Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 12: Pencapaian


__ADS_3

Dom umur 7 Tahun.


“Beberapa tahun yang aku jalani bersama dengan Paman Octo membuatku lebih berkembang. Latihan yang kualami selama ini berjalan dengan sangat berat. Bahkan, tidak jarang aku kabur selama latihan. Namun, karena Octo sudah bersumpah untuk selalu melatihku. Paman itu akan selalu mencariku dimana pun dan kapan pun.


"Selain itu, yang membuat aku bisa bertahan sejauh ini, karena orang-orang didekatku selalu memberikan semangat baik itu dari warga desa, Paman Richard, ataupun Guru Octo sendiri."


"Selama di rumah, aku berlatih ketangkasan dan kecepatan bersama dengan Paman Richard. Ya ... tentunya dia masih belum tau bahwa aku juga belajar teknik berpedang. Tidak jarang juga aku meminta nasehat dan berlatih bersama Rebecca, Matias, dan Gabby.


"Mereka sangat baik padaku dan selalu mendukungku disaat Paman Octo berubah menjadi gorila. Aku bersyukur bisa berteman dengan mereka. Tapi ada satu hal yang masih aku pikirkan setiap malamnya, kapan aku bisa mempelajari sihir?"


“Srang ... sreng ... srang,” suara latihan pedang dari Octo dan Dom.


“Bocah, kau terlihat lemas hari ini, tingkatkan semangatmu dan bergeraklah lebih cepat,” ujar Octo.


“Baik!!!” teriak Dom.


Sudah ratusan kali Dom berlatih dengan Octo. Tapi ... dia hanya berhasil mengalahkan Octo sebanyak satu kali saja, itu pun didapat ketika Octo sedang lengah.


Namun semakin hari, Dom bisa mengontrol pedangnya dengan baik, hingga memaksa Octo untuk selalu bertarung dengan serius. Dom sudah banyak berkembang dibanding ketika pertama kali berlatih pedang. Tentunya ini bisa menjadi hal positif ketika Dom ingin membuktikan kepada Richard nanti.


“Hah … hah … hah.” Dom berbaring di tanah karena lelah.


Meskipun aku biasa berlatih seperti ini, tapi tetap saja aku masih merasa lelah.


Selagi Dom menutup matanya, tiba-tiba Octo membawakan sesuatu ketika Dom hampir tertidur.


“Hey siapa yang menyuruhmu untuk istirahat?” tanya Octo.


Dengan spontan Dom pun langsung berdiri dan langsung mengayunkan pedang miliknya, hal tersebut membuat Octo terkejut karena saat ini dia tidak sedang melatih Dom.


“Loh??” Dom bertanya-tanya kenapa Octo tidak ada didepannya.

__ADS_1


“Kau sudah berlatih cukup keras, letakan pedang itu dan duduklah, aku membawakan sesuatu untukmu.” Octo mengajak Dom untuk duduk disebelahnya.


“Apakah sebuah pedang baru paman?” tanya Dom.


“Kenapa yang kau pikirkan hanya itu ....”


Octo membuka sesuatu dari kainnya yang berisikan makanan yang begitu enak, mulai dari daging, roti hingga buah-buahan segar. Semasa Dom hidup di dunia ini, dia sangat jarang mendapatkan sesuatu seperti itu, sehingga hal tersebut membuatnya sangat senang.


“Woaaaah, apa ini untukku paman?” tanya Dom.


“Tentu saja, karena ini adalah hari spesial untukmu ... selamat ulang tahun Dom,” ujar Octo sambil tersenyum.


Tiba-tiba dari belakang rumah Dom, banyak yang berteriak sesuatu ke arah Dom.


“Selamat ulang tahun Dom,” teriak rakyat desa.


"Loh ...," Dom terdiam beberapa saat.


Rakyat Desa Pyro tersenyum ceria kepada Dom, termasuk Octo selalu bersamanya setiap waktu.


“Hiks ... hiks ... hiks,” Dom mengeluarkan air mata.


Kenapa aku menangis ... padahal aku baru mengenal mereka beberapa tahun, tapi rasanya begitu hangat.


"Kenapa kau menangis nak? Apa ada yang salah?"


"Ahaha tidak, aku hanya terlalu senang." Dom mencoba mengelap tangisannya, namun tetap saja air mata Dom terus mengalir dengan deras.


Sudah dua tahun aku tidak melihat kalian. Ayah, ibu, disini aku sangat bahagia ... mereka begitu baik.


"Huaaaa ...," tangisan Dom semakin menjadi karena mengingat orang tuanya.

__ADS_1


Jika ada kesempatan lagi, aku sangat ... sangat ingin bertemu dengan kalian. Semoga saja, ada cara agar bisa kembali ke dunia asalku.


Seluruh warga hanya bisa tersenyum melihat reaksi dari Dom. Sementara Octo memeluknya dengan erat karena tidak tega melihat Dom yang terus mengeluarkan air mata.


Richard yang memantau dari kejauhan juga ikut tersenyum. Dia tidak ingin mengganggu suasana bahagia yang sedang dialami Dom. Setelah perayaan berlangsung hingga sore, Dom kemudian kembali ke rumahnya.


“Sepertinya kau menikmati hari ini bukan begitu, Dom?” tanya Richard yang sudah menunggu kedatangan Dom.


“Ahaha jadi kau menyadarinya,” balas Dom.


“Tidak adil rasanya jika aku tidak memberimu sesuatu.” Richard mengambil sesuatu dari lemari.


Tanpa sepengetahuan Dom, Richard sudah menyiapkan kado jauh sebelum ulang tahunnya Dom. Hanya saja, dia menunggu momen yang tepat dan sekarang saatnya. Richard kemudian berjalan lalu memeluk Dom.


“Selamat ulang tahun, nak,” ucap Richard dengan nada yang lembut.


“Hey ayolah, aku baru saja menangis tadi,” ucap Dom yang mengeluarkan air matanya lagi.


“Hahaha baiklah, ini adalah hadiah dariku, memang tidak seberapa namun tolong dijaga baik-baik.”


Apa itu sebuah kalung?


“Itu adalah kalung milik anakku yang bernama Hawk, namun dia sudah lama tiada. Karena kau sudah kuanggap sebagai keluarga, aku akan memberikan kalung tersebut. Jagalah baik-baik.”


Dom hanya bisa tersenyum sambil menangis karena dia tahu bahwa ini adalah benda yang sangat berharga bagi Richard.


“Terima kasih banyak.” Dom kembali memeluk Richard.


“Apa kau tidak puas setelah memeluk banyak orang hari ini?” ujar Richard yang sebenarnya senang dipeluk.


Selama mengenalmu entah kenapa aku selalu ingin berada di dekatmu, tumbulah menjadi anak yang kuat ... Dom.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2