
Senin datang dengan cepat, Kiara susah tiba di lobi kantor Rama. Gadis itu memakai gaun berwarna cerah, kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya. Dandanan simpel dengan kesan elegan nan lembut menjadi pilihan Kiara. Tentu saja semua itu hasil karya salon langganannya, mana mau Kiara menerapkan make up sendirian, bisa-bisa hasilnya bakalan abstrak dan tak jelas nanti.
"Ada keperluan apa?" tanya sekretaris Rama pada Kiara.
Kiara melepas kacamatanya. "Saya ingin bertemu Rama," kata gadis itu seraya tersenyum simpul.
"Sudah buat janji?" tanya si sekretaris lagi, si sekretaris bahkan melihat jadwal bosnya untuk memastikan.
Kiara berkedip sambil mengisyaratkan bahwa ini rahasia dengan centilnya. "Ini kejutan untuk Rama sebenarnya," katanya diakhiri dengan tawa kecil.
Seolah paham, Kiara dipersilakan masuk ke dalam ruangan Rama. Kiara pun berjalan dengan anggunnya ke sana, tentu saja setelah dia mengucapkan terima kasih karena sekretaris Rama bersedia membantu merahasiakan kedatangannya.
Sekitar tiga puluh menit lebih telah berlalu, pintu ruangan Rama terbuka dengan lebarnya. Kiara terlihat berlari keluar dari dalam sana sambil menutup mulutnya, mimik wajah gadis itu terlihat sangat sedih, bahkan air mata pun seolah siap menetes kapan saja. Sekretaris Rama terlihat bingung dengan apa yang terjadi, dia pun mendapat telepon dari Rama kalau bosnya itu tak ingin ditemui oleh siapa pun juga sekarang. Meski merasa aneh, tapi sebagai bawahan dia tak pantas menanyakan alasan. Jadi dia pun hanya patuh dan menurut pada perintah atasannya, selama itu tak merugikan dirinya tak masalah baginya.
Kini Kiara menjalankan misi kedua, yaitu menyebarkan gosip. Kiara pun menangis sejadi-jadinya di kantin, puas menangis selama lebih dari setengah jam, Kiara menghubungi Jonathan. "Jemput aku, ntar aku share lokasi, plisss!" kata Kiara lewat sambungan telepon. Tentu saja itu hanya settingan, bahkan suara senggugukan pun gadis itu tambahkan. "Cepat, ya Jo!" katanya lagi.
Tak sampai lima belas menit, si Jo sudah sampai. Pemuda itu celingukan mencari sahabatnya. "Ya, ampun, Ra. Kamu kenapa, Ra?" kata si Jo begitu dia berdiri di dekat Kiara.
Kiara kembali memasang tampang sedih, matanya berkaca-kaca seakan hampir meneteskan air mata sekali lagi dengan derasnya. "Aku patah hati, Jo, hu-hu-hu-hu," isak tangis Kiara kembali pecah.
Si Jo menahan tawanya, pemuda itu menutup mulutnya agar tak terlihat kalau dia sedang tersenyum sembunyi-sembunyi, sedangkan sebelah tangannya dia pakai untuk menepuk-nepuk punggung kawannya. "Siapa yang udah bikin kamu patah hati sampai segininya, Ra?" tanya si Jo seolah tak percaya kawan baiknya ini ditolak. "Apa dia buta? Tampang kamu oke, kamu pintar dan juga ramah. Cowok mana yang bisa nolak kamu, coba? Kecuali matanya minus?!" umpat si Jo sesuai dengan dialog yang dibuatkan Andi.
"Kamu kenal, kok Jo," balas Kiara menghapus air matanya.
"Siapa dia? Mana orangnya? Aku mau liat sekeren apa dia sampai-sampai nolak kamu begitu!" timpal si Jo menggebrak meja karena emosi.
"Si Rama, hu-hu-hu-hu," isak Kiara menangis tersedu-sedu. "Dia bahkan gak ngasih aku kesempatan buat nyoba dekatin dia," lanjut gadis itu semakin mewek.
"Ahh, si dingin itu?" timpal si Jo seakan mengerti. "Kenapa juga kamu harus suka sama dia, Ra?" desah pemuda itu tak habis pikir.
