
Hari minggu merupakan hari yang bagaikan surga dalam seminggu yang penuh dengan kesibukan. Rama memilih berlari kecil dari subuh, selain untuk menjaga kesehatan, dia juga sedang ingin menggerakkan tubuhnya.
Rama berhenti berlari di puncak jalan yang berbukit saat matahari hampir terbit, pemuda itu menatap sang surya yang perlahan mengungkap sinarnya. Dia terdiam cukup lama di sama, menatap ke depan dengan tatapan kosong. Rama seakan tak ada di sini, pikirannya melayang jauh menata berbagai kemungkinan masa depan yang harus dijalaninya.
Rama mengusap wajahnya kasar, dia menghela napas sambil memejamkan matanya. Ini hasil perbuatannya, seharusnya dia tak terlalu terbiasa dengan hidupnya. Dirinya terlalu terbuai dalam kasih sayang yang seharusnya bukan miliknya. Ingin berhenti, tapi dia ragu dirinya bisa melangkah maju tanpa menoleh ke belakang. Dia sudah terikat terlalu dalam dengan perannya, dia tak ingin semua berakhir. Namun, dia juga tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisa saja sang nenek tahu, seperti kakeknya yang telah pergi terlebih dahulu. Atau mungkin saja Andi mendapatkan kembali ingatannya, bahkan bayangan masa lalunya sendiri menjadi salah satu ancaman kalau identitasnya akan terbongkar.
"Apa yang harus aku lakukan?" lirihnya dengan pemikiran yang campur aduk.
__ADS_1
"Kamu bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang?!" sahut sebuah suara diiringi tawa meremehkan dari belakang.
Rama membuka matanya. Ahh, pengganggu tetap saja akan terus menjadi pengganggu. "Jadi, kalian mulai bertindak, eh?" ucap Rama berbalik dengan santai.
"Satu, dua, tiga ..., hmm, ada kurang lebih sepuluh orang rupanya. Mari bermain sebentar?!" tatapan mata Rama berubah tajam, tak ada. lagi pemuda hangat yang biasa tersenyum manis pada sang nenek atau temannya. Kini dirinya menjelma sebagai si tanpa nama dalam waktu singkat.
"Astaga, kalian mau ngisi kuliah atau berantem? Aku terlalu sibuk kalau harus mendengarkan ocehan kalian selesai?!" kata Rama jengah, dia tak sabar ingin kembali, tetapi dirinya dikepung oleh preman yang doyan jual kecap sebelum adu jotos.
__ADS_1
"Sialan, habisi si breng'sek ini?!" Rama di kepung di tengah, dikelilingi oleh musuh yang siap menghajarnya. Bahkan ada yang membawa senjata untuk menjatuhkan pemuda itu.
"Apa Ponco yang mengirim kalian?" tak ada yang menjawab, semua waspada akan pergerakan Rama. Mereka diharuskan ekstra hati-hati di hadapan pemuda ini.
Rama mengangkat bahu acuh." Tak masalah kalau kalian ingin tetap membisu,. maka membisulah hingga akhir?!" Rama maju menyerah, melancarkan tinju dan juga tendangan. Dirinya tak boleh terluka, jadi dia menyerah orang-orang yang membawa senjata terlebih dahulu.
"Mari kita selesaikan ini dalam waktu singkat?!" perkelahian tak seimbang yang terjadi hanya dalam beberapa menit, Rama menuai kemenangan mutlak. Lawannya rata-rata terkapar dan pingsan, banyak juga dari mereka yang mengalami patah tulang. Rama tak peduli, dia harus cepat pulang agar tak membuat sang nenek menunggu. Mereka selalu sarapan bersama, jadi salahkan saja nasib sial orang-orang yang menghadangnya ini.
__ADS_1
Rama menarik kerah salah satu dari korban kekerasannya, dia bahkan menepuk-nepuk pipi orang itu tanpa perasaan. "Oi, oi, bangun! Sampaikan pada Ponco agar tidak menggangguku lagi, atau ... dia tahu sendiri apa akibatnya?!" Rama membersihkan tangannya seolah baru saja habis memegang kuman. Dia melenggang dengan santai meninggalkan orang-orang yang baru saja dipukulinya.