Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 66: Dihadang


__ADS_3

Chapter 66: Dihadang


Baru beberapa menit setelah Dom menginjakan kaki di area dalam Hutan Terarria.


“Groaaa!” teriakan kawanan monster yang siap menerkam Dom.


“UAAA TOLONG AKU!” teriaknya.


“Bisakah kalian tidak menggangguku terus?! Berhenti mengejarku!”


Ketika Dom dipenuhi ketakutan serta perasaan gelisah, dia baru menyadari sesuatu.


“Eh tunggu!” Langkah Dom terhenti.


“Kenapa aku jadi terbawa suasana seperti ini! Mereka kan hanya monster lemah, kenapa aku harus takut ….”


“Swosh!” Dom mengeluarkan pedang dari punggungnya.


“Groaaa!” Monster tersebut semakin mendekat.


“Jangan menakutiku dengan teriakanmu itu sialan! Hryaaa!”


Setelahnya Dom berbalik arah dan mulai membantai monster tersebut satu-persatu. Karena baru saja masuk, monster yang menyerang Dom hanya berada di tingkat rank c sampai b. Tentu saja hal seperti itu sudah biasa baginya.


“Huft melelahkan juga.” Melihat kawanan monster yang berserakan.


“Tapi bagaimana cara aku mencari monster yang dimaksud oleh Peri Lyfa ….”


Sebelum keberangkatan Dom.


“Baiklah Dom, dengarkan aku terlebih dahulu karena ini sangat penting.”


“Jadi apa itu?”


“Sebelumnya aku pernah bilang bahwa waktu kita terbatas. Tentunya itu merujuk pada keberadaan monster tersebut.”


“Emm maaf tapi aku tidak mengerti.”


“Seperti yang kau tau, monster mutasi diciptakan oleh seseorang dengan memasukan inti mana dari makhluk hidup. Setelah itu, mereka akan menjadi budak setia dan patuh terhadap penciptanya.”


“Lalu apa yang salah dengan itu?” tanya Richard.


“Masalahnya adalah monster tersebut tidak bisa bergerak sesuka hatinya. Ketika tuannya sedang tidak ada, mereka akan tertidur berapapun lamanya.”


“HAH?! Jika tidak pasti, untuk apa Dom harus pergi ke tempat menyeramkan itu? Itu sama saja dengan menyia-nyiakan waktu!” seru Richard.


“Harusnya sih begitu.  Namun … entah kenapa beberapa bulan ini aku merasakan hawa lain dari dalam area tersebut.”


“Hawa lain?” tanya Dom.


“Hawa yang bisa kuingat puluhan tahun yang lalu dimana dia menggunakan peliharaannya untuk mengubah tempat ini menjadi sebuah kawasan berbahaya.”


“Hey hey, berarti monster itu sedang dalam keadaan terbangun? Bukankah jika begitu penciptanya sedang berada di sana?!”


“Apa?!” teriak Dom.


“Tentu saja tidak. Jika dia datang kemari lagi, sudah pasti hutan ini akan menjadi debu.”

__ADS_1


“Ah membuatku takut saja-” Lyfa memotong ucapan Dom.


“Hanya saja, keberadaannya sedang tidak jauh dari sini.”


“Glek.” Dom menelan ludahnya dengan raut wajah yang panik.


"Tunggu-tunggu! Jika orang itu lebih kuat dari Paman Richard, bukankah itu berarti aku berkesempatan menghadapinya?!" ucap Dom dengan nada panik.


“Kau tidak perlu khawatir Dom. Aku sedikit mengenal sifat dari orang itu, dia tidak akan datang hanya untuk masalah yang tidak terlalu penting. Lain cerita jika dia merasakan keberadaan gurumu.”


“Aku mengerti sekarang. Kau juga sudah memprediksi hal itu sehingga tidak memperbolehkanku pergi bersama Dom?” tanya Richard.


“Ya mungkin saja. Terlebih, karena dia sudah menguasai hutan itu, aku hanya takut dia memasang sebuah array yang bisa mendeteksi kekuatan musuh.”


Meskipun hal tersebut membuat Dom sedikit ragu, tapi dia sudah tidak bisa kembali lagi.


Ah … usiaku sebenarnya adalah 17 tahun. Namun karena saat ini aku dipindahkan, usia Dom baru 10 tahun. Tapi … apakah hal normal di dunia ini jika seorang bocah diberi tugas untuk menyelamatkan sebuah hutan yang bahkan ditakuti oleh orang dewasa?!


Melihat Dom terlihat banyak pikiran, membuat Lyfa sedikit merasa bersalah.


Dom … maafkan aku yang membebanimu seperti ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain.


“Tenanglah adik kecil. Kami akan selalu memantaumu, kau tidak perlu gelisah seperti itu. Lagipula tempat itu cukup aman dan tidak seberbahaya mitosnya. Cukup ambillah inti mana, lalu kembali dengan selamat,” ujar Lyfa sambil tersenyum.


