Truth Seeker

Truth Seeker
Episode 74: 5 Penjaga


__ADS_3

Setiap aku melihatnya menggunakan jurus aneh, entah kenapa diriku selalu merasakan ada hawa lain mengitari tubuh bocah itu.


“Kak … Kakak Bram?” Panggilan Dom tidak terdengar oleh Bram karena ia sedang berada dalam lamunannya.


Sebenarnya apa sumber kekuatannya?


“Tinju kebenaran!”


Karena kesal, akhirnya Dom melayangkan sebuah tinju ke arah perut Bram.


“Ughhtt!” Bram terpental beberapa meter.


“Hey apa yang kau lakukan adik?!” teriak Bram.


Pukulannya ini seperti sebuah palu! Apa dia ingin membunuhku!


“Aku pikir kau terpengaruh oleh sihir karena tidak menjawab panggilanku hehehe.”


Alasan macam apa itu ….


“Ah ya sudah, sebaiknya kita mengambil inti mana pada monster itu.”


Setelahnya, mereka mendekati tubuh Leisure yang sudah tidak bergerak.


“Karena monster ini cukup kuat, aku rasa inti mana miliknya akan cocok di tubuhmu,” seru Bram.


“Begitu ya?”


Dom mengambil cahaya bak kristal tersebut dengan perlahan layaknya menjaga seorang bayi yang baru lahir.


Ah indah sekali … tunggu, sepertinya aku lupa bertanya hal penting pada Peri Lyfa.


“Emm … lalu, bagaimana cara menggunakan ini?” tanya Dom.


“Itu ….”


Suasana seketika menjadi hening dalam beberapa menit ke depan.


Jangan bilang ….


“Halo kakakku, apa kau tidak tau cara menggunakan benda ini?” tanya Dom dengan nada lembut.


Bodohnya aku karena lupa bertanya kepada kakek ….


“Ahaha ahaha begitulah.”


“EH??!!” teriak Dom hingga terdengar ke seluruh hutan.


Ah perjuanganku selama ini ….


Sikap Dom mendadak berubah setelah mendengar hal itu.


“Aku mendadak ingin pulang …,” ungkap Dom dengan wajah lemas.


“Ayolah jangan sedih begitu. Setelah semua yang sudah dilakukan, apa kau mau menyerah begitu saja?”


“Bagaimana aku tidak sedih sialan! Kita bahkan tidak tau cara menggunakan kristal ini!” teriak Dom.


Emm benar juga ucapannya. Tapi ….


“Jangan khawatir akan hal itu. Lagipula kita belum menelusuri hutan ini sampai ke ujungnya.”


“Ujungnya?” tanya Dom.


“Menurut kakek, tempat itu adalah sarang dari seluruh monster yang memiliki atribut kristal. Hanya saja, karena belum pernah melihatnya secara langsung, aku meragukan itu."


“Lalu apa bedanya jika aku tidak bisa menggunakan inti mana dari monster yang sudah aku kalahkan? Ah itu tidak membantu." Dom meratapi kesedihannya sambil berucap "Apa sebaiknya aku pulang saja?"


“Meskipun aku menyarankan untuk tinggal, tapi disini aku hanya bertugas untuk mendampingimu. Selebihnya, semua keputusan ada ditanganmu."


Dom terdiam sejenak.


"Jadi bagaimana?" tanya Bram.


Benar juga … lagipula, petualanganku sejak awal hanya seorang diri. Aku juga hampir mati karenanya. Apa sebaiknya aku berhenti saja? Tapi ….


“Aku ….”


“Clang.” Ketika Dom tengah membuat keputusan. Kristal dari Leisure tiba-tiba mengeluarkan sebuah cahaya yang perlahan terangkat ke atas mereka.


Tidak selesai sampai situ. Seluruh monster yang sudah dibantai oleh Bram ikut mengeluarkan cahayanya.


“Apa yang terjadi?!” tanya Dom.


“Aku juga baru pertama kali melihat ini,” balas Bram.


Semoga saja bukan pertanda buruk.


