Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 52: Dark Dom VS Helen


__ADS_3

Sebelum Helen menjadi seorang Guardian.


"Keberadaanmu adalah anugerah bagi hutan ini. Jadi, jangan pernah menganggap bahwa dirimu tidak berguna, Helen."


"Tapi ... aku bahkan tidak bisa menggunakan sihir, apa memang bangsa Elf sepertiku bisa berguna?" tanya Helen.


"Bakatmu luar biasa, ditambah lagi, kau memiliki keterampilan dalam seni pedang. Jadi berbanggalah."


"Memangnya hanya dengan keahlian seperti itu, aku dapat mengalahkan semua yang mencoba merusak hutan ini?" tanya Helen.


"Mungkin saja, itu tergantung dari usahamu. Tapi ... berhubung kau tidak memiliki inti mana, sebaiknya hindari musuh yang memiliki atribut dan peringkat tertentu."


"Apa maksudmu?"


"Hindarilah manusia yang mengenakan lencana emas di bahunya.”


“Lencana emas?”


“Satu lagi, jika dirimu menemui musuh dengan pancaran aura berwarna putih atau hitam. Cepatlah pergi dari situ, karena hal itu bukanlah sesuatu yang bisa kau tangani sendiri."


-------------------------------------


Kembali ke pertarungan.


"Awalnya aku tidak terlalu percaya dengan cerita dari peri itu. Namun ... sepertinya memang bukan kapasitasku ...."


“Wussh.” Dom mulai menunjukan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.


“Apa ini? Kenapa aku merasa ketakutan?”


Tatapan Dom memberikan sebuah tekanan besar dalam diri Helen sehingga membuatnya gemetar.


“Grrrr!” Elemen lain milik Dom mulai bangkit perlahan.


“Bisakah aku menghadapi orang ini?”


Tapi … maaf nona peri, jika aku pergi, maka harta yang ada tempat ini akan menjadi milik musuh. Sebagai seorang Guardian, mati untuk melindungi hal tersebut merupakan sebuah kehormatan.


"Tidak bisa kumaafkan ... tidak bisa kumaafkan! HELEN!!!"


Akibat emosi tidak stabil, Dom kehilangan kontrol pada tubuhnya sehingga menjadi pemicu untuk kebangkitan elemen kegelapan.


"Huaaaa!" Aura yang terpancar dari tubuh Dom semakin meluap.


"Tidak kusangka hal seperti ini akan terjadi. Tapi ... berdiam diri disini hanya akan membuat bocah itu meningkatkan kekuatannya."


Meskipun tubuh Helen bergetar diiringi dengan rasa cemas. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang Guardian.


"Eden Sword ... Wild Slash!" Helen melakukan langkah cepat hingga tepat berada di depan Dom.


"Hyaaa matilah manusia!"


"Srang."


Seperti dijelaskan sebelumnya. Ketika Dom sudah berubah ke dalam dark modenya, kemampuan spesialnya menjadi aktif. Sebuah perisai mulai menyelimuti tubuh Dom diiringi dengan kemampuan regenerasi yang sangat cepat.


Karena hanya bermodal nekad, pedang Helen tidak dapat menembus perisai milik Dom.


"Apa?!"


Sejak kapan bocah itu memiliki pelindung? Apa jangan-jangan?

__ADS_1


Saat ini, kemampuan sihir dan fisik Dom hampir setara dengan penyihir tingkat atas. Namun, hal tersebut tidak berdampak baik bagi tubuhnya mengingat elemen kegelapan menyerap terus inti mana dan bisa membahayakan nyawanya.


Meski hal tersebut merugikan, Dom tidak bisa berhenti begitu saja. Satu-satunya cara untuk menyadarkan Dom adalah dengan membuatnya pingsan atau membunuhnya. Namun saat ini ....


"Grrrr!" Dark mode tidak memberikan kesadaran pada pemiliknya.


"Wushhh," Dom melesat cepat dan memberikan sebuah tinju tepat mengenai perut Helen.


APA?!


"Urgghh!" Helen terlempar menghantam permukaan danau yang sudah dihinggapi oleh air secara perlahan.


Rasa sakit yang dialami oleh Helen sama seperti Hell Punch milik Richard. Hanya saja, hal ini akan terus berlanjut hingga dirinya mati ....


"Graaa!" Tidak memberi kesempatan bagi musuh untuk bangkit, Dom kembali melesat seperti kilat untuk mendatangi Helen.


“Cepat sekali!”


Tidak sempat menghindar, tinju Dom menghantam tepat di wajah Helen hingga menembus tanah di bawahnya.


“Bububububum!” suara rentetan tinju yang dikeluarkan oleh DOm.


"Uhuk uhuk uhuk." Darah mulai mengalir dari mulutnya.


Aku tidak bisa melawannya! Sebaiknya aku memulihkan tubuhku terlebih dahulu.


Ketika seorang manusia memiliki sebuah elemen berlevel unique. Tidak ada jalan keluar selain bertarung sampai mati atau melawannya dengan tingkatan sihir yang lebih tinggi. Hanya saja ....


"Jadi ini kekuatan yang hanya dimiliki oleh keturunan tersebut?"


"Wossh!" Dom terus mengejar musuhnya.


Meskipun Helen sudah berusaha untuk melarikan diri. Namun, Dom bisa mendeteksi keberadaannya dan terus melayangkan sebuah pukulan.


"Urrgghh, jika begini terus. Aku bisa mati!" teriaknya sambil memegangi perutnya karena di bombardir oleh tinju Dom.


