Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 11: Level Up


__ADS_3

Melihat Octo yang terlihat kebingungan, malah membuat Dom semakin penasaran, karena tidak biasanya Octo terlihat seperti itu. Tapi, meskipun Dom mencoba untuk memancingnya, tetap saja Octo tidak mau memberitahunya.


"Kenapa kau begitu keras kepala nak?" tanya Octo yang mulai kesal.


"Yah, aku akan berhenti bertanya setelah kau menjawab," balas Dom.


"Baiklah, aku memang ahli dalam berpedang. Tapi ... aku tidak akan mengajarimu keahlian itu."


"Hah? Kenapa begitu?" tanya Dom.


"Kau tidak perlu tau, sudahlah kembali berlatih!" teriak Octo.


Kenapa orang ini sangat keras kepala.


“Tapi ... menurut Paman Richard, aku belum bisa membangkitkan wadah mana yang ada di tubuh. Jika begitu, ada kemungkinan bahwa aku tidak akan bisa menggunakan sihir. Maka dari itu, aku ingin belajar pedang selagi aku masih berkembang.


"Aku ingin menjadi kuat, lebih kuat dari siapapun, maka dari itu tolong ajari aku paman.” Dom menundukan kepalanya kepada Octo.


Melihatnya berkata seperti itu, Octo merasa tidak tega. Setelah memikirkan kembali, akhirnya Octo berubah pikiran.


“Ah ... kau memang bocah yang menyebalkan, bangunlah,” ujar Octo.


Setelah Dom mengangkat kepalanya, Octo menyuruhnya untuk menunggu selagi dia membawa sesuatu dari rumahnya.


Saat Octo kembali, ternyata sesuatu yang dibawanya adalah sebuah pedang. Dom tidak tahu harus berkata apa, karena ketika pedang itu digenggam oleh Octo, wajahnya masih terlihat kebingungan.

__ADS_1


“Sebenarnya Tuan  Richard memberitahuku untuk tidak mengajarimu teknik pedang, dia tidak ingin keseimbangan tubuhmu menjadi terganggu. Karena, tidak mudah untuk menguasai sihir juga teknik berpedang secara bersamaan.


"Satu lagi yang perlu kau tau, jika gagal untuk menguasai keduanya maka kau tidak bisa mengeluarkan seluruh potensi sihir juga kekuatanmu,” ujar Octo.


Sebagai info, alasan penggunaan seni pedang dan sihir secara bersamaan tidak mudah, karena berpotensi dapat merusak tubuh jika gagal menguasainya. Ketika menggunakan sihir, maka akan terkumpul suatu mana hingga menciptakan sebuah gelombang kejut yang cukup kuat untuk dipakai menyerang maupun bertahan.


Ketika itu digabungkan dengan kemampuan fisik ataupun pedang, maka bisa terjadi ketidakseimbangan mana sehingga tubuh tidak kuat untuk menopangnya. Akibatnya, mereka yang sudah mendapat sihir tidak akan bisa mengeluarkan potensi terbaiknya, bahkan kemungkinan terburuknya sihir mereka akan hilang.


Jadi itu alasannya kenapa dari tadi dia terlihat seperti orang bodoh.


“Bagaimana jika aku bisa membuktikan kepada Paman Richard bahwa aku bisa menguasai keduanya?” tanya Dom dengan penuh keyakinan.


Pandangan Octo yang semula dipenuhi oleh banyak pikiran berubah menjadi normal ketika melihat semangat yang terpancar dari Dom. Octo menyadari sesuatu yang hanya dimiliki oleh Dom.


Bocah ini ... sepertinya dia bersungguh-sungguh. Apa tidak apa-apa mengajarinya? Tidak ... anak ini pasti bisa kuajari!!!


“Lepaskan tanganmu bocah!!!” teriak Octo yang sebenarnya masih ingin dipeluk oleh Dom.


“Ahaha maaf, aku hanya terlalu senang.”


“Sebelum kau membuktikan pada Tuan Richard, kau harus bisa meyakinkanku terlebih dahulu apakah kau pantas untuk kuajari, jika tidak maka jangan harap kau bisa menyentuh pedang lagi.


Mungkin aku akan sedikit bertaruh pada anak ini. Tapi ... semoga saja Tuan Richard tidak marah karena hal ini.


“Siap Bos, dalam beberapa tahun aku pasti akan bisa menguasai sihir dan teknik pedang,” balas Dom dengan yakin.

__ADS_1


Setelahnya, latihan yang diberikan oleh Octo sedikit berbeda dan bisa dibilang lebih berat dari sebelumnya. Hal itu tidak lepas dari pola latihan Dom yang menambahkan pedang.


Meskipun kerap kali kehabisan tenaga, Dom tetap memaksakan untuk tetap berlatih karena ingin membuktikan kepada Richard dan juga Octo bahwa dia mampu mempelajari kemampuan berpedang.


“Srang Sreng Srang,” suara pedang dari Octo dan Dom.


“Perhatikan kuda-kudamu, seni pedang tidak boleh salah langkah karena itu bisa mengancam nyawamu,” ujar Octo.


“Baik!!!” teriak Dom.


“Srang,” serangan Octo mengenai tubuh Dom hingga membuatnya terpental.


“Uaaa!” Dom terhempas ke tanah.


“Jika ini pedang sungguhan, mungkin kau akan tewas. Ayo bangkit, kita akan terus berlatih hingga kau bisa memahami perkataanku!!!” teriak Octo.


Sialan ... aku tidak mengira ini akan sangat sulit, tapi mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Aku harus menjadi kuat bagaimanapun caranya!!!


“Aku datang, Hyaaa!” Dom kembali mengayunkan pedangnya kepada Octo.


Setiap pagi, Dom diam-diam berlatih seni pedang di depan rumahnya tanpa sepengetahuan Richard, begitu pula ketika Richard mengunjungi tempat Octo. Dom berpura-pura berlatih seperti biasa sambil menunggu Richard pergi. Setelahnya ia kembali berlatih seni pedang dengan Octo.


Pelatihan yang dialami oleh Dom bersama dengan Octo berlangsung hingga beberapa tahun.


Hallo Teman-teman, karena ini novel pertamaku :) aku ingin minta supportnya dari kalian untuk memberikan like serta komentarnya agar aku bisa terus menghasilkan karya lainnya. Aku juga akan mampir untuk membaca novel milik kalian. Mari kita saling membantu agar karya kita bisa dibaca oleh banyak orang.

__ADS_1


Terima Kasih!!!!


__ADS_2