Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 46: Bekerja Sama


__ADS_3

Selagi keadaan mulai tidak menguntungkan mereka, Dom berhasil menciptakan skill baru setelah sebelumnya hanya dapat membuat sebuah gumpalan yang tidak berguna.


“Baiklah kita coba, elemen tanah … Soil Control!”


“Crkraaak,” suara dari kumpulan tanah yang menyatu.


Dom berhasil mengontrol tanah di sekitarnya dengan skala kecil.


Hahaha sudah kuduga aku dapat melakukannya. Selanjutnya ….


Dom menyalurkan tanah tersebut ke arah kakinya sehingga dapat membuat pijakan yang kuat agar bisa bergerak dengan bebas.


Baiklah kurasa ini bisa!


Karena dapat bergerak seperti biasa, Dom mulai masuk ke dalam pertempuran. Richard yang melihat muridnya dapat bergerak bebas mulai menunjukan wajah anehnya.


Sejak kapan bocah itu bisa mengontrol kekuatannya sendiri.


“Baiklah aku datang!” teriaknya.


Dom berlari ke arah Monster tersebut dengan penuh keyakinan, ia bergerak secara melingkar sambil mencari celah agar dapat melukai Monster tersebut.


Selanjutnya, Dom melancarkan serangan menggunakan pedangnya dengan cepat.


“Sword Dice,” bagian tubuh monster tergores akibat serangan Dom.


“Groaa!” Cyclone Wolf mulai mengamuk.


“Hoo ternyata elemen tanah,” ungkap Zeed.


Sudah lama aku tidak melihat elemen ini, tapi bukankah elemen tersebut hanyalah sampah di kerajaan? Pantas saja dia terlihat ragu saat mengatakannya tadi.


“Tidak kusangka bocah itu mampu menggunakan pedang serta sihir secara bersamaan, ditambah lagi di umur saat ini,” seru Zeed.


“Hahaha dia memang anak yang berbakat kau tau,” balas Richard sambil memandang Dom dengan tersenyum.


Tanpa sadar, keduanya menjadi akrab ketika membahas sesuatu tentang Dom.


“Hey jangan sok akrab denganku penjahat.” Richard tersadar kembali akan orang disebelahnya ini.


“Bukankah kau yang menanggapi perkataanku?” tanya Zeed.


“Haa?! Jadi disini aku yang salah begitu?” Richard tidak mau mengalah.


Zeed hanya bersabar sambil menatap Richard dengan wajah kebencian seperti ingin melemparnya ke ujung jurang.


Aku harap pak tua ini segera dimakan oleh monster.


Di pertarungan.


“Srang sreng srang!” Dom kembali melakukan tebasan dari berbagai arah dengan kecepatan yang luar biasa.


“Divine Sword … Ultimate!” Rentetan serangan dari pedang Dom terus mengarah pada Cylone Wolf.


Dom terus menyerang tanpa henti. Namun … karena perbedaan level yang cukup jauh, Dom hanya mendaratkan sedikit luka pada Cyclone Wolf. Bahkan serangan terkuatnya tidak mampu membelah tubuh dari monster tersebut.


“Ah keras sekali!!! Padahal aku sudah mengeluarkan seluruh kemampuanku. Apa tidak ada cara lain? Apa aku harus menggunakan gumpalan konyol itu lagi?


Saat memikirkan tentang gumpalan konyolnya, tiba-tiba Dom teringat sesuatu yang mungkin dapat bekerja di saat seperti ini.


Gumpalan … hmm mungkin saja bisa!


“Paman Listrik, Paman Richard, mendekatlah aku punya ide.”

__ADS_1


Mereka bergerak mendekati Dom dengan penuh usaha karena kemiringan medan. Setelahnya Dom menjelaskan rencananya.


“Apakah aku bisa mempercayai seorang anak kecil?” tanya Zeed.


Benar juga, sepertinya bocah ini bisa berguna kali ini ....


“Jangan menganggap remeh diriku paman,” jawab Dom dengan yakin.


“Aku percaya padamu, jadi jangan kecewakan aku oke!!!” jawab Richard dengan wajah mantapya.


“Baiklah, ayo lakukan!!!”


Dom mulai mengaktifkan sihirnya.


“Elemen tanah … Soil Control."


Elemen tersebut mulai disalurkan kepada Zeed dan Richard agar dapat bisa menstabilkan langkah mereka agar bisa bergerak bebas. Namun, karena Dom baru menguasainya, ia tidak bisa menggunakannya dalam waktu yang lama.


Meski mana Dom cukup terkuras, tapi dia masih bisa mengontrol kekuatannya untuk langkah selanjutnya.


Wow tidak kusangka tanah miliknya dapat digunakan di saat seperti ini, tapi ….


“Hei jangan memaksakan dirimu okey?” tegur Richard.


“Hahaha tenang saja paman, kau cukup mengalahkan monster itu!” teriak Dom.


Zeed hanya tersenyum kecil.


Dengan begini, aku dapat bergerak bebas. 


Setelah mendapat sihir dari Dom, Richard dan Zeed bersiap untuk menyerang


“Hey petugas listrik, jangan menghambat kami …,” ujar Richard.


“Sebaiknya kau introspeksi diri, kepala api,” balas Zeed.


“Terimalah ini monster jelek!” Dom mulai melempar skill miliknya dalam jumlah banyak.


