
Keadaan saat ini di puncak Gunung Greenfield terlihat lebih berbeda dibanding ketika Dom dan Richard pertama kali tiba di sini. Banyak kerusakan yang sudah terjadi akibat benturan serangan dari masing-masing pihak.
Richard, Dom, dan Helen terlibat pertarungan berskala panjang yang cukup sengit. Tapi … karena salah satu pihak terhisap ke dalam cermin, membuat tempat ini hanya menyisakan dua orang penghuni.
Ditambah lagi ... semua suasana menegangkan tersebut berubah menjadi sunyi seperti layaknya sebuah gunung tanpa penghuni.
Saat ini, kedua penghuni di gunung tersebut hanya terbaring lemas di hamparan tanah yang sedikit tinggi sehingga tidak terkena oleh air. Mereka hanya menatap indahnya langit malam sambil menahan rasa sakit.
Setelah kesadaran Dom kembali seperti semula.
“Urrgght … tidak kusangka efek dari elemen kegelapan akan jadi seperti ini,” seru Dom yang masih tidak bisa menggerakan tubuhnya.
Inti manaku juga sepertinya sudah habis.
Melihat musuhnya tergeletak tidak berdaya, membuat Helen mencoba untuk mencuri peruntungan. Hanya saja ….
“Padahal ini kesempatanku setelah dia terus menyerangku! Tapi ….”
Sial, kenapa disaat seperti ini aku tidak bisa menggerakan tubuhku!
“Hahaha sepertinya kau juga masih tidak bisa menggerakan badanmu ya,” sindir Dom dari kejauhan.
“Berisik! Tunggulah disana sebentar lagi, aku pasti akan menebas kepalamu!” teriak Helen.
“Harusnya aku yang berkata seperti itu … apalagi setelah kau membunuh keluargaku satu-satunya …,” balas Dom.
Meskipun masih menyimpan dendam, mendengar hal seperti itu membuat Helen tidak bisa berkata apa-apa.
Kenapa aku malah jadi mengasihani manusia ini ….
“Aku minta maaf soal itu. Namun … aku hanya ingin melindungi hutan ini dari musuh.”
“Alasanmu itu tidak akan menggoyahkan niatku. Sebenarnya aku ingin sekali menebas kepalamu, tapi saat ini, untuk merangkak saja rasanya sulit sekali,” balas Dom.
“Heh … menebas kepalaku? Terlepas dari kekuatan anehmu, kau hanyalah sampah yang bisa aku kalahkan dengan mudah,” balas Helen.
Keduanya berada dalam situasi yang sama setelah kehabisan tenaga dan tidak memiliki cukup energi untuk bertarung kembali.
“Sepertinya kita sama-sama tidak bergerak, bagaimana jika kita gencatan senjata terlebih dahulu sambil memulihkan energi kita,” seru Dom.
Gencatan senjata? Apa maksud bocah ini?
“Hah?! Apa kau gila? Siapa yang mau untuk melakukan hal bodoh seperti itu!” tegas Helen.
“Padahal kau orang yang cantik dan menarik. Tapi … mungkin aku tidak bisa memaafkanmu hanya karena hal itu, terlebih guruku sudah …,” ujar Dom dengan nada sedih sambil menatap ke arah langit.
“Yah … Itu lebih baik, karena aku tidak perlu belas kasihan dari seorang manusia.”
“Tapi karena keadaan kita seperti ini, bukankah lebih baik untuk berdamai sejenak?” tanya Dom.
Kenapa susah sekali membujuk Elf sialan ini, ayolah ….
“Apa kau mencoba untuk mengambil keuntungan dariku selagi hal itu terjadi?!” seru Helen.
Jangan sampai aku terkena rayuannya.
“Kenapa otakmu dangkal sekali, lagipula saat ini aku tidak bisa bergerak. Ditambah lagi, kau lebih kuat dariku …,” bujuk Dom.
Sial, aku sudah berada di batasku ….
Itu terdengar masuk akal …. Tapi bagaimana jika dia menyerang di saat aku lengah? Ah ini menyebalkan.
“Cih … baiklah, tapi kuingatkan bahwa setelah ini aku akan membunuhmu!” tegas Helen.
__ADS_1
“Haha aku senang mendengarnya ….”
Mereka hanya berbaring lesu sambil menatap ke arah langit dengan cakupan jarak yang tidak cukup jauh. Tanpa disadari, mereka saling mengejek dan berinteraksi layaknya seorang rekan lama.
Tentunya momen seperti ini jarang sekali terjadi dimana kedua orang yang memiliki niat untuk membunuh satu sama lain berubah menjadi seseorang dengan kepribadian berbeda.
“Langit di tempat ini sangat indah, aku bahkan ingin tetap disini lebih lama lagi,” seru Dom sambil menatap cahaya bintang di atas langit.
“Gunung Greenfield adalah tempat yang sangat indah sebelum banyak orang mengincar harta milik kami. Bahkan salah satu pencurinya ada di sebelahku,” sindir Helen sambil melirik ke arah Dom.
“Hahaha maaf soal itu, sebenarnya aku ingin berbicara baik-baik. Terlebih aku memang membutuhkan Imperial Stone untuk membangkitkan potensi dari elemen tanahku.”
Mendengar Dom memberi sesuatu yang jarang didengar, membuat wajah Helen dipenuhi oleh rasa penasaran disertai dengan lamunan yang panjang.
Bagaimana dia?
“Tunggu … kenapa kau bisa tau bahwa Imperial Stone bisa membangkitkan kekuatan tanah?” tanya Helen.
