Topeng.

Topeng.
45.


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Kiara mengunci diri di kamar. Tentunya setelah dia meminta diantarkan banyak cemilan dan es krim. Para pelayan sudah hapal dengan kelakuan nona majikannya itu, pasti sang nona sedang kesal saat ini. Tak sampai lima menit, cemilan dan es krim yang diminta Kiara sudah tersedia di depannya. Suara musik yang nyaring memenuhi kamar gadis itu, untung saja kamarnya sudah dipasang pengedap suara.


Gadis itu menyendok es krim dengan kesal, terlalu jengkel dengan pertemuannya dengan Rama tadi. Makanya Kiara melampiaskan kekesalannya dengan memakan banyak makanan manis-manis. "Dasar cowok nyebelin?! Semoga lu gak laku hingga akhir zaman!" umpat Kiara mengutuk Rama, teriakan gadis itu beradu dengan suara musik yang diputarnya.


Si kakek yang tak mendengar apa-apa dari luar, cukup tahu kebiasaan cucunya kalau sedang kesal. Keinginannya sepertinya akan susah tercapai. Cucunya itu selalu mengurung diri dan makan makanan manis kalau sedang kesal, seperti sekarang. "Tak ada harapan, tak ada harapan," desah pria tua itu menggelengkan kepalanya tak berdaya. Rian pun kembali ke kamarnya untuk mencari cara lagi, siapa tahu akan ada ide yang muncul untuk memperbaiki keadaan saat ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama berjalan dengan santai, menikmati angin yang menerpa wajahnya sesekali. Saat ini dia sedang berjalan tak tentu arah di kawasan pertokoan, wajah dingin tanpa ekspresi, tangan yang dimasukkan ke kantong, langkah panjang yang terlihat cukup santai, sikap acuh pada pandangan sekeliling, Rama seolah membangun tembok di sekitarnya.


Beberapa gadis mencoba mengajak bicara, tapi Rama tak peduli dan malas menggubris. Akhirnya mereka tak mencoba lagi dan hanya melihat Rama dari jauh saja. Pemuda itu berhenti di depan toko aksesoris, mendongakkan kepalanya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam.


"Selamat datang," sapa salah satu karyawan mendekati Rama. Rama menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


"Kala boleh tahu, anda sedang mencari apa? Nanti saya akan perlihatkan sesuai dengan yang anda inginkan, tuan," lanjut karyawan tadi ramah.


Rama diam sejenak sebelum menjawab. "Set perhiasan dengan model kuno dan juga cincin pasangan," kata pemuda itu membuka mulut.


Si karyawan mengangguk paham. "Mari ikut saya, saya akan memperlihatkan beberapa contoh, mungkin ada yang menarik perhatian tuan nanti!" lagi, Rama hanya mengangguk, mengikuti langkah karyawan tadi.


"Yang ini pernah terkenal pada zamannya, harganya cukup terjangkau kalau dijadikan sebagai hadiah." karyawan tadi mengeluarkan satu set perhiasan dengan harga yang terbilang murah. Namun, Rama nampak kurang suka. Pasalnya, mungkin karena terlalu mencolok dilihat atau memang pemuda itu saja yang tak suka.


"Yang lain, yang lebih sederhana, kecil tapi berkualitas, terlihat biasa tapi kuat, seakan tak ada harganya, padahal sangat mahal. Apa ada yang seperti itu?" tanya Rama membuat pegawai di depannya mengedipkan mata beberapa kali untuk mencerna.


"Tak ada?" tanya Rama lagi sambil menatap orang di depannya. "Kalau tak ada, saya akan cari di toko lain," lanjut Rama berbalik, melangkah meninggalkan toko.


"Tolong tunggu sebentar, tuan. Saya, saya, saya hanya sedang mengingat-ingat dimana perhiasan seperti yang tuan inginkan diletakkan," jelas si pegawai meminta Rama untuk menunggu. "Bisakah anda menunggu sebentar? Saya akan kembali secepat mungkin!" lanjutnya pagi. Rama mengangguk mengiyakan, lagipula dia tak memiliki janji dan tak ada kegiatan.


