Topeng.

Topeng.
58.


__ADS_3

Mimpi-mimpi buruk Andi terus datang, semakin lama semakin jelas yang dia lihat. Dia terkadang melihat darah, terkadang juga melihat kobaran api yang ingin melahapnya. Seorang wanita yang memanggilnya dengan lembut, tapi dia tak bisa mendengar apa yang dikatakan wanita itu. Lalu mimpi terakhirnya, dia melihat kalau dia diselamatkan oleh seseorang yang seumuran dengannya. Sayangnya dia tak bisa melihat wajah penolongnya itu.


Akibat pengaruh mimpi buruk yang selalu menghantui tidurnya, Andi pun terlihat kurang ceria dan lebih pendiam, pemuda itu juga menunda-nunda waktu tidurnya meski matanya terlihat sangat mengantuk.


Andi mengetuk kamar Rama, Rama pun membukakan pintu untuk kawannya itu. "Ada apa?" tanya Rama yang masih memakai kacamata baca.


"Belum tidur?" tanya Andi menggaruk pipinya canggung.


"Sudah! Ini cuma salah satu kloningan aku aja?!" balas Rama datar.


"He-he, kan aku cuma basa-basi, Ram," cengir Andi menatap kawannya.


Rama menghela napas panjang. "Ada apa? Gak bisa tidur lagi?" tanyanya dengan suara yang lebih bersahabat. "Jangan terlalu dipikirkan, kamu sendiri yang bilang kalau itu hanya mimpi buruk yang gak akan jadi nyata, kan?!" lanjut pemuda itu mengingatkan kawannya.


"Tetap saja, aku benci memejamkan mata kalau sendirian," keluh Andi.


"Masuk, gih! Tapi jangan kuasai semua tempat tidurku?!" kata Rama membuka lebar pintu kamarnya. Dia sudah menebak kalau kawannya itu pasti meminta untuk diizinkan tidur di kamarnya. Salahkan bantal yang dibawa kawannya itu, jadi dia tahu tanpa harus Andi mengatakan apa yang dia inginkan.


"Siap laksanakan, bos!" kata Andi bersemangat, bersyukur ada Rama sebagai sahabat yang mau mengerti dirinya. Pemuda itu pun menginvasi setengah kasur kawannya dan terlelap begitu dia berbaring di sana.


Rama menggelengkan kepalanya pelan melihat kawannya yang dengan mudahnya tertidur di kamarnya. Pemuda itu pun kembali membaca buku yang dia baca sebelumnya, mata Rama belum mengantuk, makanya dia melanjutkan kegiatannya tadi sebelum Andi datang.


Saat hampir tengah malam, Rama membuka kacamata bacanya. Dia bersiap untuk tidur saat mendengar kawannya bergumam tak jelas. Tak berniat membangunkan, Rama mendengarkan lebih dulu. Tangan Andi menggapai-gapai udara kosong, mulutnya menggumamkan rintihan tak jelas. Rama pun menghela napas dan membangunkan kawannya. "An, An, hei, bangun!" ucap Rama mengguncang pelan tubuh kawannya.


"Ram?" ucap Andi terlihat linglung.


Rama tersenyum tipis. "Aku mau tidur, jadi geser dikit, dong," kata Rama mengatakan alasan dia membangunkan Andi.


"Ahh, aku megambil banyak tempat di kasur kamu, ya?" timpal Andi menyingkir ke tepi.


"Jangan terlalu pinggir, nanti jatuh. Aku gak ada pengalaman nolongin orang jatuh dari kasur," kata Rama bercanda. Andi mengangguk paham. "Ayo tidur lagi, masih malam," lanjut Rama memejamkan matanya. Andi pun mengangguk dan ikut memejamkan matanya lagi. Dia tak sadar kalau dia tadi bermimpi buruk makanya dibangunkan oleh kawannya.


Rama membuka matanya, menatap penuh penyesalan kawannya yang telah kembali tertidur. Gumaman kata maaf terucap tanpa suara dari belah bibir pemuda itu. Rama yakin hanya masalah waktu dan kawannya akan tahu semua kebenaran.


