Topeng.

Topeng.
18.


__ADS_3

Berkeliling dan mampir ke gedung yang sering dia tempati dulu, ahh, dia jadi merindukan masa-masa saat dirinya bertarung dulu. Rama menarik sudut bibirnya sedikit, dia tersenyum tipis. "Semua hanya masa lalu dan aku sekarang bukan lagi 'Si tanpa nama'!" Rama berbalik dan segera meninggalkan tempat itu. Pemuda itu harus kembali ke tempat sang nenek. "Saatnya kembali!"


Setelah menaruh kembali motor tuanya ke tempat semula, Rama pun segera kembali ke rumahnya. "Aku pulang!"ucap Rama setengah berteriak begitu dia sampai di rumah.


"Dari mana saja kamu, cucuku yang nakal?!" hardik sang nenek setengah kesal, pasalnya cucunya itu hanya meminta izin keluar sebentar dan baru pulang saat hampir jam makan siang.


"Kan Rama tadi udah izin, nek?"


"Nenek juga tahu kalau kamu udah izin, tapi tadi kan kamu izin pergi sebentar, nenek kira cuma beberapa menit aja, mungkin paling lama gak sampai satu jam. Lah ini, udah lewat beberapa jam baru balik sekarang! Sebenarnya cucu nenek ini ternyata butuh beberapa jam, ya?" jelas si nenek seraya menembakkan tatapan tajam pada sang cucu.

__ADS_1


Rama menggaruk tengkuknya sambil menatap ke lain arah. "Keasikan nyari angin, nek. Rama jadi lupa waktu," kilah Rama berdalih.


Melihat kawannya tak berdaya, Andi pun menyela dan mencoba membuat Nek Lidya teralihkan. "Nek Lidya, bagaimana kalau kita makan sekarang? Saya saja sudah sangat lapar padahal di rumah sejak tadi, apalagi Rama yang dari pagi keluar, ya kan?" katanya melakukan pertolongan sebisa yang dia mampu.


Nek Lidya menatap khawatir sang cucu, perempuan tua itu kemudian bergegas ke dapur. Mungkin untuk memerintahkan pelayannya agar segera menyajikan makan malam lebih siang lebih cepat dari biasanya. Rama pun terbebas dari omelan sang nenek, dan Andi bersyukur cara yang dipilihnya berhasil. "Terima kasih, sobat!" bisik Rama seraya mendudukkan dirinya di sofa terdekat, dia lelah sungguh, dan hampir saja dia mendapat omelan panjang kalau kawannya tak ikut membantu mengalihkan fokus sang nenek.


Andi mengibaskan tangannya santai. "Tak masalah, aku yakin kamu juga bakalan ngelakuin hal yang sama kalau hal semacam ini terjadi padaku, ya kan?" balas Andi percaya sepenuhnya pada sahabatnya.


Tak lama terdengar suara sang nenek memanggil keduanya dari arah ruang makan, Rama dan Andi pun segera menyusul sang nenek. Keduanya tak mau membuat perempuan tua itu menunggu lebih lama. Mereka bertiga pun menyantap makan siang bersama tanpa bicara.

__ADS_1


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Tadi kamu kemana, Ram?" tanya Andi. Kini keduanya berada di kamar Rama.


Rama membalik lembaran buku yang sedang dibacanya. "Hanya berjalan-jalan dan menggali beberapa perasaan yang mungkin kuingat," balas Rama santai.


"Kamu ingat sesuatu?" tanya Andi antusias. "Bagaimana caranya? Kamu tahu kan kalau aku sampai sekarang tak bisa mengingat apa pun, jadi apa yang harus kulakukan agar aku bisa ingat masa laluku?" Andi semakin antusias memikirkan kalau dirinya bisa mengetahui sesuatu tentang dirinya sebelum dia menjadi Andi.


"Sayangnya tak ada yang kuingat sama sekali! Jadi, tak ada yang bisa kubagikan padamu, An." Rama menutup buku yang dibacanya. Lagipula dirinya tak melupakan apa pun, jadi dia jelas tak perlu mengingat apa-apa kalau tak ada yang dia lupakan.

__ADS_1


"Meski disayangkan, tetapi tak ada juga yang patut disedihkan, bukan? Masa lalu hanyalah masa lalu, kalau memang tak bisa diingat, ya mungkin kita harus membuat kenangan baru saja seperti sekarang!" helaan napas panjang terdengar dari Andi, dia memang mengatakan hal itu dengan mulutnya sendiri, tetapi dia masih berharap suatu ketika dirinya bisa mendapatkan kembali ingatannya. Rama tak membalas, hanya keheningan panjang yang menemani keduanya di dalam sana.


__ADS_2