Topeng.

Topeng.
64.


__ADS_3

Sabtu dan minggu berlalu dengan cepat, tak terasa hari senin sudah hadir lagi. Rama kembali sibuk, sedangkan untuk Andi, Jo, dan Kiara, ketiganya harus kembali berurusan dengan pelajaran dan tumpukan tugas-tugas yang membuat pening kepala.


"Beliin minuman dingin, dong. Tolong," pinta Kiara yang baru saja menyelesaikan satu kelas dengan tampang kusut.


"Kenapa? Materinya susah, ya?" tanya Andi menatap iba. Kawannya terlihat sangat lemah dan kehabisan tenaga bahkan untuk bergerak lagi pun tak sanggup.


Kiara mengangguk pelan. "Sa ... ngat," katanya lirih.


"Tunggu bentar, aku belikan kopi dingin," balas Andi sebelum dia meninggalkan kawannya untuk membelikan minuman. Yah, siapa tahu kopi dingin bisa membantu kawannya kembali bersemangat meski tak banyak.


"Ahh, rasanya aku kembali hidup," desah Kiara begitu dia meminum minuman yang dibelikan Andi barusan. "Makasih, ya," lanjut gadis itu.


"Gak masalah," timpal Andi. "Aku tinggal, ya. Kelas aku bentar lagi," lanjutnya sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Kiara mengangguk sebagai balasan. Andi pun berdiri dari duduknya dan bersiap pergi ke kelas. "Makasih sekali lagi, An!" kata Kiara terlihat lebih cerah dari pada tadi.


"Yo'i," balas Andi sebelum benar-benar pergi. Tinggallah Kiara di meja itu sendirian, gadis itu pun mengambil ponselnya untuk mengisi waktu sebelum kelas selanjutnya tiba.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama saat ini sedang berada di panti asuhan, bukannya bermain, pemuda itu sedang bekerja saat ini. Katakan tanah panti asuhan ini telah menjadi milik perusahaannya, jadi dia sedang mencarikan tempat baru untuk anak-anak yang ada di sini. Salahkan saja para pegawainya yang tak bisa membujuk pihak panti untuk bersedia pergi, makanya dia yang harus turun tangan. Kedatangan Rama tak disambut hangat oleh pihak panti, mereka menatap penuh permusuhan secara terang-terangan pada Rama. Sayangnya Rama terlalu kebal dengan tatapan seperti itu, jadi dia tak terlalu menggubris sama sekali.


"Saya tetap pada putusan saya, kami tak bisa pindah dari sini. Bagaimana anak-anak? Mereka tak akan punya tempat kalau panti ini digusur," ucap si kepala panti ketika mereka sedang berunding untuk yang terakhir kalinya.


"Tapi ini tanah milik perusahaan saya. Saya juga akan mencarikan tempat lain, jadi saya harap anda bisa mempertimbangkan lagi keputusan anda, kepala panti!" balas Rama tegas.


"Kamu tak bisa," ucap si kepala panti seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Banyak kenangan yang kami jalani di panti ini, apa kamu bisa beradaptasi di tempat baru?" lanjut si kepala panti dengan tatapan sendu.


"Kenangan bisa dibuat kembali, tapi tempat ini akan menghilang selamanya. Suka atau tidak suka, itulah yang akan terjadi! Jika anda tak mengubah keputusan anda, kita akan bertemu di pengadilan. Pada saat itu, jangankan kenangan, anda bahkan tak akan memiliki tempat untuk mengurus anak-anak di sini?!" Rama menatap lurus si kepala panti, menyatakan kalau dia bersungguh-sungguh dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


Si kepala panti meremas tangannya, dia sadar kalau panti asuhan yang dia kelola ini berdiri di tanah milik orang. "Beri saya waktu sedikit lagi, saya tak bisa membuat keputusan sendiri," pinta si kepala panti dengan tatapan penuh permohonan.


"Tiga hari! Saya akan menunggu sampai tiga hari ke depan. Jika keputusan anda masih sama, maka kita akan bertemu di pengadilan!" Rama langsung pergi begitu melihat si kepala panti mengangguk sebagai balasan. Tentu saja dia sudah pamit sebelum pergi.


"Ahh, aku merasa seperti penjahat yang mengancam orang baik," desah Rama begitu dia masuk ke mobil.


