Topeng.

Topeng.
29.


__ADS_3

Andi terus mencoba mendekati Jessy, dan Jessy melihat itu sebagai kesempatan untuk mendekati Rama. Rama yang malas menggubris, memasang tembok yang kokoh. Hingga suatu hari, Andi duduk di samping sobatnya dengan wajah tertekuk, terlihat lemah dan tak bertenaga sedikitpun.


Rama menutup bukunya dan bertanya pada kawannya itu. "Kenapa lagi?" tanya pemuda itu pelan. Keduanya sedang duduk di bangku taman kampus mereka.


Bukannya menjawab, Andi malah menghela napas seolah dunia bakalan runtuh sesaat lagi dan dirinya memiliki banyak penyesalan. "Kenapa, sih?" tanya Rama lagi.


"Ram ..., si Jessy gak suka aku ternyata," aku Andi dengan suara sedih. Hampir saja Rama memutar bola matanya kalau tak ingat kawannya ini sedang patah hati.


Rama menepuk pundak Andi pelan. "Bukan jodoh kali, An. Cari aja yang lain?!" kata Rama yang bisa diartikan sebagai penghiburan. Rama tak tahu bagaimana cara menghibur orang yang patah hati, Rama yakin dia tak akan pernah bisa meski di masa depan nanti.


"Yang paling bikin kesel, ternyata dia cuma mau manfaatin aku, Ram. Dia bakalan deketin kamu dan aku dijadiin jembatannya," dengus Andi kesal kalau ingat apa yang dia dengar barusan.


"Kecepatan suka, sih. Makanya pilih-pilih dulu." Rama menggaruk pipinya, dia asal menimpali dan tak tahu harus membalas seperti apa sebenarnya.

__ADS_1


"Kalau bisa milih namanya bukan jatuh cinta, tapi jual-beli ..., mungkin?!" cicit Andi ragu.


"Dahlah, gak usah sedih. Ntar aku traktir cilok di depan," ucap Rama seraya melempar senyuman untuk kawannya.


Andi menepis tangan kawannya yang menyampir di bahunya. "Apaan cilok, murahan banget traktirannya?!" gerutu Andi sok tak puas, padahal dia tersenyum senang saat wajahnya berbalik ke arah lain.


"Ya, mau gak nih? Gak mau ya udah, aku makan sendiri aja?!" balas Rama kembali membuka bukunya.


"Hmm, serah!" balas Rama tetap fokus membaca bukunya.


Hening sesaat, sampai Andi kembali bersuara. "Tapi, Ram ... kamu gak bakalan nerima tuh cewek, kan ya? Maksud aku kalau dia nyatain suka sama kamu, ada kemungkinan gak kamu terima?" Rama menatap heran kawannya, apa dia khawatir akan hal itu.


"Tenang aja, bukan tipe aku!" balas Rama membuat Andi menghela napas lega.

__ADS_1


Andi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendukung keputusan kawannya. "Bagus deh, soalnya tadi aku denger kalau dia udah jadian sama kamu, dia bakalan bawa kamu ke tempat dia sering nongkrong, trus kamu bakalan dikenalin saja dunia malam juga, ngerokok juga, minum minuman keras juga, pokoknya diajari jadi anak nakal gitu kayaknya. Gak rela aku kalau sahabat aku jadi masuk lingkaran hitam kayak gitu?!" cerocos Andi panjang lebar.


Rama terkekeh pelan. "Kamu dengerin apa nguping? Panjang banget informasi yang didapat," katanya menimpali.


"Huh, aku cuma gak sengaja denger pas mau ngasih cokelat ke dia. Eh, gegara denger ini-itu, ya jadi keterusan dengerin sampai mereka bubar!" aku Andi mendengus. informasi penting mana bisa dia tak mendengar hal seperti itu, apalagi ini menyangkut kawannya juga.


"Pokoknya, Ram, kalau ada cewek yang kamu taksir, harus kenalin ke aku dulu. Ntar aku juga gitu, biar kita bisa saling menyeleksi pilihan yang tepat buat kita?!"


"Trus kalau ceweknya cewek yang sama, gimana?" tanya Rama usil.


"Pilihannya ada dua. Yang pertama, tanyain si cewek sukanya sama siapa. Terus yang kedua, tinggalin aja tuh cewek terus cari yang lain. Kalau aku sih lebih milih sahabat aku dari pada cinta-cintaan. Pacar nomor dua, sahabat selalu yang pertama!"


"Begitu juga diriku!" timpal Rama setuju. Keduanya bergegas ke kelas masing-masing, hari ini mereka memiliki kelas yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2