Beberapa menit kemudian pegawai tadi kembali, membawa beberapa kotak perhiasan. "Silakan anda lihat, tuan. Ini set terbatas yang ada di toko kami. Harganya memang jauh lebih mahal, tetapi kualitasnya sangat terjamin!" jelas pegawai tadi dengan penuh semangat. Kalau dia berhasil membuat pelanggan di depannya ini membeli satu saja dari set perhiasan yang dia bawa, dirinya akan mendapat bonus penuh yang jumlahnya bahkan lebih besar dari gajinya selama sebulan.


Rama tersenyum tipis, dari lima kotak yang dibawa, tiga di antaranya cukup menarik perhatiannya. "Berikan yang ini, ini, dan yang satu ini!" tunjuk Rama tanpa menanyakan berapa harga masing-masing perhiasan yang dipilihnya.


"Ya? Ah, baik, tuan! Segera!" ucap si pegawai senang, bonusnya lebih banyak dari yang dia pikirkan. Kalau tak ingat dirinya masih di depan pelanggan, dia kan berteriak sambil melompat-lompat saking senangnya. "Apa cincinnya juga yang sederhana saja, tuan?" tanya si pegawai menyembunyikan senyum lebarnya.


"Ya, berikan warna putih kalau bisa. Lebih bagus kalau ada warna lain selain emas dan putih," balas Rama.


"Kebetulan kami baru saja menerima stok perhiasan baru, salah satunya adalah ini." si pegawai menunjukkan dua buah cincin berwarna hitam, terdapat permata kecil di tengah cincin tersebut, tapi tak terlalu mencolok.


"Bungkus semua. Tolong bungkus yang cantik dan berikan saja pada saya cincinnya langsung." si pegawai melakukan apa yang Rama minta, dia membungkus secantik mungkin set perhiasan yang dibeli pemuda itu. Sesekali dia melirik ke arah Rama, pemuda itu sudah memakai salah satu cincin yang baru saja dibelinya.


"Beruntung sekali yang menjadi pasangannya," desahnya menggelengkan kepala. Jarang ada pria muda royal yang bersedia menghamburkan uang tanpa bertanya berapa harga dari apa yang dia beli. Selesai membayar, Rama memilih langsung pulang. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih dan memberi tip pada pegawai yang membantu dirinya memilih hadiah tadi. Si pegawai bukannya tak berusaha menolak. Namun, Rama sudah lebih dulu pergi setelah memberikan beberapa lembar uang sebagai tip.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Aku pulang," seru Rama begitu dia sampai di rumah. "Dimana nenek?" tanyanya pada pelayan yang menyambut kedatangannya.


"Nyonya ada di kamar, tuan muda," balas si pelayan sopan. Rama mengangguk paham, mengambil langkah menuju kamar sang nenek. "Nek, ini Rama, boleh aku masuk?" tanya Rama sambil mengetuk pintu.


"Dasar cucu nakal, masuklah! Tak perlu bertanya seperti itu?!" balas suara sang nenek dari dalam. Rama segera masuk, menyunggingkan senyum cerah hanya di depan neneknya. "Kamu tak melakukan kesalahan, bukan, cucuku yang nakal?" mata nenek tua itu memicing curiga.


"Tidak mungkin, jangan khawatir, nek. Aku malah memiliki sesuatu untuk nenek saat ini," kata Rama mendekati sang nenek.

__ADS_1


"Huh, sogokan untuk menutupi kesalahan, heh?" dengus sang nenek.


"Tanya saja pada Om Dani, Rama gak ngelakuin apa-apa, kok. Rama cuma harus setor muka di sana, setelahnya Rama malah disuruh keluar menemani seorang putri manja bermain," keluh Rama.


"Dan kamu mau? Wah, sungguh keajaiban!" timpal si nenek kagum.


"Heh, mana mungkin, nek. Kusuruh saja dia keliling sendiri begitu kami keluar dari ruangan Om Dani," balas Rama cepat.


"Astaga, inilah kenapa nenek memanggilmu 'Cucuku yang nakal'!" desah si nenek menggelengkan kepalanya seolah tak berdaya.


"Lupakan itu, lihatlah ini. Apa nenek suka?" Rama memberikan ketiga perhiasan yang dibelinya tadi.