Rama menatap panti yang tadi dia datangi, dalam beberapa bulan akan ada bangunan baru di kawasan ini. Dan itu akan menjadi salah satu properti miliknya. "Aku harus mencarikan lokasi yang lebih baik, dekat dengan fasilitas umum dan hal lainnya. Yah, setidaknya agar aku tak menjadi orang jahat sepenuhnya di mata anak-anak itu," kata Rama sebelum melajukan mobilnya, meninggalkan lokasi panti tersebut.


"Cari lokasi yang tepat dengan lingkungan yang terbaik untuk pembangunan panti! Secepatnya?!" kata Rama setelah dia sampai di ruangannya. Dia berbicara dengan asisten kepercayaannya, tentu saja kinerja asistennya itu tak perlu diragukan lagi.


"Baik, pak. Tapi maaf, apa saya boleh bertanya?" ucap si asisten sopan.


"Katakan!" balas Rama singkat sambil mengurus dokumen yang sudah menumpuk di mejanya, padahal tadi mejanya sangat bersih dan sekarang tugasnya kembali menumpuk.


"Sebenarnya anda tak perlu mencarikan lokasi baru untuk panti itu, tapi kenapa anda tetap melakukan itu, pak?" si asisten membenarkan letak kacamatanya.


"Anggap saja saya tak ingin diingat sebagai orang jahat," balas Rama tersenyum tipis.


"Saya mengerti, pak. Tugas dari anda akan saya lakukan secepat yang saya bisa," balas si asisten, setelahnya pria itu menunduk sopan sebelum meninggalkan ruangan Rama.


"Baiklah, mari selesaikan ini sebelum pulang," gumam Rama mengubur dirinya di tumpukan dokumen yang harus dia kerjakan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Aku pulang," ucap Rama begitu dia sampai di rumah.

__ADS_1


"Selamat datang, tuan muda," ucap bibi pelayan menyambut kedatangan majikannya.


"Bibi udah balik? Andi belum ngasih tahu saya," kata Rama menatap si bibi sambil tersenyum tipis.


"Saya hanya rindu membereskan rumah ini, tuan muda. Makanya bibi kembali lebih cepat," aku si bibi tersenyum hangat.


"Akhirnya, kita berdua bisa makan masakan bibi lagi," kata Andi yang baru turun dari tangga.


"Oh, jadi kamu terpaksa makan masakan aku, ya?" ketus Rama berpura-pura marah.


"Oh, tentu saja tidak. Masakan Rama adalah yang terbaik dari yang paling baik?!" balas Andi cepat sambil nyengir kuda, jangan lupakan kedua jempolnya yang mengacung tinggi ke arah sahabatnya.


"Ho-ho, bibi jadi ingin mencicipi masakan tuan muda," timpal si bibi ikut bercanda dengan kedua majikannya.


"Suruh aja Rama masak, bi. Kan bibi baru sampai, jadi pasti masih lelah karena perjalanan yang cukup jauh dan lama!" celetuk Andi tiba-tiba.


"Ahh, itu tidak benar, tuan muda kedua. Saya tak berani begitu," balas si bibi menolak dengan cepat. "Lagipula saya sudah menyiapkan makan malam sederhana untuk kedua tuan muda saya," lanjut si bibi mengaku.


"Ram, mandi gih. Aku tunggu di meja makan," kata Andi bersemangat.


Rama mengangguk kemudian naik ke kamarnya. "Aku mandi dulu bentar," kata Rama sebelum pergi.


Selesai mandi, Rama pun turun. Dia melihat kawannya sedang duduk manis menunggu kedatangannya. Keduanya pun menikmati makan malam yang disiapkan oleh sang bibi pelayan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Nge-game yuk, Ram?" ajak Andi setelah mereka menghabiskan hingga makanan penutup.


"Jangan hari ini, aku lelah," kata Rama dengan nada rendah, jelas kalau dia memang kecapekan.


"Aku gak selelah itu, oke. Aku cuma lagi malas dan tak ingin bermain game. Kita nonton aja, gimana? Lagian aku juga gak bakalan bisa tidur secepat ini," aku Rama menatap kawannya.


