
Rama kembali masuk kelas, bisik-bisik berdengung, beberapa mahasiswi melirik cincin yang sedang dipakai Rama. Rama sendiri malah acuh, rencananya berhasil. Untuk sementara dia akan aman dari rentetan surat cinta dan pengakuan secara langsung para gadis yang sama sekali tak dikenalnya.
"Ram, hari ini sedikit aneh, ya kan?" bisik Andi begitu mereka masuk ke kelas, pemuda itu mengedarkan pandangannya.
"Entah, bagiku sama aja," balas Rama tak terlalu peduli.
Andi mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan kawannya. "Nih, ya, biasanya tiap kita datang, ada aja satu atau dua makhluk Tuhan yang cantik mendekati kamu. Lah, hari ini gak ada! Apa jangan-jangan pesona seorang Rama udah ilang, ya?" ucap Andi berusaha berbisik sepelan mungkin.
Rama mengangkat bahu acuh. "Bosan kali," timpal pemuda itu asal menanggapi.dengan santainya.
"Kamu gak ngerasa aneh? Kayak ada sesuatu yang ilang, gitu?!" tanya Andi hati-hati.
"Ayolah, tak ada yang seperti itu. Bukankah ini hari yang damai?" kekeh Rama enteng. Bagi Rama, pagi ini sangat sempurna. Tak ada bau parfum yang menyengat mengelilinginya, tak ada suara bak dengungan lebah yang berisik, tak ada Isak tangis atau jeritan tak jelas karena dirinya menolak gadis-gadis yang terlalu mudah menyatakan cinta. Sungguh sangat sempurna dan damai, tak ada hari yang lebih indah dari hari ini, semoga besok dan seterusnya akan begitu lagi.
Andi merasa perkataan sahabatnya tak salah, tetapi sepertinya dia merasa hari ini ada yang aneh. Tak ada gadis-gadis yang mendekati kawannya seperti biasa, tetapi banyak mata yang menatap sahabatnya, bahkan mereka saling berbisik. "Jangan-jangan ada rumor yang tak kita ketahui tentangmu yang menyebar dan kita belum dengar tentang itu?!" tebak Andi berlebihan.
"Entahlah, aku tak peduli. Kalau bisa melewati hari se-damai ini, aku malah bersyukur dengan rumor tersebut!" balas Rama santai. Sobatnya geleng-geleng kepala dibuatnya. Tapi dia cukup setuju dengan kawannya itu, pagi ini dia tak harus merasa simpati pada para gadis yang sedih kerena ditolak, dia juga tak harus merasa iri karena hanya temannya yang mendapat pernyataan cinta. Semuanya pasti memiliki sisi baik walau seaneh apa pun.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Seminggu setelahnya, Andi menghampiri kawannya segera setelah kelasnya usai. Dia terburu-buru dan sedikit lebih tak sabar. "Ram, Ram, aku akhirnya tahu kenapa akhir-akhir ini kamu diliatin segitunya!" teriak Andi cukup nyaring, karena teriakannya itu, dia malah menarik perhatian orang di sekitarnya.
Rama memasang wajah tanpa emosi. "Tak bisakah kita bicara di rumah?" kata pemuda itu datar, baru seminggu dia menikmati hari yang damai, masa harus berakhir karena ulah sahabatnya sendiri.
"Ini penting, Ram. Semua orang tahu, tapi kenapa aku sahabat kamu malah gak tahu sama sekali?!" tukas Andi seolah dirinya dikhianati sebagai teman.
"Kita bicara di rumah, ok? Tanyakan apa pun, keluhkan semua, tapi diam untuk sekarang, sobat?!" Rama menatap lurus kawannya. Andi tahu kapan dia harus berhenti, jadi dia mengangguk sambil mengunci mulutnya dengan rapat. Kawannya benar, tak seharusnya dia membuat keributan di sini, ini masih lingkungan kampus mereka.
