Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 51: Sebuah Artefak


__ADS_3

Setelah musuh melukai Dom, amarah Richard menjadi tidak terkontrol sehingga membuat auranya meledak-ledak.


“Bukankah sudah kubilang untuk tidak menganggu anak ini?” Mata Richard menunjukan aura membunuh.


Gawat, aku tidak menyangka orang ini memiliki kekuatan seperti ini!


“Kekuatanmu memang luar biasa. Tapi … apa kau mau menyerang wanita?”


Dilihat dari wajahnya, sepertinya orang ini hanyalah pria mesum.


“Mungkin rayuanmu akan mempan ketika aku dalam kondisi normal. Namun … itu tidak berlaku ketika kau sudah melukai muridku,” tegasnya sambil mengeluarkan sihir api dari tangannya.


“Elemen api … Hell Punch!” Tinju Richard menghantam perut musuh dengan begitu kuat.


“Urgghhh!”


Kuat sekali!!!


“Jeboom,” Elf itu terlempar hingga menabrak bebatuan di sekitar danau.


Dom yang melihat gurunya berubah menjadi mengerikan tidak bisa berkata apa-apa. Ini pertama kali ia melihat Richard menjadi seorang yang berbeda.


“Apa ini Paman Richard yang kukenal selama ini?!”


Sebenarnya, siapa identitas asli dirimu paman ….


“Uhuk uhuk,” efek dari tinju tersebut membuat musuh kesakitan.


Belum sempat musuh membalas, Richard kembali melayangkan pukulan diiringi dengan kecepatan yang melebihi siapapun di tempat itu.


“Elemen api … Strike Blow!


Ternyata dugaanku salah, pria ini tidak segan-segan menyerang wanita!


“Slash,” musuh mengeluarkan pedangnya untuk menangkis pukulan Richard.


“Sratt,” suara benturan dari tinju dan pedang.


Kuat sekali, sebenarnya tangan pria ini terbuat dari apa?!


“Hyaaa!” Elf itu menggunakan seluruh tenaganya untuk menahan serangan Richard.


“Hoo untuk seorang Guardian, rupanya kau cukup gigih,” seru Richard setelah musuh mengimbangi tinjunya.


“Jangan sombong hanya karena kau telah mendesakku manusia rendahan!” teriak musuh.


“Kuakui Guardian memang kuat. Namun … sepertinya kau melupakan sesuatu, lihatlah ke atas,” gertak Richard.


Melihat ke atas? Apa maksudnya?


Setelah menegok, Elf itu menjadi terdiam diiringi dengan perasaan ketakutan seperti yang sudah dialami Dom sebelumnya ketika hampir tertusuk pedang.


“Ini … tidak mungkin. Kenapa orang ini bisa mengeluarkan sebuah meteor?!”


“APA?! Kenapa pak tua ini bisa mengeluarkan sihir seperti itu!” teriak Dom.


“Elemen api … Jugment Inferno!”


Sebuah meteor berskala kecil dikeluarkan oleh Richard tanpa disadari oleh musuh.


“Sejak kapan kau membuatnya?!” tanya Elf diriingi dengan rasa cemas.


“Selagi kau menahan seranganku, aku sudah mulai merapalkan sihir tersebut.”


Jadi alasan dia mengendurkan serangan karena hal ini. Manusia sialan!


“Sepertinya aku harus menggunakan itu!”


“Paman, bukannya kita juga akan terkena dampak dari sihirmu!” teriak Dom.


“Berlindunglah di belakangku nak, elemen api … Phoenix Robe.”


Meteor tersebut terus bergerak hingga akhirnya jatuh tepat di atas keberadaan musuh.


“Wusssh … Boom!!!”


Richard yang sudah tau cakupan serangannya sangat kuat sudah mengantisipasinya dengan membuat perisai api.

__ADS_1


Serangan yang disebabkan oleh Richard membuat sebuah lubang besar di tengah danau. Hanya saja ….


“Hah … hah … hah, tidak kusangka orang itu berniat menghancurkan tempat ini.”


Ditambah lagi, pria tua itu berhasil menghidupkan kembali mata air gunung. Serangan yang luar biasa.


