
Tubuh dan wajah Ponco dibalut perban yang tebal, Lia pria itu tak boleh terkena air sama sekali. Untungnya ada Bondan yang merawat Ponco dengan sangat telaten, beliau menggantikan perban dan menumbukkan obat untuk mempercepat penyembuhan luka Ponco. Meski akan ada banyak bekas luka bakar, tetapi tak akan sesakit sekarang karena lukanya akan menutup dan mengering.
Kondisi Ponco sudah cukup baik, hanya saja dirinya tak boleh bergerak terlalu banyak. Dia masih butuh banyak istirahat untuk membantu pemulihan tubuhnya.
"Bagaimana kondisimu hari ini, anak muda?" tanya Bondan dengan wajah ramah.
"Lebih baik, hanya sedikit bosan saja," balas Ponco, tubuhnya pegal karena menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berbaring.
"Ha-ha-ha, bersabarlah sedikit, beberapa hari lagi kamu pasti sudah cukup kuat untuk berkeliling di sekitar rumah," kata Bondan tertawa renyah, dia sangat suka dengan keadaan saat ini, dia memiliki lawan bicara di rumahnya yang biasanya sangat sepi.
Beberapa hari yang lalu, ketika Ponco sudah bisa diajak bicara, Bondan menanyakan di mana pria itu tinggal dan bagaimana mengabari keluarganya mengenai dirinya. Ponco mengaku tak memiliki tempat tinggal ataupun keluarga, dan memang itu kebenarannya, setidaknya dirinya memang tak memiliki yang namanya keluarga satupun, jadi dia tak berbohong kali ini.
"Beristirahatlah yang banyak agar kamu pulih lebih cepat. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kamu bisa tinggal di sini dan anggap saja saya sebagai seorang ayah, itupun kalau kamu tak merasa keberatan memiliki ayah yang tua renta dan tak memiliki apa-apa." senyum hangat itu lagi, meresap dan menggelitik hati Ponco yang biasanya penuh dengan kegelapan.
Ponco memilih tak menjawab, dia tak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi pria tua yang baik hati di depannya ini. Ponco memilih kembali memejamkan mata, lebih baik dia berpura-pura tidur lagi. Ponco dapat mendengar suara langkah kaki menjauh, dia pun membuka matanya kembali saat langkah kaki itu tak lagi dapat didengarnya. "Aku cukup bingung bagaimana menghadapi kakek tua ini kalau beliau berbicara seperti tadi?!" gumam Ponco menghela napas panjang.
"Kalau lama-lama di sini, aku bisa-bisa melupakan keinginanku untuk melenyapkan si sialan itu," lanjut Ponco mendengus kesal mengingat Rama, orang yang membuat dirinya harus menderita seperti ini.
"Aku harus cepat-cepat pulih dan segera pergi dari sini! Tinggal bersama orang yang baik hati dan hangat sangat tak cocok denganku yang penuh kejahatan dan kotor?!" Ponco menganggukkan kepalanya, dia sangat sadar dirinya bukanlah orang baik, terlalu banyak hal jahat yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya. Mencuri, menjebak seseorang hingga orang tersebut memilih untuk mati, menjual barang ilegal, dan masih banyak kejahatan lainnya yang tak bisa dia sebutkan satu-persatu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rama hari ini izin tak menghadiri kelas, dia harus ikut bertemu dengan rekan bisnis yang sudah lama bekerjasama dengan perusahaannya. Seorang pria paruh baya seumuran dengan almarhum kakeknya datang menghampiri dirinya dan juga pemimpin sementara yang dipercaya kakeknya setelah beliau meninggal. Rama tersenyum bisnis, berjabat tangan dengan kedua orang yang menghampirinya tadi.
"Apa kabar, tuan?" sebagai wakil, tugas Rama hanya setor muka dan menjawab saat ditanya. Jadi, tugas menyapa tak menjadi miliknya.
"Baik, sangat baik. Maaf, kami sedikit terlambat. Cucu saya yang pemalu ini susah diajak keluar rumah, ha-ha-ha-ha," balas rekan bisnis tersebut.
