Topeng.

Topeng.
23.


__ADS_3

Rama dan Ponco berbicara di kamar mandi kafe, lebih tepatnya, Rama mengintrogasi Ponco dengan tatapan mengintimidasi. Ponco sampai harus berpikir keras untuk mencari jawaban yang masuk akal.


"Ekhem, katakan saja kalau aku hanya ingin melihat bagaimana kehidupan kawan lamaku," ucap Ponco berharap pemuda di depannya ini percaya pada perkataannya.


Rama menarik sudut bibirnya tipis, menatap Ponco dengan tajam. Pemuda itu menepuk-nepuk pelan pipi lawan bicaranya. "Kalau ingin berbohong, coba latih lagi agar matamu tak mengatakan semuanya, oke!" Rama berbalik meninggalkan Ponco yang mengepalkan tangan kesal. Dia bos dan penguasa sisi dunia gelap, mengapa dirinya tak ada harganya di depan anak kecil di depannya ini. Apa sebaiknya dia langsung menikam jantung pemuda itu, mumpung pemuda di depannya kewaspadaannya turun.


"Ah, sebaiknya kamu segera pulang. Aku tak suka diikuti, apalagi dengan niat buruk yang menguar tanpa bisa ditutup-tutupi. Atau, kamu lebih suka aku kembali mengambil tempatku, hmm?" Rama menoleh sekilas, dia melempar seringai yang terlihat menyebalkan di mata Ponco.


"Ha-ha-ha, kita teman, jangan terlalu menggunakan ancaman untuk temanmu ini! Aku benar-benar ada keperluan dan hanya ingin melihat bagaimana keadaan kawanku di sini."

__ADS_1


"Hmm, anggap saja aku bodoh dan mempercayai semua ucapan yang baru saja kamu muntahkan!" Rama berbalik dan kembali melangkah, dia tak ingin membuat temannya menunggu terlalu lama. "Dan ingat, jangan menguntit ku lagi! Aku tak suka itu dan aku tak menjamin apa yang akan terjadi jika aku menghadapi hal yang tak kusukai! Paham?" Ponco mengangguk cepat, dia mengatur ekspresinya sebisa mungkin, dalam hati dia menyumpahi pemuda arogan di depannya ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama dan Andi segera kembali ke kediaman begitu mereka selesai menghabiskan pesanan yang mereka pesan di kafe, sang nenek tercinta menyambut dengan penuh kehangatan. Kedua pemuda tanggung itu pamit untuk berganti pakaian, nanti mereka akan kembali dan menemani sang nenek menghabiskan waktu bersama.


"Baik, tapi Rama belum memikirkan soal gadis atau lebih tepatnya soal pacaran?!" ucap Rama tanpa mengalihkan fokusnya dari buku yang dia baca.


"Hari ini tak ada yang spesial, Nek Lidya. Ah, kecuali Rama yang mendapat pernyataan cinta dari lima orang siswi di sekolah!" ucap Andi mengadu, membuat Rama memutar matanya malas.

__ADS_1


"Benarkah? Terus, terus?" Nek Lidya bertanya dengan antusias, ingin mengetahui apa yang selanjutnya terjadi.


"Kelima-limanya ditolak dengan dingin oleh pangeran es ini, Nek Lidya?!" Andi melirik kawannya dengan ekor matanya.


"Ah, sayang sekali. Nenek kira akan ada musim semi yang merekah kali ini," timpal sang nenek menyayangkan sikap dingin sang cucu. Wajah tampan, nama keluarga yang baik, tinggi yang sempurna dan warna kulit yang bersih, membuat banyak gadis melirik beberapa kali ke arah cucunya. Tapi sayangnya, sang cucu malah acuh. Lidya jadi takut kalau garis keturunannya akan hilang dan tak bertambah karena sikap Rama yang terlalu dingin.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, nek. Rama masih muda dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama nenek!" ucap Rama menutup bukunya, mana bisa dia fokus kalau ada pengadu di sebelahnya.


Nek Lidya mengangguk, dia setuju dengan ucapan cucunya. Kalau sang cucu memiliki kekasih, pasti waktu yang dia habiskan dengan cucunya akan berkurang atau malah tak ada sama sekali. Lidya tak menyukai kenyataan itu. "Benar, kalian harus belajar, tak benar kalau seorang pelajar memikirkan cinta dan sibuk menyenangkan pacarnya setiap saat!" Rama tersenyum tipis, sangat mudah membuat sang nenek kembali mendukung dirinya. Andi berdecak kesal, dia gagal membuat temannya kewalahan menghadapi neneknya. Temannya lebih pintar dan semakin pintar saja setiap harinya.

__ADS_1


__ADS_2