
Baru saja masuk ke hutan area dalam, Dom sudah harus menghadapi berbagai macam bahaya, salah satunya bertemu dengan sekumpulan monster yang haus darah.
“Groaa!”
“Ayolah … ini sudah ke yang sekian kalinya.”
“Swosh!” Dom mengeluarkan pedangnya kembali.
Mau sampai kapan aku seperti ini ….
“Srang srang srang sraaat!”
Meskipun banyak monster yang berniat menyerangnya. Namun Dom bisa mengatasinya dengan mudah, terlebih mereka hanya berada pada tingkat C-B sehingga bukan hal yang susah baginya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan malam. Dom bersiap untuk mendirikan tenda kecil. Ini merupakan hari yang sangat berat baginya karena harus melalui semuanya seorang diri tanpa bantuan gurunya.
“Nguk nguk nguk,” suara burung hantu yang melintas menemani Dom di malam hari.
Diiringi dengan api unggun serta daging hasil buruannya, Dom mencoba untuk beradaptasi dan berusaha menikmati perjalanan ini sebisa mungkin.
“Hah … ternyata lebih sulit dari yang kuduga. Bekal yang kubawa sebelumnya pun sudah habis. Jika terus seperti ini, aku tidak yakin bisa mendapatkan inti mana yang dimaksud oleh peri ….”
Ketika masih menikmati hasil tangkapannya.
“Srek srek srek.”
Dari jauh, terdengar suara dari semak semak sama seperti siang hari. Dom hanya menatapnya dan belum mengambil tindakan.
“Ini aneh … kenapa rasanya sejak tadi aku sedang diikuti oleh seseorang?” ucapnya sambil melirik.
Apa jangan-jangan?!
Ketika Dom terus mengamatinya, tiba-tiba suara tersebut lenyap.
“Apa hanya imajinasiku saja? Namun … entah kenapa aku sempat merasakan hawa manusia.”
Ah mungkin saja karena aku berasumsi terlalu banyak.
Dom tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut dan terus melanjutkan makannya. Setelahnya ia beristirahat hingga hari esok tiba.
Pemandangan berbeda dialami oleh Dom ketika mencoba untuk menemukan monster mutasi.
“Hoaam … kemarin ramai. Kenapa sekarang aku bahkan tidak melihat satu pun keberadaan makhluk di hutan ini?” tanya Dom sambil berjalan.
“Kryuk kruyuk.” Dom mulai merasakan lapar.
Ah … kenapa di saat seperti ini ….
“Rasanya aku sudah berjalan cukup jauh. Hmm tidak kusangka area ini luas sekali. Tapi … jika begini, bagaimana aku bisa mendapatkan inti mana sialan!”
“Grrrrr!”
“Siapa itu?!” teriak Dom dengan spontan sambil mengeluarkan pedangnya.
Di saat suasana sedang sunyi. Dom dikejutkan dengan kemunculan monster yang berbeda dari biasanya.
Monster? Tunggu … kenapa bentuknya berbeda dari yang lain? Apa jangan-jangan?!
-------------------------------
Di area tengah Hutan Terarria terdapat seorang guru yang mulai gelisah menanti kepulangan muridnya meskipun baru satu hari.
Ah kenapa aku merasakan firasat buruk!
“Tenanglah, kulihat dari tadi kau hanya berjalan kesana kemari,” seru Lyfa.
“Ini karena aku khawatir padanya!” balas Richard.
“Baiklah tuan pemarah.”
Selagi dalam keadaan seperti ini, Richard penasaran dengan topik yang dibicarakan oleh Lyfa sebelumnya.
“Hey, apa benar yang kau katakan sebelumnya bahwa monster dapat memiliki inti mana? Jika begitu, bagaimana cara orang itu menanamkannya kepada monster tersebut?”
“Aku sendiri tidak tau bagaimana orang itu melakukannya. Terlebih cara seperti itu tidak ada dalam buku sihir manapun.”
“Apa?! Maksudmu hanya dia yang bisa melakukannya?!”
Tunggu! Kenapa aku terus memanggil dengan kata dia tanpa mengetahui namanya ….