"Oh, kalian belum berkenalan, bukan? Ayo kenalan dulu, dia cucunya teman kakek, Ara," lanjut si kakek mendorong pelan cucunya untuk lebih maju sedikit ke depan.
Seorang dara yang dipanggil Ara tadi pun mengangguk dengan wajah jutek, sedetik kemudian wajahnya langsung berubah dan dihiasi senyum kepura-puraan. Ahh, rupanya dia tipe yang cepat mengubah wajahnya sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. "Kiara Larasati, senang bertemu dengan anda," katanya sopan.
"Saya Dani, senang bertemu dengan anda, nona yang cantik. Saya dulunya asisten dari pemimpin sebelumnya, sekarang saya menjabat sebagai pemimpin sementara hingga anak muda di samping saya mengambil alih saat beliau sudah menyelesaikan study-nya," balas Dani panjang lebar. Kiara menganggukkan kepala seakan paham sambil tersenyum ramah.
Kiara menatap pemuda yang berdiri di sebelah Dani, gadis itu mendecih dalam hati, sangat tak suka tipe seperti Rama yang pastinya hanya mengandalkan tampang saja. Rama yang ditatap malah memperkenalkan dirinya dengan singkat. "Rama!" kata pemuda itu menganggukkan kepalanya sedikit.
"Ah-ha-ha-ha-ha, beginilah ciri-ciri anak muda yang akan sukses di masa depan, irit kata dan sangat sopan!" puji Dani mencoba mencairkan suasana setelah cucu bosnya itu membuka mulut.
Kiara mendengus pelan, memancarkan kebencian pada Rama yang divonis-nya sebagai orang yang sangat sombong. Rama sendiri malah cuek, dia hanya harus hadir, bukan untuk menyenangkan suasana hati seseorang.
"Anda benar, mereka berdua adalah generasi muda yang akan meneruskan bisnis kita. Mungkin keduanya bisa menjalin hubungan baik untuk kerjasama perusahaan kita, ha-ha-ha-ha," timpal si kakek tertawa renyah.
__ADS_1
"Semoga begitu, Tuan Rian. Mari kita duduk dan membahas kesepakatan di antara kita," balas Dani. Tak lupa dia menyuruh OB untuk menyajikan minuman untuk tamu mereka.
"Ekhem, kalau kamu bosan, kamu bisa berkeliling, Kiara," dehem sang kakek melirik cucunya. "Urusan kakek masih cukup lama di sini?" lanjut kakek tua itu beralasan.
"Tuan muda kami bisa membawa anda berkeliling kalau anda mau, nona?!" lanjut Dani. Rupanya ada kesepakatan tak terucap di antara keduanya.
"Tak usah, saya di sini saja," balas Kiara tersenyum sopan. "Tak apa, kan, kek?" tanya gadis itu menatap sang kakek dengan tatapan memohon. Si kakek mengangguk tak berdaya di bawah tatapan imut cucunya. Kiara tersenyum senang, mana sudi dia harus bersama dengan pemuda sombong di depannya ini.
Rama menghela napas lelah, dia berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke arah Kiara. "Ayo, jangan menganggu di sini!" katanya tiba-tiba, mungkin karena dia melihat wajah kecewa dari Dani yang telah dianggap sebagai paman tadi, meski hanya sekilas tentu.
"Saya ingin di sini, saja," tolak Kiara keras kepala.
"Ayolah, anak muda seharusnya menikmati hal-hal indah, bukannya terjebak dengan dua orang tua seperti kami, benarkan?" Kakek Rian meminta dukungan dari Dani.
"Tentu saja, bahkan tuan muda kami pun sudah mengajukan diri untuk menemani anda, nona!" timpal Dani.
Kiara menerima uluran tangan Rama. "Jangan salah paham, ini hanya karena kakek yang memaksa?!" katanya ketus.
Rama tersenyum sinis. "Begitupun dengan saya! Jangan terlalu percaya diri, saya melakukan ini karena tak suka melihat raut kecewa di wajah Om Dani?!" balas Rama dengan nada datar.
