
Selesai bertemu dengan Octo, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah karena hari sudah mulai sore, ditambah lagi, Dom terluka akibat lemparan yang diberikan oleh Octo.
Saat tiba di rumah.
“Ah sakit sekali, lain kali aku akan membalas perbuatannya,” ujar Dom.
“Hey menjadi pendendam itu tidak baik, kau hanya belum mengenalnya lebih dekat,” balas Richard yang berusaha menenangkannya.
“Siapa yang ingin kenal dengan gorila itu!” Dom trauma karena sudah dihempaskan oleh Octo.
“Hahaha tapi aku terkejut ketika kau memanggilnya dengan sebutan gorila. Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk mengucapkannya hahaha.”
Tertawalah sampai kau mati.
Setelah Dom menyembuhkan lukanya, Richard menyiapkan makan malam.
“Hey paman Richard, kenapa kau ingin orang itu melatihku?” tanya Dom sambil menyantap hidangannya.
“Kau tau bahwa sekarang fisikmu masih sangat lemah. Octo adalah mantan seorang ksatria, jadi dia pasti bisa mengajarkanmu banyak hal. Ditambah lagi, karena saat ini kau belum memiliki elemen dalam tubuh, mungkin berlatih dengannya adalah pilihan terbaik.”
“Kenapa aku tidak belajar dari paman saja? Lagipula sepertinya gorila itu terlihat membenciku.”
“Bukankah sebelumnya kau mengatakan ingin mendapatkan rekan ... dan satu lagi, jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Percayalah padaku, dia orang yang dapat diandalkan,” jawab Richard.
Jangan menilai sesuatu dari luarnya ya? Sepertinya kalimat itu cukup bagus.
“Ngomong-ngomong ... terima kasih sudah mengajakku berkeliling hari ini, aku sangat senang,” ujar Dom sambil tersenyum.
Richard terdiam beberapa saat karena melihat Dom seperti anaknya yang sudah lama pergi, ini pertama kalinya dia merasa senang dengan kehadiran seseorang selain dari keluarganya.
__ADS_1
Anak ini … mungkin aku akan tinggal di tempat ini sedikit lebih lama.
“Hahaha tidak biasanya kau berkata seperti itu. Baiklah, lain kali aku akan mengajakmu ke tempat-tempat yang menarik.”
“Yeay! Tapi paman, sepertinya kau lupa menambahkan garam, daging ini tidak ada rasanya,” ujar Dom sambil menunjukan ekspresi tidak enak.
“Apa kau bilang??!!” Richard mencicipi masakannya sendiri dan ternyata memang tidak dikasih garam.
“Cuih,” Richard memuntahkan makanannya.
Ini memang tidak enak.
Beberapa hari setelahnya, Dom memutuskan untuk mencoba berlatih bersama dengan Octo setelah Richard pergi ke suatu tempat untuk sementara waktu.
“Baiklah sudah waktunya aku pergi.”
Setelah memantapkan niatnya, Dom pergi menuju Desa Pyro untuk bertemu dengan Octo, ketika sampai di pintu masuk, seluruh penduduk menyambutnya dengan ramah.
“Kemana perginya gorila itu?”
“HAA?? Siapa yang kau panggil gorila,” Octo berteriak dari kejauhan.
“Ah maaf paman, bolehkah aku berlatih bersamamu??” tanya Dom.
“Hmm apa kau yakin ingin berlatih denganku?? Latihanku hanya membuatmu tersiksa.”
“Jika itu bisa membuatku lebih kuat, maka tidak masalah,” jawab Dom dengan tatapan yang penuh keyakinan.
“Hmm … kalau begitu kemarilah.”
__ADS_1
Dom mengikuti kemana Octo pergi, dia penasaran kemana Octo akan membawanya. Sambil berjalan, Dom bertanya tentang banyak hal meskipun Octo hanya menanggapinya yang penting saja.
“Hey paman, apa kau memiliki seorang murid selain diriku?” tanya Dom sambil berjalan.
“Memangnya aku sudah menerimamu menjadi muridku?”
“Ehehehe.”
Cih tetap saja ucapannya masih menyebalkan.
“Aku memiliki 3 murid, bertemanlah dengan mereka dan jangan sampai tertinggal.”
“Tapi dimana mereka?” Dom melihat-lihat sekitar.
“Mereka sedang ada urusan, kau akan menemuinya besok.”
Sampai di tempat latihan, Octo memberikan latihan yang sangat keras hingga membuat Dom muntah beberapa kali. Tapi, Octo tidak memberikan waktu bagi Dom untuk beristirahat karena baginya, berdiam sesaat hanya membuat latihan tersebut tidak berjalan dengan maksimal.
Latihan yang diberikan oleh Octo berlangsung dari pagi hingga sore.
Ini neraka!!! Aku bahkan hanya diberi daging monster olehnya, benar-benar kejam.
“Hah...hah...hah,” Dom terengah-engah karena sudah berlatih sejak pagi.
Karena melihat Dom sudah seperti mayat hidup, membuat Octo menyudahi latihan pada hari itu.
“Baru segitu saja sudah lelah, bagaimana kau akan mengalahkanku?? Baiklah hari ini cukup sampai disini, besok pagi datanglah kesini.”
Segitu saja dengkulmu, kau tidak melihat aku berlatih sejak pagi. Aku menyesal mengikuti kata-kata pak tua itu.
__ADS_1
Hallo Teman-teman, karena ini novel pertamaku :) aku ingin minta supportnya dari kalian untuk memberikan like serta komentarnya agar aku bisa terus menghasilkan karya lainnya. Aku juga akan mampir untuk membaca novel milik kalian. Mari kita saling membantu agar karya kita bisa dibaca oleh banyak orang.
Terima Kasih!!!!