
Bekas ledakan tersebut masih tersisa di sekitar arena pertarungan. Mata Dom kembali seperti semula setelah sebelumnya berubah menjadi putih karena mengeluarkan teknik pedang kuno.
“Hah … hah … hah.” Dom kelelahan karena hampir mengeluarkan seluruh energinya untuk Thunder God’s Slash.
Meskipun aku sudah menerapkan gerakan ini dengan cukup baik. Tetap saja, rasanya ini diluar kemampuan fisik bocah berumur 10 tahun.
“Sialnya … aku masih harus menghadapi satu musuh lagi,” ujar Dom sambil melirik ke arah Zero dari kejauhan.
Berbeda saat pertama bertemu, kesan Zero saat ini berubah terhadap Dom.
Thunder God’s Slash? Sudah lama aku tidak melihat itu.
“Ternyata kau bisa jadi guru yang baik … Octo,” ucap Zero dengan wajah menatap ke atas.
“Srang!” Dom menodongkan pedang miliknya meskipun sudah terlihat kelelahan.
“Hah … hah … selanjutnya kau,” seru Dom.
Sudah pada batasnya? Ya wajar saja, terlebih teknik tersebut sangat menguras energi si pemilik.
“Apa kau yakin ingin bertarung dengan tubuh lemah seperti itu?” tanya Zero.
“Heh, sepertinya kau berbeda dari kebanyakan temanmu itu. Tapi maaf saja, aku tidak ingin dikasihani,” ungkap Dom.
Anak yang pemberani namun sedikit ceroboh.
“Baiklah jika kau ingin seperti itu.”
“Majulah-”
Belum selesai berucap, sosok Zero sudah melintas cepat tepat di wajah Dom.
Kenapa dia jadi lebih cepat?!
“Bonch.” Sebuah tinju menghantam Dom tanpa bisa dilihat olehnya.
“Urghttt!”
Pukulan apa ini?! Kenapa sakit sekali!!
“Boom!” Dom terhempas dan menghancurkan beberapa pohon yang sudah mati akibat serangan sebelumnya.
“Uhuk uhuk uhuk!” Darah mengalir begitu banyak dari mulut Dom.
“Sudah kubilang, apa kau bisa mengalahkanku dengan tubuhmu yang seperti itu?” tanya lagi Zero.
Kukira ucapannya itu hanya menggertak, tidak kusangka akan seperti ini ….
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Dom.
“Namaku Zero, setidaknya untuk saat ini. Pastinya kau tau bahwa tubuh monster ini hanyalah perantara untuk menampung jiwa makhluk hidup melalui sebuah inti mana.”
Apa yang dia bicarakan?
“Anak kecil sepertimu mungkin tidak akan mengenal nama ini. Tapi, dulu aku dikenal dengan sebutan The Savior.”
Savior? Aku rasa aku pernah mendengarnya. Oh bukankah itu?!
-------------------------------
Kembali ke Desa Pyro (Ceritanya agak panjang karena masuk ke jalan cerita, but kalo mo di skip silahkan)
Di sela-sela latihan bersama Octo.
“Hey bocah, kau tau ... meskipun kekuatan utama di dunia ini adalah sihir, tapi bukan berarti kekuatan fisik bisa diremehkan begitu saja.”
“Maksudmu seperti teknik pedang?”
“Ya itu salah satunya. Tapi yang kumaksud adalah tentang kekuatan sejati. Manusia itu memiliki bakatnya dalam bidang masing-masing. Bakat manusia tidak akan terbatas selama kau menekuninya.
__ADS_1
“Ketika kau berusaha dengan sungguh-sungguh, bahkan seorang sampah yang berada di titik terendah suatu saat akan menjadi yang terkuat.”
Sejak kapan orang ini menjadi begitu inspiratif?
“Emm kenapa kau tiba-tiba membahas hal itu?”
“Yah entah kenapa selama melatih dirimu, aku jadi teringat rekanku, sosok luar biasa yang mengubah pola pikir umat manusia pada masanya.”
Dom mulai menyimak.
“Biar kuceritakan sebuah kisah di masa lalu. Tepatnya saat masa kebangkitan orang-orang tanpa sihir.”
