
Hari baru, masalah baru. Itulah yang dirasakan Rama hari ini, lihat saja wajah sahabatnya yang bersemu merah hanya karena bertemu dengan seorang gadis yang tak ada apa-apanya, menurut Rama tentunya. Rama seseorang yang hidup dalam kekerasan, dia tak mengenal artinya romansa, bahkan setelah sekian lama dirinya tinggal bersama sang nenek. Pemuda itu tak pernah memikirkan atau melirik gadis-gadis di sekitarnya, semua palsu, tak ada yang tulus di matanya selain keluarganya sekarang.
"Ram, Ram, kalau aku nembak dia, kira-kira diterima, gak ya?" lihat, kawannya berubah menjadi bodoh hanya karena satu makhluk bernama wanita. Kemana otak pintar sahabatnya ini, kenapa harus bertanya pertanyaan konyol seperti itu. Mana Rama tahu soal itu, peduli saja tidak.
"Gimana menurut kamu, Ram?" tanya Andi lagi, kali ini pemuda itu menyenggol-nyenggol lengan kawannya.
Perempatan imajiner muncul di dahi Rama, dia benci saat dirinya diganggu hanya karena sesuatu yang tak penting. "Coba saja biar tahu, jangan bertanya seolah aku tahu segalanya!" desis Rama kesal. Andi malah balas cengengesan, dirinya seolah kehilangan setengah jiwa dan menjadi bodoh.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Do'akan aku kawan?!" Andi berdiri dengan penuh semangat, berlari kecil keluar kelas. Rama tak peduli, terserah sahabatnya itu ingin menjalani hidup seperti apa. Mau pacaran kek, mau nikah kek, dia bodoh amat. Asal itu tak merepotkan dirinya.
Kelas kembali tenang, Rama duduk diam dan terus membaca buku yang ada di tangannya. "Hai," sapa seseorang dengan suara manis dibuat-buat. Rama mendongak untuk melihat siapa yang menyapanya, dia merasa pernah mendengar suara ini. "Ingat aku, kan?" tanya pemilik suara itu lagi. Bukannya ini gadis yang membuat temannya bodoh, untuk apa dia berdiri di depan Rama.
"Astaga, cuek banget, sih tampan. Aku Jessy, yang tadi pagi nyamperin kamu!" senyum manis disertai kedipan mata, Rama mulai tak suka dengan situasi saat ini.
Rama berdiri dari duduknya. "Kalau tak penting, saya pergi dulu?!" Rama memilih kabur daripada mendapat masalah, dia tak ingin berselisih hanya gara-gara masalah tak berarti seperti ini.
__ADS_1
Rama menghela napas panjang, dia menutup mata mencoba menyabarkan dirinya. "Tak tertarik?!" lebih baik dia pergi ke kantin untuk makan, atau dia juga bisa ke taman untuk melanjutkan membaca bukunya.
"Ram!" panggil suara yang sangat dihapal Rama, suara siapa lagi kalau bukan sahabatnya. Napas pemuda itu tersengal-sengal, Rama menyodorkan botol air mineral yang belum dibukanya dari rumah. "Ha-ah, ha-ah, capek aku. Nyari keliling-keliling gak ketemu!" aku Andi setelah dia menenggak lebih dari setengah isi air mineral yang kawannya berikan.
Rama mendengus kesal, siapa suruh kamu pergi. Begitu kamu minggat, cewek gila itu malah nyamperin dia di kelasnya. "Lupain aja, gak jodoh mungkin," balas Rama asal.
"Kasih semangat dikit lah, minimal biarkan aku nyoba nembak tuh bidadari!" mata Andi berbinar penuh harapan. Astaga, Rama tak yakin bisa menghentikan keinginan sahabatnya satu ini.
__ADS_1
Rama menepuk-nepuk pundak kawannya. "Semangat!" katanya malas.
"Makasih, sobat. Btw, tadi kelas sedikit berisik, ada apa, ya?" ingin sekali rasanya Rama mengatakan kalau semua itu karena gadis yang diincar kawannya ini, tapi dirinya terlalu malas menjawab, dia hanya tersenyum seraya mengangkat bahunya acuh.