanya Rama menoleh sekilas ke arah kawannya, dia sedang menyetir jadi harus fokus mengemudi.


Andi mengangguk memelas. "Iya, banyak kerjaan jadi gak sempat makan. Aku cuma nyomot roti aja tadi," kata Andi dengan suara lirih, mengadu kepada kawannya.


Rahang Rama mengetat mendengar jawaban kawannya. "Apa harus aku ratakan saja tempat kamu magang itu, ya?" desis pemuda itu kesal.


"Astaga, bukan salah mereka, Ram. Aku yang malas makan kalau masih ada tugas yang belum aku selesaikan," timpal Andi memberi penjelasan.


"Tapi tetep saja mereka yang salah karena ngasih kerjaan sebanyak itu ke kamu!" dengus Rama.


"Aku gak selapar itu, kok," cengir Andi.


"Ha-ah, ayo kita cari tempat makan," timpal Rama sambil menghela napas panjang. Rama mengajak kawannya mampir ke sebuah resto, dia pun membiarkan temannya memesan apa saja. Semua dia yang bayar dan Andi tak boleh protes apalagi keberatan.


Usai makan, keduanya langsung meluncur pulang. Rama gak punya mood untuk kembali ke kantor, dokumen penting bisa diurus nanti kalau memang harus cepat diselesaikan.


"Ram, kayaknya ada kecelakaan di depan?" kata Andi melihat kemacetan yang terlihat sangat parah.


"Terus?" tanya Rama menunggu kapan antrian kendaraan di depannya ini maju. Moodnya buruk dan semakin buruk saja karena harus terjebak macet.


"Gak penasaran apa?" tanya Andi menatap kawannya.


"Gak sama sekali!" balas Rama singkat. "Harusnya kita belok saja tadi, sial ini macet parah namanya!" keluh pemuda itu seraya mengetuk-ngetuk jemarinya di setir mobilnya. "Ngapain kepo, ntar juga masuk diberita," lanjut pemuda itu enteng. Andi juga tahu itu, tapi namanya juga kepo, susah dihilangkan. Andi pun memilih diam, dari pada menambah kekesalan temannya, lebih baik cari aman saja.


Setelah dua jam melalui kemacetan, akhirnya Rama menginjakkan kaki di rumahnya. Ahh, meski terlihat tenang, Andi tahu kalau sahabatnya itu sangat kesal dengan semua yang terjadi hari ini. "Maaf, Ram," cicit Andi saat mereka akan turun dari mobil.


Rama mengernyit heran. "Memangnya kamu salah apa?" tanya Rama menghela napas panjang.


"Kalau aja kita gak mampir untuk makan, kita gak akan kejebak macet. Jadi itu salah aku," ucap Andi mengaku salah.


Rama tertawa kecil. "Gak apa-apa, bukan salahmu. Memangnya kamu tahu kalau bakalan ada kecelakaan?" Andi menggeleng sebagai balasan. "Belum tentu juga kalau kita gak mampir kita gak bakalan kejebak macet, siapa yang bisa menjamin itu?" lanjut Rama seraya tersenyum kecil.


Melihat kawannya seakan masih menyalahkan dirinya sendiri, maka Rama pun kembali berucap lagi. "Lagipula tadi aku juga cukup lapar," aku pemuda itu. "Ayo kita masuk," kata Rama sebelum keluar dari mobilnya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama mengajak Andi ke panti asuhan, selain untuk melihat bagaimana keadaan anak-anak panti, Rama juga kasihan melihat kawannya yang terlihat sangat bosan. "Kita mau kemana, Ram?" tanya Andi bersemangat diajak keluar.


"Panti," balas kawannya singkat. Andi mengangguk paham, tersenyum lebar dan tak sabar menantikan pengalaman yang akan dia lalui di panti yang mereka tuju.


"Berapa banyak anak di sana?" tanya Andi antusias.


"Entah, aku tak pernah menghitung," balas Rama mengangkat bahunya ringan.


"Kita mampir beli cemilan dulu, ya?" pinta Andi menunggu persetujuan kawannya.


"Kamu lapar?" tanya Rama menanggapi.