Rama tersenyum tipis, meski senyum itu hanya bertahan untuk sesaat. "Makan, yuk, laper," ajak pemuda itu. Andi mengangguk patuh
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Kiara, gadis itu sudah melupakan kekesalannya pada Rama yang menurutnya sombong. Kini yang tersisa hanya sedikit dendam dan rasa penasaran, bahkan gadis itu menebak-nebak, apa mungkin pria yang ditemuinya beberapa minggu lalu itu memang sengaja bersikap seperti itu untuk menarik perhatian darinya. "Kakek, Ara gak jadi kuliah di luar," putus gadis itu ketika dia dan kakeknya sedang duduk bersantai.
Si kakek menegakkan punggungnya, menoleh dengan cepat dengan mata berbinar bahagia. "Benarkah? Syukurlah, syukurlah," ucap sang kakek kelewat senang, apalagi cucu perempuannya membenarkan apa yang dia tanyakan dengan anggukan kepala.
"Sebagai gantinya, daftarkan Ara ke sini?!" Kiara menyodorkan ponselnya, sebuah kampus beserta alamat lengkapnya tertera di layar ponsel tersebut.
"Di sini? Kamu yakin, sayang?" tanya si kakek meragu.
Kiara menganggukkan kepalanya cepat. "Ya, di sini atau di luar negeri," timpal gadis itu membuat pilihan.
"Di sini, di sini, kakek akan daftarkan sekarang juga agar kamu bisa langsung masuk begitu penerimaan dimulai!" putus sang kakek. Kakek Rian kelewat bahagia, cucunya akhirnya memilih melanjutkan di sini. Bukannya dia tak mampu membiayai jika sang cucu kuliah di luar, hanya saja dia tak suka cucunya tinggal di sana sendirian. Mereka hanya akan bertemu setiap liburan, itu kurang bagi pria tua itu. Sekarang malah cucunya sendiri yang memutuskan untuk kuliah di sini saja, tak perlu berpikir lagi, dia akan melakukan segala cara agar cucunya diterima. Kalau perlu dia akan menjadi donatur tetap di kampus yang cucunya pilih.
"Kakek tak ingin bertanya kenapa Ara berubah pikiran?" tanya gadis itu heran.
__ADS_1
Si kakek menggeleng penuh semangat. "Tak perlu, tak perlu. Apa pun alasannya kakek tak perlu tahu, yang penting kamu gak jadi pergi jauh dari rumah, cucuku," balas Kakek Rian tertawa senang.
"Kakek memang yang terbaik, Ara sayang kakek?!" ucap Kiara manja, dia bahkan melompat untuk memeluk kakeknya.
"Ha-ha-ha, itu karena hanya pria tua ini satu-satunya kakekmu, cucuku yang manis," balas si kakek tertawa bahagia, pria tua itu menepuk-nepuk pelan punggung cucunya.
"Seandainya tuan dan nyonya ada si sini, nona kecil pasti akan lebih bahagia dari sekarang," gumam kepala pelayan yang terharu melihat kedua cucu dan kakek tersebut.
"Hust, nanti didengar nona muda, beliau akan bersedih. Ayo kita pergi saja," ajak bibi pengasuh Kiara sejak kecil. Kepala pelayan mengangguk, keduanya meninggalkan cucu dan kakek yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Begitu sampai di rumah, Andi mengikuti setiap langkah Rama tepat satu langkah di belakang pemuda itu. Dia tak berbicara, tak membuat suara, hanya mengikuti saja. Namun, itu sudah cukup membuat Rama gerah. "Bicara saja kalau ada yang ingin dikatakan, An," tegur Rama yang menyibukkan diri di perpustakaan mini miliknya.
"Nanti aja, aku gak mau ganggu kamu baca," balas Andi cengengesan.
Rama menghela napas panjang. "Dan dengan mengikuti-ku ke sana, ke sini, itu gak mengganggu, ya?!" Rama menutup buku yang dibacanya, menatap serius kawannya.
Andi menggaruk kepalanya yang tak gatal. "He-he, hanya ingin menemani. Menemani, Ram!" kilah pemuda itu tak ingin ketahuan kalau dia memang mengikuti kawannya.
"Baiklah, ayo kita lihat apa yang tadi mau kamu katakan di kampus?!" Andi mengangguk penuh semangat.