Begitu sampai di luar, keduanya langsung melepas pegangan tangan masing-masing. Kiara menyemprotkan antiseptik, seolah takut terkontaminasi kuman. Sedangkan Rama, dia mengelap tangannya dengan saputangan kemudian membuang saputangan tersebut ke tempat sampah dengan wajah dingin. "Kamu kira aku kuman yang harus dihindari?!" dengus Kiara kesal, baru kali ini dia mendapat perlakuan seperti ini dalam hidupnya. Biasanya dia akan dipuja karena latar belakang yang dimilikinya, belum lagi penampilannya yang sangat mendukung, tak ada yang pernah bersikap kasar hingga saat ini. Dan itu semua dipatahkan oleh pemuda di depannya, pemuda sombong dan kurang ajar menurut dirinya.
Rama melirik sinis. "Bukankah anda juga sama?" tanya pemuda itu menohok. "Tapi saya tak protes," lanjut Rama terdengar menjengkelkan di telinga Kiara.
Rama mendengus kecil. "Siapa juga yang mau mengikuti bocah ababil seperti dia?!" decih pemuda itu bersungut kesal. Keduanya mengambil jalan berlawanan, Kiara yang melangkah dengan kesal, dan Rama yang melangkah dengan cuek. Lebih baik dia menghabiskan waktu di atap daripada bersama gadis menjengkelkan yang memiliki kepercayaan diri penuh seakan dirinya seorang putri raja yang akan selalu dipuja.
"Seandainya tadi Andi yang ikut, dia pasti bisa menyenangkan putri gila itu. Mungkin mereka berdua akan menjadi teman dalam waktu singkat. Memikirkannya saja membuat Rama terkekeh kecil.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di ruangan yang tadi ditinggalkan Rama dan Kiara, terdengar tawa yang mengalun dengan bahagia. "Semuanya pasti akan berjalan sesuai rencana, kan?" kata Kakek Rian penuh harap.
"Tentu saja, tuan muda kami terlalu peka sehingga beliau menawarkan diri untuk menemani nona berkeliling," balas Dani yakin.
"Kuharap perjodohan tak tertulis ini berjalan sesuai keinginanku. Salahkan orang tua itu yang selalu memuji-muji cucu laki-lakinya, sehingga otakku rasanya tercuci dengan semua cerita itu. Sisi baiknya aku memiliki cucu perempuan yang sangat cantik, jadi aku bisa menjadikan cucu laki-laki yang dibanggakan almarhum sahabatku itu sebagai cucu menantu!"
Kenapa tak sekalian dijodohkan saja, tuan?" tanya Dani heran. Kalau memang sangat ingin memiliki tuan muda mereka sebagai menantu, kenapa tak dijodohkan saja sekalian. Dua keluarga bisa berbicara serius tentang itu, bukan.
Rian menggelengkan kepalanya pelan. "Anak-anak zaman sekarang tak akan suka dengan kata 'Perjodohan'! Jadi biarkan saja mereka saling mengenal secara alami seakan semuanya sudah garis takdir, bukan karena keinginanku saja!" jelas si kakek. Yah, memang zaman sudah berubah. Sudah jarang terdengar pernikahan karena perjodohan, yang ada nikah karena cinta atau pernikahan karena saling menguntungkan, bisa dibilang nikah politik mungkin.
Selain menjalankan rencananya untuk mengenalkan cucunya dengan Rama, Kakek Rian juga memiliki keperluan untuk membicarakan tentang kerja sama mereka. Keduanya akhirnya sepakat memperpanjang kerja sama yang ada. Setelahnya, mereka saling berbincang sambil menunggu kedua pemuda dan pemudi yang diharapkan akan semakin dekat nantinya.
__ADS_1
Pintu ruangan tersebut diketuk. "Apa sudah selesai, kek?" tanya Kiara yang baru saja kembali.
Si kakek menganggukkan kepalanya. "Mana Nak Rama?" tanya kakek tua itu mencoba melihat di belakang sang cucu, tak ada siapa-siapa di sana, cucunya kembali sendirian.
