Topeng.

Topeng.
20.


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, kini Rama tak terlalu sibuk lagi. Dirinya sudah cukup pandai mengatur waktu agar tak terlalu lama membenamkan diri dalam pekerjaan. Hari damai Rama juga masih berlanjut tanpa ada yang mengganggu. Rama, Andi, dan sang nenek masih terus memiliki waktu luang untuk saling mengobrol di sela waktu sibuk mereka masing-masing.


"Ada yang bisa aku bantuin gak, Ram?" tanya Andi suatu ketika saat mereka berdua berkumpul tanpa Nek Lidya.


Rama menggeleng pelan. "Gak ada, ini juga mau kelar, kok, dikit lagi!" kata pemuda itu. "Dan selesai?!" lanjut Rama beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Omelan Nek Lidya ternyata cukup ampuh untuk membuat seorang Rama mempersingkat waktu sibuknya, ya?!" celetuk Andi tersenyum mengejek.


Rama berdecak kesal mendengar sindiran yang dilontarkan sahabatnya itu. "Aku cuma gak mau nenek merajuk kalau tak dituruti. Lagi pula aku cukup mampu mengerjakan lebih cepat sekarang, dulukan aku masih masa belajar, sekarang aku sudah lumayanlah hitungannya!"


"Alah, mau muji kalau ahli aja kok muter-muter gitu, sih ngomongnya?! Tinggal bilang, 'Aku ini sudah ahli', gitu kan gampang!"

__ADS_1


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Kata orang, jika kedamaian terus berlanjut tanpa adanya halangan, maka kejahatan besar akan mengintai dari sudut lain, menunggu waktu yang tepat untuk menancapkan cakar dan taring jahat mereka. Itulah yang akan terjadi, hanya karena Rama kembali berkunjung ke sisi dunia gelap, bos yang menggantikan dirinya merasa gelisah, takut jika tempatnya diambil. Demi menghilangkan perasaan gelisahnya itu, si bos pun memutuskan untuk mencabut akar permasalahan yang menjadi sebab semua ketakutannya. Intinya, si bos itu ingin memusnahkan Rama dengan segala cara, bahkan dengan cara curang sekali pun.


"Aku tak bisa terus begini, aku tak mau hidup selalu dalam ketakutan, aku harus menghilangkan si tanpa nama dari dunia ini, agar sumber masalahku menghilang. Kalau dia tak ada, tak akan ada lagi yang akan mengancam posisiku, aku akan tetap menjadi si nomor satu di sini, menjadi bos besar yang ditakuti dan ditaati. Perkataanku adalah hukum yang mutlak, jika aku berkata mati, maka itu harus dihancurkan. Jika aku memberi pengampunan, maka semua bisa dibebaskan. Aku bos tertinggi di dunia ini dan tak ada yang boleh membuat diriku takut, bahkan jika itu dirinya, si tanpa nama yang baru saja kembali setelah cukup lama tak ada kabarnya!" gumam si bos menatap langit malam yang terbentang luas dari atap gedung terbengkalai.

__ADS_1


"Ya, aku dan dia tak bisa hidup di bawah satu atap yang sama. Kami berdua tak boleh menghirup udara yang sama, kami harus saling mengalahkan untuk mencegah bencana yang mungkin tak terduga!" ucapnya yakin, si bos tak bisa lagi hanya merasa gelisah sendirian, dia ingin menghilangkan Rama agar dia bisa tetap mempertahankan kedudukannya di sini.


"Si tanpa nama, mari kita adu kekuatan sekali lagi. Lagi pula kamu sudah lama tak meregangkan otot, mungkin aku bisa mengalahkan dirimu dengan mudah karena kamu sudah lupa cara mengepalkan tinju. Jangan salahkan aku, salahkan saja ketakutan yang kamu sebarkan dulu, aku hanya ingin menjaga tempatku dengan memusnahkan dirimu?!" si bos menyeringai keji, dia akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.


__ADS_2