“Seorang Dyrad juga tidak bisa mengetahui semua informasi yang ada. Terlebih pada orang yang keberadaannya sangat misterius. Tapi, mungkin ini bisa sedikit menjawab pertanyaanmu.”
Richard hanya menyimak.
“Pernahkah kau mendengar tentang artefak Soul Absorbent?” tanya Lyfa.
“Soul Absorbent? Aku baru mendengarnya.”
__ADS_1
“Artefak itu memiliki fungsi untuk menampung jiwa-jiwa manusia yang masih segar. Aku memprediksi sebelum orang itu melakukan ritualnya, dia menyimpan seluruh jiwa yang pernah diambilnya ke dalam artefak itu.
“Setelah itu, entah melalui apa dan bagaimana caranya dia bisa menanamkan inti mana tersebut ke dalam monster aku masih tidak tau.”
Ah sepertinya masih banyak yang harus kupelajari tentang dunia ini.
“Jadi siapa nama orang tersebut?” Richard kembali bertanya hal yang sama berulang kali.
“Sebaiknya kau bersantai dan menenangkan pikiranmu tuan tampan.” Lyfa melangkah untuk mengambil cangkirnya dan menghiraukan pertanyaan Richard.
“Hey kenapa kau terus menghindari pertanyaanku?!”
“Tadinya aku tidak ingin mengatakannya. Tapi berhubung Dom sudah tidak ada, aku hanya akan memberitahumu. Namanya adalah ….”
“APA?!” teriak Richard.
“Kau sudah mengerti kan alasannya.”
"Bukankah orang itu sudah?!"
"Yah aku juga tidak tau kenapa dia masih hidup."
“Srrrup,” suara Lyfa yang sedang menikmati minumannya.
Jika benar dia. Aku khawatir Dom benar-benar dalam bahaya!
“Tenanglah, lagipula aku tidak merasakan hawa membunuh dari orang itu saat ini. Mungkin dia hanya mengamati hutan ini.”
Semoga saja itu benar.
Kembali ke topik permasalahan.
“Hey peri, apa kau benar-benar tidak tau bentuk monster yang menyerangmu waktu itu?” tanya Richard.
“Hmm karena sudah lama sekali, aku tidak begitu mengingatnya.”
“Apa kau yakin?”
“Yah begitulah. Aku hanya ingat bahwa di area dada mereka terdapat sebuah cahaya biru berbentuk layaknya sebuah diamond. Ditambah lagi, untuk beberapa tipe, monster tersebut dapat berbicara layaknya manusia,” jawab Lyfa dengan santainya.
Richard menjadi diam beberapa saat seperti orang bodoh. Setelahnya dia baru menyadari sesuatu dengan ucapan Lyfa.
“HAH??!! Kenapa kau tidak bilang kepada Dom sebelum dia masuk ke dalam hutan dasar peri sialan?!” teriak Richard.
“Ah apa aku tidak mengatakannya?” tanya Lyfa.
“Lupakan … lagipula sudah tidak ada gunanya aku marah kepadamu.”
“Apa tuan ini sudah kehilangan semangatnya-” ucapan Lyfa dipotong oleh Richard.
“TAPI!!! Jika terjadi sesuatu pada muridku, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu,” seru Richard yang mendadak menjadi seram ketika bersama dengan Lyfa.
Tentunya siapa saja yang merasakan aura kekuatan milik Richard akan berpikir dua kali untuk menyanggah ucapannya, bahkan seorang peri sekalipun.
Dia benar-benar sudah tidak bisa diajak bercanda ….
“Baiklah baiklah aku minta maaf. Tapi kau tidak perlu khawatir, karena aku percaya Dom akan bisa melakukannya.”
“Semoga saja begitu ….”
Dom, kuharap kau selamat ….
----------------------------
Kembali ke pertarungan.
“Grroaaa!” teriak monster.
Auranya terasa berbeda dari monster yang kulawan sebelumnya. Dan juga ….
“Kenapa terdapat berlian di area dadanya?!” teriak Dom.
Tunggu! Tidak mungkin itu berlian, apa jangan-jangan itu adalah boss monster yang ada di hutan ini?!
“Uaaa ini kesempatan emas! Jika begitu, aku benar-benar akan serius!"
