
“Srang” serangan milik Frederick berhasil digagalkan.
“Hey, apa kau yang membuat gadis ini menangis?” tanya sang penyelamat.
Rienna hanya terdiam dan terpaku setelah melihat ada seseorang yang menolongnya.
“Hiks … hiks … hiks,” Rienna masih menangis.
Sang penyelamat mengerti perasaan Rienna setelah melihat keadaan sekitar.
“Maaf aku datang terlambat. Tapi sekarang sudah baik-baik saja,” ungkapnya sambil tersenyum ke arah Rienna.
"Huaaa!" Rienna masih juga menangis namun sudah agak mendingan.
Rasanya dia bisa membuat semua orang menjadi tenang dengan ucapannya. Padahal usianya mungkin sama sepertiku, tapi … kenapa aku merasakan aura yang berbeda darinya.
Setelah serangannya ditangkis, Frederick mundur untuk mengambil langkah selanjutnya.
Siapa orang ini?
“Hey bocah, kenapa kau ikut campur urusan orang dewasa?” gertak Frederick.
“Yah sebenarnya aku ingin mengabaikannya. Tapi begitu mendengar teriakan wanita, membuatku terpanggil untuk datang kesini. Bukankah begitu cantik?” ujarnya sambil tersenyum ke arah Rienna.
“Emm begitulah."
Seketika wajah Rienna menjadi memerah dan bingung harus meresponnya seperti apa.
Ah senyumnya manis sekali … apa jangan-jangan ini? Cinta pada pandangan pertama? Tidak-tidak, ini hanya kebetulan saja dia menolongku di saat seperti ini. Tapi … kenapa jantungku berdetak kencang?!
“Lagi-lagi seorang pengganggu.Tapi itu tidak masalah. Karena pada akhirnya kalian tetap akan kuhabisi!” ancam Frederick.
“Wah wah kau berbicara seakan sudah pasti menang saja,” ejek sang penyelamat.
“Hey … hati-hati, orang itu sangat kuat!” seru Rienna.
“Hehehe kau tidak perlu khawatir nona. Karena dibandingkan dengan orang itu, dia hanyalah lawan yang mudah,” balasnya.
“Jangan terlalu yakin, kesombonganmu bisa menjadi bumerang bagi dirimu,” ujar Rienna sambil menunjukan ekspresi khawatir.
“Ahaha aku minta maaf, selanjutnya aku tidak akan seperti itu lagi. Sekarang …,” melihat ke arah Frederick.
“Apakah sudah selesai bermesraannya?” ejek Frederick yang sengaja menunggu.
“Be-be-bermesraan? Jangan asal bicara penjahat!” teriak Rienna yang tersipu malu.
Ah kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini ….
“Apa kau merasa cemburu hey pak tua?” sindirnya.
“Hahaha mana mungkin aku cemburu pada seorang bocah yang sedang dimabuk asmara!” tegas Frederick
Mendengar Frederick berkata seperti itu membuat Rienna kembali salah tingkah.
“Hey kau kenapa?” Sang penyelamat mendadak nyamber ke arah Rienna yang sedang dalam lamunan kebahagiaan sehingga membuatnya terkejut.
“Te-te-terlalu dekat!”
Uaaa … ke-kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku?! Apa jangan-jangan aku menyukainya? Apa dia sudah tidak tahan lagi untuk melakukan itu? Tapi ... dalam kondisi seperti ini?! Mpssh ah ... tidak tidak tidak!
Ada apa dengan wanita ini? Oh aku mengerti.
“Kau tidak perlu gelisah seperti itu. Setelah ini aku pasti akan menyelamatkan teman-temanmu,” ungkap sang penyelamat sambil tersenyum sehingga membuat Rienna terkena api asmara.
"Bukan itu masalahnya! Ah maafkan aku ...," Rienna tiba-tiba berteriak tanpa sebab.
Areee … bagaimana ini? Aku benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum.
Seketika pandangannya terhadap penyelamat tersebut berubah menjadi orang yang diimpikannya karena terbawa suasana.
__ADS_1
Loh? Sejak kapan dia jadi setampan ini?! Apa mungkin dia adalah jodoh yang dikirim langsung untukku? Uaaa ….
Setelahnya Rienna berguling-guling tidak jelas karena terkena senyum maut dari sang penyelamat.
Apa aku salah menyelamatkan orang?
Kenapa karena pukulanku telah membuat otaknya rusak?
Frederick serta penyelamat terdiam sesaat melihat tingkah dari Rienna.
Sang penyelamat melihat kembali situasi di sekitar area Hutan Teraria.
Ah situasinya sedikit menyulitkanku. Ditambah lagi, pelayan wanita ini terluka cukup serius. Aku harus menyelamatkannya terlebih dahulu.
“Aku akan membiarkanmu pergi selagi aku memberimu kesempatan!” tegas sang penyelamat.
“Hahaha hanya karena bisa menahan seranganku kau jadi sombong nak! Sadarilah posisimu sekarang!” tegas Frederick.
“Hey, kenapa kau malah memprovokasinya? Saat ini kita dalam kondisi yang tidak menguntungkan!” ungkap Rienna sambil berusaha berdiri.
“Sebaiknya kau duduk saja dan nikmati pertarungan ini nona. Lagipula, lukamu cukup banyak,” ujarnya.
Ah … apa dia mengkhawatirkanku? Tidak-tidak bukan seperti itu!
“Kau meragukan kekuatanku?!” seru Rienna.