"Ahh, dia berkata ada keperluan, jadi aku balik ke sini aja, kek," ucap Kiara asal memberi alasan yang sekiranya masuk akal.
"Ha-ha-ha, tuan muda kami memang orang yang cukup sibuk," timpal Dani tak enak hati. Apa tuan mudanya itu membuat masalah kali ini.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali cucuku yang manja," ucap Kakek Rian mengajak cucunya untuk pulang.
Kiara mengangguk cepat, dia bahkan berjalan lebih cepat agar bisa meninggalkan tempat yang menjengkelkan ini secepatnya. Di mobil Kakek Rian mulai mencari tahu bagaimana pendapat cucunya tentang Rama. "Jadi, kemana saja kalian berkeliling?" tanya si kakek ingin tahu. "Apa pemuda itu cukup sopan?" lanjut si kakek lagi.
Kiara hampir saja memutar bola matanya, keliling kemana, sopan apanya, yang ada bikin kesel iya. "Tak banyak, aku hanya minta ditemani ke kantin, lalu kami berpisah setelahnya," ucap Kiara mengarang cerita. Dia hanya berharap meski menjengkelkan pemuda itu bisa mengarang cerita yang cukup baik.
"Anak baik, anak baik, bertemanlah dengannya di masa depan!" senyum cerah mengembang di wajah sang kakek, dia tak tahu saja kalau cucunya yang duduk di sebelahnya memasang tampang tak suka karena disuruh berteman dengan Rama.
Kiara tak bisa mengatakan yang sebenarnya, dia sangat senang kalau kakeknya bahagia, jadi dia membiarkan saja kakeknya yang sibuk mengoceh tentang mereka berdua. Kiara hanya memiliki sang kakek sebagai keluarga, dia bisa melakukan apa saja untuk melihat senyum sang kakek berkembang dengan tulus dan sempurna.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rama kembali ke ruangan Dani, dia masuk begitu saja setelah mengetuk pintu tiga kali, bahkan dia belum mendapat izin untuk masuk sebenarnya. "Tuan muda, bagaimana kencan anda?" tanya Dani penasaran.
Rama mengernyit heran. "Kencan? Siapa?" tanya pemuda itu duduk dengan santainya.
"Tentu saja tuan muda, masa saya yang sudah tua ini?!" balas Dani sedikit bercanda.
"Kapan saya berkencan, om?" tanya Rama mendesah pelan, pasti ada kesalahpahaman ini.
"Kan tadi tuan muda keliling dengan nona cantik, apa itu bukan termasuk kencan?" Dani cukup dekat dengan Rama, dia bahkan memperlakukan pemuda itu seperti anaknya sendiri, tapi tak sampai melebihi batas atasan dan bawahan.
"Dengar om, saya hanya mengajak dia keluar karena melihat wajah kecewa om tadi. Dan sebenarnya kami berpisah di depan ruangan om, intinya kami gak keliling bersama. Saya menghabiskan waktu di atap seperti biasa!" aku Rama jujur. Dia tak mau kalau kesalahpahaman ini terus berlanjut dan akan mengikat dirinya salam hal yang merepotkan.
"Astaga, bagaimana anda bisa meninggalkan gadis secantik Nona Kiara, tuan muda?" pekik Dani tak percaya. Dia tahu tuan mudanya biasanya acuh, tapi dia tak tahu kalau sampai seacuh ini juga.
"Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kalau Tuan Rian tersinggung?" lanjut Dani panik.
"Liat nanti aja, om. Jangan dipikirkan sekarang! Lagipula, cewek jutek itu sendiri kok yang minta gak usah ditemani?!" ahh, Dani lupa kalau bicara dengan tuan mudanya tak akan bisa menyelesaikan masalah. Tuan mudanya terlalu acuh, lihat saja sekarang, pemuda itu malah mengangkat bahu dengan ringannya tanpa peduli apapun lagi.
"Tugas aku udah selesai, kan om? Aku udah boleh balik, kan?" Dani mengangguk lemah, Rama pun langsung menghilang dari ruangan itu setalah mengucapkan selamat tinggal.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...