"Oke, aku bakalan minta cemilan di dapur. Kamu pilih filmnya," kata Andi langsung melompat pergi sebelum mendengar persetujuan dari kawannya. Rama menggelengkan kepalanya tak berdaya, kawannya itu sungguh sesuatu sekali. Sangat bersemangat dan hiperaktif.


Andi kembali, membawa cemilan dan air berkarbonasi. Teman wajib saat menonton katanya dan harus ada. Keduanya menonton bersama, sengaja Andi mematikan lampu agar lebih berasa nontonnya katanya.


"Ram, aku disuruh magang biar lebih tahu gimana dunia bisnis," kata Andi tanpa menatap sahabatnya, dia tetap fokus menonton film.


"Terus? Udah nemu tempat yang tepat?" tanya Rama. "Mau di tempat aku aja?" tawar pemuda itu.


"Biar aku nyari dulu, deh. Ntar kalau gak dapat baru minta sama kamu, he-he," cengir pemuda itu menatap Rama sekilas.


"Semangat dan sukses!" timpal Rama datar menyemangati kawannya.


"Sip, makasih!" kata Andi menimpali.


Usai film berakhir, Rama dan Andi memilih masuk ke kamar mereka masing-masing. Malam susah cukup larut, bahkan kedua mata mereka sangat ingin terpejam. Keduanya pun beristirahat agar bisa menjalani hari esok dengan penuh tenaga.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Seminggu berlalu, Andi magang di salah satu perusahaan yang menjadi partner kerja Rama. Andi tak mengatakan apa-apa, saat ditanya, pemuda itu hanya mengatakan kalau dia sudah mendapatkan pekerjaan. Lagipula dia hanya bekerja untuk mengisi buku tugasnya dan membuat tesis akhir.


Rama tak habis pikir kenapa anak hukum malah diberi tugas untuk magang, apa agar mendapat pengetahuan lebih dalam atau ada kegunaan lain. Andi sendiri tak paham, tapi yang namanya tugas harus dikerjakan sesusah apa pun itu.


Andi diberikan pekerjaan remeh, seperti membuatkan minuman, memfotokopi, atau terkadang disuruh membeli sesuatu yang bahkan bukan hal penting. Katanya semua anak baru mendapatkan perlakuan seperti itu. Andi menerima semuanya, dia bekerja tanpa mengeluh. Capek, tapi mengeluh juga tak akan membuat pekerjaannya lebih mudah. Itu yang Andi pahami selama dia kuliah.

__ADS_1


Entah kebetulan atau takdir, Rama yang memang harus berkunjung melihat kawannya bekerja seperti itu pun sedikit kesal. Pasalnya kawannya terlihat seperti sedang dipermainkan, dianggap sebagai hiburan di tengah kesulitan kerja mereka. Bayangkan kawannya bolak-balik lebih dari tiga kali hanya untuk mendapatkan suhu yang pas dari minuman yang diminta salah satu pegawai senior di sana. Di satu sisi Rama bangga karena temannya memiliki stok kesabaran yang teramat sangat tinggi, tetapi di sisi lain rasanya dia ingin mengoyak orang yang mengerjai kawannya.


"Ada apa, pak?" tanya si pemilik perusahaan menatap heran rekan kerjanya yang biasanya tak tertarik dengan apa pun. Apa yang sedang dilihat oleh rekan kerjanya itu, apa ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Kalau iya, apa itu. Apa bisa dia gunakan untuk mengikat kerja sama mereka, agar lebih dekat dan menghasilkan banyak keuntungan untuk dirinya.


"Tidak, hanya sedang melihat sesuatu yang membuat sakit mata!" ucap Rama datar tanpa emosi.


Mengikuti arah pandangan rekan kerjanya, si pemimpin perusahaan akhirnya tahu apa yang beliau lihat. "Ahh, itu salah satu anak magang. Mungkin terlihat sedikit keterlaluan, tetapi sebenarnya pegawai saya hanya main-main. Mungkin untuk melepas jenuh mereka selama menghadapi tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya, ha-ha," jelas si pemilik perusahaan tertawa garing.


"Kejenuhan? Begitu, kah?" timpal Rama menarik sebelah bibirnya ke atas.


"Mari lewat sini, pak!" ucap si pemimpin dengan sopan, tersenyum senang memikirkan berapa banyak investasi yang akan dia dapatkan kali ini.