“Sihirmu sudah habis, jadi kau hanya akan menghambatku. Jadi tolonglah untuk mengerti …,” ungkapnya dengan nada pelan agar tidak bermaksud menyinggung.
“Baiklah …,”
Sepertinya dia memang mengkhawatirkanku. Tapi … dia ... uaa berhentilah memikirkannya!
Tanpa sadar, musuh sudah bergerak untuk menyerang mereka berdua.
“Kalian terlalu banyak bicara! Hyaa!” Frederick melompat sambil menghunuskan pedangnya.
“Srang!” ditangkis kembali.
“Berilah itu pada pelayanmu. Jika tidak cepat, nyawanya bisa terancam. Mulai dari sini, serahkan padaku,” serunya.
Bukankah ini potion? Darimana ia mendapatkannya? Ah sudahlah, sebaiknya aku menuju ke arah Liese.
“Berhati-hatilah.”
Rienna menuruti permintaannya dan langsung menuju ke arah Liese yang terluka cukup parah.
Akhirnya pergi juga. Dengan ini, aku bisa bergerak bebas!
“Hyaat!”
Cih! Kenapa tenaganya kuat sekali!
Penyelamat itu menekan serangan musuh kemudian mundur untuk mengambil langkah selanjutnya.
Ia memejamkan matanya sambil memegang pedangnya dengan kedua tangannya. Setelahnya.
Fokus … fokus … sekarang!
“Sword Dice!” Pergerakan sang penyelamat tiba-tiba berubah menjadi sangat cepat dan tidak bisa terbaca oleh musuh.
APA?!
“Sraaat!” gerakannya berhasil menebas lengan kiri milik musuh.
“HUAAAA!!!” Frederick berteriak dan meringis kesakitan.
Rienna yang saat itu sedang mengobati Liese langsung terkejut dan terpana melihat serangan sang penyelamat.
__ADS_1
“Sekali tebas?! Dan lagi kecepatan apa itu?! Bahkan aku tidak bisa melihatnya dengan jelas!” teriak Rienna.
Siapa sebenarnya orang itu?
“Nona … kau masih hidup?” tanya Liese yang kesadarannya mulai kembali.
“Apakah kau mengira aku sudah mati?” balas Rienna dengan wajah kesal.
“Hahaha maaf. Bagaimana dengan musuhnya?”
“Sepertinya orang itu bisa menghadapinya.”
Frederick perlahan mundur setelah tidak menyangka bahwa serangan musuh dapat menebas lengan kirinya.
SIALAN! SIALAN!
“Beraninya kau melukai tanganku! Aku akan membalasnya seratus kali lipat!”
“Kalau begitu cobalah!” ejek sang penyelamat.
“Kau lihat saja bocah tengik!”
Frederick mengambil sebuah pil dari saku lalu melahapnya dengan cepat.
“Hahaha dengan ini, kau sudah tidak punya harapan lagi!” teriak Frederick.
Bukankah pil itu?!
“Hey hati-hati, orang itu menggunakan pil terlarang!” teriak Rienna dari yang berhasil melihat pil dari musuh.
“Apa?! Memangnya ada yang seperti itu?”
Pil terlarang dapat meningkatkan kekuatan berkali-kali lipat bagi siapa saja yang memakannya. Namun efek samping dari pil ini adalah, ia tidak akan memiliki jiwa sebagai manusia lagi, melainkan berubah menjadi monster.
“Krrroagght,” lengan Frederick mulai tumbuh kembali.
Seluruh tubuhnya mengalami perubahan bentuk yang sangat berbeda. Meskipun kesadarannya masih ada, namun Frederick sudah berubah menjadi seorang monster dengan wujud seperti Warewolf.
“Grrrr.” Frederick pun sudah bukan lagi seorang manusia.
“Oh tidak! Ini sangat berbahaya! Hey pergilah dari tempat ini! Tidak perlu melindungiku lagi!” teriak Rienna.
“Sudah terlambat untuk itu!” Dengan cepat, Frederick langsung menyerang sang penyelamat dengan tinjunya yang sangat kuat.
“Jeboosh!” sang penyelamat menabrak beberapa pohon.
“Hah … jadi ini rasanya memiliki kekuatan yang berlipat ganda? Hahaha! Saat ini, akulah yang terkuat!” teriak Frederick dengan wujud Warewolfnya.
“Tidak mungkin … karena aku, orang itu sudah-” ucapan Rienna terhenti setelah melihat penyelamatnya kembali berdiri.
“Hey, kenapa kau jadi sombong hanya karena berubah menjadi seorang anjing?” ejek sang penyelamat yang kembali berjalan menghampiri Frederick.
Tidak terluka? Bagaimana bisa?!
“Nona, siapa orang itu?” tanya Leise yang memaksakan diri untuk melihat pertarungan.
“Aku tidak tau. Yang jelas … kekuatannya jauh diatasku.
Sang penyelamat terus berjalan dengan santainya seperti tidak mengalami cedera sama sekali.
“Hoo masih bisa bergerak?” gertak Frederick.
“Yah hanya tinju seperti itu, tidak akan cukup untuk membunuhku,” balasnya sambil menyeringai.
"Swosh!" Penyelamat itu kembali menghunuskan pedangnya kepada Frederick dengan tatapan yang berbeda.
"Mulai saat ini, aku tidak akan bermain-main lagi."
“Hahaha kau yang terbaik bocah! Seranglah aku dengan seluruh kemampuanmu!” teriaknya sambil menyeringai.
__ADS_1
Bersambung ....