-------------------
Identitas Zero.
Tanpa berlatar keluarga kerajaan, hidup di lingkungan yang selalu mendapat penindasan. Seorang anak biasa tanpa atribut sihir pun lahir.
Keluarganya hanya bekerja sebagai budak yang selalu diperintah oleh para bangsawan dengan keji. Meski begitu, demi melindungi putra satu-satunya, mereka mencoba menyembunyikan anak tersebut dengan harapan suatu saat bisa terlepas dari kekangan para penguasa.
Sayang … usaha mereka diketahui oleh salah satu bangsawan. Akibatnya, orang tuanya dieksekusi, sedangkan anak tersebut dimasukan ke dalam sel tahanan untuk dijadikan budak.
Sesaat sebelum mereka dieksekusi, sebuah kalimat perpisahan terngiang-ngiang dalam pikiran anak itu.
“Ingatlah nak, semua manusia itu pada dasarnya sama, tidak ada yang istimewa. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa dunia ini hanya dikuasai oleh sihir. Berlatihlah hingga menjadi kuat dan buatlah perubahan pada dunia ini,” ujar ibunya sambil tersenyum untuk yang terakhir kalinya.
“Maafkan kami yang tidak cukup kuat untuk melindungimu. Ingatlah nak, doa kami akan selalu menyertaimu ….”
“Sraaat!” Eksekusi pun di mulai. Sekeras apapun berteriak, tidak ada yang akan mendengarnya karena dia sedang berada dalam lingkungan kerajaan.
Semua manusia di dunia ini pasti akan terpukul setelah ditinggal orang tuanya di usia yang masih sangat belia.
Akan tetapi, hanya dengan menangisi tidak akan membuat semuanya selesai, itulah yang saat itu dipikirkan anak berumur 7 tahun. Meskipun sedih karena kehilangan orang yang mereka sayangi, Zero tidak punya pilihan lain selain mencoba mewujudkan impian kedua orang tuanya.
Bertahun-tahun hidup dalam tahanan, selama itu juga ia melatih fisiknya hingga pada batas ketahanan tubuhnya. Setiap kali ada bangsawan yang menyiksanya, Zero tidak menanggapinya karena itu bisa menghancurkan ambisnya.
Menginjak umur 15 tahun, karena kesalahpahaman belaka, sebuah perang antar kerajaan terjadi. Para budak mulai dilepaskan untuk dijadikan tameng oleh para bangsawan sehingga bisa menyerang balik. Tentunya, hal ini dimanfaatkan Zero untuk melarikan diri.
Usahanya berhasil setelah dia menghabisi beberapa prajurit yang berniat menghalangi langkahnya untuk pergi. Mulai dari hari itu, kehidupan Zero sedikit mendapat kebebasan.
Dia mulai menjelajahi berbagai Dungeon serta latihan intens seorang diri. Ketahanan fisik serta tubuhnya semakin meningkat dan mungkin yang terkuat pada masanya. Petualangannya berlangsung hingga dirinya menginjak usia 20 tahun.
Di sela-sela latihannya, Zero tidak sengaja bertemu dengan seorang pemuda yang akan dikenal sebagai ksatria terbaik di sebuah gunung.
Sebuah pertemuan yang kebetulan tapi dapat mengubah keadaan dunia sihir. Tanpa memiliki atribut sihir, namun mampu mengguncangkan dunia sihir, terdengar lebay tapi faktanya begitu.
---------------------------
Sudut Pandang Octo.
Kesan pertama ketika Octo melihat adalah kekaguman. Sebuah otot yang dipompa sedemikian rupa, serta tubuh tegak layaknya tembok berlin membuat Octo sempat berpikir bahwa Zero bukanlah manusia.
Sebenarnya, seberapa keras orang ini berlatih?! Dia lebih seperti monster! Melihat tubuhnya saja aku sudah gemetar, bagaimana jika dia mengeluarkan sihirnya?!
Menyadari sedang diawasi, Zero memanggil sang penguntit tanpa takut semisal ada bahaya yang terjadi.