Andi menggelengkan kepalanya. "Buat anak-anak yang ada di panti, he-he," aku Andi nyengir kuda.


Rama mengangguk mengerti, pemuda itu pun menghentikan mobilnya di depan mini market. "Mau aku temani?" ucap Rama menawarkan diri.


"Aku bisa sendiri, oke. Tunggu di sini," timpal Andi sebelum dia keluar dari mobil.


Rama menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya. "Dasar, baru saja mau kukasih kartu," ucap pemuda itu ikut turun, dia menunggu kawannya di dekat kasir. Rama terkekeh pelan melihat kawannya yang panik di depan kasir, pasti sahabatnya itu lupa lagi membawa dompetnya. Kebiasaan buruk yang sering terjadi kalau Rama tak mengingatkan. "Pakai ini saja!" Rama maju menyodorkan kartu. Si penjaga kasir pun berterimakasih atas kedatangan mereka.


"Untung kamu datang, Ram," desah Andi lega.


Rama mengetuk pelan kepala kawannya. "Makanya jangan kebiasaan ninggalin dompet di rumah!" ketus pemuda itu, tak lama tangannya mengelus kepala sahabatnya yang tadi dia getok. "Maaf, ya," kata Rama menyesal.

__ADS_1


Andi tersenyum lebar. "Tak apa, tak sakit sama sekali, kok!" aku pemuda itu dengan wajah ceria.


"Ya, sudah. Ayo kita jalan lagi," ajak Rama masuk ke mobil. Andi menyusul, Rama pun kembali melajukan mobilnya melanjutkan perjalanan mereka menuju panti.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Kedatangan Rama disambut dengan wajah tak bersahabat dari sebagian besar anak panti yang sudah cukup besar, sekitar enam atau tujuh tahun lah. Andi yang melihat itu mengernyitkan dahinya heran. "Kamu banyak musuh, ya di sini, Ram?" bisik Andi melirik sekitar.


Rama pun mengedarkan pandangannya, menatap datar ke sekeliling. "Entah, mungkin begitu!" balas Rama tak jelas.


"Jangan pasang tampang galak, Ram. Biar mereka seneng kalau liat kamu!" kata Andi memberi saran.


"Hn," gumam Rama menanggapi seadanya.


"Anak-anak, kakak tampan ini datang membawa makanan!!!" pekik Andi dengan nada ceria. Senyap, tak ada tanggapan. Mereka ikut menatap Andi dengan tatapan penuh permusuhan.


"Ho-ho-ho-ho, maafkan anak-anak yang tak terlalu terbuka dengan orang luar," ucap sebuah suara yang sangat Rama hapal, suara siapa lagi kalau bukan suara si kepala panti. "Anak-anak, ayo katakan terima kasih!" lanjut si kepala panti menegur anak-anak pantinya.


"Terima kasih," kata mereka serempak dengan setengah hati.


"He-he, ayo ke sini, ke sini! Kakak tampan ini akan membagikan permen dan biskuit untuk kalian semua!!!" timpal Andi dengan senyum cerah.


"Anda membawa teman yang menarik, tuan," bisik si kepala panti sambil melihat Andi yang sudah sedikit diterima oleh anak-anak panti tadi.


Rama mengangguk seraya tersenyum tipis. "Tentu, dia sahabat terbaik dan sangat cerah," kata Rama menimpali.


Si kepala panti menolah, melihat ekspresi yang dibuat Rama barusan. "Anda terlihat lebih manusiawi saat membicarakan tentang teman anda, ya!" kekeh si kepala panti kembali menatap Andi.


"Dia orang berharga yang mengajarkan saya arti keluarga!" balas Rama dengan nada hangat. Si kepala panti tertawa sebagai tanggapan.


Rama mengerutkan keningnya melihat anak-anak yang tadi di sekeliling Andi kini berlarian ke arahnya. "Terima kasih, papa!!!" teriak anak-anak tadi mirip paduan suara. Wajah Rama tetap datar, dia hanya bergumam sebagai balasan. Si kepala panti tersenyum tipis, dan Andi tergelak tak sanggup menahan tawanya.


Andi mengangguk tanpa ragu. "Sangat, kamu ternyata udah tua, Ram. Kamu punya banyak anak," timpal Andi kembali tertawa terbahak-bahak.


