Topeng.

Topeng.
34.


__ADS_3

Rama yang muak mendatangi Ponco, dia bahkan mengamuk dan menghancurkan tempat tinggalnya. Rama tak peduli kalau emosinya sangat terlihat, dia sudah sangat marah dan yakin kalau semua adalah perbuatan orang tersebut. Ponco hanya terkekeh seolah tak takut, pria tambun itu malah tersenyum mengejek menatap Rama.


"Rupanya tuan muda yang terhormat bisa melebihi preman saat marah," ejek Ponco menyeringai senang.


Rama mencengkeram kerah Ponco. "Sudah kukatakan jangan usik kehidupanku?!" ujar Rama berdesis kesal.


Ponco terkekeh menjengkelkan, dia menghempas pelan tangan Rama yang mencengkeram lehernya. "Aku melakukan apa memangnya?" ucap pria itu berkelit.


"Coba anda pikirkan, tuan muda. Apa anda memiliki bukti menuduh saya?" ucap Ponco pongah.


"Siapa lagi kalau bukan kamu?!" teriak Rama keras.


Ponco menepuk-nepuk pelan pundak Rama. "Jangan berteriak, tanpa anda harus berteriak pun, saya dapat mendengar suara anda, tuan muda!"


"Jauhi kedua orang itu, atau kamu tahu sendiri akibatnya?!" giliran Rama yang menghempas tangan pria di depannya ini.


Ponco terkekeh lagi. "Apa ini ancaman?" tanyanya terdengar menjengkelkan. "Anda tahu, saya bisa melaporkan anda, bukan?" lanjut Ponco balik mengancam.

__ADS_1


Rama berbalik acuh. "Lakukan dan kita akan bertarung hingga akhir?!" desis pemuda itu dingin.


Tawa jahat terdengar selepas kepergian Rama, mata Ponco berkilat penuh ambisi. "Ya, ya, itu benar. Kita memang harus bertarung hingga hanya salah satu diantara kita yang tersisa, kawan lamaku?!"


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Tak puas dengan apa yang baru saja dia lakukan, Rama menyewa beberapa pengawal untuk melindungi nenek dan kawannya. Pengawal-pengawal itu akan melindungi dari balik bayangan, mereka tak akan keluar hingga sangat dibutuhkan. Intinya mereka hanya akan mengamati dari jauh kalau tak ada bahaya yang mengancam klien mereka.


Rama menghela napas panjang, keputusannya sudah tepat, meski hanya bersifat sementara. Dia benar-benar harus berhadapan dengan Ponco. Pria itu gila dan tak akan pernah melepas apa yang sudah dirinya rencanakan.


"Tugas," jawab Rama asal.


"Woah, woah, apa ini? Seorang Rama terlihat kusut hanya karena memikirkan tugas?" teriakan Andi cukup kuat, hingga menarik banyak mata menatap ke arah mereka.


Rama segera angkat kaki untuk melarikan diri. "Oi, mau kemana, Ram?" seru Andi mengikuti dari belakang.


"Kantin," balas Rama setengah hati. Dia hanya ingin pindah tempat.

__ADS_1


"Kebetulan aku laper, he-he," timpal Andi tak merasa kalau kawannya itu sedang kesal.


"Hn, makan yang banyak?!" ketus Rama. Andi malah mengangguk dengan cepat.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Nek Lidya sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit, wanita tua itu sedang menikmati udara segar di kebun belakang. "Cucuku sangat perhatian, kini aku bisa menikmati hari tanpa melihat waktu," puji wanita tua itu, dia senang karena perhatian cucunya dia tak terlalu memikirkan teriknya matahari saat menghabiskan waktu di kebun.


"Tuan muda memang yang terbaik, nyonya!" ucap pelayan yang selalu mendampingi Lidya. Lidya sudah menganggap pelayan itu sebagai kawan, bukan hanya orang yang melayaninya sejak dia menikah dengan suaminya dulu.


"Kamu juga berpikir begitu, kan? Kukira aku saja yang terlalu memuji cucu nakalku itu," balas Lidya senang ternyata orang lain pun berpikiran sama dengannya.


"Tuan muda adalah anak yang sangat perhatian, sedangkan Tuan Andi membawa keceriaan dengan apapun yang dia lakukan atau ceritakan," balas si pelayan sopan. Nek Lidya mengangguk setuju, meski bukan cucunya, Andi sudah dianggap sebagai cucu kedua di rumah ini.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2