
3 tahun setelah peristiwa kebangkitan Dom.
Di dekat perbatasan Hutan Teraria.
Ah lagi-lagi aku harus mengikuti perjamuan seperti ini ….
“Entah kenapa menjadi seorang bangsawan malah membuatku tertekan,” ujarnya dengan nada yang pelan dan lembut.
“Ada apa nona? Kenapa rasanya hari ini anda tidak bahagia?” tanya pelayan.
“Liese, jika kau menjadi seorang keluarga bangsawan, maka apa yang akan kau rasakan?”
“Tentu saja aku akan sangat bahagia. Siapa yang tidak ingin menjadi bangsawan seperti Nona Rienna?” seru Liese.
Aku berharap dapat berpikir seperti itu ….
“Begitu ya …,” jawabnya dengan tersenyum namun sedikit lesu.
Namaku Rienna Silvana, identitasku adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Lotus. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang ahli sihir bernama Eduard Treats. Ia merupakan salah satu Ranker yang paling dijunjung tinggi di dunia sihir karena kekuatanya yang setara satu kerajaan.
Karena hal tersebut, kerajaan ini jarang sekali kedapatan musuh ataupun konflik berkepanjangan. Reputasi kerajaan ini juga sangat baik dan jarang sekali ada rekam jejak dalam hal kejahatan.
Memang hal itu sangat bagus terutama untuk perkembangan kerajaan. Hanya saja, terlalu banyak fakta yang disembunyikan oleh Kerajaan Lotus, dan aku merasa banyak pihak gelap yang merubah informasi sebenarnya, terutama mengenai rakyat kecil.
Aku pernah melihat salah satu bangsawan yang mencoba menindas rakyat biasa. Namun … karena umur yang masih kecil membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Terlepas itu perintah raja atau bukan, aku merasa hal ini tetap salah.
Setelah melihat kejadian itu, entah kenapa menjadi bagian dari bangsawan tidak membuatku merasa senang. Bahkan, tidak jarang aku berpikir ingin melarikan diri dari sini.
Bagiku menjadi bangsawan adalah sebuah rantai yang menghambat proses pertumbuhan serta kebebasan hidup.
“Kletak kletak kletak,” suara kereta kuda yang berjalan.
Dua hari sudah berlalu sejak aku mendapat perintah dari kedua orangtuaku untuk menghadiri sebuah perjamuan yang diadakan oleh bangsawan lainnya di Kerajaan Vermilion. Padahal usiaku saat ini baru menginjak 11 tahun.
Memang hal yang aneh bagi anak kecil untuk menghadiri acara seperti itu. Namun, itu sudah biasa di kalangan bangsawan agar bisa mendapatkan koneksi dari sebuah interaksi. Terlebih reputasi keluargaku cukup dilirik oleh banyak kerajaan.
Namun, bagiku … perjamuan seperti tidak lebih hanyalah sebuah ajang bagi mereka untuk memamerkan kekayaan serta kekuatan. Aku memang tidak membencinya, hanya saja … rasanya hal seperti ini salah.
Aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara di Keluarga Silvana. Salah satu keluarga yang paling dipandang di Kerajaan Lotus karena terdiri dari orang-orang kuat dan hebat.
Ayahku adalah tangan kanan di Kerajaan Lotus. Sebelumnya, ia sudah seorang Ranker kelas atas hanya pada usia 25 tahun. Sementara ibuku merupakan salah satu Top Healer di seluruh kerajaan sihir.
Kedua kakakku menjadi ksatria di Kerajaan Lotus serta masuk jajaran Ranker terkuat di sana. Maka dari itu, banyak orang mulai membebaniku untuk menjadi setara atau lebih kuat dari mereka.
Aku hanya memiliki sedikit teman, karena kesibukanku untuk berlatih fisik serta sihir. Di lain sisi, aku tidak diperbolehkan bergaul dengan rakyat biasa. Jika melanggar, maka orang yang berhubungan denganku akan dihukum.
Akibatnya, ketika aku mencoba keluar secara diam-diam dan berinteraksi dengan masyarakat biasa. Wajah mereka terlihat seperti tertekan serta merasa takut dengan keberadaanku. Setelah melihat hal tersebut, aku menjadi jarang untuk keluar dari area kerajaan.
Mereka seolah-olah menganggap keluarga kerajaan seperti penjahat. Aku mencoba untuk mengubah perspektif mereka tentang hal tersebut. Namun fakta bahwa banyak anggota kerajaan yang suka membully masyarakat kecil tidak dapat dibantah.
Sehingga … kebencian mereka akan sulit untuk diubah.
__ADS_1
Di dalam kereta kuda.
“Hah … mau sampai kapan aku berada dalam kereta kuda ini?” tanya Rienna.
“Perjalanan kita memang cukup jauh, jadi aku harap nona bisa bersabar,” balas Liese.
“Bisa-bisanya orang tuaku berangkat terlebih dahulu dan meninggalkan putirnya ini. Apa mereka tidak khawatir aku mengalami musibah saat dalam perjalanan?!” tegas Rienna.