"Kalau aku tua, kamu juga, An. Kita kan seumuran," balas Rama menyeringai jahil.


"Beda, jangan disamakan. Kamu terlalu datar jadi wajah kamu kaku, Ram. Kalau aku tuh selalu ceria, jadi gak gampang tua. Ntar pasti aku bakalan awet muda dan kamu awet tua, he-he," cengir Andi mengejek kawannya.


Mereka bermain di sana hingga sore hari, bahkan mereka ikut makan siang di panti itu. Andi tambah dengan tak tahu malunya, katanya masakan rumahan adalah yang terbaik meski sangat sederhana. Rama makan sedikit saja, itu pun karena kawannya yang memaksa. Kalau tidak,mungkin pemuda itu akan memilih pulang sebelum makan siang.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Andi bersandar lelah di kursi penumpang begitu dia masuk ke mobil kawannya. Meski lelah, wajah pemuda itu mengatakan kalau dia melewati hari dengan bahagia. Banyak hal seru terjadi, dia bermain seperti anak kecil. Bahkan saat bersama Rama dulu, dia tak pernah bermain sampai segitunya. Pasalnya sahabatnya itu selalu belajar, belajar, dan belajar untuk mengisi waktunya.


"Tidur kalau lelah, kalau sampai nanti aku bangunkan," kata Rama menatap sekilas kawannya.


Andi menguap kecil. "Perasaan kamu yang lebih capek, Ram. Kamu banyak bantu-bantu pekerjaan mereka," kata Andi menatap kawannya.


"Tapi kamu yang sibuk mainan sama anak-anak tadi, jadi kamu yang paling capek!" timpal Rama tak mau kalah.


"Kita berdua capek, lah!" tutup Andi menyimpulkan agar mereka tak memperdebatkan hal tak penting. "Dan aku, gak selelah itu sampai bakalan ketiduran!" lanjut pemuda itu kembali menguap kecil.


Rama menggelengkan kepalanya pelan, belum ada lima menit dan sahabatnya itu sudah memejamkan matanya dengan erat. "Dasar," kekeh Rama pelan. Pemuda itu menyetir dengan hati-hati, tak ingin membangunkan sahabatnya yang terlelap.


Begitu sampai di rumah, Rama membangunkan sahabatnya dengan pelan. "An, An, rumah kita melambai, tuh," kata Rama usil.


"Hah? Mana? Mana?" kata Andi kaget, terlihat dia celingukan mencari apa yang sahabatnya katakan tadi. "Aisshh, aku tahu kalau aku bakalan dibohongin kayak gini!" keluh pemuda itu setelah sadar kalau dirinya sedang dikerjai kawannya.


"Hapus iler, tuh. Gak enak diliat," kekeh Rama pelan seraya menunjuk tepi bibirnya, menyatakan kalau ada liur yang menempel di sana, di wajah temannya.


Dengan cepat Andi kembali termakan umpan, dia.mengelap sudut bibirnya. "Rama!!!" pekik Andi kesal karena dua kali dibohongi. Rama sendiri malah terkekeh melihat sahabatnya kesal.

__ADS_1


"Habisnya kamu bilang gak mau tidur, tapi belum ada lima menit udah lari aja ke alam mimpi!" timpal Rama masih terkekeh.


"Pengennya gak tidur, tapi mata aku berat, Ram," aku Andi.


"Ya, udah. Ayo masuk,lanjut Rahat lagi di dalam," timpal Rama.


"Selamat datang, tuan muda," sambut si bibi pelayan. "Tadi Nona Kiara dan Tuan Jonathan mampir kemari mencari anda berdua, tuan muda," lanjut si bibi.


"Ada pesan dari mereka berdua, bi?" tanya Andi.


"Aku ke kamar duluan, ya," sela Rama yang merasa bukan dirinya yang dicari. Kedua orang itu pasti mencari sahabatnya.


"Tak ada, mereka hanya mampir karena ini hari libur, tuan muda. Nona Kiara sedang bosan, dan Tuan Jonathan ingin mengajak anda berdua bermain game!" jelas si bibi dengan sopan.


