
Rama duduk bersilang kaki sambil menikmati cokelat panas di tangannya, dia sedikit lega beberapa hari terakhir ini dirinya memiliki banyak waktu untuk menemani sang nenek. Neneknya juga dalam keadaan sangat-sangat sehat, jadi Rama menyiapkan perjalanan singkat untuk menikmati akhir pekan bertiga dengan Andi dan neneknya.
"Jadi, sebenarnya kita akan kemana, kawan?" tanya Andi mencoba mencari tahu kemana tempat yang akan mereka datangi besok.
Rama mengangkat bahunya ringan. "Entah, lihat saja besok," balas pemuda itu tetap menutup mulutnya. "Kamu bisa menebaknya jika mau?!" lanjutnya menambah rasa penasaran Andi.
"Bali?" entah kenapa tempat itu yang pertama kali muncul di otak Andi.
Melihat kawannya tetap diam, Andi pun kembali menebak. "Jogja? Emm, pantai? Laut? Hutan? Danau?" Rama tetap diam tanpa memberi respon sedikitpun.
"Arghh, malas! Kamu gak mau ngerespon walau aku udah banyak nebak?!" teriak Andi kesal.
"Aku kan cuma nyuruh nebak, bukannya janji bakalan ngasih tahu tebakan kamu ada yang bener atau gak, kan?" timpal Rama dengan seringai mengejek, membuat Andi semakin bertambah kesal melihatnya.
__ADS_1
"Nek Lidya, coba lihat Rama," adu Andi menatap sang penguasa rumah dengan tatapan meminta dibela.
"Rama, jangan terlalu sering usilin Andi! Nanti kamu gak ada yang mau berteman denganmu, cucuku yang nakal?!" tegur sang nenek sambil tersenyum.
"Dengerin tuh kata Nek Lidya?!" timpal Andi senang karena dibela.
"Ha-ah, punya temen satu kayak dia aja udah bikin pusing, nek," desah Rama seolah banyak beban yang ditanggungnya. "Apalagi kalau ada teman yang lain yang sebelas dua belas kayak dia, aduh, bisa-bisa aku sembunyi aja, dah?!" lanjut Rama berpura-pura bergidik membayangkan kalau apa yang dia katakan menjadi kenyataan.
"Aisshh, untung temen, kalau bukan dah kabur aku?!" keluh Andi cemberut membuang muka.
"He-he, kita memang sahabat," ucap Andi senang karena diakui sebagai 'Kawan' oleh Rama. Nek Lidya tersenyum lembut, dia bersyukur di masa tuanya dia bisa menghabiskan waktu dengan kedua cucu yang baik hati dan perhatian.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
Keesokan harinya, setelah selesai sarapan. Rama melaksanakan rencananya, apalagi kalau bukan liburan bersama sang nenek dan juga Andi. Rama berperan sebagai supir, Andi dan sang nenek duduk di kursi belakang. Perjalanan yang lumayan panjang, banyak pohon hijau yang mereka lewati. "Ram, jangan bilang kita bakalan mendaki gunung?" tebak Andi horor, pemuda itu tak suka kalau harus mendaki, selain melelahkan juga cukup susah bagi tubuhnya. Belum lagi mereka membawa sang nenek, jadi Andi tak percaya kalau Rama akan mendaki gunung seperti yang dia pikirkan.
"Jangan gila, kalau aku ngajak mendaki gunung, gak mungkin aku ngajak nenek, tahu?!" jawaban Rama membuat Andi menghela napas lega. Syukurlah temannya masih waras, dia kira temannya akan gila sesaat dan memilih mendaki gunung sebagai liburan bersama mereka.
"Kita hanya harus ke puncak untuk menikmati udara segar. Itu juga bagus untuk kesehatan nenek," lanjut Rama membuat bola mata Andi melotot seakan mau melompat dari tempatnya.
"Apa bedanya itu sama mendaki gunung, Bambang?!" pekik Andi kesal.
"Daki gunung pakai kaki Markonah, kalau ini kita naik mobil sampai ke tempat tujuan, Jubedah?!" ketus Rama ikutan kesal.
Andi cengengesan tak jelas sambil menggaruk kepalanya, dia bersembunyi di balik punggung Nenek Lidya. Nek Lidya tersenyum maklum, dia senang hari-harinya terasa lebih ramai karena kehadiran kedua cucunya. Baik itu pertengkaran kecil, saling mengejek, atau hanya keusilan saja. Bagi wanita tua ini, itu semua seperti penghiburan di masa tuanya.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...