“Nona Rienna tidak perlu khawatir akan hal itu. Kita sudah dikelilingi oleh prajurit yang cukup kuat, ditambah lagi ada aku disini,” ujarnya sambil tersenyum.
Liese merupakan pelayan di Keluarga Silvana dan salah satu terbaik yang kupunya. Dia selalu ada disaat aku sedih maupun susah. Bahkan, jika bukan karena bujukannya, aku tidak mau menghadiri perjamuan sampah seperti ini.
“Kletak kletak kletak,” suara kereta kuda yang terus bergerak.
“Aku dengar, nona berhasil menguasai elemen itu diwaktu yang sangat muda. Aku terkesan,” seru Liese.
“Ya meski begitu, aku masih belum menguasainya dengan baik. Mungkin butuh waktu,” balasnya.
“Hahaha, jangan merendah. Nona adalah salah satu murid terbaik di Kerajaan Lotus. Jadi, teruslah berjuang. Aku akan selalu ada dibelakangmu,” seru Liese dengan diiringi senyum lembut.
Meskipun sudah beberapa tahun, kamu tidak pernah berubah … Liese.
“Tentu saja,” Rienna membalas senyumannya.
Karena hubungan antara mereka sangat baik, membuat Rienna bisa berkomunikasi serta menyampaikan keluhannya layaknya rekan dekat.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka tiba di pintu masuk Hutan Teraria.
“Benar sekali. Tapi, yang nona lihat saat ini adalah area luar dari hutan tersebut,” balas Rienna.
“Bagian luar? Apa maksudmu?” tanya Reinna yang penasaran.
“Hutan Teraria-” ucapan Liese terhenti karena ada masalah.
“Arrgh!” Kereta kuda yang ditumpangi Rienna dan Liese tiba-tiba berhenti mendadak sehingga membuat mereka sedikit terhempas.
“Apa yang terjadi?” tanya Rienna.
“Sebaiknya nona berdiam disini, aku akan keluar untuk memastikan keadaan.”
Ketika Liese keluar dari kereta, ia terkejut melihat para prajurit berjatuhan satu persatu. Di depannya terdapat petualang gelap yang sedang bertarung dengan pengawal Putri Rienna.
Ini buruk, aku tidak menyangka akan ada musuh yang menyerang kami.
"Prajurit! Tahan mereka agar tidak mendekati Nona Rienna!" teriak Liese.
"Nona Liese, cepatlah pergi ... hati-hati dengan serangan udara-"
"Srat!" Prajurit tersebut tewas sebelum menyelesaikan kata-katanya.
Serangan udara? Jangan-jangan??!!
__ADS_1
“Nona, segera keluar dari kereta!” teriak Liese.
Sebuah serangan dari atas pohon mulai dikeluarkan oleh pihak musuh dan mengarah langsung tepat ke arah Rienna.
“Elemen api. Fire Cannon!”
“Boom!” serangan tersebut menghancurkan salah satu kereta kuda.
Karena merasakan ada bahaya, dengan sigap Rienna keluar dari kereta tersebut sebelum meledak.
“Nona, kau tidak apa-apa?” tanya Liese.
“Untung aku masih sempat, terima kasih Liese. Tapi … sepertinya kita dalam bahaya,” seru Rienna.
“Yah, aku kira bisa menghabisi putri kerajaan dalam sekali serang. Namun aku terlalu naif,” ujar musuh.
“Apa kau sengaja mengincar kami?!” teriak Liese.
Rienna mengamati simbol yang digunakan oleh musuh di lengan kanannya.
Lambang itu? Tidak salah lagi, mereka petualang gelap. Tapi ... rasanya tidak mungkin mereka tau keberadaanku secara kebetulan.
“Siapa yang memberi perintah kepada kalian?!” tegas Rienna.
“Kenapa kami harus memberitahumu nona, hahaha! Lagipula kau akan mati sebentar lagi,” ejek ketua musuh.
“Tidak sopan-” Rienna menahan Liese yang hendak ingin menyerang secara gegabah.
"Tahan dulu."
Jumlah mereka cukup banyak, tapi ….
“Apa kau sedang memikirkan cara untuk kabur tuan putri?!” tanya musuh.
“Melihat kalian tau bahwa aku seorang putri. Pasti orang yang menyuruh kalian adalah seorang bangsawan. Bukankah begitu?” tegas Rienna.
Wajah mereka sedikit berkeringat setelah mendengar hal itu.
“Ah sudah jangan banyak tanya! Terlebih wanita manja sepertimu tidak cocok untuk menjadi seorang putri! Kalian serang orang itu!”
Ketua penjahat tersebut memerintah anak buahnya untuk menyerang Rienna. Namun ….
“Hey, sepertinya kalian terlalu meremehkanku …,” ujar Rienna sambil menyeringai.
Melihat Rienna mulai marah, membuat Liese mulai sedikit gemetar.
“Nona, jangan bilang kau akan menggunakannya disini?” tanya Liese.
“Wushh!” Aura disekitar tempat tersebut mulai menjadi berbeda.
Bersambung ....
__ADS_1