“Berhentilah menatapku seperti itu. Aku diberitahu oleh seseorang yang juga penghuni di Hutan Teraria.”
Sepertinya sudah waktunya, aku tidak kuat lagi ….
Hutan itu kan? Tidak, pasti dia hanya mengarang cerita untuk membodohiku. Tapi … bukannya hanya segelintir orang yang tau tentang informasi itu?
“Hey siapa nama orang itu-”
“Ngook,” tanpa sadar Dom sudah pindah ke alam lain.
Urat kepala milik Helen mendadak keluar setelah melihat lawan bicaranya tertidur pulas.
Karena selama perjalanan Dom jarang sekali istirahat, membuatnya mengalami kantuk yang sangat berat, terlebih dia sudah kehabisan energi.
“Cih! Bisa-bisanya manusia ini tertidur dalam sebuah pertarungan. Jadi ini maksud dari gencatan senjata itu? Sialan …,” seru Helen yang merasa dibodohi oleh seorang bocah.
Helen kembali menatap langit dan merenungkan kejadian barusan.
Kenapa hari ini terasa begitu berat ….
Karena terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting membuat Helen tertidur tanpa sadar.
Suasana menjadi sangat hening, yang terdengar hanyalah suara hembusan angin malam dari puncak gunung. Mereka tertidur sangat pulas tanpa ada pihak manapun yang mengganggu.
Gencatan senjata menandakan akhir dari pertarungan mereka di hari itu. Sementara itu, di suatu tempat.
--------------------------
“Ah, sial … bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?” tanyanya.
-------------------------
Tanpa sadar, matahari sudah mulai terbit diiringi dengan kicauan burung. Helen mulai membuka matanya perlahan dan tidak sadar dengan kondisi yang sedang dialaminya.
“Sudah pagi? Apakah aku tertidur?! Sial, apakah bocah itu mengambil keuntungan?!” teriak Helen.
Dengan wajah panik, ia melihat ke arah Dom dan mendapatinya masih tertidur dengan pulas seperti seorang bocah pada umumnya.
“Sepertinya tidak mungkin, dan lagi kenapa bocah ini santai sekali …,” ujarnya.
Tubuhku masih terasa sakit dan belum pulih sepenuhnya. Tapi … ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
Berkat istirahatnya yang cukup, Helen dapat menggerakan tubuhnya secara perlahan.
“Hah … ini bahkan lebih dari cukup!” tegasnya.
__ADS_1
Setelahnya, ia mengambil Eden Sword dan mendekati Dom secara perlahan, kemudian menatapnya dengan tajam.
“Kalau aku membunuhnya sekarang, semuanya akan selesai. Tapi ….”
Mengingat sebelumnya mereka sudah sepakat melakukan gencatan senjata, membuat Helen tidak bisa menyentuhnya. Ditambah lagi, seorang prajurit tidak boleh melanggar janji yang sudah dibuatnya.
Namun ... ketika dia melihat tubuh Dom.
Tunggu …. Kenapa bocah ini bisa pulih lebih cepat?!
“Cih, sepertinya aku benar-benar dibodohi. Hey, bangunlah sialan!” teriak Helen sambil menendang tubuh Dom.
“Uaaa!” Dom terbangung sambil terpental beberapa meter.
“Aduh … sakit sekali!” Dom melihat ke sekitar dan menyadarinya bahwa ia sedang dalam situasi berbahaya.
“Sudah pagi?!”
Ketika dia melihat ke arah Helen.
Ah aku lupa, aku masih harus bertarung lagi dengan wanita gila itu ….
“Bukankah kita masih melakukan gencatan senjata? Apakah kau tidak melihat tubuhku masih terluka?!” tanya Dom yang masih coba membujuk.
“Tidak usah banyak bicara, ambillah pedangmu dan kita selesaikan pagi ini juga!” teriak Helen.
“Cih … Elf sialan!” Dom bergerak ke arah pedangnya.
Tapi … entah kenapa tubuhku jauh lebih sehat, hehehe mungkin dengan ini aku bisa membunuh Guardian sombong itu!
Setelah menyudahi gencatan senjata, dan beristirahat dengan cukup pulas. Mereka kembali melanjutkan apa yang sudah dimulai pada hari sebelumnya.
Masing-masing pihak memegang sebuah pedang dan mengambil jarak dari beberapa meter sebagai tanda sportifitas.
“Huh … fokus, aku tidak boleh terlihat lemah lagi …,” ujar Dom.
“Jadi, apa kita bisa mulai?” sindir Helen.
“Hahaha kau jadi lebih ramah dari sebelumnya nona cantik,” ejek Dom.
“Hah?! Apa kau bilang!!!” Helen mulai berlari ke arah Dom.
“Hehe inilah yang kutunggu!” Mereka berdua kembali memulai aksinya.
Matahari sudah semakin naik ke atas, bersamaan dengan kemarahan mereka yang sudah kembali seperti semula.
Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuh batu itu!
“Eden Sword.”
Ini untuk Paman Richard!
“Basic Sword!
Mereka berlari semakin cepat melewati genangan air yang mulai naik secara perlahan.
“Srang!” Benturan pedang terjadi diiringi dengan wajah senyum menyeringai dari kedua pihak.
"Jangan harap bisa menyerangku lebih dari ini manusia!" tegas Helen sambil tersenyum sombong.
“Heh, jangan terlalu sombong nona pedang,” balas Dom.
Pertarungan mereka, kembali berlanjut.
__ADS_1
Bersambung ….