Topeng.

Topeng.
16.


__ADS_3

"Nenek," panggil Rama seraya berhambur memeluk wanita tua yang sedang duduk di depan televisi. Pemuda itu menghirup wangi sang nenek, ah, dia sangat merindukan kehangatan neneknya. Beginikah rasanya memiliki orang yang disayangi sebagai keluarga.


"Akhirnya kamu ingat pulang juga, cucuku yang nakal?!" Nek Lidya memukul pelan tangan Rama yang melingkar di lehernya.


"Bagus kamu bisa membawa bocah nakal ini pulang, An?!" ucap si nenek menatap mata Andi.


"Dan saya lebih bersyukur saya berhasil, Nek Lidya. Yah, walaupun dengan sedikit pemaksaan," adu Andi seraya menghela napas lelah.


"Maaf, nek. Rama hanya ingin menyelesaikan pekerjaan agar bisa cepat pulang. Siapa yang tahu kalau pekerjaannya terus dan terus berdatangan tanpa henti?!" kata Rama pelan.


"Kasihan cucu kesayangan nenek, pasti kamu lelah, kan? Beristirahatlah sana, kamu terlihat lebih kurusan sekarang?!" Nek Lidya memperhatikan dengan lekat cucu laki-laki yang kini berdiri di depannya itu.


"Tak apa, Rama di sini saja. Dengan melihat nenek, itu sudah menjadi pengobat lelah rasanya." Rama merebahkan kepalanya di paha sang nenek, Nek Lidya dengan senang hati mengusap-usap rambut cucunya.

__ADS_1


"Kamu sudah makan, nak?" tanya Nek Lidya dengan suara lembut.


Rama menggelengkan kepalanya. "Belum, sepertinya," ucapnya ragu, dia lupa kapan dia memasukkan makanan ke mulutnya.


"Ayo kita makan dulu, setelahnya baru kita beristirahat. Nanti kalau sudah bangun, baru kita berbincang lagi!" Nek Lidya mengangguk pada pelayan yang berdiri tak jauh darinya, mengisyaratkan agar mereka segera menyajikan makanan lebih cepat.


"Baiklah, nenek duluan saja ke meja makan, Rama mau ganti baju dulu!" Rama melangkah ke kamarnya setelah dia melihat sang nenek menganggukkan kepala. Sebelum berganti baju, Rama memilih untuk mandi dengan cepat. Setelah mandi, Rama merasa lebih segar dari sebelumnya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Tak apa, nenek juga baru saja di sini!" balas sang nenek.


"Makan yang banyak, Ram, An?!" lanjut perempuan tua itu menatap Rama dan Andi bergantian.

__ADS_1


Baru saja Rama mau menyuapkan nasi ke mulutnya, ponselnya berdering dengan suara yang cukup nyaring. "Sebentar, Rama angkat dulu, ya nek!" kata pemuda itu meminta izin untuk ke tempat lain menerima telepon.


"Astaga, tak adakah hari yang santai untuk cucuku yang masih kecil itu?!" desah Nek Lidya kesal.


"Sabar, Nek Lidya. Siapa tahu itu telepon yang sangat penting!" kata Andi mencoba menyabarkan sang nenek yang tengah kesal.


"Ha-ah, paling-paling itu masalah kerjaan lagi! Padahal dulu almarhum kakek kalian tak sesibuk Rama sekarang." Andi memilih diam, dia bingung harus menanggapi bagaimana.


"Maaf, nek. Rama harus pergi sebentar tadi, ayo kita lanjut makannya," ucap Rama setelah dia kembali.


"Nenek kira kamu bakalan pergi lagi, bahkan sebelum kamu menghabiskan makanan kamu, Ram!" kata si nenek yang sudah terlanjur kesal.


Rama tersenyum tipis sembari menatap lurus sang nenek. "Tak mungkin, meski sangat penting, Rama pasti tetap memilih di sini untuk menemani nenek makan. Setelah itu, baru Rama akan berpikir untuk izin kembali ke kantor!"

__ADS_1


"Ha-ah, jadi kamu bakalan balik lagi setelah kita selesai makan, hm?" tanya si nenek menatap kesal.


"Sayangnya tidak, nek. Rama menunda semua dan akan mengerjakannya besok! Rama juga bilang kalau terlalu penting kirim saja pekerjaannya melalui email." Nek Lidya mengangguk senang, cucunya sudah lama tak dilihatnya. Rama selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang sangat larut malam, sekarang saat dia bisa melihat wajah sang cucu, mana mau dia melepas cucunya untuk pergi lagi. Kalau besok itu masalah lain, yang penting saat ini mereka menghabiskan waktu bersama.


__ADS_2