Dampak Jugment Inferno dari Richard cukup luas hingga membuat sumber mata air yang sebelumnya terpendam, kembali keluar ke atas tanah sedikit demi sedikit karena dalamnya serangan tersebut.


Richard dan Dom terkejut melihat keberadaan musuh yang masih hidup bahkan tidak terluka serius.


“Bukankah Elf itu sudah terkena sebuah meteor?! Kenapa dia tidak terluka sama sekali!” teriak Dom.


Sebenarnya makhluk apa yang sedang kita hadapi?


“Tenanglah Dom, wanita itu pasti menggunakan sebuah artefak,” seru Richard.


“Artefak?”


Ketika Dom melihat ke arah musuh, ia menemui bahwa Elf tersebut memegangi sebuah benda di tangannya.


“Apa itu?” tanya Dom.


“Sayang sekali manusia. Tapi, tadi itu hampir saja,” sindir musuh.


“Kenapa kau masih hidup setelah terkena dampak dari sihirku?” tanya Richard.


“Yah tentu saja karena aku memiliki Mirror Phantom.”


Mirror Phantom adalah sebuah artefak kelas atas yang berfungsi untuk menyerap sihir atau benda apapun di sekitarnya. Namun, syarat untuk menggunakan benda ini adalah orang tersebut harus tidak memiliki inti mana dalam tubuhnya.


“Apa? Bukankah itu artefak milik kerajaan?!” teriak Richard.


“Memangnya sekuat apa benda yang dimiliki oleh Elf itu paman?” tanya Dom.


“Itu adalah artefak kelas atas yang bisa menyerap sihir apapun dari musuh, sepertinya kita akan sulit untuk menghabisinya,” balas Richard.


“Tapi, jika benda itu bisa menyerap sihir Paman Richard, kenapa masih timbul sebuah ledakan besar?” tanya Dom.


“Yah, itu karena aku telat untuk mengaktifkannya sehingga sihir milik gurumu hanya bisa kuserap setengahnya. Untungnya aku bisa menahan sisanya menggunakan Eden Sword dan membelokannya ke bawah,” balas musuh yang tiba-tiba memotong pembicaraan.


Meskipun masih dalam posisi yang tidak menguntungkan, tapi Guardian tersebut tidak terlihat panik ataupun sedang cemas.


Jadi dia pemimpinnya? Pantas saja kuat sekali!


“Lalu memangnya kenapa jika kau seorang pemimpin nona muda? Bukannya kau terlihat kesulitan menandingi gerakanku?” ejek Richard sambil tersenyum.


“Hey paman, kenapa kau malah memancingnya?” bisik Dom dari dekat.


“Tenanglah, tanpa artefak itu. Helen bukanlah apa-apa,” balas Richard.


Mendengar Richard merendahkan dirinya, membuat aura Helen berubah menjadi berbeda.


“Swossh,” efek perubahan pada Helen.


“Owwh, sepertinya dia mendengar pembicaraan kita,” ujar Richard.


“Aku berubah pikiran, sepertinya kau yang harus mati terlebih dahulu pria tua!”


Pedang milik Helen mulai ditancapkan ke tanah. Setelahnya muncul gelombang kekuatan yang kuat sehingga membuat tanah disekitarnya menjadi bergetar, diiringi dengan sumber mata air yang semakin meninggi.


“Tidak lama lagi tempat ini akan berubah menjadi danau. Dom, buatlah Elf itu terdesak menggunakan elemen tanahmu.”


Karena tau keadaan sedang rawan, Dom tidak banyak tanya dan mencoba untuk fokus.


“Bersiaplah, manusia sialan!” Helen bergerak cepat mendatangi Richard.


“Wushh!” Helen melesat.


Dia lebih cepat dari sebelumnya.


“Slash!” Serangan Helen berhasil menggores pakaian dari Richard.


“Hoo, sudah lama aku tidak terluka. Ini menarik!” Richard melesat mendatangi musuh.


Terjadi benturan yang sangat kuat antara kedua pihak diiringi dengan pancaran aura berbahaya.