"Semua yang akan terjadi maka terjadilah, aku akan menghadapi semua dan meminta pengampunan nanti!" gumam Rama sebelum kembali mencoba untuk terlelap.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama yang biasa bangun pagi, terbangun lebih dulu dari pad kawannya. Dia bergerak sepelan mungkin agar tak mengganggu tidur kawannya yang terlihat sangat nyenyak. Selesai mandi dan berpakaian, Rama pun turun ke bawah dan sarapan. "Bi, hari ini Andi gak ada kelas, biarkan dia tidur lebih lama," ucap Rama saat dia akan memulai menyantap sarapannya.


"Jadi, bersihkan kamar saya ketika Andi sudah bangun saja!" ucap pemuda itu lagi.


"Baik, tuan muda," balas si bibi, dia akan memberitahukan pesan majikannya itu pada pelayan lainnya.


"Saya pergi dulu, bi," pamit Rama setelah dia selesai sarapan.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, tuan muda!" balas si pelayan itu.


Selang satu jam, Andi turun dari atas. Wajah pemuda itu terlihat lebih cerah, mungkin karena tidurnya tak terlalu terganggu. "Pagi," ucap Andi menyapa disertai cengiran lebar.


"Pagi, tuan muda. Sepertinya tidur anda nyenyak," balas pelayan yang terlihat lebih senior dari yang lain.


"He-he, mungkin karena saya tidur di kamar Rama," balas Andi.


Pelayan tadi tersenyum hangat. "Silakan nikmati waktu anda, saya akan membereskan kamar Tuan Rama,"ucap si pelayan meninggalkan Andi,.agar pemuda itu bisa sarapan dengan santai.


Andi yang merasa bosan mengutak-atik ponselnya, capek melihat layar ponsel, dia pun mulai menjelajahi dunia lewat laptopnya. Bosan dengan kegiatan tersebut, Andi berbaring di sembarang tempat sambil menghembuskan napas malas. "Fyuh, bosan," keluh pemuda itu menatap langit-langit dengan ekspresi malas. "Apa aku main aja ke kantor Rama, ya?" gumam Andi bertanya pada dirinya sendiri.


Andi berdiri, menepuk tangannya dua kali. "Baiklah, sudah diputuskan. Aku akan ke tempat Rama, siapa tahu ada yang bisa aku bantu, he-he," kata pemuda itu penuh semangat. Andi berganti pakaian dengan cepat, dia langsung berangkat setelah pamit pada pelayan di rumahnya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di sinilah Andi sekarang, berdiri di depan kantor yang menjulang dengan tinggi. Andi pun disambut karena wajahnya sudah dikenali, dia dikenal sebagai cucu kedua dari almarhum pemilik perusahaan sebelumnya. "Selamat datang, tuan muda. Apa yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria paruh baya dengan sopan.


"Saya ke sini hanya ingin melihat Rama, jadi jangan buat keributan yang tak diperlukan, pak," balas Andi disertai senyum simpul.


Pria paruh baya itu mengangguk paham. "Saya mengerti, mari saya antar ke tempat Tuan Rama," katanya mempersilakan Andi berjalan di depannya.


"Terima kasih, ya pak," ucap Andi.


"Sudah tugas saya, tuan," balas si pria paruh baya dengan cepat.


Andi tersenyum maklum. "Tak apa, saya bisa masuk sendiri. Makasih, pak," balas Andi mengucapkan terima kasih sekali lagi. Pria tua tadi pun meninggalkan Andi sendirian, Andi menempelkan telinganya ke pintu, berharap ada yang bisa dia dengar dari dalam sana.


"Aisshh, pintunya terlalu tebal, tak ada yang bisa kudengar," keluh Andi menyalahkan pintu yang ada di depannya. Andi pun mengetuk pintu itu, setelah mendengar balasan dari dalam, Andi langsung masuk disertai senyum lebar.


"Huh?" gumam Rama mengernyitkan keningnya. Seingatnya dia tak punya janji dengan kawannya itu, kenapa kawannya malah ada di depannya saat ini.


"He-he, aku terlalu bosan di rumah. Mau ngajak Jo atau Kiara keluar, mereka ada kegiatan masing-masing. Makanya aku memutuskan ke sini aja," jelas Andi seakan mengerti arti gumaman kawannya itu.


Rama menghela napas panjang. "Tapi aku tak bisa menemani kamu, An. Lihat, pekerjaanku masih banyak," timpal Rama menunjukkan dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya, dokumen yang minta diselesaikan dengan cepat dan tepat.