"Kamu udah tunangan, kan?" kata Andi menunjuk wajah kawannya. "Dan kenapa kamu malah gak cerita tentang itu sama aku? Padahal aku temen kamu, kita tinggal di rumah yang sama! Kenapa aku malah gak tahu kalau kamu udah punya tunangan?" lanjut Andi tak sabar.
Rama menghela napas lelah. "Pertama, gak ada yang tunangan! Kedua, karena kamu gak tahu, makanya itu semua hanya omong kosong yang disebar sembarangan! Ketiga, aku memangnya bisa tunangan sama siapa? Gak ada yang pernah kutemui, nenek pun gak bilang apa-apa, dan kamu langsung percaya rumor tak jelas begitu? Astaga, An, jangan telan bulat-bulat apa yang kamu dengan, kawan?!" jelas Rama panjang lebar.
"Bodoh, seharusnya kamu tahu kalau itu gak bener. Nenek aja gak buat pengumuman, gak ada pesta juga. Gak mungkin lah nenek biarin aku tunangan diam-diam," balas Rama memutar bola matanya.
"Namanya juga khilaf, Ram. Aku kan kecewa, jadi ya gitu deh. Mana belum lama ini kamu ketemu sama cewek cantik, kan? Itu loh pas kamu minta izin gak masuk gara-gara harus nemenin Om Dani ketemu klien!"
"Ha-ah, jadi kamu ngira hari itu aku tunangan diam-diam? Aku bukan tipe orang yang begitu, kawan. Lagian, tuh cewek gak cantik-cantik amat. Malah cerewet dan sok cantik yang ada?!" dengus Rama mengingat kelakuan Kiara. Jadi cewek kok pede-nya tingkat dewa, merasa semua laki-laki akan menatap dan bertekuk lutut di bawah kakinya. Mana sudi Rama masuk daftar cowok bodoh begitu.
"Seriusan? Kata Om Dani kamu mau aja nemenin tuh cewek keliling. Pas balik kamu juga beli ini-itu untuk nenek dan aku, kan?" tanya Andi memastikan.
"Dan kamu mikir aku ngelakuin itu karena aku bahagia ketemu belahan jiwa aku, gitu?" Rama balik bertanya, melihat kawannya mengangguk Rama kembali buka suara. "Ayolah, gak ada di dunia ini yang namanya cinta pada pandangan pertama, khususnya buat cowok kayak aku, ya. Aku gak peduli kalau yang lainnya gimana?!"
Andi seolah masih tak percaya, dia menatap penuh selidik kawannya. "Aku cuma bosan, terus aku keliling-keliling setelah balik dari nemenin Om Dani. Kebetulan ketemu toko perhiasan, singgah, dan yah ..., menghabiskan beberapa lembar uang untuk mendapatkan senyum bahagia nenek. Itu saja?!" jelas Rama.
"Jadi Om Dani bohong, dong," decih Andi merasa ditipu.
"Setidaknya setengah berbohong. Aku memang nemanin tuh cewek ke luar dari ruangan Om Dani, tapi Om Dani gak bilang kan kalau aku malah pisah jalan?" Andi mendekat seolah dirinya sangat penasaran. "Aku milih ke atap dan tuh cewek entah kemana, aku gak peduli. Om Dani juga tahu, kok. Soalnya aku bilang sama dia pas balik ke ruangannya!" lanjut Rama.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Selesai meluruskan rumor yang didengar kawannya, Rama mengajak Andi untuk menemui sang nenek. Biasanya jam segini nenek mereka akan menghabiskan waktu di taman sambil menikmati teh sore.
__ADS_1
"Kalian sudah datang?" sambut perempuan tua itu saat melihat kedua cucunya berjalan bersama.
"Tentu, kami tak akan melewatkan waktu untuk bersama perempuan tercantik di rumah ini," balas Rama memberi pujian yang terlalu manis untuk didengar.
"Ha-ha-ha, meski sedikit berlebihan dan penuh kebohongan, tapi nenek senang mendengar pujian darimu, cucuku yang nakal," ucap si nenek tertawa senang.
"Bohong darimana, Nek Lidya? Apa yang dikatakan Rama itu benar, nenek yang paling cantik di rumah ini?!" bantah Andi membenarkan ucapan kawannya. "Pada zamannya tapi!" lanjutnya bercanda.