"Memangnya aku bisa ngatur aku mau suka sama siapa? Hatiku harus kukasih sama siapa? Kan gak bisa, Jo?!" Kiara menundukkan kepalanya sedih.
"Iya juga, sih," gumam si Jo menimpali.
"Dan lebih parahnya lagi alasan si Rama gak bisa nerima perasaan aku tuh yang gak aku suka, Jo," keluh Kiara sengaja menaikkan suaranya agar bisa didengar.
"Apa memangnya?" tanya Jonathan sambil mengernyitkan keningnya.
"Aku tuh kalah sama masa lalu si Rama, Jo. Intinya dia gak bisa lupain cinta pertamanya makanya dia nolak aku, hu-hu-hu-hu, sedih banget rasanya kalah sama masa lalu!" aku Kiara kembali menjual tangisnya.
"Ahh, jadi mungkin itu juga alasan Rama jadi dingin kayak sekarang, ya?" ucap Jonathan tiba-tiba.
"Mungkin, Jo. Aku gak tahu, yang kutahu aku cuma patah hati, sakit hati, dan sedih tinggal dewa!" timpal Kiara.
"Ya, udah. Ayo kita pergi dulu dari sini, kita cari tempat lain, baru lanjut bicara lagi!" ajak si Jo yang merasa akting mereka sudah sampai ke akhir.
__ADS_1
Kiara mengangguk lemah, memasang tampang sedih hingga ke mobil Jonathan. Begitu masuk ke dalam mobil, Kiara langsung mengambil kaca. "Untung aja tadi aku minta dandanan yang natural, jadi gak terlalu belepotan," kata gadis itu memperbaiki dandanannya dengan memakai bedak.
"Masih cantik, Ra," dengus si Jo yang baru masuk ke mobilnya.
"Thanks, aku tahu kok!" timpal Kiara percaya diri. "Aku gak mau kalau disuruh begini lagi, capek mewek mulu!" gerutu Kiara dengan tampang cemberut.
"Tapi tadi kamu keren, kok Ra nangisnya!" cengir Jonathan memuji sahabatnya.
"Akting kamu juga lumayan, lah!" Kiara membalas pujian Jonathan meski setengah enggan memberi pujian. "Pokoknya Rama harus traktir kita selama sebulan penuh!" lanjut gadis itu menghitung berapa banyak yang harus sahabatnya berikan pada dirinya untuk bantuannya tadi.
"Setuju!" timpal si Jo dengan cepat. Keduanya tertawa bersama, berjanji akan menguras isi dompet sahabatnya yang tebal itu. Jonathan pun mengantarkan Kiara sampai ke rumah gadis itu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Kakek," panggil Kiara begitu dia masuk ke rumah.
"Sudah selesai misi aktingnya?" tanya si kakek yang sudah diberitahukan semua tentang misi yang mereka buat.
Kiara mengangguk cepat. "Udah, dong!" aku gadis itu dengan ceria.
"Mata kamu sembah," timpal si kakek mendengus kecil.
"Bukankah itu artinya akting Kiara keren, kek? Saking menjiwainya, Kiara malah nangis beneran tadi!" aku Kiara memuji dirinya sendiri.
Kiara mengangguk paham. "Ara yakin mereka akan melakukan hal serupa kalau Ara yang kesusahan saat ini!" timpal Kiara yakin. "Ara ke atas dulu, ya, kek?" tambah gadis itu pamit ke kamarnya.
Kini giliran si kakek yang mengangguk. "Sana istirahat!" timpal si kakek mengizinkan cucunya pergi.
Kiara segera ke kamarnya, dia membersihkan wajahnya dan mengganti pakaian. Setelahnya gadis itu mengirim pesan ke Andi, bahwa tugasnya susah selesai. Satu pesan lagi Kiara kirim pada Rama, gadis itu minta ditraktir makanan mahal selama seminggu penuh sebagai bayaran. Rama hanya mengirim emot jempol sebagai jawaban, artinya dia setuju saja dengan permintaan kawannya itu.
Kiara yang memejamkan mata untuk mengistirahatkan matanya, sama sekali tak tahu bahwa rumor menyebar dengan kecepatan cahaya di kantor sahabatnya. Dia dan Rama dijadikan topik pembicaraan, tentunya Rama yang paling banyak dibicarakan.