Cahaya tersebut semakin terangkat ke arah langit. Setelahnya kumpulan cahaya bekas monster sebelumnya bergerak ke tempat yang belum pernah dimasuki oleh Dom maupun Bram.

__ADS_1


Ini aneh, kalau tidak salah Peri Lyfa berkata untuk menyerap inti mana itu, kenapa ini berbeda dengan apa yang dikatakan olehnya ....


“Ah jika sudah begini, mana bisa aku berhenti.” Dom mengejar kemana perginya sumber inti mana tersebut dan meninggalkan makhluk di sebelahnya.


Dia bahkan tidak menunggu kakak ini ….


“Hey Dom tunggu aku!” teriak Bram yang mencoba mengejar dari belakang.


Beberapa menit setelahnya, cahaya matahari yang sebelumnya masih terlihat di atas perlahan meredup hingga pada tahap dimana manusia normal membutuhkan alat bantu untuk melihat ke depan.


“Jika bukan karena kumpulan kristal itu, aku akan sulit melihat. Sebaiknya aku tetap mengikutinya dari dekat.”


Karena terfokus dengan keberadaan cahaya kristal membuat Dom melupakan ketakutannya akan kegelapan.


Rasanya cahaya ini seperti menuntunku. Apa ini jebakan? Ah aku tidak perlu berpikir macam-macam.


“Sepertinya ada yang kurang … tapi apa ya?” Karena terlalu semangat mengejar inti mana, Dom melupakan sesuatu yang sangat penting.


Sementara itu.


“Hah … hah … hah, aku tidak bisa menyusulnya.”


Dari mana datangnya kecepatannya itu.


“Nguk nguk,” suara burung hantu mulai terdengar.


Karena berusaha mengejar Dom, Bram baru sadar bahwa dia sudah berada di tempat yang berbeda.


Loh, dimana ini?!


“Dom!” teriak Bram.


Ini menakutkan, sebaiknya aku mencari jalan keluar terlebih dahulu, baru mencari Dom.


Beberapa saat kemudian.


"Hah ... hah ... sialan kenapa jadi seperti ini!"


"Groaaa!" Karena ceroboh, Bram dikejar oleh beberapa monster kuat.


Ah … sudah berakhir. Padahal kan aku pemandunya, bisa-bisanya aku tersesat disini.


“Kenapa kau meninggalkanku di tempat seperti ini DOM!”


Setelah cukup jauh dari start awal, akhirnya inti mana tersebut masuk ke dalam sebuah gua besar dan gelap. Menyadari hal itu, Dom menghentikan langkahnya sejenak.


Sebaiknya aku pastikan sendiri.


Sesaat ketika langkah kakinya mulai memasuki pintu masuk.


“Slash!” Sebuah tombak dari jauh mengarah tepat pada pijakan pertama Dom.


Hih! Untung saja reflekku cukup baik akan hal seperti ini.


“Siapa disana?!” teriak Dom.


Dom menunggu balasan namun tidak kunjung datang.


Hmm apa aku sedang di permainkan? Kalau begitu ….


“Elemen tanah … Gigant Earth! Hyaaa!” Bongkahan tanah yang begitu besar terangkat ke atas. Dom berencana untuk menghancurkan tempat tersebut dengan sekali serang.


“Hey bukankah itu berbahaya.”


Sepersekian detik sebelum serangan itu diturunkan. Satu persatu penghuni tempat tersebut keluar dengan cepat tanpa diketahui oleh Dom, dan salah satunya berhasil menahan Gigant Earth milik Dom hanya dengan satu tangan.


Satu tangan?! Ini tidak akan mudah.


“Tapi … jika hanya dua bintang. Aku masih bisa mengalahkannya!”


Dom turun kebawah dan mengambil kuda-kuda sambil mengeluarkan pedangnya.


“Swosh!”


Aku masih belum bisa menggunakan jurus tadi. Tapi … selama aku bisa mengetahui titik lemahnya, itu tidaklah sulit!


“Terima ini! Divine Sword … Strike!”


“Srang!”


Tubuh Dom berhenti sejenak setelah melihat pedangnya retak karena menyerang kelemahan musuh.


Ini ... tidak mungkin.