Di sisi lain, karena memaksakan diri untuk bergerak melebihi kapasitasnya. Tubuh Dom mengeluarkan darah dari berbagai sisi, tentunya jika hal ini dibiarkan akan membuatnya mati secara perlahan. Namun ... tidak ada cara untuk menghentikannya saat ini.


"Huaaaa!" Dom berteriak karena rasa sakit yang dirasakan akibat mengeluarkan elemen kegelapan.


Tapi, teriakan Dom hanya menjadi pertanda bahwa dia akan mengeluarkan serangan selanjutnya. Sebuah bola hitam mulai dibentuk oleh Dom melalui mulutnya.


"Uhuk uhuk. Hey … ayolah, bukankah tinju saja sudah cukup ...," ujar Helen.


Beem Cannon mulai ditembakan.


"Boom!" Asap menyelimuti tempat tersebut.


Setelahnya.


"Hah ... hah ... untung saja artefak ini masih berfungsi. Sial!!! Kenapa aku bisa terdesak hanya oleh anak kecil!" Helen menggunakan Mirror Phantom untuk kesekian kalinya.


Dengan sisa tenaga dan juga semangatnya. Helen mencoba peruntungan untuk menyerang Dom melalui titik butanya.


Memanfaatkan gumpalan asap bekas ledakan sebelumnya, Helen mengarahkan pedangnya menuju musuhnya. Tapi ....


"Srang!" Serangan pedangnya tetap tidak bisa menembus perisai mutlak milik Dom.


"Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa menyerangmu manusia!" Helen mulai gila.


Berniat untuk memberikan serangan kejutan. Helen justru berada dalam posisi berbahaya. Dari dekat, sebuah bola hitam sudah dikeluarkan oleh Dom.

__ADS_1


"Oh tidak … Mirror Phantom!”


"Groaaaa!" Sebuah Beem Canon kedua dihempaskan oleh Dom.


"Jeboom!"


Karena menggunakan artefak tersebut secara terus menerus tanpa henti, membuatnya menjadi retak sehingga tidak bisa digunakan lagi.


Helen terkena Beem Canon dari Dom sehingga membuatnya terluka parah.


"Uhuk uhuk uhuk," tubuhnya tidak bisa bergerak karena terkena serangan bertubi-tubi.


Di lain pihak, tubuh Dom secara spontan mengalami penolakan pada elemen kegelapan sehingga membuatnya berteriak kesakitan walaupun dalam keadaan tidak sadar.


Jika Dom terus memaksakan untuk mengeluarkan elemen kegelapan, maka ....


"Huaaaa!" Meskipun terlihat kesakitan, namun Dom tidak bisa mengontrol tubuhnya.


Sebuah bola hitam dengan skala ledakan yang sangat besar mulai dibentuk oleh Dom secara perlahan.


"Ah ... dari jarak sedekat ini? Haha aku rasa ini kematianku," ujar Helen yang sudah pasrah.


Bola hitam milik Dom bisa diibaratkan sebagai serangan bunuh diri. Karena jika itu dihempaskan, maka tubuhnya tidak bisa menahan kerusakan yang ada.


"Huaaa!!!"


Sesaat sebelum serangan berlangsung. Dom seperti melihat cahaya dari dalam kesadarannya.


"Hey, sudahlah Dom. Tidak perlu memaksakan dirimu.”


Suara yang selalu didengar oleh Dom sepanjang waktu seakan masuk ke dalam pikirannya. Tubuhnya terdiam beberapa saat disertai perasaan sedih. Air mata mulai mengalir ketika Dom hendak melemparkan sihir terakhirnya.


"Bukankah itu suaramu … Paman Richard."


"Hiks ... hiks ... hiks."


Karena mendengar suara dari gurunya, membuat kesadarannya kembali perlahan. Aura hitam di sekitar tubuhnya menghilang.


“Apa yang baru saja terjadi denganku?” tanya Dom.


Ketika melihat ke sekitar, barulah ia mengingat hal yang dilakukan sebelumnya.


“Ah sepertinya aku kehilangan kesadaran lagi, bahkan tubuhku sulit untuk digerakan.”


Dari dekat, nampak musuh masih berusaha untuk menggenggam pedangnya dan mencoba berdiri. Padahal kondisinya tubuhnya lebih parah dari Dom.


“Hah … hah … hah, ada apa dengannya?” tanya Helen.


Mungkinkah kesadarannya kembali? Kalau begitu ....


Sementara itu, Dom mulai menyadari sesuatu setelah melihat Helen di depannya yang sudah menggenggam pedangnya kembali.


“Sial … kukira Elf ini sudah mati. Tapi ... aku sudah tidak bisa menggerakan tubuhku lagi.”


Bersambung ....


*NOTE


Halo readers, terima kasih yang selalu setia menunggu novelku. Tapi, aku pingin minta saran nih dari kalian. Aku bingung untuk nentuin suara/efek bertarung pada setiap adegan action. Seperti suara laser, ledakan, pertarungan pedang, gerakan kilat, dsb. Terlebih adegan action di chap selanjutnya mungkin bakal lebih banyak dari sebelumnya.


Kalo ada Saran boleh sertakan di komen / chat yah, kalo sarannya oke ntar aku follow + vote bagi yang sedang membuat novel karena cuma itu hadiah yang bisa aku kasih saat ini :)

__ADS_1


Maaf ya merepotkan, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap moodku untuk terus nulis. Terima kasih semua!!!


__ADS_2