"Tak apa, tak apa, jangan khawatir. Kalau perlu aku bisa membantu, yah walau tak banyak," balas Andi cepat.


Rama tersenyum tipis. "Baiklah, lakukan sesukamu. Aku akan mengerjakan semua dengan cepat," kita Rama sebelum kembali membenamkan dirinya ke tumpukan pekerjaan yang dia miliki. Andi mendekat, mengambil satu dokumen, mencoba membaca dan sedikit membantu sahabatnya. Akhirnya belum sampai lima belas menit, Andi menyerah. Dia buta salah hal mengurus dokumen bisnis, dia hanya bisa mengerjakan semua yang berhubungan dengan hukum. Andi pun memilih duduk di kursi yang ada di depan meja Rama, dia menjadikan dirinya sebagai petugas penerima telepon, agar kalau ada telepon masuk, sahabatnya tak akan terganggu dan tetap bisa mengerjakan dokumen-dokumen yang menumpuk tersebut.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Pukul dua belas kurang, Rama melirik jam tangannya. Dia pun membereskan pekerjaannya dan bersiap meninggalkan kantor. "Mau makan di kantin?" tanya Rama membenarkan jasnya.


Andi mengangguk penuh semangat. "Ide bagus, kita gak perlu jalan jauh untuk nyari makan!" kata pemuda itu menanggapi. Rama tersenyum tipis, keduanya pun turun menggunakan lift dan sampai ke kantin kantor. Di sana Rama dan Andi mengantri makanan dan makan bersama pegawai yang lain. Banyak yang menegur mereka, terlebih menegur Rama sebagai atasan di sini. Andi membalas sapaan tersebut dengan sangat ramah, malah kelewat ramah menurut Rama. Sedangkan Rama, pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi semua sapaan yang dia terima.

__ADS_1


"Ram, senyum dikit napa. Mereka bawahan kamu, loh!" tegur Andi berbisik pelan.


"Dan sapaan mereka tak akan pernah berhenti," balas Rama datar. Dia sudah pernah mencoba membalas sapaan seperti yang disarankan kawannya, tapi dalam satu jam, Rama tak pernah berhenti mendapat sapaan. Bahkan orang yang sama terkadang mengapa lebih dari sekali, hanya untuk melihat senyum darinya. Andi tergelak pelan, menertawakan ucapan kawannya yang terdengar seperti kebohongan.


Suara ketukan meja menginterupsi kedua sahabat itu, Andi dan Rama mendongak, melihat siapa pelaku yang mengetuk meja mereka. "Keberatan kalau saya ikut duduk di sini?" tanya orang tersebut. Oke, Andi memindai dengan cermat. Dari penampilan, sangat enak dilihat. Terlihat pintar dan sangat rapi. Wajahnya hanya ditutupi make-up tipis, nilai tambah lah karena bukan tante-tante dengan dandanan menor yang datang mendekati mereka. Tapi sepertinya bukan dia yang dimintai pendapat, jadi Andi memilih diam sambil menatap sahabatnya.


"Silakan, ini tempat umum!" balas Rama datar.


"Terima kasih, bos," ucap wanita itu senang. Dia merasa kalau rencana awalnya mendekati bosnya cukup berjalan dengan mulus. "Saya Annisa, resepsionis baru di sini," ucap wanita itu Rama berkenalan dengan Andi.


Andi tersenyum lebar. "Andi, sahabat Rama satu-satunya!" kata Andi dengan bangga mengaku sebagai sahabat dekat Rama.


"Wah, benarkah? Artinya anda sangat dekat dengan bos kami?" timpal Annisa mencoba mengorek informasi soal bosnya.


"Tentu saja, bahkan semalam saya tidur di kamar yang sama dengan Rama!" balas Andi memamerkan kedekatan antara dirinya dan sahabatnya.


Wanita itu tersedak saking terkejutnya dia mendengar ucapan Andi barusan. "A–apa?" tanyanya menatap Rama dan Andi bergantian. Apa bosnya yang dingin itu karena dia belok, tapi dia tak pernah melihat bosnya mengganggu atau mencoba menggoda karyawan di perusahaan mereka. Apa harus seseorang dengan tampang manis dan kecil seperti pemuda di sampingnya ini, atau harus ceria dan murah senyum. Berbagai pikiran rumit dan tak bisa dipercaya berkeliaran di kepala kecil wanita itu, dia menatap tak percaya keduanya. Menyayangkan manusia seindah bosnya ternyata memiliki keanehan juga.


