
Kembali ke sekolah, setelah libur yang panjang adalah salah satu hal yang sangat menjengkelkan bagi Rama. Bagaimana tidak, dia harus kembali mendengar pekikan-pekikan tak jelas dari para mahasiswi di kampusnya. Dia bukan tokoh idola, tak perlu berteriak meminta perhatiannya. Dia juga siswa biasa yang kebetulan diterima di sekolah yang sama dengan mereka, kenapa mereka lebih dan lebih antusias saat bertemu lagi dengannya.
"Wah, aku serasa jadi manager-nya artis, eh," ucap Andi antusias.
"Jangan aneh-aneh!" ucap Rama menegur kawannya.
"Biarin aja sesekali aku bahagia dengan khayalan yang tergambar di otakku ini napa?!" dengus Andi kesal dengan sifat kawannya yang terlalu acuh ini.
"Hmm," gumam Rama malas menanggapi ocehan kawannya. Keduanya pun melanjutkan langkah mereka ke kelas, kebetulan hari ini mereka menghadiri kelas yang sama.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
Beberapa bulan terlewat begitu saja, kegiatan Rama selain belajar, ya paling hanya harus membantu di perusahaan kakeknya. Jika dia memiliki waktu lebih, Rama akan menghabiskan untuk menemani sang nenek.
Walaupun masalah dengan Ponco telah diselesaikan, Rama tetap melanjutkan jasa pengawalan yang dia sewa beberapa waktu lalu. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, bisa saja akan ada Ponco yang lainnya lagi.
"Ram, kamu sudah cukup umur untuk mengambil alih perusahaan kakekmu," kata si nenek. "Nenek yakin, kakekmu akan sangat senang kalau kamu meneruskan usaha yang kakekmu bangun," lanjut perempuan tua itu lagi sambil menatap foto dirinya bersama sang suami yang dipajang di meja.
Rama menggenggam tangan sang nenek. "Nanti, Rama masih harus menyelesaikan kuliah Rama dulu, nek," balas Rama.
Rama mengangguk mengiyakan. "Biar sekretaris kakek saja yang menjalankan seperti sekarang. Lagipula, beliau orang yang sangat jujur dan dapat diandalkan!" puji Rama tulis.
"Ha-ah, kamu hanya tak enak mengambil posisi itu dari dia," desah sang nenek.
__ADS_1
"Lagipula Rama masih harus banyak belajar agar bisa menjalankan bisnis kakek hingga menjadi nomor satu di kota ini?!" balas Rama memamerkan senyum tipis seolah meminta pengertian sang nenek.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di suatu tempat, yang penuh dengan tumpukan sampah dan beberapa binatang kotor lainnya, sesosok pria mengerang kesakitan. Pria tersebut menutup wajahnya yang terluka cukup parah. Belum lagi kakinya yang berdarah hingga mengeluarkan nanah. "Aku tak boleh mati, sebelum menetapkan tempatku?!" dia menggertakkan giginya menahan rasa sakit. Ya, orang yang sedang merintih kesakitan itu adalah Ponco. Dia berhasil lolos dari pintu kematian saat malaikat maut datang menjemputnya. Meski dirinya menderita luka-luka yang lumayan parah, tetapi Ponco masih bernapas dan bisa memulai semua dari awal lagi.
Walau tak memiliki bukti, Ponco yakin kalau ini semua perbuatan musuhnya, Rama. Sungguh ceroboh, dirinya lupa kalau si tanpa nama adalah seseorang yang sangat licik dan melakukan apa saja untuk menyingkirkan penghalang rencananya. Karena itu juga, Ponco harus terus bergerak di saat malam dan kembali bersembunyi di lorong pembuangan saat matahari mulai bersinar. Dia harus cepat meninggalkan kota ini sejauh mungkin, memulihkan diri, dan kembali saat dirinya sudah siap membalas semua yang dilakukan Rama. Tak ada kata damai di antara mereka hingga akhir, salah satu dari mereka harus menghilang untuk selamanya demi keberadaan yang lainnya.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1