Bukannya mengikuti si pria bertubuh tambun tadi, Rama malah melangkah mendekati kawannya. "Ram?" panggil Andi dengan tatapan terkejut. "Ngapain ke sini, he-he," lanjut pemuda itu mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat.


"Tak sopan! Bisa-bisanya bersikap seperti itu pada Pak Rama!" hardik si pemimpin menegur dengan keras Andi. Bahkan telunjuknya menunjuk-nunjuk dada pemuda itu.


"Ahh, maafkan saya. Hanya saja beliau kenalan saya, pak bos," balas Andi menunduk sopan.


"Heh, mana mungkin!" timpal si pemimpin yang dipanggil bos tadi tak percaya. Kalau memang pemuda di depannya ini kenal dengan rekan bisnisnya, tak mungkin dia mau bekerja di perusahaannya yang kecil. Bahkan tak mengeluh atau mengadu saat diperlakukan semena-mena.


Andi menggaruk pipinya bingung. Dia jujur, tapi ucapannya tak dipercaya. "Jam berapa pulang?" tanya Rama menghela napas panjang. Tak menggubris rekan kerja di sebelahnya menganga tak percaya.


"Tuan, pak, anu, dia, itu ...?" ucap si bos bingung harus bertanya apa, matanya menatap khawatir ke arah Rama.


"Dia saudara saya, kami tinggal di rumah yang sama dan besar di bawah asuhan orang yang sama yaitu nenek dan kakek kami!" ucap Rama datar. Bagai disambar guntur, gledek, petir, dan lain sebagainya. Si bos berdiri kaku di tempat, menatap takut ke arah Rama dan Andi secara bergantian.


"Anu, itu, ini, tuan, pak, yang mulia, seperti yang saya katakan tadi, ini hanya main-main, ha-ha-ha-ha," kata si bos tertawa kaku. "Kamu sudah bekerja dengan baik, kamu bisa pulang lebih awal hari ini!" kata si bos menepuk-nepuk punggung Andi.


Andi menatap bingung perubahan sikap bosnya itu. "Ya? Tapi, kan pekerjaan saya masih banyak?" bantah Andi.


Si bos melambaikan tangan ke udara. "Bukan masalah, bukan masalah. Masih banyak yang mengerjakan pekerjaan kamu," timpal si bos menyembunyikan keputusannya, investasi yang hampir dia dapatkan bisa-bisa terancam gagal.


"Ayo pulang, kamu tadi naik taksi, kan?" ajak Rama tak peduli dengan ketakutan rekan kerjanya itu.


Andi mengangguk cepat. "Kan aneh kalau pekerja magang, anak kuliahan, bawa mobil keren, Ram!" katanya menjawab ucapan kawannya.


"Kita beli mobil biasa, entah yang bagaimana itu mobil biasa menurut kamu," balas Rama dengan entengnya seolah sedang mengajak membeli permen saja.


"Gak usah, aku gak butuh. Lagian juga magang aku cuma sebentar," kata Andi menanggapi.


"Lakukan sesukamu, tapi kalau kamu masih dipermainkan seperti ini, jangan lupa bilang pada sahabatmu ini. Sekali-kali gunakan saja namaku, An," balas Rama dengan nada tenang, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang menusuk tajam menatap mereka yang mengganggu kawannya satu-persatu.


"Oke, he-he," cengir Andi patuh.


"Ayo balik!" ajak Rama lagi. Andi mengangguk, kembali ke ruang ganti dan mengambil barang-barangnya.


"Tuan, pak? Bagaimana dengan bisnis kita?" tanya si bos ragu-ragu.


"Akan kita bicarakan saat mood ku membaik!" balas Rama datar.


Ahh, pupus sudah. Kapan kira-kira mood dari seorang Rama bisa membaik. Padahal tinggal sedikit lagi dan semuanya dikacaukan karena kebiasaan pegawainya mengganggu anak magang. Si bos akhirnya menghukum semua bawahannya, melampiaskan kemarahan yang tak bisa disalurkannya ke tempat lain. Mau protes, tapi kesalahan memang berada di pihaknya. Mana dia tahu kalau orang yang terlihat seperti rakyat jelata itu ternyata bersaudara dengan rekan bisnisnya. Memangnya dia petugas sensus apa, yang bisa tahu data semua keluarga.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2