Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 13: Mulai Berpetualang


__ADS_3

Setelah melewati hari yang membahagiakan, Dom berlatih kembali bersama dengan Richard. Namun, kali ini Richard ingin menguji apakah Dom sudah bisa membangkitkan kekuatannya atau belum.


Terakhir kali Richard mengetesnya adalah 2 tahun yang lalu, jadi pada kesempatan kali ini, Richard menaruh harapan yang tinggi pada Dom.


“Baiklah Dom, kali ini kita tidak akan berlatih fisik,” ujar Richard.


“Apa?? Padahal aku sudah melakukan pemanasan,” jawab Dom dengan nada kecewa.


“Kita akan mencoba lagi hal yang sama seperti dua tahun lalu.”


“Dua tahun? Maksudmu membangkitkan inti mana??”


“Benar sekali, karena kau sudah berlatih cukup keras dengan Octo, aku rasa kau sudah bisa mendapatkan elemen.”


“Benarkah?” seru Dom dengan wajah yang gembira.


“Baiklah, fokuskan kekuatanmu pada tubuhmu kemudian rasakan energi yang mengalir."


Dom mulai memasang kuda-kudanya dan fokus. Ia mencoba untuk berkonstrentasi agar energi yang dia dapatkan bisa mengalir ke dalam tubuhnya. Setelah cukup lama ....


Sepertinya aku mulai merasakannya.


"Aku merasakan sesuatu paman!"


“Baiklah lalu lepaskan semuanya!!!” teriak Richard.


“Hyaaaaaaaa!!! Dom berteriak.


“Ayo kau pasti bisa!!!!” teriakan Richard semakin keras.


Sedikit lagi … sedikit lagi ....


“Tut ...,” sebuah suara perusak pertemanan keluar.

__ADS_1


Keadaan menjadi sedikit hening karena mereka berdua tidak menyangka dengan hasil yang didapatkan.


"Eh ...." Wajah Richard dan Dom menunjukan ekspresi aneh, setelahnya.


“KENAPA KAU MALAH KENTUT ANAK SETAN!!!” Richard melemparkan batu ke arah Dom.


“Aww ... itu sakit pak tua!!!”


“LALU KENAPA KAU BERMAIN-MAIN HAH??!!” amarah Richard semakin memuncak.


“Aku juga tidak tahu, aku hanya menuruti instruksi darimu!!!” teriak Dom sambil memegangi kepalanya.


Ah bocah ini ... padahal aku sudah berharap tadi, kenapa dia malah mengeluarkan sesuatu yang lain.


“Sepertinya inti mana milikmu masih belum bisa dibangkitkan,” ujar Richard.


Mendengar hal tersebut, Dom hanya bisa terdiam lesu. Usahanya selama ini masih belum membuahkan hasil yang memuaskan dan tidak sesuai dengan ekspetasinya.


Karena Dom berada dalam lamunannya cukup lama, membuat Richard merasa kasihan. Dia sendiri tidak bisa membantu apa-apa karena itu semua tergantung dari usaha Dom.


Selagi Dom merenung, Richard terpikirkan sebuah ide yang mungkin bisa membantunya.


“Sudahlah, aku yakin kau bisa segera mendapatkannya.” Richard mencoba meyakinkan Dom.


“Hmm ... aku harap ucapanmu benar," balas Dom dengan wajah lesu.


“Dulu aku pernah berjanji untuk mengajakmu berpetualang, bagaimana jika kita lakukan itu besok?” tanya Richard.


“Benarkah??” teriak Dom yang tiba-tiba moodnya berubah menjadi lebih baik.


“Tentu saja, tidurlah lebih awal karena besok kita akan berangkat pagi-pagi.”


“Memangnya kita akan kemana?”

__ADS_1


“Kamu akan mengetahuinya besok.”


Setelah makan malam, Dom langsung pergi ke kamar untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk besok.


“Baik semuanya sudah siap, aku tidak sabar menunggu besok.”


Ketika ingin segera tidur, Dom tidak sengaja melihat benda yang diberikan oleh Octo sebagai hadiah ulang tahunnya.


“Hehehe sepertinya sudah waktunya bagiku untuk tebar pesona,” ungkap Dom dengan menyeringai.


Meskipun Richard sudah menyuruh Dom untuk tidur lebih awal, tetap saja Dom bangun kesiangan sehingga membuat Richard menunggu hingga setengah jam. Richard sendiri tidak bisa marah karena berpikir Dom masih memikirkan mengenai elemennya.


Padahal yang terjadi sebenarnya adalah Dom terlalu bersemangat untuk bisa pergi sehingga membuatnya tidak bisa tidur lebih awal.


“Hey cepatlah bocah, kita sudah terlambat,” ucap Richard.


“Ah tunggu sebentar ....”


Dom akhirnya keluar dari rumah, tapi ada satu hal yang membuat Richard begitu penasaran.


“Hey nak, benda apa yang kau bawa di punggungmu itu?” tanya Richard sambil melirik.


“Ah ini hanya hiasan agar aku tampil keren ahaha….ahaha.”


Kalau aku menunjukkannya sekarang, jadi tidak seru dong.


“Hmm,” ucap Richard sambil memandang Dom.


Bocah ini terlihat mencurigakan, apa jangan-jangan?? Tidak ... tidak, aku sudah melarang Octo untuk mengajarkannya.


“Baiklah kalau begitu kita berangkat!” teriak Richard.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2