Rama sendiri tak ambil pusing, dia tak mau tahu dan tak pernah tahu gosip apa saja yang sedang menyebar di kantornya. Dia malah berharap gosip tentangnya akan semakin memanas dan membesar seiring berjalannya waktu. Lagi pula gadis bayangan tak akan menyakiti dan mengganggu dirinya, dia hanya harus bertampang datar seperti biasa saja dan itu tak sulit bagi Rama.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Sesuai janji, Rama mentraktir ketiga kawannya makan-makan selama seminggu penuh. "Gimana rumornya? Oke?" tanya Kiara ingin tahu.
Rama mengangkat bahu acuh. "Entah,aku gak tahu. Aku gak pernah ikutan dengerin rumor gak jelas gitu," balas pemuda itu dengan entengnya.
"Lah, kamu gak tahu dong kita berdua berhasil apa gak?" timpal si Jo bertanya.
"Bener kata Jo, percuma dong aku sampai mewek-mewek gitu!" tambah Kiara mendengus pelan.
"Kayaknya sih berhasil-berhasil aja. Soalnya udah gak ada yang nyodorin anak, cucu, atau ponakan mereka untuk dikenalkan sama aku," ucap Rama datar.
__ADS_1
"Dan Rama pun aman," timpal Andi dengan bangga, rupanya tak sia-sia dia membuat skenario sepanjang itu. Ternyata ada hasilnya juga yang terlihat.
"Thanks all, makan yang banyak!" kata Rama sambil menarik sudut bibirnya ke atas. memamerkan senyum tipis andalannya.
"Gak usah disuruh,aku emang niat ngurangin isi dompet kamu, Ram!" aku Kiara terkikik jahil.
"Aku juga!" timpal si Jo angkat tangan.
"Hitung juga aku yang ngasih ide sebagus ini!" tambah Andi nyengir lebar.
"Habiskan, pelan yang banyak!" kata Rama menimpali. "Sebanyak apa pun yang jalan makan juga gak akan bikin dompet aku kosong!" lanjut pemuda itu dengan pongahnya, tapi apa yang Rama katakan memang kenyataan dan tak dilebih-lebihkan sebenarnya.
Selesai makan-makan,Kiara minta ditraktir es krim. Rama hanya mengangguk setuju, jadilah ketiga kawannya itu memborong es krim di super market. Wajah ceria ketiganya membuat Rama mengingat masa-masa kecil yang dia lewati bersama Andi, mereka juga seperti itu dulu. Suka berbagi dan makan yang manis-manis. Hingga Rama sedikit dewasa dan jarang tersenyum lagi pada dunia, terlalu malas mendengar jeritan tak jelas dari orang yang melihat senyumnya. Makanya Rama memasang wajah datar sebagai perisai agar tak terganggu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Hari ini Rama sengaja turun lebih telat dari biasanya, itu pun atas saran dari kawannya, siapa lagi kalau bukan Andi tentunya. Rama melangkah dengan pelan, mendekati kerumunan karyawan di depannya. Dia mendengar namanya disebut-sebut berulang kali, akhirnya Rama pun ikut bersuara setelah mendengar cukup lama. "Ada apa dengan saya?" tanya pemuda itu berdiri menjulang tinggi dengan tampang datar melihat bawahannya yang sibuk bergosip di jam kerja.
"Pak Rama!!!" pekik mereka semua terkejut. "Maafkan kami, pak! Kami akan segera kembali bekerja!" lanjut mereka ketakutan, siapa yang tahu mungkin mereka akan dipecat karena telah bergosip tentang bos mereka.
"Kenapa panik?" tanya Rama dengan nada santai. "Tadi saya dengar kalau nama saya disebut-sebut, jadi kenapa dengan saya?" lanjut Rama dengan tatapan mengintimidasi. "Kalau ada pertanyaan, tanyakan saja langsung kepada saya. Jangan asal bicara tak jelas!" tambah Rama dengan nada datar.
"Maaf, pak. Kami kelewatan, kami ceroboh! Tolong jangan pecat kami, pak," pinta salah satu dari mereka mewakili.