"Setidaknya seleramu tak seburuk kelakuanmu, cucuku yang nakal," kekeh Nek Lidya memuji.


"Aku senang nenek menyukainya. Dipakai, nek, jangan disimpan di laci!" timpal Rama, kebiasaan sang nenek, kalau memiliki barang bukannya dipakai tapi malah disimpan saja.


"Cincinmu bagus, siapa yang memakai satunya, hmm?" tanya si nenek dengan tatapan menyelidik.


Rama tersenyum tipis. "Siapa lagi? Tentu saja Andi!" balas Rama enteng.


"Astaga, cobalah tak membuat masalah, cucuku sayang. Setidaknya jangan seret sahabatmu, kasihan kalau dia ikutan tak laku gara-gara ide gila kamu, Ram?!" Nek Lidya menghela napas panjang melihat kelakuan cucunya.


"Tak apa, nek. Andi juga pasti suka, mana dia mau tahu urusan lain, dia suka hadiah apapun yang kuberikan tanpa mencari tahu apa-apa," balas Rama ringan.


"Dasar, nenek turut prihatin pada pasangan kalian nanti. Mungkin mereka akan makan hati karena kurang diperhatikan, soalnya kalian berdua malah lebih perhatian satu sama lain," timpal si nenek tertawa kecil.


Rama mengangkat bahu ringan. "Tak masalah, nek. Kami bisa hidup bersama dengan nenek untuk selamanya kalau tak ada yang mau dengan kami?!" ucap Rama yakin.


"Astaga, nek. Jangan marah-marah, nanti tensi nenek naik," ucap Rama mengingatkan. "Sekarang, ayo coba perhiasan yang Rama belikan tadi, nek?!" lanjut pemuda itu mengalihkan topik pembicaraan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Aku ... pulang," ucap Andi dengan suara pelan.


"Yo, selamat datang, kawan," timpal Rama yang memang menunggu kepulangan kawannya sejak tadi.


"Aku kira kamu masih di luar, Ram," aku Andi mantap kawannya.


"Aku udah balik dari tadi. Btw, aku punya sesuatu untuk kamu!" ucap Rama menaik-turunkan alisnya.


"Apa?" tanya Andi ingin tahu, mata pemuda itu berbinar penasaran.


"Nih," balas Rama menyodorkan kotak cincin ke arah Andi.


"Cincin? Jangan bilang kamu mau ngelamar aku, Ram? Udah gila, ya?!" pekik Andi sok kaget, padahal wajahnya terlihat senang karena diberi hadiah.


"Sarap! Kalau gak mau, balikin sini! Biar kujadikan pajangan aja di kamar?!" ketus Rama.


"Ya, elah. Mana boleh barang yang udah dikasih diambil lagi! Gak bener itu, gak bener!" dengan cepat Andi memasukkan cincin yang diberikan Rama ke jarinya.


"Budu, daripada kamu mikirin hal aneh dan gila kayak tadi. Mending kuambil lagi?!" balas Rama menimpali.

__ADS_1


"Udah kupakai, gak bisa dilepas lagi! Udah punya aku?!" ucap Andi, dia lebih bersemangat seolah rasa lelahnya tadi seketika menghilang setelah mendapat hadiah.


Rama diam-diam menyeringai tipis. Lihat, bukankah dia memiliki kawan yang paling baik. Entah bagaimana reaksinya kalau tahu ini adalah cincin pasangan nanti, yang jelas Rama akan terhindar dari para gadis yang mengejarnya selama ini. Sungguh, benda kecil yang sangat ajaib.


"Berapa duit beli begini, Ram?" tanya Andi ingin tahu.


"Gratisan, hadiah beli set perhiasan untuk nenek!" balas Rama berbohong.


Andi mengangguk percaya. "Napa gak pakai sendiri, aja?" tanya pemuda itu lagi.


"Masa aku pakai dua?" timpal Rama cepat.


"Dua?" gumam Andi sambil mengernyitkan keningnya.


Rama menghela napas panjang, susah memang kalau punya teman yang mesti serba dijelaskan. "Iya, hadiahnya dikasih dua. Aku udah pakai satu, ya kukasih aja ke kamu satunya," jelas Rama.