"Kamu menghabiskan waktu di perpustakaan lagi, Ram?" tanya si nenek yang melihat Rama masih memegang buku di tangannya.
Rama mengangguk membenarkan. "Ya," balasnya singkat.
"Meski libur, sobatku ini terlalu malas jalan, Nek Lidya," celetuk Andi mengadu.
"Dan kamu pun sama, tak keluar juga? Harusnya kalian para anak muda menikmati masa muda dan menghabiskan waktu di luar! Bertemu teman-teman sebaya dan melakukan berbagai hal bersama," desah si nenek pelan. "Sepertinya nenek tua ini terlalu mengikat waktu kalian berdua, ya?" lanjut perempuan tua itu dengan lemah.
"Itu tak benar, aku hanya lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, nek. Lagipula aku tak memiliki teman untuk ditemui, aku cuma butuh kalian berdua di dunia ini!" timpal Rama cepat. Pemuda itu menggenggam tangan neneknya dengan sungguh-sungguh.
"Rama benar, Nek Lidya. Saya juga terlalu malas untuk keluar! Mending di rumah nemenin nenek atau ngusilin Rama, masih lebih seru daripada di luar ngabisin waktu gak jelas," timpal Andi menambahi.
"Baiklah kali begitu, nenek tua ini akan menerima kalian berdua, pemuda yang malang yang tak memiliki kawan lain dan tak memiliki kegiatan, ha-ha-ha-ha." tawa keras terdengar, menandakan sang nenek bahagia bisa menjahili dan mengejek kedua cucunya.
"Nenek?!" seru keduanya. Namun, mereka juga ikut tertawa bahagia tanpa protes sama sekali.
"Apa ada buku yang ingin kamu beli, Ram? Kita bisa menambah beberapa koleksi untuk perpustakaan mini-mu?" tanya si nenek menawarkan.
"Belum untuk saat ini, nek," balas Rama menolak.
"Jangan percaya, Nek Lidya. Rama udah baca habis semua buku di sana, bahkan ada yang dibaca berulang-ulang saking rajinnya dia?!" timpal Andi mengadu.
"Tapi memang tak ada buku yang membuat aku tertarik sama sekali!" helaan napas panjang terdengar dari belah bibir pemuda itu.
"Baiklah kalau kamu bilang begitu! Kamu sendiri gimana? Ada yang kamu mau beli, An?" sekarang nenek tua itu menatap Andi.
"Tak ada, Nek Lidya. Semua cukup, kalaupun ada, saya bisa membelinya sendiri dengan uang jajan yang nenek berikan?!" jawab Andi dengan cepat.
"Jangan begitu, uang jajan itu untuk belanja kamu di kampus. Bukannya untuk dibelikan keperluan kamu, An," balas si nenek. Dia tak ingin Andi merasa kalau dia diperlakukan berbeda dengan Rama, cucunya sendiri.
"Tak apa, nek. Kan di sekolah diajari untuk berhemat. Nah, sekarang saya sedang mempraktekkan hal yang saya pelajari selama ini. Saya menabung dan menggunakannya saat diperlukan?!" jelas Andi tak ingin sang nenek salah paham.
"Kita buat pesta ulang tahun saja, nek, untuk kawan baikku ini?!" sela Rama dengan senyum lebar. Si nenek setuju dengan cepat, tanpa pikir panjang beliau langsung menyuruh para pelayan mengurus semuanya.
"Nek, Rama juga harus ikut, ya? Gak enak jadi bintang utama sendirian!" pinta Andi menyeret sahabatnya agar ikut menderita bersamanya. Bagaimana tak menderita, pasti dirinya akan didandani berjam-jam, padahal dirinya adalah laki-laki. Sungguh melelahkan dibuatnya.
"Ide yang lebih bagus?!" pekik Nek Lidya setuju.
__ADS_1
"Biarkan sesekali Andi jadi tokoh utama dan menikmati harinya sebagai 'Pangeran', nek," ucap Rama menolak dengan alasan halus. Nenek Lidya nampak berpikir, Andi pun menunggu keputusan sang nenek dengan cemas.