"Saya tak pernah bilang akan memecat kalian, bukan?" tanya Rama menimpali. "Jadi tak akan ada yang dipecat," kata pemuda itu berjanji. "Setidaknya untuk hari ini!" Rama tersenyum miring menatap wajah-wajah yang menggosipkan dirinya satu-persatu. Seolah dia sedang mengingat siapa-siapa saja yang harus ditandai dan dipecat saat waktunya tiba.
"Ampuni kami, pak. Kami tak akan lalai lagi!" kata mereka bersamaan.
Rama melambaikan tangannya ke udara dengan ringan. "Sudahlah, sana kembali bekerja!" ucap Rama dengan nada bossy. "Ingat, jangan bergosip di saat jam kerja! Saya tak suka kalau kinerja kalian menurut hanya karena sibuk bergosip!" lanjut pemuda itu memperingatkan karyawannya.
Rama masuk ke ruangannya, begitu dia sampai di dalam sana. Dia pun tersenyum dengan wajah yang terlihat puas. "Selamat datang hari-hariku nan damai!" kata pemuda itu seraya memejamkan mata, seolah sedang menikmati ketenangan yang dia rasakan saat ini.
"Harusnya Andi jadi sutradara saja, kenapa harus masuk jurusan hukum dengan bakatnya itu?" gumam Rama berpikir tentang kawannya. "Tak penting, apa pun pilihannya, dia tetap kawan aku!" lanjut pemuda itu dengan nada bangga dan yakin.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Andi tak bisa masuk ke kelasnya, dia jatuh sakit karena kehujanan kemarin, tepatnya bermain hujan sebenarnya. Kini pemuda itu sedang berbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya. Tentu saja Rama tak tahu akan hal ini, Andi sendiri yang meminta agar dirahasiakan dari sahabatnya. Mungkin agar dia tak membuat sahabatnya khawatir dan berakhir menggangu jadwal harian Rama yang sangat padat. Lagian menurut Andi, dia hanya demam biasa, ditambah sedikit pusing, dan juga tak bertenaga untuk bergerak. Makanya pemuda itu menghabiskan waktu di atas tempat tidur dan beristirahat sepenuhnya, berharap dia akan segera sembuh sebelum kawannya pulang ke rumah.
Sayangnya, apa yang Andi harapkan tak terwujud. Demam pemuda itu makin parah, sangat tinggi disertai dengan gejala menggigil. Rama yang panik dan gusar, menghardik semua pelayan yang bekerja di rumahnya. Menyalahkan mengapa mereka tak memberitahukan pada dirinya kalau sahabatnya sedang sakit. Semua diam, tak berani menjawab kalau itu permintaan dari tuan muda keduanya. Rama pun menghela napas panjang dan memerintahkan untuk segera memberitahukan semuanya kalau hal seperti ini terjadi lagi. Rama juga meminta maaf sudah bersikap kasar, semua pelayan paham mengapa tuan muda mereka se-khawatir itu. Itu semua karena kedua tuan muda mereka saling menyayangi dan menjaga satu sama lain, makanya mereka saling khawatir dan perhatian sebagai saudara.
Rama menunggui Andi, dia duduk di kursi, tepat di samping tempat tidur kawannya yang sedang berbaring. Rama juga menggantikan kompresan Andi berkali-kali, pemuda itu enggan tertidur, takut kalau kawannya semakin parah saat dia memejamkan matanya. Makanya Rama begadang sambil merawat Andi, untungnya demam Andi semakin turun. Kini pemuda itu tak lagi mengigau atau pun menggigil, keesokan paginya bahkan Andi bangun dengan perasaan segar, seolah sakitnya kemarin hanya sebuah ilusi saja. Andi menatap Rama yang menatap lurus dirinya, pemuda itu hanya bisa menggaruk kepalanya sambil nyengir kuda. Rama menghela napas panjang, di satu sisi dia bersyukur kawannya sudah sembuh, tapi di sisi lain dia rasanya ingin mengomeli sahabatnya itu. "Kalau sudah enakan, sarapan sama terus minum obat!" ucap Rama sebelum dia angkat kaki, kembali ke kamarnya. Andi mengernyit heran, sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya. Efek sakit membuat kinerja otak Andi sedikit berkurang pagi ini.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1