"He-he, meski ini hadiah, tapi keliatannya mahal kalau dibeli pakai duit. Jadi, makasih, ya?!" kata Andi sambil nyengir kuda. Andi tak tahu saja, bahkan uang sakunya selama setahun tak akan bisa membayar setengah dari harga cincin yang sedang dipakainya itu.


"Ya, masuk saja kamar. Ganti baju, rehat. Ntar ketemu pas makan malam, aku juga mau rehat bentar?!" Andi mengangguk, dia bergegas ke kamar dan segera beristirahat seperti yang disarankan kawannya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Kiara membuka matanya, dia tertidur setelah menghabiskan semangkuk penuh es krim. Belum lagi bungkus makanan yang berserakan, hasil kerja kerasnya selama mengeluarkan emosinya tadi. Kiara melirik perutnya, mencubit pelan lemak di sisi kiri dan kanan perutnya yang terlihat. "Huft, butuh olahraga keras untuk menurunkan semua lemak ini!" keluhnya pelan. Menyesal pasti, tapi dirinya sudah memiliki kebiasaan seperti itu sejak lama. Susah untuk menghilangkannya, bahkan jika dia mencoba.


"Ha-ah, salahkan saja cowok rese dan songong tadi?!" desahnya lelah.


Selesai mandi, Kiara menyuruh seorang pelayan untuk membersihkan kamarnya. Pelayan itupun membawa beberapa pelayan lain untuk membantu, agar dia bisa menyelesaikan titah nona muda mereka dengan cepat. Kapal pecah, itulah peng-ibaratan yang tepat setelah melihat kondisi kamar nona muda mereka. Semua pelayan itu pun menghela napas panjang sebelum memulai tugas mereka.


"Tambah lagi, sayang. Jangan makan terlalu sedikit," tegur si kakek melihat cucunya makan dengan ogah-ogahan. Sang kakek takut kalau cucunya jatuh sakit nantinya.


Kiara menggelengkan kepalanya. "Masih kenyang, kek. Ara tadi kebanyakan makan cemilan," balas gadis itu mengaku.


"Bukan karena diet, kan?" tanya si kakek dengan mata memicing.


Kiara menggaruk pipinya sambil menatap ke lain arah. "Itu juga, kek," balas gadis itu dengan suara amat pelan.


"Cucuku, kakek sudah pernah bilang. Jangan terlalu banyak diet, nanti kesehatan kamu bermasalah kalau terlalu mengikuti diet ini dan itu. Kalau tak ada yang mau menerima kamu apa adanya, lupakan mereka! Kamu bisa hidup selamanya dengan kakek, bahkan setelah kakek tak ada, kamu tetap bisa hidup dengan mengandalkan warisan kakek?! Jangan menyiksa diri, nak." Kakek Rian hanya tak ingin cucunya terlalu sering diet, dia takut sang cucu jatuh sakit. Padahal menurut sang kakek, cucunya sudah cukup kurus, malah sangat kurus di matanya. Tak ada banyak daging yang bisa dilihat di tubuh kecil itu, dia merasa dirinya kurang memperhatikan cucunya.


"Kakek, Ara gak diet aneh-aneh, kok. Ara cuma ngurangin makan makanan yang berat, terus olahraga yang cukup. Gak diet yang ekstrim gitu-gitu," balas Kiara mencoba menenangkan kakeknya.


"Lagipula bukannya Ara gak mau makan, tapi Ara bener-bener masih kenyang, kek. Tanya aja ke pelayan seberapa banyak cemilan yang Ara habiskan!"


Si kakek menghela napas lega. "Ya, sudah kalau begitu. Kakek minta maaf, karena kakek kamu kesal hari ini," desah Kakek Rian menyesal.


"Bukan salah kakek, Ara yang cukup bodoh dan kesel sendiri, kok," timpal Kiara menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia harus kesal dan murah hanya karena seorang pemuda yang sombong.


"Tak usah dipikirkan, kakek hanya ingin kamu menambah teman tapi kalau tak cocok, ya sudah lupakan," desah si kakek pengertian. kira tersenyum senang sambil mengangguk mengerti. Inilah yang dia suka, kakeknya tak pernah memaksa sama sekali.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2