Gumpalan tanah yang dibuat oleh Dom mengarah ke mata Monster tersebut yang membuat penglihatannya terganggu untuk sementara. Setelahnya, ia mengaktifkan Soil Control untuk mengunci pergerakan dari monster tersebut.


Namun, karena lingkup areanya masih terbatas, Dom harus menggunakannya dari dekat dengan risiko yang tinggi.


"Crrracks." Elemen tanah milik Dom berhasil mengunci Cyclone Wolf.


“Sekarang Paman!” teriak Dom.


Rasanya aku sedang bekerja sama dengan pak tua ini ….


“Elemen petir … Shockwave.”


“Bzzt … bzzt ….”


“Terimalah ini!! Elemen Fire … Rainbow Fire!”


“Boom!!!” Terjadi ledakan yang cukup besar hingga membakar banyak hutan di sekitarnya.


“Groaaaaaaaaa!!!”


Gabungan serangan dari elemen api serta listrik berhasil membuat monster tersebut berubah menjadi abu. Karena menggunakan cukup banyak mana, membuat Dom cukup kelelahan dan kehabisan energi. Ditambah lagi, sebelumnya dia sudah bertarung dengan pedangnya.


“Ah untung saja ini sudah berakhir” Karena lelah, Dom mulai kehilangan keseimbangan.


Saat hendak terjatuh, sang guru pun datang menolong.

__ADS_1


“Paman Richard?” tanya Dom yang matanya sudah kunang-kunang lalu kemudian tertidur.


“Hahaha begitu saja sudah jatuh, dasar payah.” Richard menggendong murid kesayangannya.


Kau sudah menjadi lebih kuat, Dom.


Beberapa menit setelahnya, medan yang semula miring berubah kembali menjadi datar. Namun … hal tersebut malah membuat Zeed dan Richard semakin curiga dengan area tersebut.


“Ini aneh, kenapa medannya berubah menjadi datar? Hey pemandu, kau tau apa yang terjadi?”


“Aku juga tidak tau, dan lagi jangan sok akrab denganku,” jawab Zeed dengan wajah angkuh.


Bukankah harusnya aku yang mengatakan itu?! Orang ini … semoga kau tersambar petir buatanmu sendiri.


Zeed yang melihat Richard sedang menatapnya hanya bisa memendamnya dalam hati.


Ah ... pak tua ini sepertinya sedang memikirkan hal yang tidak berguna. Meskipun dia kuat, tapi kemampuan berpikirnya tidak lebih baik dari bocah itu. Bahkan mungkin lebih buruk.


Meskipun sebelumnya Zeed dan Richard sudah bekerja sama, namun rasa benci dalam diri mereka masih sama seperti saat pertama kali bertemu.


Selagi Dom tertidur, mereka terus melanjutkan perjalanan. Hanya saja, ada sesuatu yang tidak beres terjadi.


“Aneh, kenapa aku seperti hanya berputar-putar disini? Hey ahli petir, apa kita sudah berada di jalan yang tepat?”


Zeed tidak menanggapi pertanyaan Richard, ia hanya fokus untuk mencari jalan keluar dan mencari penyebab dari masalah yang terjadi.


Ini aneh, rasanya kita seperti sedang berada dalam ilusi. Tapi sejak aku mulai berjalan, entah kenapa batu itu mengganggu pemandanganku. Apa jangan-jangan ada kaitannya?


Karena penasaran dengan batu itu, Zeed berjalan menghampirnya diikuti Richard yang tidak bisa diharapkan ketika kondisi seperti ini.


Setibanya di batu tersebut, Zeed melihat sebuah tulisan.


“Bertarung atau mati,” tulisan di batu itu. “Apa maksudnya ini?” tanya Zeed yang bingung.


Setelah Zeed membacanya, cuaca di area tersebut menjadi sangat gelap hingga seperti malam hari. Di atasnya terdapat percikan petir yang menandakan akan terjadi sesuatu yang hebat.


Setelahnya, hutan di sekitar menjadi gundul dan terjadi sebuah angin topan di tengah tempat tersebut. Keberadaan angin yang seperti sebelumnya menganggu penglihatan Richard.


“Wuissss,” suara angin kencang.


“Kenapa aku merasa seperti sedang terjadi kiamat di tempat ini?!” teriak Richard.


Rasanya iklim disekitar sini dapat berubah kapan saja.


Dibalik besarnya angin, tersembunyi sesosok monster kuat yang disinyalir sebagai penunggu area tersebut.


"Hey hey hey, lambang di kepala itu?! teriak Richard.


Richard melihat sebuah nama di kepala monster tersebut yang bertuliskan Zackal.


Menurut informasi yang ada di buku sihir, kekuatan dari monster itu adalah Rank A+ dengan kemampuan fisik yang setara dengan Rank S.


“Sepertinya inilah yang aku cari selama ini,” ungkap Zeed dengan menyeringai


Tapi apa-apaan tekanan ini, apa aku bisa melawannya? Auranya sangat menyeramkan dan begitu dingin ....


“Groaaaaaaaaa!”


Teriakan Monster tersebut membuat Dom terbangun dari tidurnya dan melihat pemandangan yang tidak biasa di depannya.


“Uaaaaaa-” Richard menutup mulut Dom agar tidak berisik.


“Hey jangan berisik sialan!” teriak Richard yang takut keberadaannya diketahui.

__ADS_1


Mmmppp … besarnya seperti Tyrant Dragon yang pernah kutemui, hanya saja kekuatannya ini, kenapa rasanya lebih kuat?


Bersambung ....


__ADS_2