
Seminggu kemudian, Rama dan Andi sudah pulih total. Sebenarnya mereka sudah sembuh sejak beberapa hari lalu, hanya saja sang nenek tak membiarkan cucunya untuk melakukan apa-apa selain berbaring untuk lebih pulih lagi. Rama juga sudah menempati kamar barunya, kamar yang lebih luas dan lebih lengkap dari kamar pertama yang ditempatinya.
"Sekolah, ya? Apa sekolah menyenangkan?" Rama bertanya pada udara kosong. Ayolah, dia bukan seorang anak yang bisa mendapatkan pendidikan di kehidupannya yang lalu. Dunia yang ditinggalinya dulu membuat dia harus waspada setiap saat.
Pintu kamar anak laki-laki itu diketuk dari luar. "Tunggu sebentar," sahut Rama, dia melangkah ke arah pintu dan segera membuka pintu kamarnya.
"Nenek, seharusnya nenek langsung masuk saja," ucap Rama dengan ceria.
"Ho-ho-ho-ho, mana mungkin nenek melakukan itu Nenek tak ingin kalau melanggar privasi cucu kesayangan nenek ini!" seru Nek Lidya.
"Ayo masuk, nek!" Rama menggandeng tangan si nenek dengan manja.
"Kamu ingat kan kalau beberapa hari lagi kamu harus sekolah?" tanya Nek Lidya setelah beliau duduk di kursi santai.
"Hu-um, tentu saja, nek!" balas Rama.
__ADS_1
"Saya sudah tak sabar untuk bersekolah!" lanjutnya penuh semangat.
"Anak baik, anak baik. Nah, karena kalian berdua akan bersekolah, jadi mari kita berbelanja sekarang. Kita beli semua perlengkapan sekolah kalian berdua!" ajak si nenek. Rama mengangguk setuju. Setelah Rama bersiap, dia mengajak Andi dan menunggunya bersiap.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Ketiganya telah sampai di pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota, dua orang pria berjas berjalan di belakang ketiganya. Mereka berdua merangkap sebagai pengawal sekaligus pembawa barang belanjaan nyonya besar mereka.
"Pilihlah yang kalian suka," kata Nek Lidya sambil tersenyum.
"Ya Nek Lidya," kata Andi penuh semangat.
"Setelah membeli alat tulis, kita naik ke atas mencari baju untuk kalian," ucap perempuan tua itu merencanakan semuanya.
"Hmm, apa kita akan makan siang di rumah, nek?" tanya Rama.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, sekalian saja kita makan di luar nanti. Biarkan saja kakekmu makan siang sendirian, ha-ha-ha-ha," balas Nek Lidya senang dengan rencananya sendiri.
Rama mulai suka dengan keadaan saat ini, dia memiliki keluarga yang mengutamakan dirinya di atas segalanya. Andi juga tak menunjukkan tanda kalau dia mengingat sesuatu, bukankah ini berkah bagi dirinya.
Selesai memilih yang mereka perlukan, Nek Lidya membayar semua di kasir. Kemudian mereka bertiga segera melakukan hal-hal yang direncanakan perempuan tua itu, Lidya ingin membeli beberapa potong baju untuk cucunya, dia ingin memberi kasih sayang yang tak bisa dia berikan selama ini. Mereka bertiga juga makan makanan enak di restoran mahal, Andi dan Rama terlihat sangat bahagia. Bedanya, Andi merasa bahagia setulus hati, sedangkan Rama hanya berakting bahagia untuk menyenangkan Lidya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Seragam sekolah sudah disetrika dengan rapi, tergantung apik bersama dasi dan topinya. Buku tulis kosong dengan wangi khas buku baru sudah dimasukkan ke dalam tas ransel, tak lupa alat tulis dan berbagai keperluan lainnya untuk sekolah mereka. Rama menatap seragam yang tergantung rapi itu, di menatap datar, tapi dia juga sedikit bersemangat dan penasaran akan apa yang akan terjadi di lingkungan sekolah nanti.
"Ingat, kalian harus saling menolong nanti!" ucap si kakek ketika mereka makan malam bersama.
"Ya, kek!" balas Rama cepat.
"Baik, Kakek Surya!" kata Andi patuh.
__ADS_1
"Bertemanlah dengan anak lainnya, tapi jangan mau disuruh-suruh! Kalau ad yang mengganggu kalian, bilang sama nenek!" Rama dan Andi mengangguk paham. Rama tersenyum tipis, masih terlalu cepat bagi anak-anak di sekolahnya nanti kalau ingin membully dirinya, sayangnya Rama harus berakting sebagai cucu yang baik. Untuk menjadi orang baik, dia tak boleh terlibat masalah. Tapi bukan berarti dirinya akan diam saja kalau diganggu, dia bisa melawan tanpa diketahui. Ayolah, berpura-pura lemah itu sangat mudah baginya.