
Pagi menjelang, Rama dan Andi sudah selesai bersiap. Kini mereka sedang duduk di meja makan untuk sarapan, Rama memilih membawa bekal, katanya dia belum tahu dimana letak kantin sekolah. Agar tak membuang-buang waktu, dia akan makan bekal saja saat istirahat nanti. Neneknya sangat senang, dia merasa cucunya terlalu baik sebagai anak laki-laki, makan makanan di kantin tak selalu sehat, maka lebih sehat makan makanan yang dibawa sendiri.
Keduanya diantar oleh supir dan nanti mereka akan dijemput sebelum jam sekolah berakhir. Sekolah baru, Rama menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya begitu dia turun dari mobil. Beberapa tahun akan dia lewati di sini, menuntut ilmu, sebuah pengalaman baru yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Mau tak mau, anak laki-laki itu pun berasa bersemangat dan berdebar-debar, mengira-ngira apa yang akan dia alami nantinya.
"Ayo kita ke dalam, kita harus ke ruang guru dulu, bukan?" ajak Andi yang berdiri di samping Rama.
Rama tersenyum tipis sembari mengangguk kecil. "Ayo, jangan sampai kita terlambat!" keduanya mengambil langkah pertama memasuki gedung sekolah di depan mereka.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Selesai bertemu dengan wali kelas mereka, kedua anak laki-laki itu diantar ke kelas mereka. Keduanya ditempatkan di kelas yang sama. Di dalam kelas, Rama dan Andi dipersilakan untuk memperkenalkan diri di depan kelas. "Halo, selamat pagi, saya Andi, tiga belas tahun. Salam kenal dan mohon bantuan ke depannya!" senyum ramah mengembang di bibir anak laki-laki itu.
__ADS_1
Rama menghela napas panjang, haruskah dia juga memperkenalkan diri seperti itu. Namun, dia terlalu malas. "Rama, tiga belas!" Rama menundukkan kepalanya sedikit ketika dia memperkenalkan dirinya.
Hening, penghuni kelas jelas paham akan situasi. Kelas mereka kedatangan dua murid yang berbeda sikap, yang satu terlihat ramah dan mudah bergaul, yang satunya lagi sepertinya sangat tegas dan sedikit dingin serta tertutup.
Untuk mengurangi suasana canggung, guru yang mengajar pun menepuk tangannya pelan sebanyak tiga kali. "Baiklah, baiklah, selamat datang untuk kalian berdua. Silakan duduk di kursi kosong di belakang sana. Bertemanlah dengan baik kalian semua!" Rama melangkah lebih dulu ke meja di belakang.
"Ha, ha, ha, ha, mari kita lanjutkan pelajarannya!" si guru kembali mejelaskan. Rama memperhatikan dengan seksama, dia mencatat yang dianggapnya perlu di bukunya yang masih kosong.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Kami membawa bekal dari rumah, mungkin kita bisa ke kantin bersama lain kali." Andi mengambil alih percakapan.
__ADS_1
"Okey, tapi yakin gak mau ikutan? Kalian boleh kok makan bekal di kantin," bujuk si Eza menatap Andi dan Rama bergantian.
"Emm, saya sebenarnya ingin melihat kantin sekolah, sih. Tapi saya harus di samping Rama, teman saya."
Rama menghela napas pendek, dia berdiri dari duduknya. Tak lupa dirinya membawa bekal yang sudah disiapkan dari rumah. "Ayo!" katanya mengajak Andi.
Andi mengedip-ngedipkan matanya bingung, tetapi beberapa detik kemudian dia tersenyum sembari mengangguk senang. "Sepertinya kami akan ikut, he-he, he-he," ucap Andi tersenyum senang.
Eza mengangguk girang, dia berhasil mengajak teman baru untuk berteman dengannya. "Ayo pergi bersama, biar gue yang tunjukin arahnya." Eza berjalan lebih dulu.
"Terimakasih, Eza!" kata Andi berterimakasih.
__ADS_1
"Gak masalah, gak usah pakai makasih sesama teman gini!" balas Eza ramah.
Rama menggelengkan kepalanya pelan, Andi rupanya tipe orang yang sangat gampang percaya dengan orang lain. Tapi itu bukan sesuatu yang buruk baginya, dengan sifat yang begitu, dia bisa dengan mudah dimaafkan kalau semuanya ketahuan. Lagipula, dia tak pernah mengaku sebagai Rama yang asli, dia hanya memanipulasi dan mengarahkan petunjuk kalau dia adalah orang yang dicari. Dia juga sedang lupa ingatan, jadi tak ada masalah sama sekali yang akan terjadi.