"Makasih, bi. Nanti aku telepon mereka," timpal Andi menyusul naik ke atas, ke kamarnya sendiri.


Andi mengetuk pintu kamar Rama, begitu diizinkan masuk, pemuda itu pun membuka pintu kamar kawannya. "Ram, si Jo katanya ke sini buat ngajakin kita main game. Kalau si Ara, dia cuma bosen aja makanya main kemari!" jelas Andi menyampaikan seperti yang dikatakan oleh si bibi pelayan tadi padanya.


"Terus?" tanya Rama mengernyitkan keningnya. Apa dia harus menyuruh keduanya datang lagi, terus kenapa harus dia yang memanggil mereka berdua.


"Boleh gak kalau aku ajak mereka ke sini nanti malam?" tanya Andi memamerkan cengiran andalannya.


"Terserah, sekarang pun gak ada masalah!" timpal Rama. Andi mengambil ponselnya, menelepon kedua kawannya itu. Selesai menelepon, pemuda itu berterimakasih pada sahabatnya. Rama mengangguk sebagai balasan, dia juga tak paham kenapa kawannya harus berterimakasih padanya. Padahal dia hanya menyerahkan keputusan terserah apa yang mau dilakukan oleh kawannya itu.


Tak butuh waktu lama, kedua kawannya itu datang secepat yang mereka bisa. Kiara dan Jo bahkan datang hampir bersamaan, padahal mereka menggunakan mobil masing-masing.


"Halo, halo! Orang cantik, orang beken, orang terpopuler hadir!!!" pekik Kiara dengan suara menggelegar.


"Berisik, Ra!" umpat si Jo menutup kupingnya.


Kiara mendengus pelan. "Alah, sirik kan sama suara aku yang indah ini?!" balas Kiara menatap tajam Jonathan.


"Idih, ogah. Amit-amit punya suara kayak kaleng rombeng gitu!" ketus si Jo bergidik ngeri.


"Heh? Dulu siapa, ya yang ngejar-ngejar terus mohon-mohon supaya diterima?" ucap Kiara mengena sekali omongannnya.


Jonathan menghela napas panjang. "Ha-ah, kenapa dulu aku bisa segila itu, ya?" tanya Jonathan entah pada siapa.


"Salahkan saja pesona yang aku sebarluaskan!" kata Kiara mengibaskan rambutnya.


Jonathan mengibaskan tangannya santai. "Anggap saja dulu standar aku rendah dan mata aku buram!" kata pemuda itu membela diri.


"Jadi kamu mau bilang kalau aku jelek gitu? Iya?" mata Kiara melotot ganas. Menatap Jonathan dengan tatapan permusuhan.


"Alhamdulillah, akhirnya dia sadar juga, ya Tuhan!" kata si Jo menangkupkan tangannya. Kiara semakin kesal, dia mengejar si Jo yang langsung berlari setelah selesai mengucapkan apa yang dia katakan barusan.


"Woi, woi! Rumah aku bukan taman bermain, woi! Jangan kejar-kejaran kayak pasangan di film india?!" teriak Andi menegur Kiara dan Jonathan.


"Dia duluan, An! Aku gak tahu salah aku apa, tapi masa aku dikejar-kejar gitu!" adu si Jo bersembunyi di balik punggung Andi, pemuda itu bahkan masih sempat-sempatnya menjulurkan lidah ke arah Kiara.


"Jangan percaya, dia duluan yang ngolokin aku! Masa aku dibilang jelek sama si rabun itu!" tunjuk Kiara dengan wajah merah karena kesal.


"Udah, udah. Ntar Rama datang, kalian berdua dikirim ke KUA, loh kalau berantem mulu!" lerai Andi menakut-nakuti kedua kawannya.


"Ogah, dapet jodoh kayak dia?!" seru keduanya menunjuk satu sam lain. Keduanya bahkan memasang tampang jijik seakan sedang melihat kuman atau kotoran.


"Cie, yang jodoh. Udah keliatan aja, kompak banget!" ejek Andi terkekeh pelan. Kini Andi yang mendapat tatapan tajam dari keduanya,Andi malah nyengir kuda seolah tak tahu apa-apa.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2