“Apa sudah selesai?” tanya musuh dengan menyeringai.


Rasanya dia melindungi titik lemahnya dengan sesuatu, keras sekali!


“Hyaaa!” Dom mencoba melancarkan serangan kejutan dan mengarah ke wajah musuh. Hanya saja ….

__ADS_1


“Hap!” Pedang milik Dom ditahan dengan mudah.


“Jika kau berpikir aku sama dengan monster yang kau kalahkan sebelumnya. Maka itu adalah sebuah kesalahan besar.”


Pihak musuh lalu melempar Dom dengan cukup tinggi.


“Kita lihat apa kau bisa menari denganku!” Dari atas, nampak muncul musuh lain yang sudah menunggu Dom hingga terangkat ke atas.


Sejak kapan?!


“Srat srat srat!” Tubuh Dom mulai tersayat sayat oleh serangan cakar milik musuh.


“Urghht! Sialan! Elemen tanah … Soil Control!”


Sihir Dom membuat langkah musuh tertahan sejenak. Namun ….


“Kemana kau melihat nak?” tanya musuh yang menyayat Dom.


Dari samping, terpancar aura membunuh yang begitu kuat.


“Steraking Fist!” Sebuah pukulan kuat menghantam perut Dom hingga menabrak pohon.


“Uaaaa!”


Mereka kuat! Ini berbahaya!


“Tidak kusangka Leisure kalah dengan sampah seperti ini,” ungkap musuh yang belum menyerang Dom.


“Yah wajar saja, karena dia lebih lemah dari kita,” ujarnya sambil menyeringai.


Di dalam Dungeon tersembunyi.


“Tuan, sepertinya pengawal kita sudah mulai bergerak menghadang bocah itu.”


“Grrrr sungguh menarik. Belum pernah ada manusia yang bisa sampai sini zehaha. Ini pertama kalinya setelah 100 tahun lamanya.”


“Tapi sayangnya, mereka hanya melawan anak kecil.”


“Aku tidak peduli hal itu. Selama dia memiliki inti mana yang kuat, itu tidak masalah. Jika dia berhasil mengalahkan penjaga gerbang, aku sendiri yang akan turun tangan.”


“Tidak perlu sampai seperti itu. Lagipula, kelima orang itu memiliki darah dari pencipta kita.”


“Tinju kegelapan, Lion.”


“Sang bayangan, Blow.”


“Skybird, Nana.”


“Nomer 4, Fourth.”


“Lalu pemimpin mereka … penghancur segalanya, Zero.”


“Mereka semua adalah salah satu eksperimen yang disukai oleh pencipta. Jadi tuan tidak perlu khawatir.”


Di luar Dungeon.


“Uhuk .. uhuk. Sial, mana bisa aku menang menghadapi empat monster ini.”


Lagi-lagi aku tidak bisa mengalahkan yang kuat ....


Ketika melihat ke depan, Dom menyadari sesuatu yang bisa membuatnya terbunuh secara tiba-tiba.


Tunggu! Bukannya tadi sebelum masuk aku terkena serangan tombak? Kenapa dari mereka tidak ada yang memegang senjata?


“Black Arrow!”


“Wossh!” Tombak tersebut melesat ke menuju ke arah Dom tengah terluka di bawah pohon.


Gawat!


“Boom!” Tembakan dari Zero mengenai Dom dengan begitu telak.


"Hah ... hah ... hah ini tidak baik."


Dengan mengandalkan ability miliknya, Dom berhasil mengubah arah panah tersebut sehingga hanya mengenai pundaknya.


Jika aku tidak menggunakan sihirku, panah itu pasti sudah menembus jantungku ....


"Hah ... tidak ada pilihan lain selain menggunakan itu."


Dari kejauhan.


“Hihihi rupanya dia memiliki potensi. Namun ... itu tidak akan lama,” serunya sambil melihat pertarungan Dom.


“Tidak! Aku bisa merasakan kekuatan yang mengalir dari tubuh anak ini meskipun masih samar-samar. Zehaha, setelah puluhan tahun, inilah yang kutunggu!” menyeringai.


Tantangan sebenarnya baru akan dimulai.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2