Sementara itu, Dom terus fokus untuk mencari momen yang tepat untuk bisa menghambat gerakan dari Helen.

__ADS_1


Luar biasa, Helen dapat mengimbangi kecepatan Paman Richard dalam sekejap. Tapi … ini tidak bisa dibiarkan.


“Saat ini Paman Richard memberi kepercayaan padaku, aku tidak boleh mengecewakannya.”


Dom menutup matanya sambil mencoba merasakan hawa keberadaan di sekitarnya. Setelah menunggu, akhirnya dia mendapatkan momen yang tepat untuk menyerang musuh.


“Tidak kusangka kau bisa menahan seranganku,” seru Richard.


“Jangan sombong! Aku masih belum menggunakan seluruh kekuatanku, manusia rendahan!” teriak Helen.


Mereka terus bertarung hingga tidak sengaja berlabuh ke dalam lingkup serangan milik Dom. Tentunya hal ini merugikan Helen, ditambah lagi, momen ini sudah ditunggu olehnya dari tadi.


“Lihatlah kekuatanku manusia!”


Sesaat sebelum Helen mengeluarkan kekuatan penuhnya.


“Cckrraakct,” bunyi sihir Dom.


“Elemen tanah … Soil Control!”


Sebuah serangan kejutan dari Dom berhasil mengenai kaki dari Helen sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.


“Beraninya kau ikut campur anak kecil!” teriak Helen.


“Hey, sebaiknya kau perhatikan sekitarmu,” Richard sudah mengeluarkan sihirnya.


“Burst Fire!”


Untung saja manusia ini bodoh.


“Mirror Phantom, Around!”


Karena efek dari benda milik Helen, Burst Fire milik Richard malah berbalik menyerangnya.


“Sial, aku lupa kalau masih ada benda itu!”


“Boom!”


Belum selesai disitu, Helen terus meningkatkan kekuatannya sehingga membuat Soil Control milik Dom terlepas. Ketika asap ledakan masih cukup tebal, Helen berinisiatif untuk menyerang balik.


“Matilah anak kecil!” Helen tiba-tiba keluar dari gumpalan asap sehingga membuat Dom tidak sempat untuk menghindar.


“UAAA!” teriak Dom yang sudah pasrah.


Karena sadar muridnya dalam bahaya, Richard dengan cepat mencoba menahan Eden Sword milik Helen. Namun ….


“Kau tidak akan bisa menyentuh anak itu!” teriak Richard sambil melompat.


“Hahaha sudah kubilang. Daritadi aku sudah mengincar dirimu manusia bodoh.”


Tanpa Dom sadari, Helen tiba-tiba mengeluarkan artefaknya dengan mengarah kepada Richard. Seketika suasana di pertarungan menjadi hening beberapa saat, karena tidak terpikirkan bahwa Helen akan berbalik menyerang gurunya.


“Apa?! PAMAN RICHARD!!!!” teriak Dom.


“Lenyaplah dari sini, Lord Richard. Mirror Phantom … Suction.”


"Swosshhh." Keberadaan Richard mulai terhisap secara perlahan.


Jadi dia sengaja mengarahkan pedangnya kepada Dom sambil menunggu aku lengah? Guardian ********.


“Dom larilah sekuat tenaga!” teriak Richard yang kemudian terhisap ke dalam artefak tersebut.


“Satu sudah beres, selanjutnya-” ucapan Helen terhenti setelah melihat ada yang berbeda dari Dom.


“Tidak bisa dimaafkan … kembalikan guruku …,” Dom meneteskan air mata diiringi dengan ekspresi kemarahan.


Auranya menjadi hitam? 


“Guardian hanya bertugas untuk melindungi tempat ini. Jadi jangan salahkan aku jika gurumu mati,” seru Helen.


Kalimat terakhir Helen seakan menjadi sumbu bagi Dom untuk terus mengeluarkan kekuatannya.


“Pelindung tempat ini? Kalau begitu, akan kuhancurkan sehingga tidak ada yang namanya lagi seorang Guardian!”


“Wussh!” Hawa keberadaan di sekitar Dom menjadi begitu dingin.


“HELEN!!!”

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2