“Jika peri berkata seperti itu, maka aku hanya harus kembali hidup-hidup,” balas Dom dengan tersenyum.


Aku harap bisa terus melihat senyum anak ini selamanya ….


“Kau benar nak. Jika ada sinyal bahaya kami akan langsung menyusulmu bahkan jika harus melawan orang terkuat di dunia sekalipun wahaha,” seru Richard.


Support dari mereka berhasil meyakinkan Dom.


“Dasar peri sialan … apanya yang aman. Ini bahkan baru sepuluh menit dan aku sudah menjumpai sebuah medan perang!” teriak Dom.


“Ah sabar Dom, jangan terbawa emosi. Jika seperti tadi lagi, bisa bahaya.”


Sesudah itu, Dom mulai berjalan dengan santai menelusuri hutan.


Meskipun sifatnya penakut, tapi Dom berusaha untuk tetap tenang. Dia juga mengingat pesan dari Lyfa yang mengatakan untuk tidak membuat keributan di area tersebut karena bisa memancing para monster seperti yang dilakukannya tadi.


Belum lama setelah itu.


“Baik tidak ada apa-apa disini, aku harus tenang … jangan panik … ja-” Dom menginjak tengkorak.


Dom spontan langsung menutup mulutnya yang normalnya dia akan langsung berteriak setelah mendapatkan hal seperti itu.


Seram … seram … seram!!!! Hampir saja aku berteriak.


Semakin dalam Dom menelusuri hutan, semakin dia menemukan hal yang lebih menakutkan dari sebelumnya. Melihat tengkorak digantung, mayat monster, juga kumpulan serangga buas. Itu membuatnya menjadi trauma dan memilih untuk istirahat sejenak.


“Hmmph,” Dom menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya karena dia selalu ingin berteriak sekeras mungkin.


Sebenarnya apa yang ada di hutan ini. Rasa takutku semakin menjadi-jadi, kalau begini bagaimana aku bisa bertahan.


Untungnya Dom bisa melalui perjalanan awal dengan baik. Dia bisa beradaptasi dan mengalahkan monster yang mengganggu jalannya.


“Sudah berapa lama aku berjalan ya?” tanya Dom sambil melihat ke atas.

__ADS_1


Melihat ada sedikit cahaya matahari dari atas menandakan waktu sudah menunjukan siang hari.


“Ah dilihat dari manapun, tempat ini sesuai dengan mitosnya. Hih seram!” ujar Dom sambil beristirahat untuk makan dan melihat area di sekitarnya.


Selagi dia menyantap sesuatu. Tiba-tiba pojok semak, terdengar suara makhluk lain.


“Swush swush,” bunyi semak yang bergerak.


Makhluk tersebut terus bergerak dengan cepat seperti sedang memantau Dom dari kejauhan.


“Siapa itu?!” teriak Dom yang langsung mengeluarkan pedangnya.


Suara itu kemudian berhenti dengan sendirinya. Dom kembali duduk untuk menikmati bekalnya.


Belum lama setelah itu, bunyi-bunyi aneh kembali terdengar.


“Nguk nguk nguk,” suara burung hantu di siang hari yang padahal hanya aktif di malam.


“Kwak! Kwak!” suara aneh dari jauh.


Apa-apaan kondisi ini?! Bahkan untuk makan pun aku harus sambil senam jantung!


Tapi karena lapar, Dom tetap tidak pindah tempat dan melanjutkan makanannya.


“Emm untung saja bekal yang diberikan oleh Peri Lyfa ini sangat enak.”


Selagi menyantap. Tiba-tiba dari atas pohon ada yang menjatuhkan sesuatu.


“Cletak.” Sebuah cairan jatuh ke area sekitar Dom.


Dom masih belum menyadarinya dan lanjut makan.


“Cletak … cletak.” Semakin banyak yang berjatuhan hingga mengenai kepala Dom.


“Cairan?? Iuwh lengket.” Dom sambil melihat ke atas dan terkejut.


Makanan yang hendak disantapnya langsung terjatuh.


“B*ngsat!” Dom kaget setengah mati dan langsung berpindah tempat.


“Grrrr.”


“Apa kau bercanda? Ahaha ahaha.”


Raut wajah Dom menunjukan ekspresi pasrah.


“Bahkan bersantai pun sepertinya tidak bisa ….”


Di atas pohon, terdapat puluhan monster yang sudah mengintainya sejak tadi.


“Groaaa!”


“Hah ... ayolah apa tidak ada waktuku untuk sekedar menikmati makanan ini,” ujar Dom sambil mengeluarkan pedangnya.


“Bisakah kalian tidak mengantuiku sialan! HRYAAA!”


“GROAA!”

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2