“Kalau kau merasa lelaki, keluarlah,” seru Zero.
Octo langsung panik dan tidak punya pilihan lain selain menghampirinya.
“Ahaha maaf, aku tidak bermaksud untuk mengintip. Hanya saja, tubuhmu ini sangat bagus sehingga membuatku tertarik.”
“Apa kau?” Zero memasang wajah jijik.
“Tidak-tidak maksudku bukan yang seperti itu. Aku tertarik dengan bagaimana cara kau berlatih sampai pada tahap ini.”
“Hmmmp.” Zero masih tidak percaya dan menatap Octo dengan tajam.
Jangan melihatku seperti itu … bagaimana jika dia mengeluarkan sihirnya?!
__ADS_1
“Hahaha begitu ya, salam kenal namaku ….”
Octo bernafas lega karena Zero tidak menanggapi masalah tadi.
“Namaku Octo.”
“Octo ya? Nama yang bagus.”
“Terima kasih, aku sudah takut tadi karena kukira kau akan menyerangku dengan sihir,” seru Octo.
“Sihir? Hahaha kau berpikir terlalu jauh, lagipula aku tidak memiliki atribut sihir.”
“Begitu ya … tunggu, APA??!!” teriak Octo.
“Eh? Kenapa kau terkejut begitu?” tanya Zero.
“Kenapa kau terus berlatih meski kau tau dirimu sudah tidak berguna di dunia ini?!” teriak Octo.
“Memang apa yang salah dengan itu?”
“Ah kau tidak mengerti bung. Pertama biar kujelaskan, aku juga tidak memiliki atribut sihir dan tentu saja meskipun kita berlatih sekeras apapun, kita tidak akan bisa mengalahkan orang yang memiliki atribut sihir.”
“Lalu kenapa kita tidak merubah hal itu?” senyum Zero.
“Apa maksudmu?”
“Dengar, di dunia ini, semua hal bisa dicapai dengan kerja keras. Jika kau percaya itu, maka suatu saat impianmu akan terwujud.”
“Itu terdengar mudah untuk diucapkan. Lagipula aku sudah pernah melakukan itu selama beberapa tahun, dan tetap saja aku tidak bisa mengalahkan satu pun bangsawan yang memiliki atribut sihir.”
“Lalu kau menyerah begitu saja?”
“Kau tidak mengerti, dengan menuruti keinginan para bangsawan, setidaknya nyawa kami bisa diampuni dan mendapat sedikit makanan.”
“Lalu apa yang terjadi jika kalian melawan?”
“Tentu saja kami akan dieksekusi secara langsung.”
Ah lagi-lagi seperti itu.
“Hey, apa kau percaya bahwa aku bisa mengalahkan seluruh bangsawan itu bahkan tanpa menggunakan sihir?” tanya Zero.
“Hah?! Apa kau bercanda-” ucapan Octo terhenti saat melihat Zero mengucapkannya dengan tatapan serius.
Dia ini ….
“Meskipun kau bilang begitu, tetap saja itu terdengar mustahil.”
“Sudah kubilang, aku akan mengubah dunia ini menjadi lebih baik tanpa harus merendahkan siapapun!” seru Zero sambil tersenyum.
Melihat raut wajahnya yang bersungguh-sungguh membuat Octo hanya bisa menyemangatinya dan berharap hal itu dapat terwujud meskipun masih ada perasaan sedikit tidak percaya.
“Jika itu terjadi, aku akan berharap banyak padamu,” balas Octo.
“Kruyukkk.” Pembicaraan berat tersebut membuat Zero menjadi lapar, terlebih dia belum makan selama beberapa hari karena terus berlatih.
“Hey bagaimana jika kau tinggal di tempatku, setidaknya kau akan mendapatkan makanan,” seru Octo.
“Benarkah?! Apa kau serius?!” seru Zero.
“Tentu saja, lagipula sekarang kita adalah teman. Ayo ikut aku!”
Teman ya? Kurasa baru pertama kali aku mendengar hal itu.
“Hey tunggu aku!”
Kisah pertemanan mereka bersama dengan korban perang dimulai.
Bersambung ....
__ADS_1