Rama terlihat acuh, seakan tak mendengar apa yang dikatakan kawannya. Dia malah mengulurkan tangan dan membersihkan sudut bibir Andi dengan tisu. "Makan yang benar, jangan bicara terus," tegur pemuda itu dengan wajah datar. Tak peduli kalau pegawai yang duduk di dekatnya membuka mulut lebar melihat kelakuan dirinya. Terserah mau berpikir apa, Rama tak bertanggung jawab untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang mereka simpulkan.


"Baik, bos!" timpal Andi tersenyum lebar.


Rama mengusak rambut kawannya, sebenarnya ini seperti kebiasaan dan bukan gerakan yang disengaja. "Dasar, cepat makan. Aku harus balik kerja lagi," ucap Rama disertai senyum tipis meski hanya bertahan beberapa detik. Annisa merasa patah hati, pangeran impiannya, lelaki pujaannya, malah tak melirik wanita. Pemuda itu malah menyukai pria, baru kali ini Annisa merasa tak suka dengan takdirnya yang dilahirkan sebagai wanita.


"Saya permisi, bos," kata Annisa lemah, hatinya terlalu sakit untuk melihat kelakukan manis bosnya.


"Hmm, ya," balas Rama singkat.


"Tapi makanan anda belum habis," ucap Andi setengah heran.


"Mungkin lagi diet atau ada kerjaan mendesak!" timpal Rama. "Urus makananmu sendiri," lanjut pemuda itu kembali menyuruh kawannya melanjutkan makannya lagi. Andi mengangguk patuh, kembali menyantap makan siangnya tanpa berbicara lagi. Rama menarik sudut bibirnya, ada gunanya juga kawannya datang kemari. Setidaknya karena hal ini, dia akan lebih tenang tanpa gangguan dan para macan betina yang seakan siap menerkam dirinya kapan saja.


"Aku kenyang, makanannya enak, Ram," ucap Andi setelah menghabiskan makanan yang dia ambil. "Yah, walaupun tak seenak makanan bibi tentunya," lanjut pemuda itu disertai cengiran lebar.


"Makanya besok-besok di rumah saja, jangan ke sini. Biar bisa makan makanan rumah," timpal Rama malas.


"Bosan, Ram. Makan sendirian itu gak enak tahu," keluh Andi menggembungkan pipinya. Andi adalah seorang yang sangat ceria, selalu menunjukkan ekspresi yang dia rasakan. Dirinya tak pandai menutupi emosi yang sedang dia alami. Lain halnya dengan Rama, pemuda itu selalu bermain dengan emosinya. Hanya di depan Andi saja dia bisa lebih ekspresif, tapi terkadang Rama masih bisa menyembunyikan apa yang tak ingin dia tampakkan pada kawannya itu. Termasuk sisi dirinya yang buruk, sisinya yang bisa berubah jahat kapan saja. Rama tak ingin kalau sampai sahabatnya tahu siapa dia sebenarnya di masa lalu, karena bisa jadi dia akan dibenci karena masa lalunya yang terlalu gelap dan buruk.


Rama pun kembali bekerja, kali ini Andi memilih berbaring di ruang istirahat Rama, ruangan yang berada di belakang rak besar, tepat di sisi kanan meja Rama. Jam tiga lewat sedikit, pekerjaan Rama telah rampung semua. Pemuda itu merenggangkan tangannya lalu berdiri, dia berdiri diam di depan jendela kantornya. Melihat pemandangan jauh di depan sana, semua terlihat kecil dari atas sini, terlihat seperti miniatur mainan saja.


"Sampai kapan aku di sini?" gumam Rama, dia tak sadar kalau sahabatnya sudah berdiri tak jauh darinya. Andi berniat mengagetkan Rama, tetapi malah dirinya yang merasa terkejut mendengar gumaman sahabatnya.


"Kamu beneran bakalan pergi, Ram?" tanya Andi menatap lurus Rama, meminta penjelasan dari sahabatnya itu.


^^^°°°°°^^^

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2