“Swosh!” Dom mengarahkan pedangnya ke arah musuh.
“Bersiaplah hewan jelek! Hyaaaaa!” Dengan semakin yang berapi-api, Dom berlari dengan kecepatan penuh.
“Groaaa!” Monster itu ikut bergerak menghampiri Dom.
“Hoo rupanya kau ingin menantangku? Kalau begitu biarkan aku mengujimu terlebih dahulu! Sword Dice … Burst Attack!”
Mereka berlari dengan serangannya masing-masing dan sehingga terjadi benturan serangan.
“Sraaat!”
__ADS_1
Keduanya tampak baik-baik saja seperti belum terjadi pertarungan. Namun yang terjadi sebenarnya.
“Tidak tergores?! Hehehe sepertinya kau memang boss dari para monster. Dengan begitu, aku sudah memenuhi harapan Peri Lyfa dan menyelamatkan hutan ini-”
Belum sempat Dom menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba kepala monster tersebut terbelah dengan mudahnya.
Dom mendadak terdiam dan keadaan menjadi hening sesaat.
“Eh … EH?!” Dom sangat terkejut karena serangan lemahnya mampu menebas kepala monster itu.
“Le-lemah sekali! Hey bangun sialan!”
Karena merasa ganjil dengan kemenangannya membuat Dom tidak terima dan terus menendang monster tersebut agar dia hidup lagi.
“Padahal aku sudah berharap banyak karena bentuk kerenmu! Tapi tidak kusangka kau selemah ini!”
Dom masih saja kesal.
“Ah lupakan. Sepertinya ini bukanlah monster yang kucari ….”
Dengan raut wajah yang masih menunjukan ekspresi tidak senang, Dom pergi meninggalkan tempat tersebut.
--------------------------------
Beberapa saat setelah Dom pergi.
“Glebub glebub glebub,” suara regenerasi dari monster.
“Grrrrr!”
-------------------------------
Setelah kejadian itu. Dalam tempo beberapa menit, Dom terus bertemu dengan tipikal yang sama.
“Sraaat!” Pedang Dom berhasil menebas kepala dari monster tersebut.
Urat kepala Dom naik ke atas diiringi dengan ekspresi yang semakin kesal.
Ini benar-benar menjengkelkan ….
“Sebenarnya apa yang terjadi di hutan ini sialan!”
--------------------------
Sementara itu di ujung hutan bagian dalam.
“Hei Leisure kau terlalu banyak makan hari ini!” teriaknya.
“Am am am,” suara Leisure yang sedang menyantap monster.
“Aku tidak mendengarkan ucapan dari orang yang lebih lemah dariku! Groaaa!” teriak Leisure.
“Apa kau bilang?!”
“Kalau begitu, ingin beradu denganku?!” aura kekuatannya meluap sampai bisa dirasakan oleh Dom.
“Ah sejak diciptakan oleh tuan kau selalu saja seperti ini.”
“Jangan berbicara seolah kau akrab denganku … Glade!”
“Yah yah baiklah. Tapi, aku tidak menyangka tuan berada di sekitar sini. Sudah lama sekali aku tidak menghirup udara segar.”
“Hih … aku tau kau bukan orang yang akan membahas hal seperti itu.”
“Yahaha itu baru rekanku. Sepertinya kita kedatangan tamu dari luar. Aku harap dia tidak mati sebelum sampai ke sini.”
“Akhirnya ada makhluk lain yang bisa kusantap,” ucap Glade dengan menyeringai.
----------------------------------------
Aura aneh dari dalam hutan yang diciptakan oleh Glade membuat Dom terdiam sesaat sambil mengeluarkan pedangnya.
“Apa itu?! Rasanya seperti ada keberadaan kuat yang mengawasiku …," Dom melirik ke ujung hutan.
“Groaaa!"
"Bisakah kau diam dulu sialan!"
“Sraaat!” Dom menebas monster dengan satu cahaya biru di area dadanya.
Ini bahkan lebih menyebalkan dibandingkan kemarin ....
“Selama hari ini, kenapa lawanku hanyalah monster keroco seperti ini!”
"SIALAN!!!"
Bersambung ....
__ADS_1